NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 #Rela dibenci

Pagi masih sangat muda ketika sinar matahari pertama membentur kaca jendela kamar VVIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suara denting sendok yang beradu pelan dengan mangkuk bubur menjadi satu-satunya suara di dalam ruangan sejuk itu. Bening tengah duduk di sisi ranjang, menyuapi Kaivan dengan penuh kesabaran. Kondisi tubuh bocah kecil itu sudah jauh melamun membaik, binar ceria di matanya mulai kembali.

Namun, keheningan hangat itu seketika terpecah saat pintu kamar perawatan terdorong lebar.

Gibran Aditama melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang elegan. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kotak mainan berukuran sangat besar yang terbungkus rapi. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat pergerakan tangan Bening mendadak membeku di udara.

"Papa...!" seru Kai riang. Mangkuk bubur di depan matanya langsung terlupakan saat sepasang mata coklatnya menangkap kotak di tangan sang ayah.

Gibran tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang hanya ia tunjukkan pada putranya, lalu mendekati ranjang. "Selamat pagi, anak pintar. Lihat, Papa membawa apa untukmu?"

Gibran meletakkan kotak itu di atas tempat tidur. Mata Kai membelalak lebar melihat gambar pesawat kendali jarak jauh yang canggih dengan lampu LED yang berkilau di atas kemasannya.

"Mama! Lihat ini, Ma! Ini mainan pesawat yang sering sekali Kai lihat di iklan televisi!" jerit Kai antusias, jemari kecilnya mengelus permukaan kotak mainan itu dengan binar kagum.

Bening memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang pucat, meski hatinya terasa seperti diremas. "Iya, sayang... Bilang apa sama Papa?"

"Terima kasih banyak, Papa!" Kai mendongak, langsung memeluk pinggang Gibran dengan erat.

"Sama-sama, sayang," jawab Gibran, membalas pelukan itu dan mengusap lembut kepala Kai.

Selama interaksi manis itu berlangsung, Gibran sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Bening. Ia menganggap Bening tak lebih dari sekadar bayangan. Di belakang Bening, Erika yang ikut menjaga sejak semalam melangkah pelan, menepuk dan menyentuh pundak Bening dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan pada sahabatnya yang sedang hancur.

Gibran kemudian duduk di tepi ranjang Kai, menatap lurus ke dalam mata putranya. "Kai... nanti kalau sudah sembuh dan dokter membolehkan pulang, Kai ikut pulang ke rumah Papa, ya? Seperti yang Papa katakan semalam, di sana ada kamar yang sangat besar dan penuh sekali dengan mainan untukmu."

Tanpa ragu sedikit pun, Kai mengangguk cepat. "Kai mau, Papa! Kai mau tidur ditamani Papa..." Bocah polos itu melebarkan senyumnya, lalu menoleh ke arah Bening. "...dan juga Mama! Mama, kita pindah ke rumah Papa ya? Nanti kita bisa main pesawat ini bertiga!"

Kata-kata polos dari Kai seketika membuat atmosfer ruangan mendadak membeku.

Bening terdiam. Tenggorokannya terasa sangat kering, menyumbat semua kata yang ingin ia lontarkan. Tatapan mata Gibran beralih padanya dingin, tajam, dan penuh dengan kepuasan terselubung, seolah menantang Bening untuk merusak kebahagiaan anak mereka.

Menahan laju air mata yang mulai mendesak keluar, Bening memaksakan dirinya untuk tersenyum manis pada Kai. "Sayang... pesanan kue Mama di rumah kan sedang banyak sekali. Kasihan customer Mama kalau ditinggal begitu saja. Jadi... Kai ikut Papa dulu ya? Nanti kalau pesanan kue Mama sudah selesai, Mama pasti menyusul."

Kaivan yang masih terlalu kecil dan tidak mengerti rumitnya perpisahan kedua orang tuanya, mengangguk percaya begitu saja. "Baiklah kalau begitu, Mama. Tapi Mama harus cepat menyusul ya!"

"Iya, sayang..." jawab Bening lurus.

Melihat kepolosan putranya yang dengan mudah menerima kebohongan itu, Gibran merasa sangat puas. Baginya, ini adalah kemenangan telak untuk merebut hak asuh Kai tanpa perlu membuat anak itu menangis histeris.

Dada Bening terasa sesak luar biasa. Dia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama, melihat bagaimana perlahan-lahan posisinya digantikan. "Kai, Mama... Mama keluar sebentar ya, mau menghubungi pelanggan soal pesanan kue."

Tanpa menunggu jawaban, Bening berbalik dan bergegas keluar. Erika yang mengerti situasi segera berucap, "Pak Gibran, saya juga permisi pamit pulang dulu."

Gibran mengangguk datar lalu kembali fokus pada Kaivandra. Namun, Saat Bening dan Erika melangkah keluar dari kamar, Gibran sekilas menatap punggung Bening yang gemetar. Ada selarik rasa tak nyaman dan aneh yang mengganggu pikirannya saat melihat raut wajah Bening yang begitu hancur. Namun, dengan cepat Gibran mengusir rasa kasihan yang mendadak muncul itu. Dia sengaja membakar kembali prasangka buruk di dalam dadanya.

“Untuk apa kasihan padanya?” batin Gibran dingin. “Dia pasti sedih karena gagal memanfaatkan situasi ini untuk menguras hartaku lagi seperti tujuh tahun lalu. Dia berhak mendapatkan rasa sakit ini.”

.

.

Di luar ruang perawatan, di sudut koridor rumah sakit yang sepi dan remang, pertahanan Bening akhirnya runtuh sepenuhnya. Dia bersandar di dinding dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menangis sesenggukan.

Erika langsung merengkuh tubuh Bening ke dalam pelukannya, ikut meneteskan air mata merasakan penderitaan sahabatnya.

"Kenapa kamu tidak jujur saja padanya, Bening?!" bisik Erika gemas bercampur sedih. "Kenapa kamu biarkan dia terus-menerus membencimu dan menganggapmu wanita jahat? Katakan padanya kalau ayahnya yang merencanakan semua jebakan tujuh tahun lalu! Katakan kalau kamu tidak pernah berselingkuh!"

Bening menggelengkan kepalanya dalam pelukan Erika, isakannya semakin keras. "Tidak bisa, Erika... Ini yang terbaik..."

"Terbaik dari mananya, Ning?! Kamu mengorbankan dirimu sendiri!"

Bening melepaskan pelukannya perlahan, menatap Erika dengan mata yang memerah dan sembap. "Karena aku takut, Er... Aku sangat takut jika aku membongkar kebenarannya sekarang, Kaivan akan berada dalam bahaya besar. Sama persis seperti ancaman Pak Wira padaku tujuh tahun lalu."

Bening meremas jemarinya yang gemetar. "Pak Wira pasti sudah mendengar kabar bahwa Gibran menemukan Kai. Pria tua itu sangat kejam, Er. Aku sangat takut dia marah padaku karena mengusik posisinya, lalu dia kembali mengincar seluruh keluargaku... terutama Kaivan. Jika aku dipandang sebagai wanita jahat di mata Mas Gibran, setidaknya Pak Wira tidak akan merasa terancam dan tidak akan menyakiti anakku."

Erika menatap Bening dengan pandangan tak percaya sekaligus haru yang mendalam. Bening rela menanggung seluruh kebencian dan tuduhan keji dari pria yang dicintainya, hanya demi menjadi perisai yang melindungi putra kecilnya dari ancaman keluarga Aditama.

"Bening... kamu wanita dan ibu yang paling kuat yang pernah aku kenal," bisik Erika luluh, merangkul kembali sahabatnya yang terus menangis meratapi takdirnya yang kelam.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!