Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mentari pagi merayap naik, menyinari pelataran SMA Nusa Bangsa dengan kehangatan khas pukul enam lewat tiga puluh menit. Pagi ini, Alya melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan langkah tegap namun napas yang sedikit memburu. Di kedua tangannya, ia membawa empat kotak karton besar berisi penuh dua ratus kue—seratus brownies mini cokelat dan seratus kue lumpur kentang—yang baru saja selesai ia kemas menjelang subuh tadi.
Meskipun matanya terasa sedikit berat karena kurang tidur, semangat di dada Alya membuncah luar biasa. Ia mengenakan seragam putih abunya dengan rapi, membawa harapan bahwa pesanan besar dari akun @angeline.bakery_order ini akan berjalan lancar dan memberikan keuntungan yang berlimpah untuk modal usahanya ke depan.
Sesuai dengan instruksi yang tertera di pesan semalam, Alya tidak menuju ke kelasnya terlebih dahulu. Ia langsung membelokkan langkahnya menuju area **taman belakang sekolah**—sebuah tempat yang cukup rindang dan biasanya tenang, terletak di dekat gedung laboratorium lama.
Setibanya di sana, langkah Alya mendadak melambat. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut taman. Kursi-kursi taman berbahan semen tampak kosong. Tidak ada satu pun orang yang terlihat, apalagi sosok pengurus katering atau perwakilan seminar yang dijanjikan akan menunggunya.
"Eh? Kok sepi banget? Belum datang ya?" gumam Alya bingung, meletakkan empat kotak karton besar itu secara hati-hati di atas bangku panjang agar tidak terkena embun pagi.
Alya melirik jam tangan plastiknya. Pukul 06.45 pagi. Masih ada waktu lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi pukul tujuh tepat. Alya berpikir positif, mungkin pihak pemesan sedang dalam perjalanan atau terjebak macet di luar gerbang sekolah.
Ia lantas mengeluarkan ponselnya dari saku rok, lalu membuka aplikasi Instagram. Jemarinya dengan cepat mengetik pesan pada akun @angeline.bakery_order.
*"Selamat pagi. Saya sudah sampai di taman belakang sekolah sesuai kesepakatan kemarin dengan membawa seluruh pesanan 200 kue. Apakah tim dari katering sudah di dekat area sekolah?"*
Alya menekan tombol kirim. Ia menunggu dengan sabar sambil berdiri di samping tumpukan kotak kuenya, sesekali merapikan letak pita pengaman di kotak karton tersebut. Namun, detik berganti menit, centang pada pesan tersebut hanya terbaca tanpa ada balasan apa pun.
Alya mulai merasa tidak enak. Ia kembali mengetik pesan susulan, mencoba menelepon melalui fitur panggilan di aplikasi, namun panggilannya sama sekali tidak diangkat.
Tanpa ia sadari, waktu berjalan begitu cepat. Jarum panjang di jam tangan Alya terus berputar, melewati angka tujuh, melompati batas toleransi keterlambatan, hingga menunjuk tepat pada pukul **07.35 WIB**.
Suasana sekolah yang tadinya ramai oleh lalu-lalang siswa kini sudah sunyi karena seluruh kegiatan belajar mengajar di dalam kelas telah berlangsung sejak tiga puluh menit yang lalu. Alya terperanjat kaget begitu melihat angka di jam tangannya. Darahnya mendadak berdesir hebat. Setengah jam lebih ia terperangkap dalam penantian yang sia-sia di taman belakang yang sepi.
"Astagaa... jam setengah delapan?!" pekik Alya tertahan, wajahnya seketika memucat pasih.
Kesadaran bahwa ia telah melewatkan jam pelajaran pertama menghantam kepalanya dengan keras. Tanpa pikir panjang, mengabaikan rasa lelah dan beban kotak-kotak kue yang berat di hadapannya, Alya langsung menyambar kotak-kotak tersebut dengan panik. Ia berlari sekencang-kencangnya menyusuri koridor sekolah yang lengang, menuju ruang kelas 11 IPA 1 di lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kelasnya, napas Alya sudah terengah-engah, peluh dingin bercucuran membasahi pelipis dan lehernya. Ia mengetuk pintu kayu kelas dengan gemetar, lalu mendorongnya perlahan.
Di dalam kelas, suasana langsung senyap. Seluruh murid menoleh ke arah pintu, dan yang berdiri di sana adalah Pak Joko—guru matematika yang terkenal Paling disiplin, kaku, dan tidak pernah memberikan toleransi sedikit pun pada keterlambatan. Pak Joko sedang berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan, menatap tajam ke arah Alya yang berdiri kewalahan menenteng empat kotak besar.
Alya menelan ludah susah payah. Dengan suara bergetar, ia membungkuk hormat. "Maaf, Pak Joko... saya terlambat masuk kelas karena..."
Belum sempat Alya merampungkan kalimatnya dan menjelaskan duduk perkaranya, Pak Joko sudah mengangkat tangan kanannya, menghentikan ucapan Alya dengan ekspresi wajah yang mengeras.
"Cukup, Alya Saraswati!" suara bariton Pak Joko memecah keheningan kelas dengan nada yang tegas dan dingin. Guru matematika itu melangkah mendekati pintu, melirik sekilas ke arah tumpukan kotak kue di tangan Alya. "Kamu sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit. Aturan di sekolah ini jelas: siswa yang terlambat tanpa alasan darurat yang sah setelah gerbang ditutup tidak diizinkan masuk mengikuti jam pelajaran pertama saya."
"Tapi, Pak—" Alya mencoba membela diri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak ada tapi-tapian!" potong Pak Joko tandas. "Letakkan barang-barang bawaanmu di luar, dan kembalilah ke ruang tunggu atau perpustakaan. Hari ini, kehadiran kamu di mata pelajaran saya dinyatakan **bolos**. Saya tidak mau kedisiplinan di kelas ini rusak hanya karena urusan luar sekolah yang tidak jelas."
*Brak!*
Pintu kelas ditutup tepat di depan wajah Alya. Seketika itu juga, dunia Alya terasa runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipi. Di depan pintu kelas 11 IPA 1 yang tertutup rapat, Alya berdiri terpaku sendirian memeluk kotak-kotak kue buatannya. Teman-teman sekelasnya, termasuk Adel dan Jesica yang duduk di dalam, hanya bisa menatap nanar melalui jendela kaca dengan rasa iba yang mendalam, namun tidak berani melawan ketegasan Pak Joko.
Alya terpaksa menghabiskan waktu jam pelajaran pertama di bangku koridor luar, meratapi nasib sial yang baru saja menimpanya. Ia akhirnya menyadari bahwa ia telah menjadi korban dari sebuah kebohongan keji—pesanan fiktif dua ratus kue itu adalah jebakan yang sengaja dibuat seseorang untuk menjatuhkannya.
Derita Alya rupanya belum berhenti sampai di situ.
Begitu bel istirahat pertama berbunyi dan suasana sekolah kembali bergemuruh, seorang ketua kelas mendatangi Alya di koridor, menyampaikan titah mutlak dari ruang guru. Alya dipanggil secara khusus oleh Pak Joko untuk menghadap ke ruang guru saat itu juga.
Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat seolah terseret beban berton-ton, Alya berjalan menuju ruang guru dengan membawa sisa-sisa harga dirinya. Sesampainya di sana, ia mendapati Pak Joko sedang duduk di balik meja kerjanya sambil melipat kedua tangan di dada, di samping tumpukan buku catatan nilai.
"Duduk, Alya," perintah Pak Joko singkat namun bernada penuh interogasi.
Alya duduk di kursi kayu berhadapan langsung dengan sang guru matematika. Kepalanya tertunduk dalam, menatap jari-jarinya sendiri yang saling meremas di atas rok abu-abunya.
"Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke ruang guru hari ini, Alya?" tanya Pak Joko membuka pembicaraan dengan nada suara yang sedikit melunak, namun tetap menyiratkan ketegasan seorang pendidik senior.
"Tahu, Pak... karena saya terlambat masuk kelas tadi pagi," jawab Alya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Pak Joko menghela napas panjang, melepas kacamata minusnya lalu meletakkannya di atas meja. "Bukan hanya karena keterlambatan kamu, Alya. Tapi saya mendapat laporan dari beberapa guru dan melihat sendiri bawaan kotak-kotak kue yang menumpuk di tangan kamu tadi pagi. Setelah bel istirahat ini, saya juga mendapat cerita dari beberapa guru piket tentang apa yang sebenarnya terjadi di taman belakang."
Pak Joko menatap Alya lekat-lekat, menyamakan pandangannya dengan siswinya itu. "Alya, kamu adalah salah satu siswi terpintar di angkatan ini. Kamu memegang beasiswa penuh prestasi, dan catatan akademis kamu selalu berada di peringkat tiga besar. Ibu dan pihak sekolah menaruh harapan besar pada masa depan kamu."
Alya mendongak perlahan, menatap mata Pak Joko yang memancarkan kilat kekhawatiran yang tulus di balik sikap disiplinnya.
"Namun, apa yang saya lihat hari ini membuat saya sangat khawatir," lanjut Pak Joko dengan nada serius. "Kamu sibuk berdagang, menerima pesanan dalam jumlah besar, bahkan sampai mengorbankan waktu istirahat malam kamu, hingga akhirnya kamu tertipu, datang terlambat ke sekolah, dan terhitung bolos di mata pelajaran saya. Aktivitas berdagang seperti ini jelas-jelas sudah mulai mengganggu fokus belajar kamu."
Mendengar kalimat teguran tersebut, hati Alya kembali mencelos. Ia menggelengkan kepala pelan, berusaha mempertahankan hak atas kerja kerasnya. "Tapi Pak... saya berjualan bukan karena main-main. Saya butuh tambahan biaya untuk keperluan sekolah, dan semua itu saya lakukan di luar jam sekolah tanpa mengabaikan..."
"Saya paham kondisi ekonomi keluarga kamu, Alya," potong Pak Joko dengan bijak namun tegas, tidak memberikan ruang bagi Alya untuk mendebat lebih jauh. "Tetapi tugas utama kamu di SMA ini adalah belajar dan menimba ilmu, bukan mencari uang hingga mengorbankan kesehatan fisik dan kedisiplinan akademis kamu."
Pak Joko bersedekap kembali, lalu menjatuhkan keputusan mutlak yang membuat seluruh pertahanan Alya hampir runtuh.
"Oleh karena itu, demi kebaikan masa depan kamu dan kelangsungan beasiswa kamu di sekolah ini, **saya memutuskan mulai hari ini kamu tidak boleh lagi berjualan di lingkungan sekolah dalam bentuk apa pun**," tegas Pak Joko tanpa kompromi. "Fokuskan seluruh pikiran dan tenaga kamu hanya untuk belajar, Alya. Jangan biarkan urusan dagang ini merusak masa depan gemilang yang sudah berada di depan mata kamu."
Ruang guru mendadak terasa begitu sunyi bagi Alya. Air mata yang sudah ia coba bendung sejak pagi kini kembali menetes deras membasahi pipinya. Larangan untuk berjualan di sekolah berarti memotong salah satu jalur rezeki paling potensial yang baru saja ia bangun dengan susah payah bersama ibunya. Di tengah himpitan kenyataan pahit itu, Alya merasa seolah seluruh alam semesta sedang berkonspirasi untuk meruntuhkan semangat hidupnya, menyisakan rasa sesak yang teramat sangat di dalam rongga dadanya.