Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Lampu Terakhir di Ballroom
Felicia kembali ke ballroom dengan langkah yang tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak bisa disebut tenang.
Di belakang senyum tipisnya, ada satu file audio di ponsel Adi. Ada suara Stella. Ada suara Donny Liem. Ada celah yang, kalau ia tarik sedikit saja, bisa membuat Brandon Surya jatuh dengan wajah lebih dulu di depan seluruh tamu gala.
Tetapi Felicia memilih menggenggam ujung clutch-nya lebih erat.
*Tenang, Cia. Jangan berubah jadi mesin penghancur cuma karena kesempatan sudah ada di tangan. Kalau mau menghajar orang, minimal pilih timing yang elegan.*
Kevin berjalan di sisinya. Jas hitamnya kembali rapi, ekspresinya datar seperti biasa, tetapi jarak bahunya dengan Felicia lebih dekat dari sebelum mereka keluar.
"Tetap di sisiku," katanya rendah.
Felicia menoleh sedikit. "Aku memang tidak pergi jauh."
"Tetap."
Satu kata. Pendek. Tidak memberi ruang tawar-menawar.
*Astaga, cowok es batu ini kalau mode bodyguard kok malah bikin jantung kerja lembur? Fokus, Cia. Ini bukan waktunya melting kayak keju mozarella.*
Sudut bibir Kevin nyaris bergerak. Nyaris saja.
Di depan panggung, MC sedang mengumumkan rekap donasi sementara. Angka paket perangkat belajar dari tantangan piano masih terpampang, diikuti nominal besar dari transfer Brandon. Beberapa tamu bertepuk tangan, tetapi tepuk tangan itu tidak lagi murni untuk keluarga Surya.
Mereka menatap Felicia.
Stella kembali ke sisi Linda dengan wajah pucat yang ditutup bedak tipis. Donny Liem berdiri tidak jauh dari meja Liem, terlalu sibuk membetulkan manset untuk orang yang katanya hanya keluar sebentar. Brandon, sebaliknya, tampak seperti orang yang baru sadar panggungnya direbut tiga kali dalam satu malam.
Begitu Felicia dan Kevin mendekat, Brandon langsung membuka mulut.
"Kalian dari mana?" Nadanya dibuat santai, tetapi matanya gelap. "Gala keluarga sebesar ini, tapi istri kontrakmu malah hilang-hilangan, Kev."
Suara di sekitarnya menurun. Beberapa tamu pura-pura melihat gelas, padahal telinga mereka jelas terangkat.
Felicia tersenyum.
"Pak Brandon khawatir pada saya?"
Brandon mendengus. "Jangan ge-er. Saya cuma tidak mau nama Surya dipakai untuk drama murahan."
"Kalau begitu kita sepakat," jawab Felicia lembut. "Nama Surya terlalu mahal untuk dipakai menutup rasa malu pribadi."
Stella menunduk terlalu cepat.
Donny batuk kecil.
Kevin tidak menoleh, tetapi Felicia merasakan tatapannya jatuh sebentar ke wajah Stella. Ia tahu Kevin menangkap perubahan itu. Bukan karena audio. Bukan karena CCTV. Karena pria itu terlalu terbiasa membaca keretakan sebelum orang lain melihat pecahan kacanya.
Brandon memicingkan mata. "Apa maksudmu?"
"Maksud saya sederhana." Felicia mengangkat gelas air putih dari nampan pelayan, lalu meletakkannya kembali tanpa minum. "Kalau ada masalah pribadi, selesaikan pribadi. Jangan lempar ke acara pendidikan anak-anak."
Rina, dari meja sebelah, menutup mulut dengan clutch.
Jason berbisik cukup keras, "Pedas tapi masih sopan. Ini baru definisi premium."
Brandon menoleh tajam. "Jason."
"Apa? Gue bilang premium, bukan murahan."
Madam Liem melangkah maju sebelum Brandon makin kehilangan kendali. Senyumnya tetap anggun, tetapi urat halus di pelipisnya terlihat tegang.
"Malam ini acara amal," ucapnya. "Anak-anak muda memang mudah terbawa emosi. Yang penting, keluarga tetap satu tujuan."
Hendrik yang sejak tadi diam di kursi kehormatan akhirnya meletakkan gelasnya.
"Kalau satu tujuan, uang yang sudah masuk jangan ditarik lagi," katanya.
Ruangan hening sepersekian detik.
Wajah Brandon mengeras. "Papa, saya tidak pernah berniat menariknya."
"Bagus." Hendrik melirik Pak Agus.
Pak Agus berdiri, membawa tablet kecil ke samping panggung. "Dengan izin Pak Hendrik, Surya Foundation mengonfirmasi dana lima miliar rupiah dari Pak Brandon Surya sudah masuk ke escrow rekening program beasiswa. Perangkat belajar hasil pledge piano malam ini juga akan diproses dengan daftar penerima yang dapat diaudit."
Tepuk tangan kembali terdengar. Kali ini lebih bulat.
Brandon tersenyum kaku. Ia tidak bisa membantah tanpa terlihat pelit. Tidak bisa marah tanpa terlihat kalah. Tidak bisa pergi tanpa terlihat kabur.
*Checkmate tipis-tipis. Uangnya sudah masuk, mukanya sudah jatuh, tapi rambut masih klimis. Lumayan lah.*
***"Host! Emotional damage level Brandon naik tiga puluh persen. Sayangnya belum ada poin, karena dia belum nangis di depan kamera."***
*Si Kepo, tolong jangan berharap orang nangis di gala amal.*
***"Tapi rating-nya pasti meledak."***
Felicia menahan napas agar tidak tertawa.
Kevin menunduk sedikit, seolah sedang membetulkan mansetnya. Padahal Felicia yakin pria itu mendengar semuanya. Di bawah meja, punggung tangan Kevin menyentuh pergelangan tangannya sebentar, singkat, hanya cukup untuk mengembalikan fokus.
Lalu ponsel Adi bergetar.
Adi mendekat dari belakang Kevin, wajahnya tetap datar. "Pak Kevin."
Kevin menerima ponsel itu. Matanya bergerak cepat membaca layar. Setelah satu detik, rahangnya mengeras.
Felicia ikut menoleh.
Sebuah unggahan baru dari akun anonim yang sejak beberapa hari ini menyerang mereka muncul di layar. Fotonya buram, diambil dari sudut koridor. Felicia tampak berdiri dekat pintu servis, Kevin belum terlihat jelas. Caption-nya pendek, tetapi cukup busuk.
Istri kontrak keluar diam-diam dari gala. Dengan siapa?
Perut Felicia langsung dingin.
Brandon juga melihat notifikasi dari ponselnya. Kali ini senyumnya kembali muncul.
"Nah," katanya pelan, cukup untuk didengar orang-orang di dekatnya. "Jakarta memang cepat sekali tahu sesuatu."
Stella mengangkat wajah. Ada panik di matanya, bukan kemenangan.
Felicia melihat itu, lalu paham. Serangan ini mungkin disiapkan tim Brandon, tetapi Stella tahu kalau jalurnya bisa menyeret Donny juga. Kalau Felicia membalas dengan seluruh rekaman, Brandon akan malu. Stella akan hancur. Donny akan terseret. Madam Liem akan marah besar.
Panggung terbuka.
Kevin mengulurkan tangan, mengambil ponsel Felicia sebelum ia sempat bergerak. Bukan merebut, hanya menahan.
"Biar aku."
Felicia menatapnya. "Mas Kevin, kalau kita pakai semua bukti, acaranya akan kacau."
"Aku tahu."
"Dan aku tidak mau Foundation malam ini tenggelam karena gosip."
"Aku tahu."
Hanya dua jawaban, tetapi dadanya terasa hangat.
Kevin menoleh pada Adi. "Legal notice. Sekarang."
Adi mengangguk. "Siap, Pak."
Felicia mengangkat tangannya sedikit. "Tunggu."
Kevin berhenti.
Felicia melangkah maju ke arah Pak Agus yang masih di samping panggung. Ia meminta mikrofon kedua dengan sopan. Pak Agus menatap Hendrik. Hendrik memberi anggukan kecil.
Suara bisik-bisik naik saat Felicia kembali berdiri di bawah lampu panggung. Tidak di tengah seperti tadi, tetapi cukup dekat untuk membuat kamera media kembali mengarah padanya.
"Maaf mengganggu," katanya. "Saya tahu sebagian dari Anda sudah melihat unggahan baru tentang saya."
Beberapa tamu saling pandang. Brandon bersandar dengan wajah puas.
Felicia tetap tersenyum.
"Saya memang keluar dari ballroom beberapa menit. Alasan saya sederhana, ada konfirmasi escrow dan keamanan acara yang perlu dicek dengan tim Pak Kevin. CCTV venue lengkap, log akses lengkap, dan tim legal Surya sudah menyimpan materi fitnah tersebut."
Suara kamera terdengar lagi.
"Saya tidak akan memutar rekaman koridor di panggung amal," lanjutnya. "Karena malam ini bukan tentang siapa yang paling pandai membuat orang malu. Malam ini tentang dana beasiswa yang sudah terkumpul, anak-anak yang akan menerima perangkat belajar, dan tanggung jawab kita untuk tidak mengubah pendidikan menjadi bahan gosip."
Rina menatap Felicia dengan mata berbinar.
Jason mengangkat alis, lalu bertepuk tangan pertama kali. "Nah, itu."
Tepuk tangan menyusul dari beberapa meja. Lalu lebih banyak. Media yang tadi menunggu darah mulai mendapat judul baru yang lebih bersih.
Felicia menurunkan mikrofon. Sebelum ia mundur, ia menoleh ke arah Brandon.
"Pak Brandon, karena Anda sangat peduli pada nama Surya, saya yakin Anda juga setuju kalau penyebar fitnah harus diproses sesuai hukum."
Senyum Brandon membeku.
"Tentu," jawabnya setelah jeda.
"Terima kasih. Saya senang kita satu tujuan."
Pukulan itu tidak keras di telinga. Tetapi di wajah Brandon, efeknya jelas. Ia baru saja dipaksa menyetujui jerat yang mungkin mengarah ke timnya sendiri.
Madam Liem menatap Felicia tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tidak sempat kembali sempurna.
Stella berdiri kaku. Saat Felicia lewat di dekatnya, gadis itu berbisik hampir tanpa suara.
"Kak Cia..."
Felicia berhenti, tetapi tidak menoleh penuh.
"Pulanglah malam ini, Stella," katanya pelan. "Jangan ikut menggali lebih dalam."
Bibir Stella bergetar. "Kakak... tahu?"
"Aku tahu cukup banyak untuk tidak asal bicara."
Stella menelan ludah. Di belakangnya, Donny memalingkan wajah.
Felicia berjalan kembali ke sisi Kevin. Begitu ia sampai, Kevin menyampirkan blazer hitam tipis di bahunya. Ballroom tidak dingin, tetapi setelah serangan terakhir itu, tubuhnya baru sadar tangannya gemetar.
"Kamu baik?" tanya Kevin.
"Aku baik."
"Bohong."
Felicia mendengus kecil. "Kalau tahu, kenapa tanya?"
"Supaya kamu jawab."
*Ya ampun. Ini orang hemat kata tapi sekali ngomong langsung nusuk ke jantung. Siapa yang ngajarin? Buku manual suami mahal edisi terbatas?*
Kevin mengencangkan blazer itu sedikit, matanya tetap lurus ke panggung seolah tidak melakukan apa-apa.
Hendrik bangkit saat acara memasuki penutupan. Ia tidak memuji Felicia panjang lebar. Ia hanya melewati Kevin dan berkata, "Istrimu bekerja baik malam ini."
Kevin menjawab tanpa jeda, "Saya tahu."
Felicia hampir tersandung napas sendiri.
*Mas Kevin! Jangan jawab sekeren itu di depan umum. Nanti gue baper permanen.*
Kali ini, Kevin benar-benar menoleh. Matanya dingin bagi orang lain, tetapi bagi Felicia ada cahaya tipis yang membuat wajahnya panas.
Acara resmi ditutup dengan angka donasi terbesar dalam tiga tahun terakhir. Brandon kehilangan uang dan panggung. Stella kehilangan rasa aman. Madam Liem kehilangan kendali atas narasi malam itu. Dan Felicia, yang datang dengan label istri kontrak, pulang dengan nama yang disebut media sebagai wajah baru Surya Foundation.
Namun sebelum mereka masuk ke lift VIP menuju area parkir, Adi kembali menerima panggilan.
Wajahnya berubah sangat sedikit. Bagi orang biasa, perubahan itu tidak terlihat. Bagi Kevin, cukup.
"Laporan dari Phoenix Intel, Pak," kata Adi. "Ada transfer baru dari Singapore ke vendor lama Jawa Timur. Jalurnya sama dengan temuan Pak Kevin sebelumnya."
Kevin mengambil ponsel.
Felicia melihat layar dari samping. Di sana ada nama perusahaan, nomor rekening, dan satu catatan pengirim yang diberi tanda merah.
Wijaya Group.
Di bawahnya, satu nama muncul seperti lampu bahaya yang baru menyala.
Marcus Wijaya.