NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku ingin ke Apartemen mu

Pertemuannya dengan Fathiya akhir-akhir ini membuat Arslan tersadar kalau hubungannya dengan Fathiya belum benar-benar selesai. Sedikit perasaan itu masih ia simpan untuk wanita yang sudah sepuluh tahun menghilang dari hidupnya. Memang sulit sekali melupakan cinta pertamanya yang menyimpan banyak kenangan yang tak terlupakan. Semakin Arslan mencoba melupakan Fathiya semakin sering kenangan bersamanya berputar di otaknya.

Arslan masih terpaku di meja kerjanya, rantang makanan yang baru saja dikirim Zulfa ia abaikan begitu saja, pikirannya masih di penuhi bayang-bayang fathiya. Tiba-tiba satu pesan masuk, Fathiya meminta tolong padanya untuk menjemputnya di bandara. Tanpa berpikir panjang Arslan langsung meraih kunci mobil dan memakai jasnya lalu bergegas menuju bandara tempat Fathiya menunggu. 

lelaki itu tiba di bandara dibalut kemeja putih dan celana bahan hitam yang sudah tampak sedikit kusut. Arslan berusaha tidak terlihat mencolok, tetapi sosoknya memang luar biasa tampan jelas bukan hal mudah untuk bersembunyi di khalayak ramai. Mereka yang ada disana memerhatikan Arslan namun ia bersikap acuh seolah mereka yang memandang di anggap tak kasat mata. Pandangannya terfokus pada sosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. Kacamata hitam yang melekat di hidung bangirnya ia lepas saat menangkap bayangan masa lalunya hadir di hadapannya.

Setelah mata mereka bersitemu dan saling berpandangan cukup lama, Arslan menyeringai, lantas mengedikkan dagu ke arah luar agar ia cepat mengikuti dari arah belakang. Fathiya paham, sehingga menurunkan tangan dan menetralkan mimik wajah, ia segera berjalan sesuai arahan. 

Tubuh langsing Fathiya dengan rambut coklat yang berayun mengikuti gerakan tubuhnya membelah keramaian. Netranya berbinar, dadanya berdentam tak karuan, ia begitu antusias untuk segera mendekat tubuh pria yang selalu di rindunya.  Pada akhirnya Arslan kembali padanya dan Zulfa hanya persinggahan sementara. Selamanya mereka akan saling terhubung. Terlalu banyak hal yang telah keduanya lewati sampai berada di titik ini.

Mobil mewah terparkir di depan bandara, Arslan sudah lebih dulu masuk, lalu Fathiya dibantu oleh seorang sopir masuk ke dalam mobil berserta koper-kopernya. 

"Sudah nggak ada lagi barang-barang kamu yang tertinggal di Singapore?" Tanya Arslan pada Fathiya yang sudah duduk di sebelahnya. 

"Sudah nggak ada lagi, kok." Jawab Fathiya. 

"Mau makan siag dulu atau langsung istirahat?" Tanya Arslan lagi. 

"Mau istirahat aja kayaknya, tapi istirahat dimana ya? Nggak mungkin kalau aku minta antar kamu ke rumah tante, disana ada Rian, Anna dan Sofia." Katanya lagi. 

"Aku antar kamu ke apartemen ku aja ya, kamu bisa istirahat sementara disana." Fathiya mengangguk senang. Lalu Arslan menyuruh sopirnya untuk menuju ke apartemen yang sudah lama tidak ia huni. 

Sesampainya di apartemen, Arslan turut turun untuk membantu Fathiya membawa koper-kopernya. Mereka menaiki lift basement agar tidak ada yang mengetahui kebersamaan mereka.

Sesampainya di dalam apartemen Fathiya langsung memeluk tubuh Arslan dari arah belakang hingga membuat Arslan begitu terkejut. "Aku rindu sekali padamu." 

Fathiya menghidu aroma vanila yang melekat pada tubuh Arslan yang bidang itu. Bukannya berpaling, Arslan justru menyambut hangat pelukan Fathiya. Merengkuhnya dengan perasaan yang sama, rindu yang sama hebatnya. 

"Aku tahu ini salah, tapi aku masih menginginkanmu. Aku benar-benar nggak bisa ngelupain kamu. Aku bahagia sekali bisa seperti ini lagi."

"Tidak Fathiya. Ini tidak salah. Aku hanya keliru berpikir bersama Zulfa adalah hal yang paling aku inginkan. Aku minta maaf karna tidak sabar nenunggu kamu lulus kuliah dan mencoba menghalangi cita-citamu menjadi dokter. Maaf kalau aku sudah salah langkah karna menikahi wanita lain." 

"Sudah pernah ku bilang, kamu bisa kembali padaku kapan saja. Karena dari dulu sampai sekarang, satu-satunya lelaki yang kucintai hanya kamu." 

Detik kemudian mereka tengggelam dalam kenyamanan yang sudah lama sekali hilang, saling mendekap, menyalurkan kerinduan yang teramat dalam.

"Aku rindu sekali padamu, Arslan. Aku ingin merasakan sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya." Lalu Fathiya mengecup bibir Arslan, memagutnya dengan lembut, dan Arslan membalas dengan melumat bibirnya, lebih dalam, lebih menuntut. Seakan seluruh perasaan yang selama ini ia kubur menemukan jalannya untuk keluar. 

Namun Fathiya menarik diri sejenak. Napasnya memburu, matanya menatap Arslan dengan penuh arti, "Aku ingin lebih dari ini, aku ingin kamu masuk lebih dalam ke tubuhku." 

Kata-kata itu menggantung di udara.

Mengaburkan batas antara masa lalu dan masa kini.

Dan perlahan... menyeret Arslan semakin jauh ke dalam sesuatu yang tak lagi bisa ia kendalikan.

***

"Tidak... tidak... hentikan... tolong jangan seperti ini!"

"Hentikaaan...!!!"

Teriakan itu pecah di tengah gelap.

Peluh membanjiri wajahnya yang tegang, napasnya tersengal tak beraturan. Kedua tangannya mengepal keras di sisi tubuh, seolah berusaha menahan sesuatu yang tak kasat mata. Dadanya terasa sesak—seperti diremas tanpa ampun—hingga udara seakan direnggut paksa dari paru-parunya, sedikit demi sedikit.

"Sayang... sayang, hey... Zulfa? Ada apa? Zulfa!"

Suara panik itu datang bersamaan dengan tepukan lembut di pipinya.

Zulfa tersentak bangun.

Napasnya terengah-engah, matanya membelalak dengan wajah pucat pasi. Air mata membasahi bantal tanpa ia sadari.

"Ya Tuhan..." gumamnya parau. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Satu tangannya refleks meremas dada yang masih berdegup kencang, seolah jantungnya ingin melompat keluar.

Di hadapannya, Arslan menatap dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Sayang... astaga, kamu kenapa?" suaranya bergetar. "Ya Tuhan, kamu kenapa sebenarnya?"

Zulfa masih terjebak di antara mimpi dan kenyataan. Bayangan itu... masih terlalu nyata. Terlalu jelas.

Setiap detailnya masih terputar di kepalanya— Bagaimana mereka saling berbicara, menyentuh, berciuman dan berakhir ... bercinta!

Semua terasa begitu hidup, seolah benar-benar terjadi di depan matanya.

"Zulfa, ada apa? Jangan buat aku takut..." Arslan menangkup wajah istrinya, menyeka keringat di keningnya dengan lembut. "Kamu mimpi buruk? Ceritakan padaku... jangan simpan sendiri. Aku di sini."

Zulfa menatapnya.

Lama.

Tatapannya bergetar, penuh emosi yang tak mampu ia jelaskan.

Bibirnya terbuka, ingin bicara... namun tak satu pun kata keluar.

Bagaimana ia harus menjelaskan...

bahwa dalam mimpinya, ia melihat suaminya bersama wanita lain?

Zulfa tersadar kalau ia terlalu memikirkan ucapan tante Yevi yang membuatnya bermimpi buruk. Zulfa menggeleng keras, air matanya masih membanjiri pipi. Entah mengapa, mimpi itu terasa begitu nyata... seolah bukan sekadar bunga tidur, melainkan bayangan dari sesuatu yang mungkin benar-benar terjadi.

Entah berapa kali Arslan harus mengulang ucapan yang sama, rasanya ia akan gila melihat pucat pasi yang menhias paras istrinya. Tatapannya kosong, netranya memerah dan berkaca-kaca. Dia tampak terluka untuk sesuatu yang tidak Arslan ketahui, dai ia benci ini. Rasanya Arslan ingin masuk ke alam bawah sadarnya dan menghabisi siapa pun yang telah mengganggu tidur istrinya. 

Ketika ucapan Arslan tak juga disahuti, ia lantas menaburkan kecupan di keningnya, tak berhenti menenangkan. "Kamu nggak apa-apa Zulfa, kamu nggak apa-apa. Aku disini ada bersamamu. Jangan takut, sayang. Aku mencintaimu." 

Zulfa masih membisu, kaki dan tangannya gemetar, diiringi gebuan napas yang memburu kasar. Jantungnya berdebar cepat, sedang kedua netranya menatap pusat mimpinya yang kini khawatir mengamatinya seraya mengelus-elus rambutnya dengan kehangatan yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Gurat panik Arslan tampak jelas, berulangkali dia memastikan Zulfa baik-baik saja sambil menggenggam satu tangannya yang terasa dingin dan menciuminya. 

"Zulfa, kamu membuatku takut sekarang! Tolong jangan seperti ini. Aku benci tidak bisa melakukan apa pun untukmu sama sekali!" mata Arslan berkaca-kaca. "Ada apa sebenarnya? Katakan padaku, jangan dipendam sendiri. Nanti dada kamu sakit."

Jemari Arslan mulai mengusap air matanya, Zulfa masih tampak menerka-nerka apa yang terjadi sehingga tanpa bertanya lagi, Arslan mengangkat tubuh Zulfa dengan penuh kelembutan dan membawanya ke dalam pelukan. Ia membisikkan banyak kalimat menenangkan hingga napas Zulfa yang bergemuruh kasar perlahan berhasil di netralkan. 

Menit berlalu, tangan Zulfa baru terasa membalas peluknya, walau bibirnya masih dia seribu bahasa. 

"Tidak apa-apa sayangku, kamu baik-baik saja. itu hanya mimpi buruk, jangan dipikirkan. Ada aku disini, sampai mati aku akan selalu ada di samping kamu." Arslan kembali menaburkan ciuman di puncak kepalanya, mengeratkan pelukan sambil terus membelai turun-naik punggungnya. "Apapun mimpi buruk yang kamu alami, aku jamin tidak akan pernah terjadi. Aku akan selalu berada di pihakmu, membelamu dari orang-orang yang menyakitimu."

Bulir air mata Zulfa kembali mengalir, walau isaknya sekuat tenaga ia tahan agar tidak keluar. "Aku takut, Arslan, aku benar-benar takut ..."

Aku terlalu mencintaimu, Arslan dan bayangan kehilangan kamu membuatku sakit. Aku tidak pernah setakut ini, bagaimana jika bayangan yang sedang berputar di otakku benar terjadi.

"Apa yang membuatmu takut? Aku ada di sini. Aku nggak pernah kemana-mana. Kamu adalah tempatku untuk pulang."

"Aku minta maaf jika aku tidak pernah cukup baik untuk kamu. Maaf ..."

Arslan mengerjap kesal, ia langsung melepas pelukan dan menatap Zulfa heran dan jengah. "Apa maksud kamu tidak pernah cukup? Kenapa tiba-tiba mengatakan omong kosong itu?"

Zulfa menyeka secara cepat air matanya, "Aku ... hanya merasa tidak cukup pantas untukmu. Kamu ..." 

Arslan tidak membiarkan Zulfa menyelesaikan kalimatnya dan memilih mencium bibir ranum istrinya lalu melepasnya perlahan, menautkan keningnya di kening istrinya. 

"hanya karna keturunan, kamu berani berkata seperti itu?" Arslan mengusap lembut pipi Zulfa, "berapa kali harus aku bilang aku mencintaimu tanpa syarat. Selama kamu masih mau berjuang, aku akan selalu mendampingi, kalaupun kamu memilih berhenti, akan aku ikuti dan aku akan terus bersamamu."

"Terima kasih sudah menenangkanku, tapi wajar kan kalau aku merasa belum menjadi istri yang sempurna untuk kamu."

"Aku merasa kamu tidak seperti itu, jadi menurutku itu nggak wajar. Bagiku kamu adalah istri yang lebih dari sekedar sempurna." Arslan menyeka saliva yang tersisa di tepian bibir Zulfa, tetapi tangannya ditepiskan, Zulfa agak mundur dengan raut yang mengeras dingin.

"Berhenti menenangkanku dengan cara seperti itu." 

"Ya ampun salah lagi." Arslan menatap tangannya sendiri yang di tepis. 

"Emang aku harus ngomong gimana supaya kamu berhenti punya pikiran seperti itu? Aku nggak suka kalau kamu merasa rendah diri kayak gitu." tegas Arslan dengan kalimat ultimatum-nya. 

"Tinggal jawab jujur saja, kalau aku memang belum menjadi istri yang sempurna buat kamu tapi kamu tetap mencintaiku. Itu lebih kelihatan realistis." terang Zulfa namun Arslan menyanggah kalimatnya. 

"Aku nggak mau bicara seperti itu." Zulfa menoleh sinis ke arah  suaminya, "Kenapa mau marah?" tanya Arslan,menantang. 

"Kamu nyebelin!" Zulfa mencebikkan bibirnya. 

"Kamu lebih nyebelin!! habis mimpi buruk tapi nggak mau cerita. Umur nggak ada yang tau, kalau tiba-tiba aku mati, aku bisa gentayangan beneran." 

Zulfa menampar mulut Arslan tetapi tidak sampai menyakitinya, "Jangan ngomong sembarangan!!" 

"Ayo makanya cerita, biar aku nggak ngomong sembarangan." Zulfa menghela napas panjang, perasaanya kini sudah lebih stabil. 

"Beneran mau tahu aku ngimpi apa?" 

"Iya ... " Balas Arslan langsung. 

"Aku habis ngimpi horor ..."

"Di kejar setan?" tebak Arslan. 

"lebih serem dari itu ..." kata Zulfa lagi. Arslan mengerucutkan bibirnya, kesal. "Mimpi apa sih? Nggak usah ngajak main tebak-tebakan, deh." 

"Aku habis ngimpi lihat kamu selingkuh di depan mataku langsung. Ini semua gara-gara aku kepikiran sama ucapan tante Yevi." terang Zulfa. Raut wajah Arslan seketika berubah, "Pantes reaksi kamu sampai begitu, ternyata lebih horor dari sekedar dikejar setan." Arslan terkikik geli. Ia kembali merengkuh wajah istrinya.

"Apapun yang tante Yevi ceritakan soal aku di masa lalu, jangan pernah lagi di tanggapi, karna itu hanya masa lalu. Sekali lagi, masa lalu." Arslan menegaskan ucapannya. "Aku sudah move on sejak pertama kenal kamu. Dan sampai detik ini perasaanku nggak pernah berubah sama kamu." 

"Terimakasih sudah membuatku tenang dan membuatku yakin. Pokoknya siapa pun orang yang berusaha menghasutmu untuk selingkuh, aku pasti akan bilang ke orang itu, Jangan paksa suamiku selingkuh." 

"Cocok kayaknya buat judul novel." Mereka pun saling tertawa bersama. Seakan semua masalah di hidup mereka sudah benar-benar selesai.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, jujur ceritanya seru banget🥹😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
ciber ara
rekomen banget 👍👍
ciber ara
nexxtt💪💪💪
ciber ara
oalah sedihnya 😭
ciber ara
awalnya udh kek nya udh sedih 😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!