NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18

Sabtu pagi di kota Oxford selalu memiliki pesonanya sendiri. Sinar matahari tipis menerobos kabut tipis yang menggantung di atas atap-atap gedung tua, memantul hangat di jalanan batu yang mulai ramai oleh para pejalan kaki dan pesepeda.

Di kamar asrama St. Margaret, Gemma tampak sibuk berbolak-balik di depan cermin besar. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada rok plisket warna krem dan sweater rajut manis berwarna kuning pastel.

"Rory, jujur deh, ini berlebihan enggak buat cuma cari bahan cat di toko seni?" tanya Gemma panik sambil merapikan bando di rambut keritingnya.

Rory, yang sedang duduk santai di mejanya sambil menikmati secangkir teh hangat dan membaca jurnal ilmiah terbaru, menoleh pelan.

"Gem, kamu sudah ganti baju tiga kali dalam waktu tiga puluh menit," kata Rory realistis. "Pakaianmu yang sekarang sangat cocok. Rapi, manis, dan kelihatan nyaman untuk dipakai jalan santai."

Gemma bernapas lega, mengelus dadanya. "Oke, oke. Kaki aku juga sudah mendingan banget berkat kompres kemarin. Btw, kamu beneran enggak mau ikut? Leo bilang kamu boleh ikut kalau mau!"

Rory tersenyum tipis sambil menggeleng. "Tidak, terima kasih. Satu, aku tidak mau jadi obat nyamuk di antara kalian berdua. Dua, aku punya daftar lima buku referensi biokimia yang harus kupinjam di Perpustakaan Utama hari ini."

"Kamu itu bener-bener manusia paling tidak ambisius soal asmara ya," cibir Gemma, tapi kemudian memeluk bahu Rory dari belakang. "Tapi makasih ya, Rory. Kalau bukan karena kamu yang dorong aku kemarin, aku pasti sudah minder duluan sama Senior Leo."

"Dia pria yang baik, Gem. Selamat bersenang-senang," balas Rory tulus.

Beberapa menit kemudian, Gemma melangkah keluar dari asrama dengan wajah berseri-seri. Di depan gerbang St. Margaret, Leo Thorne sudah menunggu dengan sepeda kumbang klasiknya, mengenakan mantel kasual cokelat dan senyum hangat yang langsung membuat pipi Gemma memerah.

Rory memandangi mereka sebentar dari jendela kamar, tersenyum tipis melihat kebahagiaan sahabatnya, sebelum ia membereskan tas kainnya dan melangkah menuju kota.

Perpustakaan Utama Bodlen di pusat kota adalah salah satu perpustakaan tertua di Eropa.

Ruangannya megah dengan aroma khas kertas lapuk, giliran kulit tua, dan lilin pelindung kayu.

Rory menyusuri lorong-lorong rak tinggi di Lantai Tiga area koleksi khusus riset dan arsip sains. Suasana di sana sangat hening, hanya diisi suara gesekan halaman buku dan ketukan sepatu para pengunjung.

Setelah menemukan tiga buku referensi yang dicarinya, Rory melangkah menuju area meja baca di dekat jendela berarsitektur katedral. Namun, saat ia hendak menarik salah satu kursi kayu, langkahnya terhenti.

Di meja paling sudut dekat jendela besar yang menghadap ke taman, seorang pria duduk tegap.

Julian Radcliffe.

Julian tidak mengenakan setelan jas formal atau jas laboratoriumnya hari ini. Pria itu tampil sangat santai namun tetap memancarkan keanggunan berkelas: sweater turtleneck rajut berwarna hitam pekat, kacamata berbingkai tipis perak yang bertengger di pangkal hidungnya sebuah penampilan yang belum pernah Rory lihat sebelumnya serta sebuah buku bertuliskan partitur musik klasik di hadapannya.

Julian tampak begitu fokus mencoret-coret partitur tua itu menggunakan pensil kayu, hingga ia menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.

Julian mendongak. Saat matanya berpapasan dengan Rory, ia melepas kacamatanya dengan gerakan pelan dan anggun.

"Rory?" suara Julian terdengar halus, memotong kesunyian perpustakaan.

"Selamat siang, Julian," sapa Rory pelan, berusaha menjaga suaranya tetap terkontrol. "Saya tidak tahu kamu biasa menghabiskan akhir pekan di perpustakaan utama."

"Ini tempat paling sunyi di kota untuk konsentrasi," jawab Julian. Pria itu menyapu pandangannya ke arah tumpukan buku tebal di dekapan Rory. "Biokimia Lanjut dan Farmakologi Klinis? Kamu benar-benar tidak memberi otakmu waktu istirahat pada hari Sabtu?"

Rory terkekeh tipis, melangkah mendekat dan meletakkan buku-bukunya di meja sebelah Julian. "Membaca jurnal ini adalah cara istirahat saya, Julian. Lagipula, beasiswaku bergantung pada pemahaman materi ini."

Julian menatap Rory selama beberapa detik. Ada pancaran kejujuran yang begitu murni di mata gadis itu. Tanpa kata-kata berlebihan, Julian menarik kursi di samping mejanya.

"Duduklah di sini. Pencahayaan di jendela ini paling bagus untuk membaca," tawar Julian.

Rory sempat ragu sejenak, namun melihat sikap santai Julian, ia akhirnya mengangguk dan duduk di kursi tersebut.

Selama hampir satu jam, mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Rory sibuk mencatat poin-poin penting di buku catatan cokelatnya, sementara Julian melanjutkan coretan pensilnya di atas kertas musik tua.

Kesunyian di antara mereka terasa sangat nyaman. Tidak ada keharusan untuk berbasa-basi, tidak ada kecanggungan. Hanya ada ketenangan dari dua orang yang saling menghargai ruang satu sama lain.

Rory sesekali melirik ke arah kertas musik Julian. Jemari tangan Julian yang panjang dan rapi bergerak sangat gemulai saat menulis nada demi nada.

"Kamu memainkan musik?" tanya Rory pelan, memecah kesunyian.

Julian menghentikan pensilnya, menoleh menatap Rory dengan senyum tipis. "Piano dan selo. Ini partitur karya Bach abad ke-18 yang sedang kutranskripsi untuk pertunjukan amal keluarga bulan depan."

Rory menatap lembaran nada yang rumit itu dengan kagum. "Luar biasa. Menggabungkan ketelitian sains dengan seni musik."

"Bagi keluarga Radcliffe, musik klasik bukan sekadar seni, Rory. Itu adalah bagian dari etiket dan tradisi yang dipaksakan sejak kecil," kata Julian. Nada suaranya mendadak berubah sedikit redup, menyimpan beban implisit yang langsung ditangkap oleh kepekaan Rory.

"Kamu tidak terlalu menyukainya?" tebak Rory tepat sasaran.

Julian tertegun sejenak, menatap Rory dengan mata hazel-nya yang dalam. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang pernah bertanya apakah ia menyukai tradisi keluarganya. Orang-orang hanya berasumsi bahwa seorang Radcliffe pasti menikmati kemewahan dan reputasi tersebut.

"Aku menyukai musiknya," perjelas Julian pelan. "Tapi aku tidak menyukai ekspektasi yang menempel di belakangnya."

Rory mengangguk paham. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu. "Setiap orang punya 'beban bawaan' masing-masing, Julian. Bebanku adalah memastikan tagihan medis adikku dan biaya hidupku tertutup. Bebanmu adalah menjaga standar tinggi yang dibangun keluargamu."

Julian menatap Rory dengan tatapan yang sangat intens. Gadis di depannya ini tidak pernah kasihan pada dirinya sendiri, dan ia juga tidak memperlakukan Julian sebagai 'si kaya yang beruntung'. Rory melihat Julian persis sebagai seorang manusia biasa.

"Kamu selalu tahu cara membuat hal yang rumit terasa sangat sederhana, Rory," gumam Julian halus.

Sebelum Rory sempat membalas, ponsel mahal milik Julian yang tergeletak di atas meja bergetar halus. Layarnya menampilkan nama Arthur Radcliffe (Father).

Seketika, raut santai di wajah Julian mengeras. Aura dingin aristokratnya mendadak kembali menyelimuti dirinya. Julian mengangkat telepon itu dengan nada suara yang kembali formal dan kaku.

"Ya, Ayah... Saya sedang di perpustakaan... Tidak, saya tidak lupa dengan makan malam bersama Senator malam ini... Baik, saya akan segera pulang."

Julian mematikan teleponnya, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Ia membereskan kertas-kertas musiknya dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Ada masalah?" tanya Rory lembut.

Julian menatap Rory, matanya memancarkan rasa bersalah yang tipis. "Aku harus pergi lebih awal. Ada acara makan malam keluarga yang tidak bisa kuhindari."

"Tentu, silakan. Pekerjaanku di sini juga sebentar lagi selesai," jawab Rory penuh pengertian.

Julian meraih jasnya, namun sebelum berbalik pergi, ia menatap Rory lurus-lurus.

"Rory... soal hari Kamis nanti, setelah praktikum," ujar Julian pelan. "Maukah kamu makan siang bersamaku di kafe kecil dekat museum? Hanya kita berdua. Tanpa urusan laboratorium."

Jantung Rory mendesir hebat. Sebuah ajakan makan siang pribadi dari Julian Radcliffe. Tanpa embel-embel tugas, tanpa mahasiswa lain.

Rory menatap mata hazel yang memancarkan harapan tulus itu. Tembok rasionalnya berusaha mengingatkan perbandingan kelas sosial di antara mereka, namun kehangatan di matanya membuat Rory membuat keputusan yang melampaui logika biasanya.

"Boleh," jawab Rory dengan senyuman tipis yang sangat manis. "Saya mau, Julian."

Senyum lega mengembang di wajah tampan Julian. "Sampai ketemu hari Kamis, Rory."

Julian melangkah pergi menembus lorong perpustakaan, meninggalkan Aurora Vance yang masih memegangi dada kirinya menyadari bahwa jantungnya kini berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!