NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Matahari pagi menyapa Penthouse mewah keluarga Pratama melalui dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke lanskap gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Sisa-sisa kemewahan malam pernikahan tadi malam telah berganti dengan keheningan pagi yang kaku.

Di atas sofa panjang tempat tidurnya semalam, Rania meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku. Gadis itu bangkit tanpa beban, sama sekali tidak terlihat seperti pengantin baru yang sedang meratapi nasib sial. Sebaliknya, otak nya berputar begitu indra penciumannya mendeteksi sesuatu yang ganjil di pagi hari ini: tidak ada aroma kopi segar atau derap langkah pelayan rumah tangga yang biasa disiapkan untuk melayani kediaman CEO kaya raya.

Rania melangkah keluar dari kamar utama menuju dapur pantry terbuka yang bernuansa modern minimalis dengan dominasi warna marmer hitam. Di atas meja pulau kitchen island, tergeletak selembar memo kecil ber tuliskan tangan dari kepala pelayan rumah.

'Nyonya Resti, mohon maaf yang sebesar besarnya. Seluruh staf dapur mendadak harus mengambil cuti darurat hari ini karena keracunan makanan ringan semalam. Bahan bahan segar tersedia di lemari pendingin. Mohon bantuannya untuk menyiapkan sarapan pagi Tuan Rangga.'

Rania mengerjap dua kali, menatap memo itu dengan tatapan tidak percaya. "Hah? Cuti darurat? Keracunan massal? Astaga, manajemen rumah tangga macam apa ini? Gaji mahal-mahal tapi urusan perut bosnya saja bisa kolaps begini," gerutu Rania dengan nada ketus, melipat tangan di dada.

"Atau karena ibu dan ayah mertua sengaja melakukan ini ya?" Monolog Rania pada diri sendiri.

Namun, alih-alih panik atau menelepon layanan pesan antar makanan mewah yang bisa menghabiskan biaya mahal, kalkulator di kepala Rania langsung aktif. Membeli sarapan dari luar berarti membuang-buang uang secara percuma, padahal persediaan bahan makanan di lemari pendingin Penthouse ini sangat melimpah dan sepenuhnya dibiayai oleh sang suami.

"Bagus. Ini kesempatan emas untuk membuktikan bahwa toko roti Sweet Crumb tidak hanya jago jualan, tapi juga mandiri dalam situasi krisis. Lagi pula, kalau aku memasak sendiri, aku bisa mengajukan klaim penggantian bahan makanan ke bagian keuangan kantor Rangga nanti," gumam Rania menyeringai licik.

Ritual Pembuatan Roti Panggang Susu Legendaris

Rania langsung mengenakan apron katun putih milik pelayan yang tergantung di balik pintu dapur. Rambut panjangnya ia ikat menjadi ekor kuda yang rapi, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang. Tangannya bergerak lincah membuka lemari pendingin raksasa, mengeluarkan bahan-bahan berkualitas tinggi: mentega anchor impor, susu segar full cream murni berlemak tinggi, telur omega, dan tepung terigu protein tinggi khusus pembuatan brioche.

Sebagai seorang pemilik toko roti yang sangat perfeksionis soal rasa dan pengeluaran, Rania tidak pernah berkompromi dengan kualitas. Bagi Rania, makanan enak tidak harus mahal jika diolah dengan teknik yang presisi.

Ia mulai bekerja dengan kecepatan tangan seorang profesional berpengalaman. Pertama-tama, ia mencampurkan tepung terigu protein tinggi dengan ragi instan dan sejumput garam halus di dalam mangkuk adonan keramik besar. Dengan telaten, Rania menghangatkan susu segar murni di atas kompor dengan api kecil, menambahkan sedikit ekstrak vanila murni untuk memperkuat aroma dasar tanpa harus menggunakan bahan pengawet buatan yang mahal.

"Susu hangat... bukan air biasa. Kuncinya ada di kelembapan adonan," ucap Rania pada dirinya sendiri, matanya fokus mengamati tetesan susu yang ia tuangkan perlahan ke dalam mangkuk.

Ia mulai menguleni adonan dengan tangan kosong. Gerakannya ritmis, penuh tenaga namun terkontrol. Suasana dapur mulai dipenuhi oleh suara kepalan adonan yang beradu dengan meja marmer bersih. Rania menambahkan mentega cair secara bertahap, memastikan lemak nabati dan hewani itu meresap sempurna ke dalam serat-serat terigu hingga menghasilkan adonan yang super elastis, dan tidak lengket di tangan.

Setelah adonan didiamkan sejenak hingga mengembang sempurna dua kali lipat, Rania memotongnya dengan pisau dough scraper presisi, membentuk lembaran roti tebal bertekstur fluffy yang kaya akan kandungan susu.

Ia memanaskan wajan tebal di atas kompor dengan api sedang, lalu melelehkan sesendok mentega hingga berdesis harum. Rania merendam lembaran roti buatan tangannya itu ke dalam rendaman campuran susu segar dan telur yang dikocok lepas, lalu memanggangnya perlahan di atas wajan.

Dalam hitungan menit, keajaiban dapur pun terjadi. Aroma manis susu hangat yang berpadu dengan karamelisasi mentega anchor yang terpanggang sempurna langsung menguar memenuhi seluruh sudut Penthouse. Wangi gurih, manis, dan begitu memikat itu merayap perlahan melewati lorong lantai atas, menembus pintu kamar utama tempat Rangga masih terlelap.

Di dalam kamar utama, Rangga Pratama perlahan membuka matanya. Pria itu mengerjap, merasakan tenggorokannya kering dan perutnya berkeroncongan. Semalam ia tidur dengan hati yang panas dan dongkol akibat insiden penipuan pengantin, membuat tidurnya tidak nyenyak di atas ranjang king-size yang luas.

Rangga hendak beranjak turun, ketika indra penciumannya tiba-tiba menangkap aroma yang sangat menggugah selera. Bau harum mentega panggang yang berpadu dengan keharuman susu hangat langsung menyerbu hidungnya, begitu kuat dan begitu menggoda hingga membuat air liurnya hampir menetes.

"Bau apa ini?" gumam Rangga serak khas suara bangun tidur, mengusap wajahnya dengan kasar.

Karena penasaran sekaligus lapar, Rangga bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan jubah mandinya, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah malas menuju sumber aroma tersebut. Begitu tiba di dekat area dapur pantry, pandangan Rangga langsung tertuju pada sesosok wanita berbalut apron putih yang sedang sibuk membalik lembaran roti di atas wajan dengan gerakan gesit.

Rania membalik roti panggang susu itu hingga warnanya berubah menjadi kecokelatan keemasan yang cantik. Di atas piring saji keramik putih, ia menata roti tersebut dengan tambahan taburan gula halus tipis dan siraman madu murni secukupnya.

Rangga berdiri terpaku di dekat meja bar dapur. Matanya menatap punggung Rania, lalu beralih ke piring berisi roti panggang susu yang mengepulkan uap hangat dengan aroma yang benar-benar menyiksa perutnya yang kosong.

Merasa ada sepasang mata tajam yang mengawasinya, Rania menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik, bersidekap sambil menatap Rangga dengan senyum sinis dan sebelah alis terangkat.

"Selamat pagi, suami pelit," sapa Rania tajam, suaranya memecah keheningan pagi. "Bangun juga Tuan Muda. Untung saja aku bangun lebih pagi dan berinisiatif menyelamatkan isi perutmu yang mulia itu dari kelaparan, mengingat seluruh staf dapur rumahmu sedang keracunan massal akibat salah makan kemarin."

Rangga mengernyitkan dahi, gengsinya langsung melonjak tinggi begitu mendengar sindiran tajam dari wanita yang sangat dibencinya itu. Ia menegakkan tubuhnya, memasang wajah sedingin es untuk menutupi rasa laparnya.

"Siapa juga yang meminta kue murahan buatanmu itu?" cibir Rangga sinis, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. "Jangan berani-berani meracuniku dengan makanan sisa dapurmu, Rania. Aku bisa memanggil chef pribadi bintang lima kapan pun aku mau!"

Rania mendengus geli, memutar bola matanya jengah menghadapi gengsi setinggi langit pria di hadapannya.

"Silakan saja panggil chef bintang lima kalau kantongmu masih sanggup bayar biaya darurat pagi ini, Tuan CEO," balas Rania tanpa gentar, mendorong piring berisi roti panggang susu yang masih mengepulkan uap harum tepat ke hadapan perut Rangga. "Tapi ingat, kalau lambungmu kelaparan dan pingsan di tengah rapat penting gara-gara sok jual mahal, jangan salahkan aku kalau saham Pratama Group anjlok karena CEO-nya mati kelaparan di atas meja kerja!"

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!