Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 4 — Metamorfosis
Huo Li terbelalak. Jeritan histeris yang memilukan meledak dari kerongkongannya. Suaranya yang serak menggema keras, memantul di antara dinding-dinding batu gua.
Rasa sakitnya ribuan kali lebih mengerikan daripada saat ia dikeroyok, ditendang, dan dihancurkan oleh Tuo Gu.
Rasanya seperti setiap tulang di tubuhnya dihancurkan menjadi debu, lalu dirakit kembali secara paksa berulang-ulang.
Sret... Trk!
Urat-urat di sekujur tubuhnya mencuat tebal ke permukaan kulit, bercabang liar seperti akar pohon iblis yang merambat.
Wunggg...
Tubuhnya mendadak membara. Uap panas mengepul dari pori-porinya, membuat udara di dalam gua menjadi pengap dan mendidih. Ini bukanlah proses kultivasi biasa. Lempengan Dewa Surgawi ini secara brutal memaksakan penyelesaian empat tahap Pembentukan Fondasi di tubuhnya yang lemah.
Kekuatan asing itu menempa otot dan tulangnya, merobek dan memperluas 365 meridian biasa hingga 9 meridian utamanya secara paksa, lalu menggali ruang di perut bawahnya untuk membentuk dantian yang selama ini gagal ia ciptakan.
Bukan dengan energi spiritual biasa, melainkan dengan energi yang cukup asing baginya—yaitu surgawi yang purba yang tersimpan dalam lempengan dewa surgawi!
'Ukhhh, gila! Ini sakit sekali!' batin Huo Li menjerit.
Matanya memerah pekat, dipenuhi jaring pembuluh darah yang menegang dan nyaris pecah.
Crk... Crk... Crk.
Kedua tangan Huo Li bergerak tak terkendali, mencakar dadanya sendiri dengan kuat hingga meninggalkan garis-garis luka berdarah. Ia berusaha melampiaskan rasa sakit yang membakar organ dalam dan jiwanya. Namun anehnya, sekuat apa pun siksaan itu berada di ambang batas kewajaran manusia, kesadarannya menolak untuk pingsan.
Ia dipaksa tetap sadar, merekam setiap detik penderitaan saat struktur tubuhnya dilenyapkan dan dilahirkan kembali.
Waktu berlalu layaknya siksaan neraka tanpa akhir. Setelah satu batang dupa tebal habis terbakar dan menyisakan abu dingin, jeritan Huo Li perlahan mereda.
Uap panas yang menyelimuti tubuhnya mulai menyublim dan menghilang.
"Hah... Hah... Hah..."
Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan keras.
"Akhirnya... penyiksaan gila itu... selesai," bisiknya parau.
Gua yang sempit itu kini terasa lengang. Hawa panas yang sebelumnya memanggang perlahan digantikan oleh udara sejuk pegunungan yang menyusup dari celah bebatuan.
Huo Li duduk bersila di atas tanah berdebu, memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal. Perlahan, ia mengarahkan kesadarannya ke dalam tubuh, menyusuri meridian-meridian yang kini terasa begitu lebar, kokoh, dan berdenyut penuh tenaga.
Ia pun segera memeriksa bagian perut bawahnya. 'Dantian...' batin Huo Li takjub.
Di tempat yang dulunya kosong dan menolak menyimpan energi, kini bernaung sebuah lautan kecil bercahaya emas yang berputar stabil.
"Aku... berhasil menciptakan dantian!"
Namun, seiring dengan kebahagiaan yang membuncah, keningnya berkerut bingung.
Kultivator di Ranah Pembentukan Fondasi seharusnya memiliki kabut energi spiritual yang tipis dan berwarna putih kusam. Tetapi apa yang ada di dalam tubuhnya saat ini sama sekali berbeda. Energi itu padat, murni, dan memancarkan aura emas yang agung.
Sebuah pemahaman tiba-tiba mengalir ke dalam benaknya, seolah informasi itu memang telah tertanam bersamaan dengan rasa sakit yang menyiksanya tadi.
"Ini bukan energi spiritual... ini adalah Energi Surgawi!" gumam Huo Li, matanya membelalak tak percaya.
"Dan ranah kultivasiku saat ini... bukan Pembentukan Fondasi Tahap Puncak, melainkan Ranah Surgawi Bintang 1 Tahap Puncak!"
Untuk menguji kebenaran teori gila di kepalanya, Huo Li mengepalkan tinju kanannya. Energi emas samar merembes keluar dari pori-pori kulitnya, melapisi buku-buku jarinya dengan cahaya tipis namun menekan.
Tanpa ragu, ia mengayunkan tinjunya ke arah dinding gua yang keras.
BUM!
Bebatuan padat itu hancur berhamburan. Retakan tebal menjalar seperti jaring laba-laba, dan debu batu runtuh mengotori lantai gua.
Huo Li menarik tangannya, menatap tinjunya yang sama sekali tidak lecet. Jantungnya berdegup kencang. Energinya memang masih terasa samar dan baru, tetapi daya hancurnya jauh melampaui kultivator Pembentukan Fondasi mana pun yang pernah ia lihat di sekte!
Setelah menenangkan debaran jantungnya, tatapan Huo Li jatuh pada kantong kecil berwarna emas yang tergeletak di sampingnya. Kantong Keberuntungan pemberian sang Paman misterius.
Ia meraih kantong tersebut. Begitu ujung jarinya menyentuh sulaman benang emas, sebuah gelombang pengetahuan asing kembali memasuki kepalanya.
Pengetahuan singkat itu menjelaskan fungsi sejati dari harta di tangannya.
Huo Li membuka tali pengikatnya dan melongok ke dalam.
Cling.
Di dasar kantong ruang tersebut, tergeletak tiga buah kristal seukuran ibu jari. Kristal itu bening, memancarkan pendar cahaya keemasan yang murni tanpa setitik pun noda.
"Kristal Surgawi Peringkat 1... dengan kualitas sempurna," bisiknya lirih, mengulang informasi yang baru saja ia cerna.
Senyum tipis perlahan terukir di wajah tampannya yang penuh debu. Ia pun menelaah kondisinya saat ini. "Jalur kultivasiku sekarang bergantung penuh pada Energi Surgawi."
Ia tidak bisa menyerap energi spiritual biasa dari udara seperti kultivator lain. Satu-satunya cara untuk meningkatkan kekuatannya adalah dengan menyerap Kristal Surgawi.
"Pantas saja Paman memperingatkanku untuk tidak menghilangkan kantong keberuntungan ini," gumam Huo Li, matanya berkilat paham.
Kantong Keberuntungan ini bukanlah sekadar wadah penyimpanan. Ini adalah artefak penukar. Apa pun yang memiliki energi spiritual, baik itu artefak spiritual, pil esensi, hingga herbal berharga... jika dimasukkan ke dalam kantong ini, akan secara otomatis dihancurkan dan dikonversi menjadi murni Kristal Surgawi.
Bagi Huo Li, ini adalah kunci utamanya untuk bertahan hidup dan berkuasa. Jika ia kekurangan sumber daya, ia hanya perlu mengambil benda-benda spiritual dari musuh-musuhnya dan menukarnya.
Namun... Jika ia menghilangkan kantong keberuntungan ini. Maka itu akan menjadi malapetaka bagi jalan kultivasinya.
"Yah... sesuatu di dunia ini tidak ada yang gratis ataupun mutlak... Tapi, jika itu Paman. Tentu saja dia adalah orang terhebat! Harta yang dia berikan padaku menciptakan dantian emas di pusar bawah ku, dan kantong ini mustahil dimiliki kultivator agung biasa."
Huo Li mengikatkan kantong emas itu di balik jubah kusamnya, menyembunyikannya dengan rapat. Ia lalu melangkah keluar dari gua.
Sinar matahari siang yang terik langsung menyambut wajahnya, diiringi embusan angin gunung yang membelai rambut hitam panjangnya.
Whuuushhh...
Pemandangan hijau membentang luas di bawah sana. Sesaat, udara terasa sesak di dadanya. Ada haru yang menggenang di pelupuk matanya. Ia, Huo Li, sang pelayan sampah yang selama ini dijadikan samsak hidup, akhirnya benar-benar menjadi seorang kultivator sejati.
'Ayah... Ibu... Nenek Hai...' batinnya pedih, membayangkan wajah orang-orang yang ia cintai.
'Jika ayah dan ibu masih ada. Mereka pasti akan bangga... putra kalian sudah besar... aku telah menjadi kultivator sejati.' Huo Li kemudian menatap langit biru. 'Jika Nenek masih ada, Nenek pasti akan memasakkanku sup ayam spiritual untuk merayakannya...' batinnya pedih, awan putih di langit itu berubah bentuk seperti apa yang ada dalam imajinasinya.
Namun, kelemahan itu hanya bertahan selama tiga tarikan napas. Huo Li mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus sisa-sisa ratapan dan kesedihan dari matanya.
Menangis tidak akan mengubah apa pun. Kesedihan tidak akan membangkitkan orang mati, dan air mata tidak akan membelah tenggorokan musuh-musuhnya. Ia menajamkan pandangannya, mengamati sekeliling.
Tempat ini ternyata sangat tidak asing. Ini adalah bukit penebangan kayu, tempat di mana ia menghabiskan ribuan jam menebang pohon gelondongan raksasa dengan kapak tumpul. Bukit di belakang Sekte Pedang Mendalam.
Dari tebing tempatnya berdiri, kemegahan Sekte Pedang Mendalam terlihat jelas di dasar lembah. Bangunan-bangunan megah, alun-alun latihan yang luas, serta Paviliun Tetua.
Di sanalah orang-orang yang mengencinginya, yang mematahkan pedang warisan ayahnya, dan yang membiarkannya mati tenggelam berada.
"Tuo Gu. Qiu Dong. Wei Yu dan... dua orang lainnya."
Dendam yang selama bertahun-tahun ia paksa telan kini mengkristal di dalam dantian emasnya, berdenyut selaras dengan napasnya. Tidak meledak-ledak, melainkan terpatri samar, dingin, dan penuh perhitungan.
"Kalian pikir kalian telah menyingkirkan seekor serangga," gumam Huo Li, suaranya tenang namun membawa niat membunuh yang pekat.
Huo Li membalikkan badannya. Angin gunung berembus, menyibakkan rambut hitamnya yang kusam. Ia tidak mengarahkan langkahnya kembali turun menuju lembah Sekte Pedang Mendalam.
Pikirannya yang kini telah jernih dan terbuka mengurai semua kebodohannya di masa lalu. Janji manis Tetua Bai yang berulang kali mengatakan akan mempromosikannya menjadi murid luar... semuanya hanyalah omong kosong belaka.
Janji palsu itu sengaja diumpankan padanya agar ia tetap memiliki semangat hidup dan mau terus bekerja bak kuda beban tanpa bayaran, meski setiap hari tubuhnya diremukkan oleh Tuo Gu dan antek-anteknya.
Jika diingat lebih dalam lagi, setelah kepergian Nenek Hai, tidak ada satu pun orang baik yang tersisa di sekte busuk itu.bSemua orang di sana tidak lebih dari serigala berbulu domba atau lintah penghisap darah yang mencari mangsa.
Tanpa ragu, Huo Li melangkah ke arah yang berlawanan. Ia berjalan ke arah Sekte Pedang Tiran berdiri.