Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Ambisi Sang Ahli Teknik
Angin menderu membawa kepulangan Pasukan Fana ke Desa Fajar. Namun, tidak ada sorak-sorai perayaan yang menyambut mereka.
Delapan ratus prajurit itu kembali dengan membawa zirah perak dan senjata yang mereka rampas dari dua belas mayat Pasukan Pelacak. Itu adalah kemenangan yang tak ternilai harganya. Sayangnya, perhatian seluruh penduduk desa itu tertuju pada sebuah tandu darurat yang dipikul oleh empat pria terkuat di barisan depan.
Di atas tandu itu, Ye Cangtian terbaring tak sadarkan diri.
Bahu kirinya adalah pemandangan yang mengerikan. Luka tembus akibat tombak api Yan Lie telah membakar dagingnya hingga menghitam, menyebarkan urat-urat merah menyala seperti lava yang merambat perlahan menuju leher dan dadanya.
Begitu tandu itu diletakkan di dalam gubuk medis, Su Ling'er langsung mengusir semua orang keluar, kecuali Xing Yun yang bersikeras untuk tinggal.
Selama enam jam penuh, gubuk itu dipenuhi bau darah, asap herbal, dan kilatan cahaya ungu dari Napas Kehidupan Su Ling'er. Ia bekerja tanpa henti, untuk mencegah racun api menyebar ke organ vital Cangtian.
Xing Yun hanya berdiri di sudut ruangan, mondar-mandir menggigit ibu jarinya, wajahnya pucat pasi.
Ketika fajar hari berikutnya mulai menyingsing, Ling'er akhirnya melangkah mundur dari ranjang batu. Gaun hijaunya kini diwarnai noda darah. Ia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar kelelahan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Xing Yun cepat, melangkah maju.
Ling'er mendesah panjang. "Luka fisiknya akan sembuh. Tubuhnya... entah terbuat dari apa, regenerasinya sangat mengerikan. Tapi masalah utamanya bukan pada fisiknya."
Ling'er menunjuk dada Cangtian, di mana urat-urat merah masih berdenyut samar.
"Energi api dari musuh itu masuk ke dalam meridiannya. Saat ini, Napas Kehidupan milik Cangtian sedang berperang secara otomatis melawan energi penyusup itu di dalam tubuhnya sendiri. Pertarungan internal ini memakan semua kesadarannya. Ia masuk ke dalam kondisi tak sadarkan diri secara paksa."
"Berapa lama?" rahang Xing Yun mengeras.
"Sulit dipastikan," jawab Ling'er sambil membereskan peralatannya.
"Paling cepat satu bulan. Jika ia beruntung, ia akan bangun dengan meridian yang lebih kuat karena berhasil menelan energi api itu. Jika ia tidak beruntung... energi itu akan membakar otaknya dari dalam."
Xing Yun terdiam. Satu bulan. Bagi dunia fana, itu adalah waktu yang singkat. Namun dalam perang melawan Kerajaan Surga Tiran, satu bulan adalah keabadian.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Xing Yun berbalik dan melangkah keluar dari gubuk medis. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan kini memancarkan kilatan yang tajam dan dingin.
Satu jam kemudian, Xing Yun memanggil seluruh tokoh penting Desa Fajar—Paman Lu, Da Hu, dan para komandan regu Pasukan Fana—untuk berkumpul di balai panjang desa. Zirah perak dan pedang klan dewa hasil rampasan diletakkan di tengah meja batu bundar.
"Dua belas pelacak elit tewas," buka Xing Yun tanpa basa-basi, suaranya menggema tegas di ruangan itu. "Mereka memiliki jimat jiwa di ibu kota. Ketika jimat itu hancur saat Cangtian membunuh mereka, Kerajaan Surga Tiran pasti menyadarinya. Mereka tidak tahu di mana pelacak mereka mati karena Batu Suara berhasil dihancurkan, tapi mereka tahu pelacak mereka mati di area Gurun Kematian."
Paman Lu, yang mewakili tetua desa, mengerutkan kening. "Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Penguasa itu tidak akan mengirim regu pelacak lagi," jawab Xing Yun muram. "Dia akan merasa terhina. Begitu badai musim dingin ini mereda dalam beberapa minggu ke depan, ia akan mengirim Armada Udara dan Pasukan Pemusnah untuk menyisir seluruh Gurun Kematian dari atas sampai ke bawah. Mereka akan menemukan lembah ini. Itu pasti."
Kepanikan kecil mulai berdesir di antara para komandan regu.
"Kalau begitu kita harus memperkuat pertahanan lembah ini!" seru Da Hu sambil menggebrak meja. "Kita memiliki senjata mereka sekarang. Delapan ratus dari kita siap mati untuk menahan mereka di celah tebing!"
"Tahan mereka dengan apa?" Xing Yun memotong dengan tawa sinis. "Delapan ratus Ahli Persilatan Tingkat 1 melawan ribuan prajurit elemen murni dan kapal meriam terbang? Kau tidak sedang merencanakan pertahanan, Da Hu. Kau sedang merencanakan kuburan massal."
"Lalu kita harus lari lagi?" Paman Lu menimpali dengan nada lelah. "Kita tidak punya cukup persediaan untuk melintasi lautan pasir. Cangtian juga tidak bisa dipindahkan dalam kondisinya."
Xing Yun menumpukan kedua tangannya di atas meja batu, mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menatap tajam setiap orang di ruangan itu.
"Kita tidak akan bertahan, dan kita tidak akan lari. Kita akan menyerang."
Seluruh ruangan terdiam. Paman Lu menatap Xing Yun seolah pemuda itu baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Apakah kekerasan Cangtian menular padamu, Xing Yun?!" protes Paman Lu keras. "Menyerang ibu kota Surga Tiran? Itu bunuh diri!"
"Bukan ibu kota," koreksi Xing Yun dingin. Ia mengambil sebuah arang hitam dan mulai menggambar peta kasar benua di atas meja batu.
"Dengar baik-baik. Ada lebih dari tujuh puluh tambang besar dan kamp budak fana yang tersebar di sekeliling wilayah Kerajaan Surga Tiran. Jutaan saudara kita masih dirantai di sana. Saat ini, dewa-dewa itu sedang sibuk memusatkan perhatian mereka ke Gurun Kematian untuk mencari kita."
Xing Yun menunjuk titik-titik di luar gurun. "Ini adalah titik buta mereka. Da Hu, aku akan membagi delapan ratus pasukanmu menjadi empat puluh regu kecil. Kalian akan menyusup keluar dari gurun ini secara diam-diam. Tugas kalian bukan untuk berperang terbuka. Tugas kalian adalah menyelinap ke tambang-tambang itu, membunuh pengawas mereka dalam semalam, membagikan metode pernapasan dasar Cangtian, dan memicu pemberontakan serentak di seluruh benua."
Xing Yun mengepalkan tangannya. "Kita akan membuat kekacauan yang sangat besar di luar sana, hingga Armada Udara terpaksa ditarik mundur dari Gurun Kematian untuk memadamkan api yang menyala di halaman belakang mereka sendiri!"
Para komandan regu saling pandang. Rencana itu gila. Sangat berisiko. Namun, secara taktis, itu adalah langkah yang paling brilian untuk mengalihkan perhatian musuh sekaligus memperkuat barisan mereka.
"Tapi... ini terlalu agresif!" Paman Lu menggelengkan kepalanya dengan cemas. "Kita baru saja mendapatkan tempat berlindung. Jika kita memancing pemberontakan di seluruh benua, kita benar-benar menyatakan perang total demi kepunahan satu ras. Tuan Cangtian tidak pernah memerintahkan ini! Kita harus menunggunya sadar!"
Mendengar nama Cangtian disebut sebagai penahan, rahang Xing Yun mengeras.
Tiba-tiba, Xing Yun berdiri tegak. Untuk pertama kalinya, pemuda cerdas yang selalu berada di belakang layar itu memancarkan aura dominasi yang membuat Paman Lu terbungkam.
"Cangtian sedang terbaring sekarat di sana karena dia mengorbankan tubuhnya untuk menutupi kelemahan kita," ucap Xing Yun dengan suara rendah yang mengancam.
"Dia adalah pedang terkuat umat manusia. Tapi pedang, sekuat apa pun ia, membutuhkan sebuah tangan untuk mengayunkannya dan pasukan di belakangnya."
Xing Yun menatap Paman Lu tanpa berkedip.
"Ye Cangtian adalah seorang pendobrak. Dia membelah jalan di depan, Paman. Tapi akulah yang harus membangun kerajaannya di belakang. Jika kita hanya menunggunya bangun, kita akan mati sebelum dia sempat membuka matanya."
Xing Yun mengalihkan pandangannya ke arah Da Hu dan para komandan Pasukan Fana.
"Mulai hari ini, sampai Ye Cangtian kembali berdiri, aku yang memegang kendali penuh atas Desa Fajar dan Pasukan Fana. Siapkan regu kalian. Besok malam, kalian berangkat menyebarkan api pemberontakan."
Balai panjang itu hening seketika. Kharisma Xing Yun yang begitu pragmatis, dingin, dan efisien memaksa mereka untuk tunduk. Satu per satu, Da Hu dan para komandan regu menundukkan kepala mereka, memberikan hormat militer kepada Xing Yun.