Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Di dalam ruangan tersembunyi yang hening, Dariush berdiri mematung di hadapan cermin.
Ia memandangi pantulan wajahnya yang kini bersih tanpa tato dan tanpa janggut prostetik. Dalam benaknya, kenangan tentang hari pertama ia meniduri La Bonna kembali berputar.
Hari itu, Dariush sejujurnya merasa cukup kecewa karena menyadari dirinya bukanlah pria pertama yang menyentuh gadis tersebut. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya, di mana La Bonna adalah satu-satunya wanita pertama yang pernah ia sentuh secara utuh sepanjang hidupnya.
Selama ini, keberadaannya di kamar Seraphina tidak lain hanyalah untuk menyiksa batin pelac*r itu. Ada kepuasan dan hiburan tersendiri bagi Dariush saat menyaksikan bagaimana wanita binal itu selalu merendahkan diri dan menawarkan tubuhnya untuk disentuh.
Bayangan cara menggoda Seraphina teramat persis seperti bagaimana mendiang Electra dulu meracuni dan menggoda kakaknya hingga berujung pada kematian.
Namun, saat pertama kali melihat sosok La Bonna di Velvet Noir, bukan raut wajah mirip Electra itu yang menyita perhatian Dariush.
Melainkan sepasang iris matanya.
Iris mata wanita itu begitu indah, memancarkan keberanian luar biasa saat menatap sinis ke arahnya. Sama sekali tidak ada ketakutan di dalam pijar mata tersebut.
Jiwa Dariush seakan ditantang. Untuk pertama kalinya, ketika melihat siluet seorang tawanan, gadis itu sama sekali tidak gemetar. Bonna justru balik menatapnya dengan sangat tajam, meskipun moncong pistol Dariush sudah siap untuk meledakkan kepalanya detik itu juga.
Wajah? Tidak, Dariush bahkan tidak memedulikan wajahnya saat itu. Tapi matanya... mata indah itu menciptakan gejolak asing yang teramat sulit dideskripsikan oleh akal sehatnya.
Lalu ingatan Dariush melayang pada malam kedua saat ia kembali meniduri wanita itu. Tentu saja, semenjak pertama kali jemarinya menyentuh La Bonna, Dariush sudah mengklaim di dalam hatinya bahwa wanita bermata indah itu adalah miliknya—milik Dariush, bukan milik siapa pun.
Dan di malam kedua itulah, Dariush tertidur dengan teramat lelap.
Awalnya, ia berusaha keras menyangkal kenyataan gila itu. Ia menyangkal bahwa tidur di samping La Bonna adalah satu-satunya obat bagi penyakit susah tidur kronisnya. Ia bahkan sampai terpaksa melarikan diri kembali ke Italia beberapa waktu lalu hanya untuk membuktikan dan menyangkal hal tak masuk akal tersebut.
Demi memastikan La Bonna tidak disentuh oleh pria lain selama ia tinggalkan, Dariush menetapkan harga pasaran yang teramat fantastis untuk Bonna—tiga kali lipat di atas tarif Seraphina.
Mana ada pelanggan yang mau membayar harga tidak masuk akal untuk seorang pekerja baru? Itulah alasan sebenarnya mengapa tidak ada satu pun pelanggan di Velvet Noir yang pernah memilih La Bonna.
Tubuh kurus yang tidak menarik? Ah, Dariush jelas-jelas sedang mengkhianati akal sehatnya sendiri saat mengarang alasan itu.
Namun pagi ini, Dariush akhirnya terpaksa percaya. Sentuhan dan keberadaan La Bonna di sisinya benar-benar menjadi satu-satunya hal yang sanggup membuatnya tertidur lelap tanpa cela.
Dan yang lebih mengejutkan... mimpi buruk tentang kematian tragis kakaknya—yang selalu datang menghantuinya setiap kali ia mencoba tidur lebih dari dua jam—rupanya sama sekali tidak muncul tadi malam.
La Bonna adalah miliknya. Hanya milik Dariush seorang.
Hanya saja, jiwanya memang sedikit sensitif dan terbakar cemburu semalam saat mendengar bagaimana wanitanya mendesahkan nama sang kakak. Tanpa sadar, amarah itulah yang memancingnya membocorkan kejujuran tentang identitas aslinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, kembali ke dalam keheningan yang mencekam di Kamar 101.
Dari sekian banyak manusia dan iblis yang ada di Velvet Noir yang kemungkinan bisa ditemui oleh La Bonna, nama mantan kekasihnya—Brayen—sama sekali tidak pernah masuk ke dalam daftarnya.
Dulu, La Bonna memutuskan untuk pergi dan meninggalkan pria itu begitu saja akibat sebuah malam yang menghancurkan hatinya. Saat mereka sedang bercinta dengan panas, pria itu justru melontarkan dan mendesahkan nama Laura—adik kandung Bonna sendiri.
Hal itu menyayat hati Bonna, membuatnya sakit hati luar biasa hingga memilih memutuskan hubungan mereka malam itu juga.
Seingat Bonna berdasarkan desas-desus terakhir yang pernah ia dengar, Brayen mendekam di dalam penjara karena terlibat tindakan kriminal berat. Bonna sama sekali tidak peduli dan enggan mencari tahu lebih jauh apa penyebab pria itu dipenjara, karena sejak awal Bonna sudah menduga hidup Brayen memang akan berakhir di balik jeruji besi akibat gaya hidupnya yang berantakan.
Bahkan, Bonna pertama kali mengenal jenis obat-obatan haram juga dari Brayen. Walau ironisnya, Brayen selalu mewanti-wanti dan mengingatkan Bonna agar jangan pernah menyentuh atau mengonsumsi barang menjijikkan itu.
Brayen adalah satu-satunya mantan kekasih dalam hidup Bonna, sekaligus pria pertama yang menyentuh kewanitaannya.
Pria itu pula yang mengajarinya bagaimana cara memuaskan pria di atas ranjang, bahkan pernah mengenalkannya pada sensasi kepuasan yang melibatkan unsur kekerasan. Itulah mengapa Bonna sama sekali tidak terkejut saat pertama kali merasakan siksaan kasar dari Nolan di kamar ini.
Namun, tidak hanya Bonna yang membeku terkejut di dalam ruangan itu. Alena dan Lucifer pun ikut terpaku.
Jika Alena dan Lucifer terkejut karena fakta bahwa Bonna adalah mantan kekasih Brayen, maka La Bonna terkejut karena hal yang jauh lebih membingungkan: mengapa ada dua wajah yang persis sama di hadapannya?
Itu artinya... mantan kekasihnya memiliki seorang kembaran? He is a twin? Dan selama dua tahun menjalin hubungan, Bonna sama sekali tidak pernah tahu fakta tersebut?
Sejak kapan Brayen memiliki kembaran identik?
Selama dua tahun penuh menjadi kekasih Brayen, Bonna tidak pernah mendengar sepatah kata pun tentang keberadaan saudara kembar.
Dulu, hal yang membuat Bonna semakin membenci adiknya—Laura—hingga berujung pada pertikaian yang menjebloskan Bonna ke dalam penjara adalah karena Brayen. Pria itulah yang menjadi pemicu utama mengapa Bonna begitu menaruh dendam pada Laura.
°°
Brayen melangkah maju, memandangi sosok La Bonna dengan raut wajah terpukul. Ia memperhatikan bagaimana tubuh yang biasanya hanya menjadi hak miliknya kini telah dipenuhi oleh bekas jejak sentuhan Tuan Nolan.
Brayen melangkah mendekat, matanya bergerak meneliti kondisi Bonna yang mengenaskan di atas kasur—berantakan, dengan leher dan dada yang dipenuhi bekas kemerahan keunguan.
Brayen bergumam Pelan, "Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali denganku di tempat seperti ini, Bonna..."
La Bonna menatapnya sengit, walau matanya berkaca-kaca. "Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu di tempat jahanam ini... dalam keadaan seperti ini," ucap Bonna parau seraya menundukkan kepalanya. Jemarinya meremas kuat-kuat kain selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya.
Ada rasa malu yang membakar dada Bonna. Statusnya sebagai tahanan, sebagai mainan pemuas nafsu Nolan, membuatnya merasa begitu terhina.
Rasanya teramat berbeda dan menyakitkan saat seseorang dari masa lalunya melihatnya hancur seperti ini—mengingat betapa sombong dan tingginya harga diri La Bonna di masa lalu, namun kini berakhir diinjak-injak di dasar neraka Velvet Noir.
Brayen melangkah semakin maju, lalu tanpa ragu berlutut di samping ranjang Bonna.
"Kau terluka..." bisik Brayen lembut. Tangannya terangkat, mengusap pelan sudut bibir Bonna yang lebam dan memar. "Bagaimana bisa kau berakhir di tempat ini, Sayang?"
Bonna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasanya teramat enggan bagi Bonna untuk menceritakan kebodohannya yang membawanya terjebak di sini.
Dan panggilan 'sayang' dari bibir pria brengsek yang pernah mendesahkan nama adiknya di masa lalu itu membuat perutnya mual. Tapi Bonna tahu betul, pria ini memang selalu seperti ini—selalu berpura-pura melembut seakan-akan tidak pernah ada kesalahan besar yang ia perbuat.
Brayen menatapnya makin dalam. "Informasi yang kuketahui tentangmu terakhir kali adalah kau berada di dalam penjara dan masa tahananmu belum berakhir. Tapi bagaimana bisa kau justru berada di tempat ini, Bonna?"
Pertanyaan dari Brayen itu membuat Bonna menyadari bahwa pria di hadapannya ini memang tahu soal kasus hukum yang menjeratnya. Bonna mengalihkan pandangannya ke arah dinding. "Bukan urusanmu."
Jemari Bonna yang mendadak dicengkeram lembut oleh Brayen berusaha ia tarik sekuat tenaga. Pergelangan tangannya terasa teramat perih karena kulitnya memar dan terkelupas akibat terikat borgol besi semalaman penuh.
"Aku mencarimu, Sayang," ucap Brayen lagi, suaranya terdengar begitu frustrasi. "Aku berkali-kali mengunjungi lapas tempatmu ditahan, tapi petugas di sana selalu memberikan alasan bahwa kau menolak semua kunjunganku. Kukira... kau masih sangat marah padaku sampai-sampai kau tidak sudi lagi melihat wajahku."
Bonna memutar kepalanya, balik menatap tajam ke dalam manik mata Brayen. Ada rasa amarah yang membakar dadanya melihat cara pria itu menatapnya.
Pria itu menatapnya seolah-olah Bonna adalah seluruh dunianya—menatap Bonna dengan pijar cinta yang utuh. Padahal apa yang telah diperbuat pria ini di masa lalu sama sekali tidak mencerminkan rasa cinta sedikit pun!
"Kenapa kau harus peduli?" desis Bonna dingin. "Hubungan kita sudah lama berakhir!"
"Kau yang memutuskanku secara sepihak!" potong Brayen cepat.
"Lalu apa kau berusaha mengejarku? Mencoba memperbaikinya?" tembak Bonna dengan nada getir. "Tidak! Kau sama sekali tidak pernah berniat memperbaikinya! Kau menghilang begitu saja setelah malam itu—"
"Aku dipenjara, Sayang!" potong Brayen keras, suaranya bergema di dalam kamar.
Bonna terdiam seketika. Kalimat itu membungkam tenggorokannya. Ia cukup terkejut mendengar pengakuan jujur yang meluncur langsung dari bibir Brayen.
Bonna memang pernah mendengar kabar burung bahwa Brayen mendekam di penjara, tetapi ia tidak menyangka kalau Brayen akan berani jujur mengakui hal itu di hadapannya sekarang.
Brayen menghela napas panjang yang berat, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membuat pengakuan terbuka di hadapan Bonna.
"Sejak awal kau sudah tahu kalau aku ini bukan laki-laki baik-baik, Bonna," tutur Brayen dengan nada memohon. "Kau tahu aku ini pria bermasalah. Tidak mungkin laki-laki yang mengenalkanmu pada hubungan ranjang yang kasar adalah laki-laki yang baik. Aku bekerja sebagai pengedar... dan aku tahu kau sudah menebaknya sedari awal saat aku mengenalkan jenis-jenis barang itu padamu. Tapi kau memilih diam dan tidak pernah bertanya, bukan?"
Atmosfer di dalam ruangan 101 mendadak hening total. Lucifer, Alena, dan Brian yang berdiri di dekat pintu hanya menyimak dalam diam, seolah-olah mereka bertiga hanyalah patung yang tak kasat mata di tengah drama masa lalu dua orang tersebut.
Bonna memiringkan kepalanya, menatap Brayen dengan dahi berkerut. "Kau... tertangkap polisi saat sedang menjadi pengedar?"
Mendengar pertanyaan itu, Brayen mendadak menggelengkan kepalanya pelan, lalu ia mengangguk ragu, dan kemudian menggelengkan kepalanya sekali lagi.
Gerakan kepala yang simpang siur itu membuat Bonna kebingungan.
Jujur, di saat situasi tragis seperti ini, Bonna rasanya ingin tertawa miris melihat tingkah konyol pria yang dulu selalu menghibur hidupnya. Apa maksud dari gerakan kepala itu? Apakah itu bermakna 'tidak', lalu 'iya', lalu 'tidak' lagi?
Brayen menghela napas lagi, menjelaskan maksudnya. "Malam itu aku dikejar oleh polisi. Tapi barang bukti utamanya berhasil dibawa kabur oleh Brian. Pihak kepolisian tidak tahu kalau kami ini kembar identik. Jadi teramat mudah bagi salah satu dari kami untuk kabur membawa barang bukti, sementara aku bertugas memancing dan mengalihkan perhatian polisi."
Brayen menelan ludahnya sebelum melanjutkan, "Saat sedang melarikan diri menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi, aku lepas kendali dan menabrak seorang pejalan kaki hingga tewas. Aku dipenjara karena kasus tabrak lari itu, Bonna... bukan karena kasus pengedar. Dan aku baru bisa bebas setelah Tuan Nolan datang menebusku dengan membayar uang ganti rugi yang teramat besar kepada keluarga korban."
Bonna menganggukkan kepalanya perlahan, menyerap cerita gila itu. Namun raut wajahnya tetap mengeras dingin.
"Tapi itu semua tidak membenarkan apa yang telah kau perbuat padaku," desis Bonna, suaranya bergetar menahan tangis. "Meski kau tidak punya kesempatan untuk meminta maaf padaku karena kau mendekam di penjara... tetap saja! Kau dengan teganya menyebut nama orang lain saat kau sedang tidur denganku! Kau mendesahkan nama adik kandungku sendiri, Brayen!"
Mendengar tuduhan kejam itu, Brayen mendadak mengusap wajahnya dengan sangat kasar menggunakan kedua telapak tangannya. Matanya membelalak menatap Bonna dengan raut wajah terkejut yang luar biasa.
"Aku tidak pernah melakukan hal sebejat itu padamu, Sayang!" seru Brayen tegas, suaranya bergetar panik. "Brian yang melakukannya malam itu!"
DEG.
DEG.
DUAR!!!!!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dada Bonna bergemuruh hebat. Otaknya membeku total, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam kamar meluap sirna.
"A-apa yang kau bilang... Brayen???"
......................
Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar ya para Readers 🙏🏻 Komentar kalian semangat author 🤭