"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Penutupan Kasus Siska-Melani
Kasus Bardi resmi ditutup dua hari setelah pengakuannya terekam.
Tidak berarti lukanya selesai.
Di Kantor Satreskrim, nama-nama korban ditulis di papan putih sebagai manusia, bukan nomor barang bukti. Siska. Melani. Wulan. Rere. Tari, nama sementara yang menjadi satu-satunya cara memanggilnya kembali dari kegelapan.
Nadia mengirim sampel tambahan ke Polda untuk pencocokan lebih luas. Andi membuka laporan orang hilang tiga tahun terakhir. Dimas menghubungi jaringan pekerja sosial di area lokalisasi. Yudha melarang media menyebut detail jaringan manusia dalam produk makanan sebelum keluarga korban diberi tahu.
"Tidak ada yang jadi tontonan," kata Yudha. "Bardi sudah cukup lama memperlakukan mereka seperti barang. Kita tidak akan mengulangnya dengan cara lain."
Raka mendengar kalimat itu dan diam-diam menghormatinya.
Konferensi pers mini dilakukan siang hari di halaman Polres iistrik Surya. Media lokal datang dengan kamera, mikrofon, dan wajah lapar berita. Kasus bakpao sudah bocor sebagian ke publik, meski detail paling mengerikan ditahan. Warga marah, takut, dan jijik. Beberapa warung bakpao di kota bahkan menutup sementara karena tidak sanggup menghadapi rumor.
Sebelum konferensi dimulai, Yudha mengumpulkan tim di lorong samping. "Tidak ada yang menjawab pertanyaan di luar naskah. Tidak ada detail ruang bawah tanah. Tidak ada spekulasi jumlah korban tambahan. Kalau media memancing, diam. Korban punya keluarga, meski keluarga itu belum tahu."
Dimas mengangguk. Andi memeriksa ulang rekaman yang boleh dirilis. Nadia berdiri di belakang dengan wajah datar, tetapi Raka melihat kantong matanya lebih gelap dari biasa.
Kasus ini menang, tapi tidak ada yang tampak seperti pemenang.
Setelah kamera dinyalakan, seorang reporter mencoba bertanya apakah warga yang pernah membeli bakpao dari kios Bardi bisa dianggap korban tidak langsung. Fahri tidak terpancing. Ia menjawab dengan kalimat pendek, tegas, dan cukup dingin untuk menghentikan bisik-bisik.
"Korban utama adalah lima perempuan yang nyawanya dirampas. Fokus kami hari ini adalah keadilan untuk mereka. Ketakutan publik akan ditangani dengan informasi resmi, bukan rumor."
Raka melihat beberapa kamera turun sedikit. Untuk sesaat, ia paham mengapa Fahri bisa memimpin wilayah ini. Ada jenis otoritas yang tidak perlu berteriak. Ia hanya berdiri, lalu orang lain ingat batas.
Di belakang barisan media, seorang ibu penjual gorengan menangis pelan. Mungkin ia tidak mengenal korban. Mungkin ia baru sadar kota yang ia tempati menyimpan ruang bawah tanah sedekat itu dengan jalan yang setiap hari ia lewati.
AKBP Fahri Ramadhan muncul dengan seragam rapi. Wajahnya tenang, tetapi matanya keras.
"Satreskrim Polres iistrik Surya telah menangkap tersangka Bardi Sucipto dalam kasus pembunuhan berantai terhadap lima korban perempuan," katanya. "Kami meminta masyarakat tidak menyebarkan foto korban, tidak melakukan persekusi terhadap pedagang makanan lain, dan memberi ruang kepada keluarga korban."
Ia menyebut nama Yudha, Dimas, Andi, dr. Nadia, dan tim lapangan.
Lalu, sedikit mengejutkan Raka, Fahri menambahkan, "Kami juga mencatat kontribusi konsultan khusus kami, Raka Laksana, serta dukungan teknis saudara Argo Wicaksono. Keduanya aset baru yang luar biasa bagi penanganan kasus berat di iistrik Surya."
Kamera bergerak ke arah Raka.
Raka tidak tersenyum lebar. Ia hanya menunduk sopan.
Kribo yang berdiri di belakang Andi berbisik, "Aset baru, Bro. Kita naik kelas dari anak kos mencurigakan."
Andi menjawab tanpa menoleh, "Kamu masih anak kos mencurigakan. Sekarang hanya punya label kerja sama."
Kribo tampak tersentuh. "Bang Andi, kau selalu tahu cara menjaga aku tetap membumi."
Sore itu, Nadia pamit kembali ke Polda.
Di depan ruang forensik kecil, ia menyerahkan kartu nama kepada Raka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Tapi Dimas yang melihat dari jauh langsung pura-pura sibuk dengan map kosong.
"Kalau butuh analisis forensik lagi," kata Nadia, "jangan menunggu tim lokal melewatkan tiga hal penting dulu. Hubungi saya."
Raka menerima kartu itu dengan dua tangan. "Terima kasih, Kak Nadia."
Nadia berhenti setengah detik.
Lalu, untuk pertama kali sejak Raka mengenalnya, ia tersenyum sedikit.
"Pertanyaanmu cukup baik. Pertahankan."
Itu pujian kedua yang pernah Raka terima dari Nadia. Mungkin yang pertama dengan bentuk hampir manusiawi.
Malamnya, Yudha mengumpulkan tim makan di warung soto, bukan warung bakpao. Keputusan itu tidak perlu dijelaskan. Semua orang memahaminya.
Dimas mengangkat mangkuk. "Aku bersumpah tidak akan makan bakpao setidaknya tiga tahun."
Kribo mengangkat tangan. "Aku mengajukan lima tahun."
Andi berkata datar, "Aku akan makan lagi kalau ada sertifikat iNA bahan."
Untuk pertama kali setelah kasus dimulai, beberapa orang tertawa.
Tawa itu tidak ringan sepenuhnya. Ada retak di dalamnya. Tapi retak juga berarti sesSatu yang beku mulai bergerak lagi.
Yudha duduk di ujung meja, lebih santai daripada biasanya. "Makan. Besok kasus kecil menunggu. iunia tidak berhenti karena kita trauma."
"Komandan selalu romantis," gumam Dimas.
"Mau kutugaskan rekap barang bukti tiga hari?"
"Saya cinta soto ini, Komandan."
Malam itu, Raka pulang ke kos bersama Kribo. Kamar mereka masih sempit, masih berantakan, masih berbau kabel panas dan kopi sachet. Tapi setelah ruang bawah tanah Bardi, kamar itu terasa seperti tempat manusia bisa bernapas.
Buku Penghakiman terbuka di atas meja.
【Kasus #002: Kasus Pembunuhan Berantai Siska & Melani】
【Status: Selesai】
【Hadiah diterima: 10.000 Poin Penghakiman】
【Pinjaman Poin dilunasi: 5.000】
【Saldo akhir: 5.000 Poin Penghakiman】
【Hadiah tambahan: Skill Baru — Ahli Senjata Api - Tingkat Master】
【iana legal diterima: Rp 1.000.000】
Ponsel Raka berbunyi. Notifikasi bank masuk.
Rp 1.000.000 masuk dengan keterangan hadiah kompetisi analisis keamanan digital. Sumbernya bersih, rapi, terlalu rapi untuk manusia biasa. Raka menatap angka itu dan teringat lima nama di papan putih. Uang selalu datang setelah kasus selesai, seolah sistem tahu manusia tetap butuh makan setelah melihat hal paling buruk.
Kribo melihat angka itu dan menghela napas. "Setidaknya sistem punya etika pembayaran."
Raka tidak menjawab. Panas tipis bergerak dari bahu ke jari-jarinya. Bukan seperti Bela iiri Total yang menghantam tubuhnya sekaligus. Kali ini lebih dingin, presisi. Ingatan tentang grip, napas, recoil, jarak, sudut, perawatan senjata, dan taktik ruangan masuk ke kepalanya seperti peta.
Ia tahu cara memegang pistol.
Ia tahu cara tidak menembak.
Anehnya, pengetahuan kedua terasa lebih penting.
Panel lain muncul.
【Progress menuju Lv2: 2/5 Penghakiman】
【Poin menuju Lv2: 5.000/50.000】
【Jalan masih panjang.】
Kribo duduk di lantai, wajahnya lebih gelap.
"Lima orang, Bro. Lima orang dimakan warga iistrik Surya tanpa tahu."
Raka menatap buku itu lama.
"Makanya kita ada di sini," katanya pelan. "Supaya tidak ada yang keenam."
Di layar laptop, channel Detektif 100 Persen melewati 120.000 subscriber.
Di halaman Buku Penghakiman, angka 2/5 menyala tenang.
Kemenangan terasa ada.
Tapi tidak pernah bersih.