NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAPAN NAMA KONSLET MEDAN

Selama dua hari berikutnya, pekerjaan kami bukan memperbaiki listrik, melainkan mengejar potongan video yang menyebar lebih cepat daripada motor Fadli ketika jalan menurun.

Tia mengirim permintaan penghapusan kepada enam akun. Empat mengabaikan. Satu meminta bayaran administrasi. Satu lagi menjawab dengan emotikon tertawa. Liza membantu menulis laporan, sementara aku dan Fadli mendatangi laki-laki yang mengancam melapor untuk menjelaskan keadaan.

Kami tidak bisa menarik kembali semua salinan, tetapi Tia mengaburkan bagian rumah pada versi yang masih dapat diedit dan meminta akun besar mengganti unggahan. Kak Sri menerima permintaan maaf. Bang Ramli juga menerima, setelah memastikan videonya tidak lagi muncul di grup kantor. Ia tetap dipanggil Ketua selama seminggu, tetapi menurut Kak Sri jabatan itu membuatnya menyetrika dua seragam untuk membuktikan diri.

Masalah itu menyisakan tiga pelanggan, satu aturan dokumentasi tertulis, dan kesadaran bahwa usaha kami bahkan belum mempunyai nama.

“Kita tak bisa terus menulis jasa Bang Jepot,” kata Liza pada Sabtu pagi. Ia menempelkan kertas besar di dinding bengkel. “Harus ada nama yang mudah diingat, tidak menipu, dan bisa dipakai di kuitansi.”

Aku sudah memikirkan hal itu sepanjang malam. Dengan spidol biru, kutulis pilihan pertama: JEFRI ELECTRICAL PROFESSIONAL.

Fadli membaca perlahan. “Kau sedang buka usaha atau mencalonkan diri jadi hotel?”

Tia memotret tulisan itu. “Bahasa Inggrisnya membuat Bang Jef terlihat seperti orang yang punya meja resepsionis.”

“Memang profesional,” kataku.

Liza menunjuk sandal jepitku yang putus dan diikat kabel ties. “Identitas visualnya belum mendukung.”

Pak Tor tidak tertawa, tetapi bahunya bergerak sedikit. Itu lebih menyakitkan karena ia biasanya menyimpan ejekan untuk hal penting.

Pilihan kedua datang dari Tia: JEPOT SOLUTION. Liza mencoret karena nama itu menjual julukan, bukan pekerjaan. Pilihan ketiga dari Mak Mina: SINAR JAYA DAN ANAK. Aku menolak karena terdengar seperti toko peti mati.

Fadli mengambil spidol. “Konslet Medan.”

Aku menatapnya. “Apa?”

“Konslet Medan. Pendek. Orang ingat. Semua komentar sudah menyebut hidupmu konslet.”

“Itu penghinaan.”

“Kalau nama itu sudah dikenal, tinggal kita ubah artinya.”

“Kau gampang bicara karena julukanmu Deli Patah tidak masuk papan.”

“Boleh ditulis armada oleh Deli Patah.”

“Tidak.”

Liza menulis KONSLET MEDAN di bagian tengah kertas. Hurufnya rapi dan tegas. “Nama ini jujur tentang asalnya. Tidak menjanjikan sesuatu yang belum kita punya. Dan orang akan ingat.”

Aku merasa semua orang sedang meminta aku memasang kegagalan terbesar sebagai papan di depan rumah sendiri. Nama Bang Jepot sudah membuatku kehilangan pekerjaan. Sekarang mereka ingin mengecatnya dengan warna merah agar terlihat dari ujung gang.

“Nama buruk tidak hilang dengan pura-pura tuli,” kata Pak Tor.

Aku menoleh. Ia berdiri di depan meja dengan alat ukur di tangan.

“Terus?”

“Isi dengan pekerjaan yang baik. Lama-lama orang ingat hasilnya, bukan awalnya.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti penghiburan. Bapak tidak pernah pandai menghibur. Ia hanya memberi sesuatu yang bisa dikerjakan.

Kami mengambil papan tripleks bekas dari belakang bengkel. Permukaannya pernah dipakai untuk iklan depot air, sehingga di balik cat putih samar-samar masih terlihat tulisan ISI ULANG. Fadli mengampelas, Tia membuat sketsa, dan Liza mengukur jarak antarhuruf. Aku bertugas mengecat, pekerjaan yang ternyata membutuhkan kesabaran lebih besar daripada menyambung kabel.

Huruf K miring karena Fadli menyenggol papan saat menghindari kucing. Cat merah menetes dari huruf T. Tia menambahkan garis kuning di bawah nama, lalu menulis slogan tanpa bertanya: MASALAH LISTRIK? JANGAN PANIK, KAMI YANG PANIK DULUAN.

“Hapus,” kataku.

Mak Mina membaca dari warung. “Bagus. Jujur.”

“Pelanggan cari ketenangan, Mak.”

“Kalau lihat wajahmu, mereka sudah tahu tidak dapat.”

Liza ingin mengganti slogan dengan kalimat lebih sederhana. Fadli membela karya Tia karena menurutnya orang lebih suka usaha yang dapat menertawakan diri sendiri. Setelah perdebatan panjang, kami mempertahankannya sementara, dengan ukuran huruf lebih kecil agar tidak terlalu terlihat dari jalan utama.

Sebelum papan dipasang, Pak Tor meminta lampu kecil di atasnya diperiksa. Aku sudah mengganti fitting dan menyambung kabel baru. Ketika hendak menyalakan, ia bertanya, “Sudah diuji?”

Aku mengangguk.

Ia tetap mengulurkan alat ukur.

“Aku sudah cek,” kataku.

“Cek lagi.”

“Bapak tak percaya?”

“Takut itu boleh. Asal tanganmu tetap mengikuti prosedur.”

Aku tidak tahu apakah ia berbicara tentang lampu papan atau pesta yang membuatku dipecat. Aku mengambil alat ukur dan mengulangi pemeriksaan. Sambungan benar, isolasi baik, dan tidak ada tegangan pada rangka logam. Baru setelah itu lampu dinyalakan.

Papan KONSLET MEDAN menyala dengan huruf K sedikit miring. Anak-anak gang berkumpul. Mak Sendok membawa kopi dan mengumumkan bahwa pemasangan papan tidak mengurangi tunggakan sewa. Fadli berfoto di depan tulisan seperti pemilik perusahaan. Tia merekam hanya papan, tangan kami, dan suasana gang. Ia menunjukkan hasilnya kepada semua orang sebelum mengunggah.

“Ini lebih baik,” kata Liza.

Tia mengangkat dagu. “Aku juga bisa belajar.”

Aku berdiri di bawah nama yang masih membuat perutku terasa aneh. Untuk pertama kali, julukan itu tidak hanya milik orang-orang yang menertawakanku. Ada nomor telepon kami di bawahnya. Ada daftar layanan. Ada lampu yang menyala karena sambungan diperiksa dua kali.

Sebuah mobil hitam berhenti sebelum cat pada sisi papan benar-benar kering. Seorang laki-laki berkemeja putih turun sambil melihat layar ponselnya.

“Ini Konslet Medan?” tanyanya.

Fadli menjawab lebih cepat dariku. “Betul. Pusatnya langsung.”

Laki-laki itu memandang bengkel sempit, motor dengan knalpot bekas, dan papan miring. Keraguannya terlihat, tetapi ia tetap berkata bahwa kafe barunya di Kesawan kehilangan listrik setiap kali mesin kopi dan pendingin ruangan dinyalakan bersamaan.

“Besok pembukaan,” katanya. “Kalau malam ini bisa selesai, saya bayar dua kali tarif biasa.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!