Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Janji seorang eksekutor
Keluar dari toko gadget dengan *paper bag* hitam di tangan Aquilla, Altair bermaksud langsung menuju basement. Hujan baru saja reda, tetapi langkahnya terhenti saat ujung jaket kulitnya ditarik pelan.
"Ke apotek dulu," kata Aquilla singkat.
Altair mengerutkan dening. "Buat apa?"
Aquilla menunjuk dagu suaminya. "Bibir lo masih berdarah. Nanti infeksi."
"Lebay. Nanti juga kering sendiri.
"Ya udah, biarin aja bernanah," balas Aquilla ketus. "Gue cuma nggak mau lo mati tetanus terus gue disalahin."
Altair terlalu lelah untuk berdebat. Ia hanya pasrah mengekor saat Aquilla melangkah tegas menuju apotek di lantai dasar mal. Cewek itu memilih kapas, antiseptik, plester, dan salep antibiotik dengan cekatan tanpa meminta persetujuannya.
Dari dekat rak vitamin, Altair memperhatikan punggung cewek itu. Ada yang aneh. Aquilla yang ia kenal adalah gadis super sombong, manja, dan tidak pernah peduli pada orang lain. Lalu, siapa perempuan yang kini sibuk memilihkan plester untuknya ini?
"Bayar di kasir, Al," tegur Aquilla seraya menyodorkan plastik obat.
Setelah membayar, Aquilla menunjuk kursi kosong di dekat eskalator yang sepi. "Duduk. Gue obatin."
"Di sini?"
"Lo mau di parkiran? Debu. Infeksi," potong Aquilla tegas sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Altair duduk kaku. Dari jarak kurang dari tiga puluh sentimeter, untuk pertama kalinya ia memperhatikan wajah Aquilla tanpa bayang-bayang amarah. Bulu matanya lentik, ada tahi lalat kecil di ujung hidungnya, dan dadanya sedikit bergetar karena fokus. Sentuhan jemari Aquilla saat mengoleskan antiseptik terasa begitu hati-hati.
Kalau cium bibir itu gimana rasanya ya.
Pikiran impulsif itu melintas cepat. Altair mendadak merutuki dirinya sendiri. Sadar, Al. Kalian nikah cuma karena telanjur.
"Perih?" tanya Aquilla pelan.
"Nggak."
"Bohong. Rahang lo tegang gitu." Aquilla menempelkan plester kecil di sudut bibir Altair.
Selesai merawat lukanya, keheningan canggung menyelimuti mereka.
Aquilla memberanikan diri bertanya, "Kenapa lo berantem sama Evan? Padahal kalian temenan dari SMA."
Altair menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras tanpa niat menjawab.
"Yaudah, rahasia negara," sungut Aquilla. Ia lalu menunduk, meremas tali tasnya. "Gue lihat... lo masih suka sama Ruby."
Altair menoleh pelan. "Perasaan suka... nggak semudah itu diilangin, Illa. Apalagi kalau udah bertahun-tahun."
Panggilan Illa itu lolos begitu saja—nama panggilan yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.
Aquilla menggigit bibir bawahnya. "Kalau suatu saat kita cerai... lo jangan nikah sama Ruby, ya. Cewek lain aja. Gue nggak suka lo dapet istri kayak dia. Dia nggak sepolos yang lo kira."
"Kenapa gitu?"
"Gue... gue cuma kasih pendapat sebagai temen," gumam Aquilla cepat, sadar ia hampir melampaui batas.
"Emang kita temen?" goda Altair tipis. "Cocoknya kita musuhan terus, biar lebih hidup."
Aquilla mengerucutkan bibir kesal. Altair hanya menghela napas panjang. "Jangan bahas dia kalau kita lagi berdua," tegas Altair, memberi batas yang jelas.
Aquilla mengangguk menyerah. Namun tak lama, ia kembali bersuara pelan, "Gue... pengen cari kerjaan, Al."
Altair menaikkan sebelah alisnya. "Kerja? Lo?"
"Kenapa? Nggak boleh?"
Altair bersandar santai. "Lo mau kerja apa? Cuci piring aja pegang spons kayak pegang bom."
Darah Aquilla serasa naik ke kepala. "Jangan ketawa! Gue serius! Gue mau belajar biar nggak ngerasa numpang terus!" suaranya bergetar menahan malu dan frustrasi. "Iya, gue memang nggak bisa apa-apa! Cuci piring aja pecah tiga! Puas lo?!"
Melihat kepalan tangan Aquilla yang gemetar di atas paha, amarah Altair seketika menguap. Ada retakan kecil di dadanya melihat cewek yang dulu pantang mengaku kalah itu kini meluapkan kerapuhannya.
"...Sori," ucap Altair pelan. "Gue nggak bermaksud gitu. Kerja itu capek, lo belum biasa."
Altair berdiri lalu mengulurkan tangannya. "Pulang. Nanti gue ajarin dulu di rumah. Kalau udah bisa, baru cari kerja. Deal?"
Aquilla menatap telapak tangan kapalan itu, lalu menyambutnya. "Deal. Tapi kalau lo ngajarnya galak, gue resign jadi murid."
"Galak itu default. Terima paketnya," sahut Altair terkehah tipis.
Mereka berjalan berdampingan menuju basement. Sebelum naik ke atas motor, Altair mendekat untuk membantu mengaitkan tali helm Aquilla. Jemarinya sengaja berlama-lama di bawah dagu cewek itu.
"Illa," panggil Altair lembut.
"Apa?"
"Kalau kita cerai..." Altair menatap matanya dalam-dalam, "gue nggak akan nikah sama Ruby."
Aquilla membeku. "Kenapa?"
Altair tidak menjawab. Ia hanya mengetuk helm Aquilla pelan, lalu menaiki motornya dan menyalakan mesin. "Karena gue udah janji. Dan gue nggak suka ingkar janji."
Motor melaju menembus sisa gerimis. Di jok belakang, Aquilla memeluk erat paper bag di pangkuannya, dengan senyum tipis yang perlahan terbit di bibirnya.