Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 1_UMPAN 10 MILYAR
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 1_UMPAN 10 MILYAR
Bagi Cinta, moralitas adalah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang dengan isi rekening tebal. Di dunia yang serba pragmatis ini, moral tidak bisa digunakan untuk membayar sewa apartemen penthouse-nya di pusat kota, tidak bisa dipakai untuk melunasi tagihan perawatan kulit kelas atas, dan jelas tidak bisa membeli deretan tas desainer yang berjejer rapi di lemari pakaian khususnya.
Dunia adalah hutan belantara, dan dia menolak menjadi mangsa. Wajah cantiknya yang simetris, sepasang mata jeli yang pandai membaca riak emosi manusia, serta lekuk tubuh proporsional yang selalu dia rawat dengan ketat—itulah modal utamanya.
Cinta adalah seorang pemburu profesional. Pria-pria kaya yang bodoh dan gila hormat adalah mangsa empuk yang selalu berhasil dia kuras hartanya tanpa sisa.
Malam itu, Cinta memastikan penampilannya tanpa cela. Dia mengenakan silk slip dress berwarna hijau zamrud yang melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan siluet punggungnya yang terbuka hingga pinggang.
Potongan gaun itu berani namun tetap memancarkan kelas tinggi.
Di atas bahunya, tersampir sehelai blazer hitam berpotongan maskulin untuk meredam kesan terlalu sensual saat melangkah melewati lobi. Kakinya ditopang oleh stiletto Christian Louboutin dengan sol merah ikonik setinggi sebelas sentimeter, membuat setiap langkahnya di atas lantai marmer hotel bintang lima itu terdengar ritmis dan penuh percaya diri.
Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan bergelombang longgar, membingkai wajahnya yang dipulas riasan flawless dengan lipstik berwarna merah bata yang tegas. Dia tidak terlihat seperti seorang penipu; dia terlihat seperti seorang dewi yang siap menaklukkan malam.
Langkah kakinya membawa Cinta menuju area ruang VIP kafe hotel yang telah dipesan secara privat. Suasana di dalam ruangan itu begitu tenang, kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta di luar dinding kaca besar. Di sudut ruangan, seorang wanita muda sudah duduk menunggunya.
"Sepuluh miliar," suara wanita itu memecah keheningan, bahkan sebelum Cinta sempat mendudukkan diri di kursi beludru di hadapannya.
Perempuan itu adalah Valen. Usianya baru dua puluh empat tahun, persis sebaya dengan Cinta. Namun, garis kehidupan mereka berbeda bak bumi dan langit. Valen terlahir dengan sendok emas di mulutnya, mewarisi seluruh kemegahan nama besar keluarganya.
Malam itu, Valen melipat kakinya anggun. Di balik kacamata hitam berbingkai besar yang menyembunyikan sebagian wajahnya, Valen memancarkan aura wanita kalangan elit yang mutlak.
Dengan gerakan jemari yang dihiasi cat kuku bernuansa nude, dia menggeser selembar cek bank swasta terkemuka ke atas meja marmer di antara mereka.
"Dua miliar sebagai uang muka yang bisa kamu cairkan besok pagi. Sisanya, delapan miliar lagi, akan langsung masuk ke rekeningmu begitu Maxim menandatangani surat cerai dan melepaskan saya secara resmi," lanjut Valen dengan nada suara yang sengaja ditekan, seolah takut dinding-dinding ruangan ini memiliki telinga.
Cinta tidak langsung menjawab. Dia melepas blazer hitamnya perlahan, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menatap angka nol yang berjejer panjang di atas kertas berharga tersebut. Jantungnya berdesir gembira, memompa adrenalin yang membuat darahnya berdesir hangat. Ini adalah angka terbesar sepanjang kariernya di dunia hitam ini.
Biasanya, dia harus menyusun skenario rumit selama berbulan-bulan hanya untuk menguras beberapa ratus juta dari pengusaha paruh baya yang haus belaian. Kali ini, sepuluh miliar disodorkan begitu saja di atas meja.
Cinta mengangkat cangkir teh kamomil yang baru saja disajikan oleh pelayan. Dia menyesapnya perlahan, mempertahankan gerakan elegan yang sudah dia latih bertahun-tahun di depan cermin. Dia harus tetap terlihat tenang, tidak boleh menunjukkan katamakan yang menjalar di kepalanya.
"Hanya membuat Tuan Maxim setuju untuk bercerai?" Cinta meletakkan kembali cangkirnya dengan denting halus yang memutus kesunyian.
"Kudengar suamimu adalah penguasa tunggal bisnis properti di negeri ini. Gurita bisnisnya menggenggam lini-lini paling basah, dan kekayaannya tidak berseri. Di luar sana, ribuan wanita mengantre hanya untuk menatap matanya. Mengapa kamu begitu putus asa ingin bercerai dari pria yang dianggap sempurna oleh seluruh negeri ini?"
Valen terdiam sesaat. Tangan kirinya bergerak menyentuh kacamata hitamnya, lalu perlahan melepasnya. Begitu kacamata itu tersingkir, Cinta menahan napas sejenak.
Di balik riasan tebal dan concealer mahal yang menutupi kulitnya, Cinta bisa melihat binar mata Valen yang redup, layu, dan dipenuhi oleh trauma yang mendalam.
Kantung matanya hitam, dan ada ketakutan konstan yang tersirat setiap kali wanita kaya itu berkedip.
"Dua tahun, Cinta. Dua tahun aku terjebak dalam pernikahan bisnis ini, dan setiap detiknya terasa seperti berjalan di atas bara api neraka," suara Valen mulai bergetar, tangannya yang diletakkan di atas meja tampak gemetar sebelum akhirnya dia kepalkan kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir pecah.
"Kekayaan Maxim tidak ada artinya bagiku. Uang melimpah itu tidak bisa membeli kewarasanku. Dia pria posesif yang gila kendali. Aku tidak punya privasi sama sekali. Seluruh ponselku disadap, setiap langkahku dikawal oleh pengawal pribadinya yang sebenarnya adalah mata-mata. Aku terus diawasi seolah-olah aku adalah seorang tawanan kriminal di rumahku sendiri."
Valen mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Cinta dengan tatapan memohon yang amat sangat, seolah Cinta adalah satu-satunya pelampung di tengah badai laut yang siap menenggelamkannya.
"Jika aku meminta cerai secara terang-terangan atau melarikan diri, dia tidak akan ragu untuk menggerakkan seluruh kekuasaannya demi menghancurkan bisnis keluargaku hingga rata dengan tanah. Dia tipe pria yang menganggap penolakan sebagai penghinaan. Dia akan menghancurkanku hanya untuk memberi pelajaran bahwa tidak ada yang boleh pergi darinya," bisik Valen, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Aku tidak peduli lagi soal status, soal harta gono-gini, atau hubungan bisnis keluarga kami. Aku hanya ingin bebas. Aku ingin keluar dari rumah itu hidup-hidup. Dan satu-satunya cara adalah membuat Maxim bosan dan berpaling secara sukarela. Buat dia terobsesi kepadamu, Cinta. Alihkan seluruh kegilaan dan rasa kepemilikannya dariku, agar dia sendiri yang mendepakku dari hidupnya karena menemukan mainan baru."
Valen kemudian membuka tas Hermes miliknya, mengeluarkan sebuah dokumen tipis, dan meletakkannya di samping cek. Di halaman depan dokumen itu, terdapat sebuah foto berukuran besar.
Cinta melirik foto tersebut. Pria di dalam foto itu adalah Maxim. Di usianya yang baru dua puluh enam tahun, dia sudah memiliki segalanya. Wajahnya luar biasa tampan dengan struktur simetris, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu pualam, dan sepasang mata hitamnya memancarkan aura dominan yang sangat dingin, tajam, dan menusuk.
Bahkan hanya melalui selembar foto mati, aura bahaya dan intimidasi dari pria itu terasa pekat hingga membuat bulu kuduk Cinta meremang sesaat. Pria ini jelas bukan tipe pria hidung belang biasa yang bisa ditaklukkan hanya dengan kedipan mata atau belahan dada rendah. Ada kegelapan yang dalam di balik tatapan itu.
Namun, rasa jemawa dan ketamakan di dalam hati Cinta jauh lebih besar daripada sinyal bahaya yang dikirimkan oleh otaknya. Selama ini, dia belum pernah gagal. Pria berkuasa, pejabat korup, hingga pengusaha dingin, semuanya berakhir berlutut di bawah kakinya jika diberikan umpan psikologis yang tepat.
Di mata Cinta, pria sekuat dan sekejam apa pun pasti memiliki celah kelemahan tersembunyi yang bisa dieksploitasi. Dan sepuluh miliar terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena rasa takut yang belum terbukti.
Cinta menarik lembaran cek tersebut dengan ujung jemarinya yang lentik, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas jinjing pesta kecilnya yang bermerek Chanel.
Dia kemudian menatap Valen, menyunggingkan senyum kemenangan terbaiknya—sebuah senyuman penuh pesona yang biasa dia gunakan untuk mengunci mangsanya.
"Dalam tiga bulan, saya akan menaklukan Tuan Maxim dan membuat dia menceraikan Anda," ujar Cinta dengan nada suara yang penuh keyakinan mutlak.
Valen mengembuskan napas panjang, tampak seolah sebuah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari bahunya. Namun, jika Cinta lebih jeli malam itu, dia akan menyadari ada kilat rasa bersalah sekaligus kelegaan yang aneh di mata Valen.
Cinta bangkit berdiri, mengenakan kembali blazer-nya, lalu melangkah keluar dari ruang VIP dengan kepala tegak. Di atas sepatu stiletto sebelas sentimeternya, dia merasa berada di puncak dunia.
Dia mengira malam ini adalah awal dari keberuntungan dan kesuksesan finansial terbesarnya sebagai seorang penipu ulung. Dia berjalan menyusuri koridor hotel yang mewah dengan senyum yang terus mengembang, membayangkan apa saja yang bisa dia beli dengan uang sepuluh miliar rupiah.
...----------------...
Cinta sama sekali tidak pernah tahu, bahwa uang sepuluh miliar itu bukanlah upah untuk seorang pemburu yang hebat. Uang itu adalah harga tebusan yang dibayar Valen untuk membeli kebebasannya sendiri, dengan cara menumbalkan Cinta ke dalam sebuah sangkar emas yang tak memiliki pintu keluar. Sebuah sangkar milik pria posesif berbahaya, yang kekuasaannya bisa melumat habis seluruh hidup Cinta dalam sekejap mata tanpa meninggalkan jejak. Permainan api telah dinyalakan, dan Cinta melangkah masuk ke dalamnya dengan senyuman lebar.