Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 32
BIANCO DAN WOLFE
Keheningan di halaman kediaman Bianco tidak bertahan lama.
Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon besar yang menaungi peti mati Fernando. Bau tanah basah bercampur dengan wangi bunga lili yang diletakkan seadanya di atas tutup peti. Tidak ada tangis. Tidak ada doa. Hanya tatapan-tatapan dingin yang saling mengawasi.
Silas masih berdiri di samping peti. Tangannya terulur, menyentuh tepi kayu hitam itu dengan ujung jari. Dingin.
"Kau bilang kau yang menemukannya pukul lima pagi," ujar Silas tanpa menoleh pada Pedro.
Pedro mengangguk kaku. "Ya. Pintu kamar kakek terkunci dari dalam. Aku mendobraknya."
"Sendirian?"
Pertanyaan itu membuat Pedro terdiam.
Amber segera menyahut, suaranya meninggi untuk menutupi kegugupan suaminya. "Apa maksudmu sendirian? Tentu saja bersama pelayan. Kau pikir kami membiarkan ayah mertuaku membusuk sendirian?"
Silas akhirnya berbalik. Sorot matanya tidak lagi datar. Ada sesuatu yang tajam di sana, sesuatu yang membuat Amber tanpa sadar melangkah mundur setengah langkah.
"Pelayan yang mana?" tanya Silas pelan. "Karena setahu saya, semua pelayan lama Bianco sudah kau pecat tiga bulan lalu, Amber. Termasuk juru masak yang sudah dua puluh tahun bekerja untuk Fernando. Kau ganti dengan orang-orangmu."
Wajah Amber memucat.
Kael yang berdiri di belakang Silas membuka sebuah map hitam kecil dan menyerahkannya. Silas mengambil selembar foto dari dalamnya dan meletakkannya di atas tutup peti mati.
Foto itu menampilkan gagang pintu kamar Fernando. Di dekat lubang kunci, ada goresan panjang yang masih baru.
"Pintu yang terkunci dari dalam tidak perlu didobrak dengan linggis," kata Silas. "Cukup dengan kunci cadangan. Kecuali seseorang menguncinya dari luar, lalu menggoresnya agar terlihat seperti didobrak."
Pedro mengepalkan tangan. "Kau menuduhku membunuh kakekku sendiri?"
"Aku tidak menuduh," jawab Silas dingin. "Aku hanya membaca. Polisi akan membaca hal yang sama nanti."
Oona yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertawa kecil. Tawanya melengking dan tidak pada tempatnya.
"Astaga, kalian ini dramatis sekali," ujarnya sambil merapikan rambutnya. "Kakek tua itu mati karena jantungnya sendiri. Dokter keluarga juga sudah bilang begitu. Untuk apa repot-repot kain putih dan sidik jari?"
Silas menatap Oona. Tatapan itu membuat senyum Oona perlahan menghilang.
"Dokter keluarga yang kau bayar dua kali lipat minggu lalu?" balas Silas.
Suasana kembali mencekam. Amber menarik lengan Oona dengan kasar.
"Cukup! Bawa peti ini masuk! Kita makamkan sekarang juga, sebelum polisi datang dan membuat aib keluarga semakin besar!"
"Tidak ada yang akan memakamkannya hari ini," potong Silas. Suaranya berat dan final, seperti perintah yang tidak bisa dibantah. "Peti ini tidak akan bergerak dari sini sampai tim forensik datang. Kael sudah menghubungi mereka dalam perjalanan kemari."
Amber membelalak. "Kau memanggil polisi ke rumahku? Rumah Bianco?"
"Rumah Fernando," koreksi Silas. "Dan ya. Karena Fernando adalah satu-satunya orang di keluarga ini yang pernah menganggap Markie sebagai cucu, bukan sebagai beban. Aku menghormatinya dengan cara mencari kebenaran, bukan dengan menguburnya diam-diam pukul lima pagi."
Pedro maju selangkah, dadanya naik turun menahan amarah. Kael langsung bergeser, berdiri setengah langkah di depan Silas, tangannya sudah berada di balik jas.
Pertarungan itu hampir pecah, jika saja suara deru mobil polisi tidak terdengar dari gerbang depan.
Amber memejamkan mata, putus asa. Rencananya berantakan.
“Baiklah panggil saja polisi. Toh tidak ada yang bersalah di sini, kecuali kau sendiri... Ingat— kasus Lynda Wolfe masih belum terpecahkan. Dia hilang begitu saja dan jasadnya sudah dibakar.” sindir Amber membuat Silas menatapnya tajam.
Pria itu melangkah maju sehingga wajah tegang Amber nampak jelas.
“Silas.” panggil Pedro penuh peringatan namun Silas tak peduli dan berdiri tepat di depan Amber.
Tangan kanannya bergerak ke arah Amber hingga wanita itu kaget ketakutan.
“Ranting.” kata Silas mengambil ranting kecil dari pundak kanan Amber.
Dan terlihat bagaimana Amber hampir jantungan saat berpikir Silas akan menghabisinya tadi.
“Tenangkan dirimu, Bibi. Kau terlihat pucat.” kata Silas membuat Amber menahan kesal.
Silas berbalik membelakangi mereka sambil berjalan santai menuju mobilnya dan berkata lantang. “Bawa Fernando ke mansion Wolfe. Kremasi akan dilakukan di sana. Dan ini perintah ku!”
Tak ada yang berani komentar selain diam.
...***...
Sementara itu di mansion Silas, waktu terasa berjalan lambat.
Myra berdiri di dekat jendela ruang tengah, menatap kosong ke arah gerbang yang telah tertutup. Sejak kepergian Silas, Markie tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu tetap berada di atas kursi rodanya, menatap pintu utama dengan pandangan kosong. Kepalan tangannya masih mengeras di atas sandaran.
Hana datang dari arah dapur, membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu di meja dekat Markie, dan satu lagi disodorkan kepada Myra.
"Minumlah," ujar Hana pelan. "Tuan Silas tidak akan lama."
Myra menerima cangkir itu, namun tidak meminumnya. Ia menatap Hana lekat.
"Hana," panggil Myra dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik, agar tidak didengar Markie. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Hana menunduk. "Tentu."
Myra menarik Hana sedikit menjauh ke sudut ruangan, ke dekat perpustakaan kecil.
"Tentang Lynda Wolfe," bisik Myra. "Ibu angkat Silas."
Seketika, wajah Hana yang biasanya datar berubah tegang. Cangkir di tangannya sedikit menegang.
"Katakan?" tanya Hana balik, suaranya tercekat.
"Silas sendiri yang memberitahu ku soal Lynda Wolfe. Dan saat aku bertanya detail... tidak ada satu pun orang di mansion ini yang pernah menyebut namanya. Bahkan Penelope pun diam ketika aku tanya."
Hana menghela napas panjang. Ia melihat ke arah Markie yang masih melamun, memastikan wanita itu tidak mendengar.
"Nyonya Lynda adalah satu-satunya orang yang benar-benar menyayangi Tuan Silas," ujar Hana dengan suara bergetar. "Dia yang merawat Tuan Silas sejak remaja, setelah keluarga kandungnya..."
Hana berhenti.
"Setelah apa?"
"Setelah mereka meninggal," lanjut Hana akhirnya.
"Lalu kenapa dia tidak ada sekarang? Kenapa Silas tidak pernah mencarinya jika memang kematiannya misterius?"
Hana menatap Myra dengan sorot mata yang penuh ketakutan yang telah lama disimpan.
"Ini pertengkaran keluarga. Bianco dan Wolfe adalah keluarga dan jika Anda ingin tahu aslinya, maka... Hanya tuan Silas yang tahu.”
Teka-teki itu kini terasa jauh lebih besar daripada sekadar kematian Fernando.
"Jadi... kematian Fernando ini..."
"Bisa jadi berhubungan," potong Hana cepat. "Karena Fernando adalah satu-satunya orang di keluarga Bianco yang tahu di mana Nyonya Lynda dan satu-satunya yang mempertahankan warisan Bianco."
Myra terdiam. Tangan yang memegang cangkir teh menjadi dingin. Di saat itulah, sebuah suara kecil terdengar dari belakang mereka.
"Ibu Myra..."
Myra dan Hana menoleh. Elina berdiri di sana, dengan boneka kelincinya yang lusuh. Rambutnya masih berantakan.
Elina menatap ke arah Markie yang masih diam mematung di atas kursi roda.
"Ibu Myra, Ibu diam terus dari tadi," kata Elina dengan suara polos namun cemas. "Ibu melamun terus sejak Hana bilang Kakek Fernando meninggal. Ibu belum makan. Apa Kakek Fernando tidak akan pulang lagi seperti Nenek Lynda?"
Pertanyaan polos itu menghantam Myra dan Hana seperti petir.
Myra segera berlutut, menyamakan tingginya dengan Elina dan memeluk gadis kecil itu dengan erat.
"Tidak, Sayang," bisik Myra, suaranya bergetar menahan tangis. "Kakek Fernando hanya tidur. Ibumu hanya sedih. Dan aku di sini."
Namun di dalam pelukannya, mata Myra bertemu dengan mata Hana. Keduanya tahu, kepergian Fernando bukanlah akhir. Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih kelam yang telah lama dikubur bersama hilangnya Lynda Wolfe.