NovelToon NovelToon
Arsitek Memori

Arsitek Memori

Status: tamat
Genre:Misteri / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Wildyan NA

Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Kembar

Gema langkah kaki Leon dan Elena memantul dingin di dinding kaca katedral Archivia Pusat. Di atas mereka, pilar pemancar utama terus berdenyut kebiruan, memancarkan dengung elektromagnetik yang kian intens.

Hitung mundur pada layar raksasa bergerak makin cepat: **00:09:42**.

"Aku tidak sedang menghancurkan kota ini, Leon," kata Rian pelan, meletakkan koper *Neura-Pulse* selangkah lebih dekat ke slot konsol utama. "Aku sedang menyelamatkannya dari kegilaanmu."

Leon terkekeh muram, melangkah perlahan mengitari pelataran kaca. Senapannya tetap membidik tepat ke jantung Rian. "Kegilaan? Kau menyebut kedamaian abadi sebagai kegilaan? Ketika aku menghapus memori mereka malam ini, tidak akan ada lagi orang tua yang menangisi kematian anaknya, tidak ada lagi korban perang yang dibayangi trauma, dan tidak ada lagi pengkhianatan!"

"Dan tidak ada lagi cinta, Leon!" potong Maya, menahan sakit di bahunya seraya berdiri tegak di samping Rian. "Tanpa memori, manusia tidak punya alasan untuk menyayangi satu sama lain. Kau tidak menawarkan kedamaian, kau hanya menciptakan pemakaman bagi jiwa-jiwa yang masih bernapas!"

Elena tertawa dingin di samping Leon, menggerakkan lengan mekanis barunya yang berderit nyaring. "Persetan dengan jiwa! Dalam bisnis ini, cangkang yang penurut adalah konsumen paling sempurna."

Sebelum Elena sempat mengangkat senjatanya, Maya bergerak cepat secara Spontan. Ia menerjang Elena, memanfaatkan sisa tenaga dan momentum tubuhnya untuk membanting wanita peretas itu melewati pagar pembatas pelataran. Keduanya berguling ke platform bawah, terlibat dalam perkelahian jarak dekat yang sengit di antara jaringan kabel tinggi.

Kini, hanya tersisa Rian dan Leon di pelataran utama Archivia Pusat. Dua pria dengan wajah yang persis sama, berdiri berseberangan di tengah katedral data yang bergetar hebat.

"Ini kesempatan terakhirmu, Rian," ujar Leon, jemarinya menegang di pelatrak senapan. "Serahkan koper itu, bergabunglah denganku, dan kita bisa memimpin Neo-Veridia bersama-sama seperti rencana awal kita."

"Rencana awal kita telah mati sejak kau menembak pipiku delapan tahun lalu," jawab Rian, matanya memancarkan pendar keemasan algoritma yang kian membara.

Leon menarik pelatuk!

*BZZZZT!*

Sebuah kilatan laser berkecepatan tinggi melesat membakar udara. Rian melempar tubuhnya ke samping, berguling di atas lantai kaca yang licin. Peluru laser menghantam panel konsol di belakangnya, memicu ledakan percikan api raksasa.

Rian membalas dengan menyambar sebuah batang penyangga besi yang patah akibat ledakan, menerjang maju dan menghantamkan besi itu ke arah lengan Leon. Senapan di tangan Leon terlepas dan jatuh meluncur ke jurang katedral.

Keduanya kini terlibat dalam pertempuran jarak dekat yang brutal. Pukulan dan tangkisan melayang cepat—setiap gerakan terprediksi oleh satu sama lain karena mereka berbagi ingatan, refleks, dan pelatihan militer yang persis sama.

Leon menyikut rahang Rian hingga Rian tersungkur menabrak konsol. Darah menyembur dari bibir Rian. Namun sebelum Leon sempat mencengkeram lehernya, Rian memanfaatkan posisi rendahnya untuk menendang lutut Leon hingga terdengar bunyi *KREK* yang ngilu.

Leon meraung kesakitan, terhuyung mundur menabrak tiang pemancar utama.

Hitung mundur berkedip merah: **00:02:15**.

Dengan sisa tenaganya, Rian merayap menyambar koper perak *Neura-Pulse* yang tergeletak beberapa meter darinya. Ia berdiri dengan kaki gemetar, mengarahkan kabel transmisi tepat ke slot pusat pemancar.

"Jangan... lakukan... itu..." erang Leon, merayap dengan kaki kanannya yang patah, berusaha mencengkeram pergelangan kaki Rian. "Jika kau memicu pulsa pembalik dari jarak sedekat ini... gelombang energinya akan menguras seluruh memori di otakmu juga, Rian! Kau akan mati rasa selamanya!"

Rian menatap saudaranya dengan pandangan dingin namun penuh rasa duka yang mendalam. Ia menyentuh bekas luka di pipi kirinya satu kali lagi.

"Aku lebih baik kehilangan memoriku sebagai manusia," bisik Rian, "daripada hidup membiarkanmu merampas kesadaran seluruh kota."

Rian menancapkan kabel *Neura-Pulse* ke slot utama dan menekan tombol *EXECUTE*.

1
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!