NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 30- Jadi pelindung

Ep. 30- Jadi pelindung

Satu minggu berlalu sejak malam yang mencekam di rumah sakit. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan intensif, pemulihan pasca tindakan, dan pemantauan ketat dari tim dokter spesialis anak, akhirnya Aura diperbolehkan pulang ke rumah.

Meski demikian, balita tiga tahun itu masih harus menjalani perawatan berobat jalan dan terapi fisik secara berkala untuk memulihkan kondisi lengan kirinya yang terbungkus gips putih kokoh.

Hari kepulangan Aura disambut dengan suasana rumah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi atmosfer dingin dan pengabaian yang kaku. Seluruh sudut kediaman Kirana kini diliputi kehangatan yang perlahan mekar.

Pagi itu, sinar matahari hangat menembus ruang keluarga di lantai bawah. Di atas karpet bulu yang lembut, Keisya sedang duduk memangku sebuah buku cerita bergambar tentang petualangan hewan-hewan hutan.

Di sampingnya, Aura duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk. Balita itu mengenakan terusan kain katun berwarna merah muda lembut, dengan lengan kiri bertumpu nyaman di atas bantal khusus.

"Terus ya, Aura... gajahnya panggil burung hantu buat bantu cari jalan pulang!" celoteh Keisya antusias seraya menunjuk gambar gajah besar di buku cerita.

Aura mendongak, matanya yang bulat berbinar ceria. Pipinya yang tadinya pucat kini mulai kembali merona alami.

"Ulung... ulung Terbang!" cicit Aura cadel, tangan kanannya menepuk-nepuk paha Keisya dengan gembira.

Tak lama, Kirana melangkah mendekati mereka sambil membawa nampan berisi dua cangkir susu hangat dan camilan biskuit gandum. Kirana tampil santai dengan blouse linen warna lavender dan rambut yang diikat rapi ke belakang.

Ia meletakkan nampan di atas meja kopi, lalu berlutut di samping kedua putrinya.

Dahulu, Kirana akan melangkah melewati momen-momen seperti ini begitu saja tanpa menoleh. Namun kini, setiap kali Keisya sedang bermain bersama Aura, Kirana selalu ikut meluangkan waktu dan terlibat menghibur mereka.

"Wah, seru sekali ceritanya. Mama boleh ikut dengar?" tanya Kirana sambil menyunggingkan senyuman hangat yang tulus.

Keisya langsung menoleh dan bertepuk tangan gembira. "Boleh, Mama! Sini duduk dekat Keisya sama Aura!"

Kirana pun duduk di atas karpet dan mendaratkan dirinya tepat di antara Keisya dan Aura. Ia meraih cangkir susu khusus balita dan mengarahkannya perlahan ke bibir mungil Aura.

"Minum susunya dulu sedikit demi sedikit ya," tutur Kirana seraya menyangga tengkuk Aura dengan telapak tangannya yang hangat.

Aura menyambut sedotan susu itu dengan gembira dan menyeruputnya pelan sambil menatap wajah Kirana dari dekat. Kini, tidak ada lagi rasa takut atau ragu di mata bulat balita itu.

Setelah selesai minum, Kirana mengusap sudut bibir Aura yang tersisa noda susu menggunakan tisu halus. Kemudian, Kirana mengambil salah satu boneka kelinci berbulu lembut di dekatnya dan menggerak-gerakkannya secara lucu di depan wajah Aura.

"Lihat... Kelincinya mau salaman sama Aura! Halo Aura, tangan Aura cepat sembuh ya!" bisik Kirana dengan suara yang ditirukan ala karakter kartun.

Aura tertawa renyah hingga matanya menyipit gembira. Tawa lepas yang jernih itu memantul indah di setiap sudut ruang keluarga, membawa kebahagiaan yang menular bagi siapa pun yang mendengarnya.

Keisya pun ikut tertawa gembira melihat adiknya terhibur dan ceria kembali, meski lengan kiri anak kecil itu belum sembuh sepenuhnya dari trauma.

Sementara itu, Mbok Darmi dan Mbak Yem yang memperhatikan dari balik meja dapur menyunggingkan senyuman lega dengan mata yang berembun. Rumah ini akhirnya benar-benar terasa seperti sebuah hunian yang utuh.

Sejak kepulangan dari rumah sakit, dinamika di dalam diri Kirana memang telah mengalami pergeseran yang sangat besar.

Memang, secara jujur harus diakui bahwa rasa sayang dan perhatian Kirana pada Aura tidak setumpah kasih sayangnya pada Keisya, darah dagingnya sendiri yang menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya dari awal.

Keisya tetaplah tempat utama di mana Kirana mencurahkan seluruh naluri keibuannya secara alami dan tanpa rasa canggung.

Namun, Kirana yang sekarang tidak lagi mengabaikan Aura.

Garis batas dingin dan tegas yang dulu sengaja ia ciptakan untuk membentengi dirinya dari bayang-bayang almarhum Rendra kini hampir habis tak berbekas.

Kirana tidak lagi memandang Aura sebagai simbol pengkhianatan masa lalu, melainkan sebagai sosok anak manusia mungil yang butuh kasih sayang, perlindungan, dan tempat yang aman untuk tumbuh.

Kirana kini turun tangan langsung untuk memastikan seluruh kebutuhan Aura terpenuhi. Ia sendiri yang memeriksa jadwal obat dan vitamin Aura, ia sendiri yang memilihkan pakaian nyaman yang tidak menekan gips di lengannya, dan ia sendiri yang menuntun serta menemani balita itu saat harus menjalani kontrol medis ke rumah sakit setiap minggu.

**

Sore harinya, saat angin berhembus sejuk menatap area taman belakang rumah, Keisya sedang dipanggil Mbok Darmi ke dalam untuk mandi sore.

Adapun Aura, ia sedang duduk sendirian di atas sofa teras belakang sambil menggoyangkan kaki gempalnya pelan seraya memegang mainan roda kayu dengan tangan kanannya.

Sesaat kemudian, Kirana melangkah keluar teras membawa handuk kecil dan minyak telon hangat. Ia duduk di samping Aura, memiringkan tubuhnya, lalu dengan telaten mengusapkan minyak hangat itu ke dada, punggung, dan perut mungil Aura agar balita itu tidak kedinginan oleh angin sore.

Aura membiarkan Kirana merawatnya, lalu menyandarkan kepala mungilnya yang beraroma sampo bayi ke lengan Kirana dengan penuh rasa percaya.

"Sakit tidak tangannya hari ini?" tanya Kirana seraya mengusap lembut puncak kepala Aura.

Aura menggelengkan kepalanya lalu menyunggingkan senyum polosnya. "Endak... aula ndak akit lagi, Ma..."

Kirana menatap wajah polos itu untuk beberapa saat. Penyesalan atas masa lalu memang masih ada, tetapi tekadnya untuk menjadi pelindung yang tangguh kini jauh lebih besar dari apa pun.

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!