NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 23, Keputusan Pahit

Pagi di hari Minggu turun tanpa suara. Cahaya matahari merambat perlahan melalui celah tirai apartemen, membentangkan garis-garis keemasan di atas lantai ruang keluarga yang mengilap. Udara terasa lenggang, seolah sengaja menahan napas agar tidak menggangu dua hati yang sedang berdiri di persimpangan paling getir dalam perjalanan rumah tangga mereka.

Anna duduk di ujung sofa dengan kedua tangan saling menggenggam. Jemarinya dingin, sementara secangkir teh hangat di atas meja hanya tinggal mengepulkan uap tipis tanpa sempat di sentuh. Pandangannya mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya mengembara jauh, melintas setiap kenangan yang pernah ia bangun bersama laki-laki yang kini duduk beberapa langkah darinya.

Jeevan baru selesai menutup laptop. Laki-laki itu mengenakan kaus hitam sederhana dengan celana rumah berwarna abu-abu. Wajahnya tetap setenang permukaan danau saat angin berhenti berhembus. Sulit ditebak apa yang sebenarnya bergejolak di balik sorot matanya.

Keheningan memenuhi ruangan lebih lama daripada biasanya.

Akhirnya, Jeevan mengangkat kepala. "Aku sudah memikirkannya."

Anna menoleh perlahan.

Tatapan mereka bertemu, lalu saling diam untuk beberapa detik yang terasa sepanjang musim.

"Aku akan mengabulkan permintaanmu."

Kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi, tanpa kemarahan, tanpa pula upaya mempertahankan. Justru ketenangan itulah yang terasa jauh lebih menyakitkan.

Jantung Anna seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi penolakan, perdebatan panjang, bahkan kemungkinan Jeevan memaksanya bertahan. Namun, menerima jawaban setenang itu justru menghadirkan luka yang lebih dalam.

Seperti seseorang yang perlahan melepaskan genggaman bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena menyadari bahwa semakin erat ia menggenggam, semakin besar rasa sakit yang akan ditanggung orang yang dicintainya.

Jeevan kembali bersuara.

"Besok sepulang kerja, aku akan menemui Ayah dan Ibuku." Ucapnya.

Anna menundukkan kepala.

"Kita akan mengurus semuanya dengan baik-baik."

Tak ada lagi yang ia ucapkan. Selama ini, ia mengira dirinya telah siap kehilangan. Namun ketika kehilangan itu benar-benar berdiri di depan mata, keberanian yang selama ini ia bangun runtuh seperti istana pasir yang di terjang ombak.

Anna hanya mampu mengangguk kecil. "Terima kasih."

Jeevan tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tidak terlihat. "Jangan berterima kasih."

Laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju balkon. Angin siang meniup pelan rambutnya.

Dalam diam, ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa persetujuan yang baru saja keluar dari bibirnya adalah keputusan yang paling menyakitkan yang pernah ia buat sepanjang hidup.

Ia kalah.

Bukan karena berhenti mencintai Anna. Melainkan karena perempuan itu telah memutuskan pergi jauh sebelum mengatakan "bercerai."

...💞...

Senin sore.

Langit Jakarta menggantung awan kelabu ketika mobil yang di tumpangi Jeevan berhenti di depan pagar besi rumah kedua orang tuanya.

"Di sini, ya?" tanya sopir tersebut.

"Iya, Pak. Terima kasih," ujarnya seraya mengulurkan uang pecahan untuk membayar ongkos.

Jeevan turun dari mobil setelah membayar ongkos dan langsung membuka gerbang besi rumah yang sudah membesarkan dirinya.

Ketika gerbang itu terbuka, kakinya melangkah masuk. Rumah bercat putih itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Pohon Kamboja di halaman depan tetap berdiri kokoh, sementara bunga-bunganya berguguran, menyelimuti tanah dengan warna putih kekuningan seperti kenangan yang tak pernah benar-benar menghilang.

Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Bu Ratih yang sedang menyusun vas bunga langsung menoleh.

"Loh, kamu datang? Mana Anna?" tanyanya santai.

"Di apartemen." Jawab Jeevan pendek seraya terus melangkah menuju teras depan.

"Gak ikut kenapa?" Bu Ratih menggunting batang bunga mawar segar.

"Aku ingin bicara. "

Nada suara putranya membuat senyum Bu Ratih perlahan memudar. Pak Surya yang tengah membaca koran di ruang tamu ikut mengangkat kepala.

"Ada apa?" tanya Pak Surya dari dalam.

Jeevan berdiri tegak. Sorot matanya tenang, tetapi terlalu tenang hingga menghadirkan firasat buruk.

"Ada yang mau aku bicarakan soal aku dan Anna sama Ayah dan Ibu." Katanya lagi.

Bu Ratih mengeryitkan keningnya sesaat, lalu meletakkan bunga mawar di atas meja dan ikut masuk ke ruang tamu.

Bu Ratih dan Pak Surya duduk di sofa panjang berhadapan dengan Jeevan yang duduk sendirian di sofa tunggal.

"Ada apa?" tanya Bu Ratih santai.

Jeevan mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tuanya. "Aku dan Anna akan bercerai."

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Bu Ratih yang semula bersikap santai kini duduk tegak karena terkejut dengan pernyataan putra sulungnya.

"Apa?" tanya Bu Ratih refleks.

Pak Surya perlahan menurunkan korannya dan lalu melemparnya ke meja. Lalu tatapan pria paruh baya itu berubah tajam.

"Apa kamu bilang? Bercerai?" tanyanya santai.

Jeevan masih menatap lurus. "Iya."

Pak Surya tampak membuang muka. "Tidak!"

Jawaban itu keluar begitu cepat. "Tidak ada perceraian di keluarga ini."

Nada suara Pak Surya tetap datar, tetapi mengandung ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah.

Pak Surya kembali menatap wajah putranya yang masih memandang lurus. "Rumah tangga bukan mainan, Jeevan!"

Jeevan tidak bergeming. "Keputusan kami sudah bulat untuk berpisah."

"Belum tentu." Ucap Pak Surya seraya bangkit dari duduknya. "Selama masih bisa diperbaiki, tidak ada alasan untuk mengakhirinya."

Bu Ratih mulai terlihat panik.

"Kalian bertengkar?" tanya Bu Ratih hati-hati.

Jeevan menatap ibunya. "Tidak."

"Apa Anna marah sama kamu? Apa kamu membuat kesalahan?" tanya Bu Ratih lagi dengan nada suara takut.

"Tidak." Jawabnya lagi.

Bu Ratih berdiri lalu duduk di samping putranya lalu mengelus lengan Jeevan. "Apa jangan-jangan kamu terlalu sibuk bekerja? Atau kamu mengabaikan dia?"

Pandangan Jeevan turun ke bawah, ia menggeleng perlahan. "Tidak."

"Lalu apa?" tanya Bu Ratih penuh kecemasan.

"Perbedaan pendapat." Jawab Jeevan singkat.

Jawaban itu justru membuat suasana semakin mencekam.

Pak Surya mendesah panjang. "Sejak dulu kamu memang selalu hidup sesukamu. Menikah tanpa perencanaan panjang, lalu tiba-tiba ingin bercerai."

Ruangan mendadak sunyi.

Kalimat itu seperti membuka kembali lembaran lama yang telah lama tersimpan rapat.

Jeevan menatap ayahnya tanpa mengubah ekspresi.

Pak Surya melanjutkan. "Waktu lulus SMA, aku ingin kamu masuk kedokteran seperti adikmu. Kamu menolak. Kamu memilih jalanmu sendiri."

Jeevan tetap memilih untuk diam.

"Lalu ketika kamu masih kuliah, kamu datang membawa kabar ingin menikahi pacarmu karena dia hamil."

Bu Ratih memejamkan matanya perlahan. Kenangan itu masih membekas begitu jelas, Pak Surya mengembuskan napas berat.

"Aku menolak bukan karena aku membenci perempuan itu. Aku ingin kalian menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu."

Tatapan lelaki itu mulai melembut. "Tapi akhirnya bagaimana?"

Jeevan merunkan pandangannya.

Pak Surya tetap melanjutkan. "Dia pergi setelah keguguran dan langsung menikah dengan pria lain."

Tak ada bantahan, Jeevan sangat ingat kejadian itu yang membuat dirinya menutup hati. Perempuan itu--Evelyn ternyata mengandung pria lain.

Luka itu terlalu tua untuk kembali di perdebatkan.

"Anna perempuan baik. Dia selalu menuruti perintah ibu, dia selalu ada di rumah, merawatmu, menjagamu, merawat rumah dan selalu bersikap baik terhadap keluarga kita." Ujar ayahnya.

Bu Ratih mengusap kembali lengan putranya. "Kali ini berbeda, Nak. Ibu sangat menyukai Anna. Dia anak yang penurut, tidak pernah membantah."

Jeevan terkekeh kecil. "Anna memang perempuan baik dan penurut seperti yang ibu bilang. Tapi ibu, Ayah...apa kalian sadar, Anna bersikap seperti itu karena kalian!"

"A-apa maksudmu, Van?" tanya Bu Ratih menatap putranya tak mengerti.

"Sejak aku menikah, kalian terlalu sering mencampuri rumah tanggaku." Jawab Jeevan jujur.

Bu Ratih seketika berdiri. "Apa?"

"Kalian selalu bertanya kapan punya anak..."

Bu Ratih menyela. "Ibu cuma khawatir..."

"Khawatir? Ibu selalu saja mengomentari cara Anna mengurus rumah." Katanya masih pelan.

"Itu hanya nasihat, Jeevan." Sela ibunya membela diri.

"Kalian selalu menilai apa yang seharusnya dia lakukan sebagai istri."

Bu Ratih membuka mulut, tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi. Jeevan melanjutkan dengan suara tetap terkendali.

"Setiap kali kami datang ke sini, yang di dengar Anna bukan pertanyaan tentang kabarnya, melainkan tuntutan yang harus ia penuhi. Kalau kalian terus mencampuri urusanku... termasuk pernikahanku..." ia menarik napas dalam. "... bagaimana... bagaimana aku bisa hidup dengan orang lain?"

Bu Ratih mematung, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Aku mencintai Anna." Suara Jeevan kali ini terdengar lirih. "Dan justru karena itu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyalahkannya."

...💞💞💞...

Hai, apa kabar? Jangan lupa dukung Yehppee dengan komen, like, vote, subscribe, dan bintang limanya.

Jangan lupa follow ya🫶

...BERSAMBUNG ...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!