NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Habis ini Kamu yang aku makan

Setelah urusannya dengan Zulfa selesai, Arslan kembali ke kantor untuk menuntaskan pekerjaan yang masih menumpuk. Kali ini ia mengemudikan mobil dengan hati yang jauh lebih tenang. Setidaknya, ia sudah meminta maaf pada Zulfa karena tidak memberitahu soal makan siangnya bersama Fathiya dan Bu Risma. Meski persoalan itu tampak sederhana, Arslan tahu betul—bagi seorang istri, hal-hal kecil yang disembunyikan sering kali terasa jauh lebih menyakitkan daripada kesalahan besar yang diakui.

Ia menggenggam setir lebih erat.

Mulai hari ini, ia harus lebih berhati-hati jika kembali berurusan dengan masa lalunya.

Ia tak ingin perempuan yang menemaninya selama ini terus di buat rapuh oleh keadaan.

Tanpa terasa, seluruh urusan kantor selesai pukul tujuh malam. Lebih cepat dari biasanya. Arslan bahkan tak sempat duduk lama di ruang kerjanya. Ia buru-buru merapikan berkas, mengambil jas, lalu melangkah keluar dengan satu tujuan sederhana—

pulang.

Ia ingin makan malam bersama istrinya.

Ia yakin, Zulfa pasti sudah menyiapkan sesuatu yang hangat dan lezat untuknya. Dari raut wajah istrinya siang tadi, Arslan bisa melihat suasana hati Zulfa mulai membaik. Dan itu cukup membuat langkahnya terasa ringan.

Sesampainya di rumah, aroma masakan langsung menyambutnya begitu pintu terbuka.

Wangi tumisan bawang, rempah, dan makanan rumahan memenuhi udara, menciptakan rasa tenang yang tak pernah ia temukan di tempat lain.

Rumah ini selalu terasa hidup ketika Zulfa memasak. Arslan tersenyum kecil, lalu melangkah cepat menuju dapur.

Benar saja.

Di sana, Zulfa masih sibuk berdiri di depan kompor, mengaduk sayuran dalam panci dengan penuh perhatian. Rambutnya digelung rapi ke atas, memperlihatkan tengkuk jenjang yang selalu membuat Arslan betah memandanginya, dan tergoda untuk mendekat.

Tanpa suara, Arslan mendekat dari belakang.

Lalu merengkuh tubuh istrinya erat.

Zulfa sedikit terkejut, sendok di tangannya nyaris terlepas.

Namun detik berikutnya, ia justru melemas nyaman ketika pelukan hangat itu semakin erat di pinggang rampingnya.

Arslan menempelkan dagu di bahu istrinya, lalu mencium rambutnya perlahan.

"Aku kira kamu sudah selesai masak," gumamnya pelan.

"Sebentar lagi," jawab Zulfa sambil tersenyum tipis.

Ia tetap mengaduk panci, meski tubuhnya kini terkurung hangat dalam pelukan sang suami.

"Sambil nunggu matang semua..." Zulfa menoleh sedikit. "Mending kamu mandi dulu."

Arslan menghela napas malas.

"Padahal aku masih betah di sini."

Zulfa terkekeh kecil.

"Kalau betah terus, nanti sayurnya gosong."

"Baiklah," sahut Arslan akhirnya menyerah.

Zulfa mematikan api kompor, lalu bergegas menuju laundry room mengambil handuk bersih yang baru selesai dicuci. Ia kembali dan mengalungkan handuk panjang itu ke leher suaminya.

"Nah, sana mandi." Nada suaranya terdengar seperti perintah, tapi begitu lembut di telinga Arslan.

Pria itu menurut, namun sebelum beranjak, ia menahan langkah sejenak. Tangannya menyentuh pipi Zulfa pelan. Lalu mengecup singkat kening istrinya. Seketika senyum manis merekah di wajah Zulfa.

Sesederhana itu.

Suaminya memang selalu tahu cara membuat hatinya kembali pulih—

cukup dengan sentuhan kecil,

cukup dengan perhatian sederhana.

Setelah selesai memasak, Zulfa menyuruh salah satu asisten rumah tangga memindahkan seluruh hidangan ke meja makan. Aroma masakan hangat segera memenuhi ruang makan, menciptakan suasana rumah yang semestinya terasa damai.

Sementara itu, Zulfa melangkah ke ruang tengah. Pandangannya tertuju pada tas kerja, jas, dan juga sepatu Arslan yang tergeletak begitu saja. Seperti biasa, ia tergerak untuk membereskannya. Namun ketika tangannya hendak meraih jas sang suami, ponsel Arslan yang terletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Langkah Zulfa terhenti.

Entah mengapa, kali ini ada dorongan aneh yang membuatnya menoleh. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak pernah lancang memeriksa ponsel suaminya.

Hampir tidak pernah. Namun jantungnya seolah memaksanya untuk melihat ketika layar ponsel menyala.

Dan seketika dada Zulfa terasa nyeri saat membaca nama yang tertera di sana.

Fathiya.

Satu panggilan tak terjawab.

Mungkin hanya ingin memberi tanda agar pesannya segera dibaca.

Belum sempat Zulfa menenangkan diri, sebuah notifikasi baru muncul di layar. Senyap. Tanpa suara. Hanya tampilan pop-up singkat yang begitu jelas terbaca di matanya.

Dengan jemari sedikit gemetar, Zulfa membaca isi pesan itu.

"Terima kasih ya, uang donasinya cepat sekali cairnya."

Kalimat itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Namun emotikon pelukan di akhir pesan itu terasa seperti duri kecil yang menusuk dadanya.

Zulfa mematung.

Pandangannya terpaku pada layar.

Lalu ia menggeleng pelan, berusaha menepis segala prasangka yang mulai merayap di benaknya.

Tidak.

Ia tak mau curiga lagi.

Mungkin itu hanya kebiasaan Fathiya.

Mungkin salah kirim emotikon.

Mungkin... tidak ada apa-apa.

Namun kata mungkin sering kali menjadi tempat lahirnya luka.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Berat, mantap, menuruni anak tangga satu per satu.

Zulfa tersentak.

Cepat-cepat ia meletakkan ponsel itu kembali ke tempat semula, seolah tak pernah menyentuhnya.

Arslan muncul dari ujung tangga.

Tubuhnya masih segar sehabis mandi. Aroma sabun dan sampo menguar samar setiap kali ia mendekat. Rambutnya masih sedikit basah, berantakan alami, dengan tetes-tetes air yang sengaja dibiarkannya jatuh membasahi kaus putih polos yang menampakkan dada bidangnya yang tercetak sempurna.

Zulfa menatap sekilas ke arah suaminya, lalu buru-buru memalingkan wajah.

Maksud hatinya ingin menghindar, namun Arslan jauh lebih cepat menangkap tubuh Zulfa. Dalam beberapa langkah saja pria itu sudah berada di dekatnya, lalu kembali merengkuh tubuh Zulfa dari belakang.

Pelukan hangat itu tiba-tiba mengurung Zulfa.

"Aku mau naruh tas kamu dulu di ruang kerja. Jas kamu juga kotor, harus aku taruh di belakang," ucap Zulfa, berusaha tetap tenang meski tubuhnya terasa tak nyaman karena kulit Arslan yang masih basah ikut menempel pada lengannya.

"Biar Bik Atik saja yang beresin," sahut Arslan santai. "Aku mau cepat makan. Lapar banget."

Zulfa menghela napas, lalu menoleh setengah kesal.

"Kamu ini gimana sih? Habis mandi kok badannya masih basah semua begini."

"Ya habis aku buru-buru," jawab Arslan enteng. "Lagi kelaparan."

Ia menunduk sedikit, menghirup aroma tubuh istrinya yang bercampur wangi dapur.

"Kamu masak apa saja hari ini?" tanyanya lagi.

"Banyak, pokoknya." Zulfa tersenyum manja. "Aku pengen bikin perutmu nggak muat nampung semua masakanku."

"Oh begitu..." Arslan menaikkan alis. "Jadi kamu sengaja mau bikin aku buncit? Kayak bapak-bapak slow living yang hobinya cuma makan, tidur, healing, ya?"

Zulfa langsung terkekeh geli.

"Mana mungkin kamu jadi begitu. Kamu kan paling rajin olahraga. Sibuk jaga badan biar tetap kayak Hulk."

Arslan memicingkan mata.

"Dasar kamu."

Dengan gemas ia menjepit hidung mancung istrinya pelan.

Tubuh Arslan memang tegap dan berotot, dengan garis-garis otot yang terbentuk sempurna. Namun jelas tak sebesar Hulk. Zulfa memang suka melebih-lebihkan sesuatu hanya untuk menggoda suaminya.

Dan anehnya, hal itu selalu berhasil membuat Arslan kesal sekaligus gemas.

"Sudah, ayo makan," ajak Zulfa sambil menarik lembut tangan suaminya menuju ruang makan.

Namun Arslan justru menahan langkahnya.

Ia menarik tubuh Zulfa sedikit mendekat, lalu membisikkan sesuatu di dekat telinganya yang menimbulkan sensasi geli.

"Habis ini... kamu yang aku makan."

Wajah Zulfa seketika memerah.

"Arslan!" serunya malu sambil memukul pelan dada bidang suaminya.

Tawa Arslan pecah memenuhi ruangan.

Rumah yang tadi sempat terasa dingin kini kembali hangat oleh canda sederhana mereka.

***

Di meja makan, Zulfa sibuk menyiapkan hidangan untuk Arslan.

Dengan cekatan ia mengambilkan nasi putih hangat, lalu menambahkan beberapa lauk dan sayuran ke atas piring suaminya. Semua tertata rapi, seperti biasa—penuh perhatian kecil yang tak pernah ia lewatkan.

Namun ketika hendak menuangkan air putih ke dalam gelas, gerak tangannya terhenti.

Arslan sedang asyik memainkan ponselnya.

Bukan bermain game.

Arslan tidak pernah tertarik pada hal-hal seperti itu.

Bukan pula menelusuri media sosial tanpa tujuan. Arslan bukan tipe pria yang gemar membuang waktu untuk menggulir berita-berita tak penting atau terpancing emosi oleh akun viral yang dipenuhi ujaran kebencian.

Bahkan akun media sosialnya pun nyaris tak pernah aktif. Ia hanya mengikuti satu akun saja, yaitu akun milik Zulfa.

Istrinya itu memang memiliki cukup banyak penggemar sejak beberapa tahun terakhir. Setiap unggahan Zulfa selalu tampak menarik; mulai dari hasil masakan, sudut-sudut rumah yang tertata indah, hingga potret dirinya yang sederhana namun menawan. Tak heran jika kolom komentarnya sering ramai dipenuhi pujian.

Dan Arslan... hanya memantau diam-diam.

Bukan karena ingin ikut bermain media sosial, melainkan memastikan satu hal sederhana—bahwa istrinya tidak sedang digoda siapa pun.

Jika ada komentar lelaki yang terasa kelewat berani, Arslan akan membacanya dengan rahang mengeras. Jika ada yang mencoba terlalu akrab, ia diam-diam kesal sendiri.

Meski begitu, ia tak pernah melarang Zulfa tampil atau membatasi ruang geraknya. Ia hanya memilih menjadi penjaga sunyi, mengawasi dari kejauhan dengan caranya sendiri.

Bagi Arslan, dunia boleh mengagumi Zulfa. Namun wanita itu tetap miliknya seorang.

Lalu... apa yang membuatnya begitu fokus?

Pertanyaan itu diam-diam muncul di hati Zulfa.

Dan seketika pikirannya terlempar pada pesan singkat yang tadi sempat ia baca.

Fathiya.

Hanya ucapan terima kasih.

Namun...

Belum sempat Zulfa menenangkan pikirannya, ia melihat Arslan tiba-tiba tersenyum kecil ke arah layar ponsel. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, lincah mengetik balasan demi balasan.

Seolah ada seseorang yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara.

Dada Zulfa terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

"Mau sampai kapan main HP terus?" tegurnya, berusaha terdengar biasa. "Ayo cepat dimakan, mumpung masih hangat."

Nada suaranya terdengar seperti seorang ibu yang sedang menegur anaknya.

"Iya," jawab Arslan singkat.

Ia mulai menyuap makanan ke mulut, tetapi pandangannya masih tertambat pada layar ponsel. Sesekali jemarinya kembali mengetik, seolah sedang menunggu balasan dari seseorang.

Zulfa yang duduk di seberang tentu tak bisa melihat dengan siapa suaminya bertukar pesan.

Relasi Arslan memang banyak.

Rekan bisnis, kolega, klien, partner kerja.

Dan hampir setiap hari ia memang sibuk seperti itu.

Namun malam ini terasa berbeda.

Mungkin karena nama wanita itu sudah lebih dulu menancap di pikirannya.

Zulfa mulai menduga-duga sesuatu.

Ah, tidak...

Seharusnya ucapan terima kasih seperti itu cukup dibalas singkat: sama-sama.

Lalu selesai.

Kecuali...

jika salah satu dari mereka memilih membuka percakapan baru.

Zulfa menggenggam gelas di tangannya lebih erat.

Ia segera menggeleng pelan, berusaha menepis prasangka yang mulai tumbuh liar.

Tidak.

Ia tak boleh seperti ini.

Ia tak ingin menjadi istri yang dipenuhi curiga.

Namun semakin ia berusaha tenang—semakin keras hatinya bertanya.

"Enak masakannya?"

Zulfa sengaja bertanya, berharap perhatian Arslan beralih dari layar ponselnya.

Dan caranya berhasil.

Arslan mengangkat kepala, menatap istrinya sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Kapan sih kamu pernah masak nggak enak?" ujarnya santai. "Kalau memang nggak enak, mana mungkin aku makan selahap ini."

Zulfa menatap suaminya dalam diam. Entah sudah berapa kali pria itu memujinya dengan cara sederhana seperti ini, namun anehnya tetap saja mampu menghangatkan hatinya.

"Kalau begitu," ucap Zulfa sambil menyandarkan dagu di telapak tangan, "cepat habiskan makanannya..."

Ia sengaja menggantung kalimatnya sesaat.

"Lalu gantian kamu yang aku makan."

Sontak Arslan terdiam sepersekian detik.

Lalu senyum lebar merekah di wajahnya.

Tanpa ragu ia meletakkan ponsel begitu saja di samping piring, seolah benda itu tak lagi penting.

"Wah... kalau begini ceritanya, aku harus makan lebih cepat."

Zulfa tertawa kecil melihat perubahan sikap suaminya yang begitu mudah dialihkan.

Arslan pun mulai fokus menghabiskan seluruh makanan di hadapannya tanpa sisa. Sesekali ia melirik Zulfa dengan tatapan penuh arti, membuat wanita itu pura-pura sibuk merapikan sendok garpu agar tak terlihat salah tingkah.

Malam itu, meja makan mereka kembali dipenuhi kehangatan.

Namun jauh di dasar hati Zulfa, masih ada satu pertanyaan kecil yang belum sempat terjawab.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!