Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - MUSANG BERBULU DOMBA
Malam itu lampu minyak di kamar Wulan nyaris padam, hanya menyisakan nyala redup yang menari-nari di atas sumbu. Keheningan di antara keduanya terasa seperti benang tipis yang siap putus kapan saja, tetapi justru membuat suasana semakin menyimpan banyak hal yang tak terucap. Hingga akhirnya suara rendah yang dingin itu memecah keheningan. "Itu tidak mengherankan."
Wulan, yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tersentak. Perlahan ia mengangkat kepala, dan pandangannya bertemu dengan sepasang mata hitam pekat milik Nalendra — mata yang begitu dalam sehingga ia seolah bisa tenggelam di dalamnya bila tidak berhati-hati. Bau obat yang masih menyengat di sudut ruangan mengingatkannya bahwa hanya beberapa hari lalu ia nyaris meninggal di dasar Danau Rinai, dan pria inilah yang, tanpa diminta, datang menemuinya.
"Nalendra." Ia menyebut nama itu dengan pelan, setengah bingung, setengah ingin memastikan bahwa pria yang duduk di hadapannya ini sungguh-sungguh ada, bukan sekadar bayangan yang kembali menghantuinya seperti tahun-tahun yang lalu.
"Ya." Nalendra tidak menarik tangannya, hanya menanggapinya dengan ringan. Matanya yang fokus masih terpaku pada wajah kecil gadis di hadapannya, seolah berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi di balik raut yang masih pucat itu.
"Aku..." Wulan menggigit bibirnya. Tiba-tiba muncul keinginan yang begitu kuat untuk menceritakan semua yang terjadi di kehidupan lampau — tentang tujuh tahun yang menimpanya, tentang keluarga yang hancur berkeping-keping, tentang pria yang telah mati demi menyelamatkannya. Mungkin ia tidak akan dipercaya, tetapi setidaknya ia ingin membebaskan beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun kata-kata itu terasa begitu berat untuk diucapkan, seolah begitu dilepas, ia akan kembali terseret ke dalam lembah gelap yang ia tinggalkan.
"Aku ingin bicara soal—" Baru ia membuka mulut, gerakannya langsung terhenti. Dari luar koridor terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, dan tak lama kemudian Intan, dayang yang setia menjaganya, berlari masuk sambil terengah-engah. Ucapannya terpotong begitu matanya menangkap sosok Nalendra yang duduk tenang di hadapan tuannya.
"Nona, Pangeran Cendana datang dan berkata— eh?" Suara Intan mengecil di akhir kalimat, matanya membelalak, lalu buru-buru ia menutup mulut dengan tangan. Ia tidak menyangka akan menemukan pria itu berada di kamar nona mudanya di malam yang sudah larut seperti ini.
"Paduka! Hamba Intan memberi salam kepada Paduka." Intan dengan cepat menelan sisa kata di ujung lidahnya, menundukkan kepala, memberi hormat dengan kikuk, lalu mundur pelan ke belakang Wulan. Ekspresinya penuh dilema — ingin menyampaikan berita, tetapi takut melakukannya di depan pria yang akan menikahi tuannya tiga hari lagi.
"Ada apa?" Wulan merasa kepalanya mulai berdenyut begitu mendengar nama itu. Namun melihat ekspresi Intan yang seperti sedang menahan banyak hal, ia tetap menanyakan dengan wajah yang tidak terlalu ramah.
"Paduka Pangeran Cendana berpesan bahwa ia khawatir akan kesehatan Nona. Meski tahu kedatangannya di malam larut ini kurang pantas, ia tetap tidak tega untuk tidak datang melihat keadaan Nona." Intan berbisik, sambil diam-diam melirik wajah Nalendra — khawatir pria yang sedingin itu akan tersinggung, sebab bagaimanapun, kedatangan Pangeran Cendana ke sini di malam buta bukanlah perbuatan yang baik-baik saja. Wulan menghela napas dalam-dalam. Ia tidak pernah menyangka kehadiran yang dulu begitu ia rindukan kini terasa seperti tamu tak diundang yang hanya ingin membuat pusing.
Mendengar itu, Wulan hanya mendengus dingin. "Huh, musang berbulu domba memang tidak pernah berniat baik. Pagi-pagi berpuas diri mendekat, malam-malam pula berkeliaran di depan pintu orang."
Ia tahu betul bagaimana sifat pria itu. Pangeran Cendana jelas tahu kedatangannya tidak sopan dan tidak nyaman, tetapi ia tetap dengan sengaja datang — untuk apa, kalau bukan sekadar menunjukkan bahwa ia masih dekat, dan ingin membuat Wulan yang dulu mengejarnya semakin bimbang? Kalau yang bertindak adalah gadis yang dulu, pasti ia sudah dengan gembira berlari keluar menemui sang pangeran. Sayangnya, Wulan sekarang bukan lagi gadis naif yang bisa dibelokkan oleh senyum semanis apa pun.
Intan bingung melihat reaksi tuannya yang begitu berbeda. Bukankah selama ini nona mudanya sangat senang setiap kali mendengar kabar tentang Pangeran Cendana? Mengapa hari ini justru tampak jijik? Selama bertahun-tahun ia menjadi saksi bagaimana tuannya mengejar Pangeran Cendana, memerah pipi hanya karena sebuah senyum. Kini perubahan itu begitu mencolok hingga terasa seperti dua orang yang berbeda.
"Apakah Nona akan menemui Pangeran, atau mengusirnya?" tanyanya ragu-ragu, takut salah mengambil keputusan.
"Tidak!" Wulan melambaikan tangannya dengan tegas.
Sebelum sempat membereskan segala urusan yang masih menggantung dengannya, orang itu justru datang lebih dulu mengetuk pintunya. Namun saat ini ia masih sibuk dengan Nalendra — ada banyak hal yang ingin ia katakan — dan ia benar-benar tidak punya waktu untuk membuang-buang tenaga pada pria itu.
"Ya." Intan mengusap kepalanya, menyetujui dengan patuh meski masih belum memahami alasan di balik perubahan sikap tuannya, lalu keluar untuk menyampaikan jawaban.
Nalendra sama sekali tidak berkomentar atas semua yang terjadi barusan. Ia tetap duduk dengan wajah yang sulit ditebak, seolah kejadian tadi hanyalah bagian kecil dari malam yang tak perlu diperhatikan. Sikapnya yang tenang justru membuat Wulan semakin gugup, karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terpikir di kepala pria itu. Kadang ia berharap pria ini sesekali menunjukkan sedikit reaksi, agar ia tidak selalu berdebar-debar menebak-nebak.
Tidak lama kemudian, Intan kembali lagi dalam keadaan terengah-engah. "Nona, Paduka Pangeran Cendana berkata, jika Nona bersedia, ia akan meminta Nona keluar menemuinya sesaat, agar ia tidak perlu khawatir."
"Itu tidak nyaman bagiku!" Wulan memutar bola matanya dengan kesal. "Apa aku harus menemui setiap kucing dan anjing yang berkeliaran di depan pintu? Katakan padanya bahwa aku dalam keadaan sangat baik dan tidak perlu ia khawatirkan. Kalau memang sungguh peduli, jangan ganggu aku lagi — itu pun sudah cukup membuatku senang."
"Aah?" Intan ternganga, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut nona mudanya. Sejak kapan tuannya berbicara sekasar itu kepada Pangeran Cendana?
"Aah apa? Cepat pergi." Wulan melambaikan tangan seperti mengusir lalat, tidak memberi ruang untuk bantahan.
"Baik, Nona." Intan mengiyakan sambil menahan senyum, lalu bergegas keluar menyampaikan pesan itu, meninggalkan jejak langkah kecil yang tergesa di koridor.
Meskipun mata Wulan masih mengikuti punggung Intan yang semakin menjauh, dari sudut matanya ia menangkap kilas senyum tipis di ujung mata Nalendra. Senyum yang nyaris tak terlihat itu, entah kenapa, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia cepat memalingkan wajah, berpura-pura menatap obor di dinding, tetapi tidak mampu menghapus rasa hangat yang merayap naik di pipinya.