Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di ujung keputusan ada pertolongan
Tidak jauh dari tempatku terbaring, mataku menangkap sosok Aslan yang tergeletak diam. Kakinya terlipat dengan posisi yang aneh, lukanya terlihat cukup parah, dan di pelipisnya ada bercak darah yang sudah mulai mengering. Dia belum sadarkan diri.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan tubuhku sendiri yang terasa seakan remuk tulangnya, aku merangkak mendekat lalu memegang bahunya sambil memanggil berulang kali: “Aslan… bangunlah, ini Kakak.”
Beberapa saat kemudian kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka sedikit. Napasnya terdengar berat dan terengah. Aku menghela napas lega meski dadaku masih terasa sesak menahan tangis. Dia mencoba mengangkat tubuh hendak berdiri, tapi seketika meringis kesakitan — kakinya tak sanggup menahan beban sedikit pun.
Aku segera menyandarkan badannya ke bahuku, lalu memapahnya berjalan perlahan. Tak peduli betapa nyerinya kaki dan punggungku sendiri, di benakku hanya ada satu pikiran: kami harus menjauh secepat mungkin. Aku takut mereka masih terus melacak keberadaan kami.
Tak lama kemudian kami sampai di jalan setapak beralur tanah yang padat. Biasanya ada kendaraan yang lewat di sini. Hati terasa sedikit lebih lega melihat jalan yang terbuka, tapi kami tetap tak berhenti melangkah sambil saling menopang. Semakin lama Aslan terlihat semakin lemas, langkah kakinya pun makin lambat.
Rasa gelisah mulai menyelimutiku. Mataku terus tertuju pada ujung jalan yang masih tampak sepi. Aku terus berharap ada mobil atau kendaraan apa pun yang lewat — seolah itu adalah satu-satunya harapan kami saat ini.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dari arah belakang. Sepercik harapan muncul kembali di mataku. Aku melambaikan tangan sekuat tenaga berusaha menghentikannya, namun mobil itu tetap melaju kencang dan lewat begitu saja tanpa menoleh. Hatiku terasa hancur seketika. Aku hanya bisa menatap lemas ke arah debu yang tertinggal, lalu kembali menatap Aslan yang makin lama makin tak bertenaga di sandaranku. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan — rasanya seolah tak ada jalan lain lagi bagi kami.
Belum lama berlalu, terdengar lagi suara mesin lain. Kali ini suaranya makin pelan, hingga akhirnya kendaraan itu berhenti tepat di samping kami. Seorang pria yang tampak berusia lanjut menoleh keluar dari jendela, lalu bertanya dengan nada ramah: “Kalian hendak pergi ke mana, Nak?”
Aku menoleh perlahan, sedikit menunduk karena rasa malu dan takut yang masih tersisa. Suaraku terdengar terbata-bata penuh permohonan: “Kami ingin menuju ke kota, Pak. Adikku terluka cukup parah… kumohon tolonglah kami. Nanti saya pasti akan membayar ongkosnya, saya membawa uang.”
Pria itu segera menggeleng pelan, jawabannya terdengar tulus dan tenang: “Tak usah bicara soal bayaran. Kebetulan saya juga hendak ke kota untuk mengantar sayuran. Ayo cepat naik, perjalanannya masih jauh, dan luka adikmu tak boleh ditunda lagi.”
Aku mengangguk cepat sambil menahan tangis, lalu membantu Aslan naik terlebih dahulu dan duduk di kursi belakang, sebelum akhirnya aku menyusul duduk di sebelahnya.
Di tempat lain, desa kami kini tinggal tumpukan reruntuhan yang menjadi lautan api. Asap hitam mengepul tebal menutupi langit, bau hangus menyengat hingga ke jauh. Tak terdengar suara apa pun, tak terlihat siapa pun yang bergerak — seolah tak ada satu pun makhluk yang selamat dari kejadian itu.
Salah satu orang berbaju hitam berjalan mendekat kepada pemimpinnya, menunduk hormat dengan tangan kanan menempel rapat di dada.
“Tuan, saya telah memeriksa setiap sudut desa. Tidak ada satu pun anak yang tertinggal di sini.”
Pemimpin mereka berdiri tegak, jubah panjangnya menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya tak terlihat jelas, hanya terlihat sudut bibirnya yang melengkung membentuk senyum sinis.
“Mustahil. Kita tidak mungkin salah menerima laporan. Kamu yakin sepenuhnya tidak ada yang berhasil lolos?”
Bawahan itu menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
“Ada tiga anak yang sempat melarikan diri, Tuan. Dua di antaranya terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, dan satu lagi hanyut terbawa arus sungai yang deras — diyakini semuanya sudah tewas.”
Pemimpin itu mendengus pelan, lalu melambaikan tangannya dengan kasar.
“Cukup. Kita berangkat kembali sekarang. Sampaikan saja apa yang terjadi kepada Pemimpin Agung.”
“Siap, Tuan!” seru mereka serempak, lalu seketika berbalik dan menghilang di balik kepulan asap tebal dan kegelapan malam.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa duduk diam sambil terus gemetar, tanganku tak lepas menggenggam tangan Aslan yang terasa makin dingin. Aku terus membisikkan namanya berulang kali, takut dia malah terlelap dalam kelemahan itu dan tak akan membuka matanya lagi. Sopir yang duduk di depan sesekali menoleh sekilas lewat kaca spion. Matanya melirik pakaian kami yang lusuh penuh debu, lalu beralih menatap luka yang masih basah di kaki Aslan.
“Hm… pakaian mereka kotor dan lusuh begitu, sedangkan adiknya terluka sangat parah. Sebenarnya mereka berasal dari mana ya?” gumamnya pelan dalam hati, lalu kembali menatap jalan sambil sedikit mempercepat laju kendaraannya.
Perjalanan itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Hingga lima jam berlalu, akhirnya mobil itu berhenti tepat di halaman depan sebuah rumah sakit besar.
Langit malam terlihat gelap pekat, bintang nyaris tak terlihat tersembunyi di balik lapisan awan tipis. Bangunan rumah sakit itu berdiri megah namun terasa dingin, lampu berbentuk salib berwarna putih menyala terang memantul di permukaan aspal yang masih tampak basah. Deretan jendela kaca memancarkan cahaya kuning pucat, seolah menatap kosong ke arahku yang berdiri terpaku di sana.
Aku segera turun dan membantu memapah tubuh Aslan yang darahnya masih terus mengalir deras. Dengan bantuan orang asing yang telah menolong kami tadi, aku membawanya masuk ke dalam. Petugas kesehatan yang melihat keadaan kami segera sigap menyambutnya, lalu membawanya masuk untuk segera ditangani.
Tak lama kemudian seorang dokter menghampiriku, suaranya cepat namun tegas. “Luka adikmu tergolong cukup serius. Tolong tanda tangani dulu surat persetujuan tindakan medis dan berkas pendaftarannya.”
Dia pun segera berbalik masuk ke ruang perawatan. Seorang suster menuntunku ke meja pendaftaran. Tanganku gemetar hebat saat memegang pena, hingga tinta di atas kertas terlihat berantakan. Mataku mulai kabur berkaca-kaca saat aku berusaha menuliskan nama pada kolom yang tersedia.
Lantai keramik di teras itu mengkilap dan terasa licin, bayanganku tampak samar tercermin di permukaannya. Udara di dalam rumah sakit terasa dingin menusuk hingga ke tulang, bau obat dan karet medis menyengat pelan namun nyata. Pintu kaca otomatis bergeser pelan setiap kali ada yang lewat, menyisakan suara alat pemantau detak jantung yang samar dan langkah kaki orang-orang yang bergegas. Segalanya terasa sangat asing, berat, dan tak ada satu pun yang membuatku merasa tenang seolah berada di rumah sendiri.
Aku hanya bisa berdiri terpaku tepat di depan pintu ruang perawatan, kedua tanganku masih terlihat berlumuran darah adikku. Di sampingku berdiri pria yang telah menolong kami dari pinggir jalan tadi.
Saat aku hendak merogoh kantong mengambil sisa uang yang diberikan Ibu, ternyata jumlahnya masih kurang cukup untuk seluruh biaya administrasi. Belum sempat aku merasa bingung, pria itu sudah lebih dulu menyodorkan selembar uang yang cukup besar kepada petugas di meja pendaftaran.
“Ini sudah cukup untuk semuanya, bukan?” tanyanya dengan nada tenang.
Aku segera menepis tangannya pelan, mataku terasa panas menahan air mata. “Tidak usah, Paman! Paman sudah sangat baik mau mengantar kami sampai ke sini, nyawa kami pun terselamatkan berkat bantuan Paman. Cukup sekadar itu saja, tidak perlu lagi…” Aku mencoba memberikan uangku kembali kepadanya, namun tangannya menolak dengan halus.
Dia menahan tanganku dengan lembut, senyum ramahnya tak berubah sedikit pun. “Simpan saja uang itu, Nak. Tidak apa-apa. Paman hanya ingin membantu sedikit saja apa yang bisa kulakukan.”
Aku segera menggeleng cepat sambil mundur selangkah. “Benar-benar tidak usah, Paman. Paman sudah terlalu banyak menolong kami. Aku masih punya uang untuk membayarnya…”
Namun dia tetap dengan kebaikannya, meletakkan uang itu perlahan ke dalam telapak tanganku yang masih gemetar. “Ambil saja, percayalah. Paman benar-benar ingin membantu kalian berdua.”
Seketika air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya tumpah. Aku menggenggam uang itu erat-erat, lalu menunduk dalam-dalam sebagai tanda terima kasih. “Terima kasih banyak… Paman sungguh seperti penyelamat bagi kami. Aku berjanji, suatu hari nanti aku pasti akan membalas segala kebaikan ini.”
Dia hanya tersenyum lembut, lalu menepuk pundakku sekilas. “Semoga adikmu segera pulih dengan baik ya. Maafkan kalau Paman tidak bisa menemanimu lebih lama, aku harus segera melanjutkan perjalananku.” Setelah berkata demikian, dia pun berbalik perlahan meninggalkanku sendirian di sana.
Satu jam berlalu dengan terasa sangat lama. Akhirnya dokter yang tadi tampak sibuk dan cemas keluar dari ruangan. Aku segera melangkah cepat menghampirinya, berharap akan mendengar kabar yang melegakan. Namun dokter itu malah menoleh ke kiri dan kanan seolah sedang mencari sosok lain di belakangku.
“Nak… di mana orang tuamu?” tanyanya pelan dengan nada yang lembut namun penuh pertimbangan.
Seketika dadaku terasa sesak sekali. Mataku mulai terasa panas kembali, dan aku hanya bisa menggeleng pelan sambil menundukkan wajah yang mulai basah oleh air mata.
Melihat keadaanku yang begitu, dokter itu menghela napas panjang, lalu menepuk bahuku pelan untuk memberi kekuatan. “Sini, ikutlah saya sebentar. Mari kita bicara baik-baik di dalam ruangan.”
Aku hanya menurut saja, lalu berjalan tertatih-tatih mengikuti langkahnya tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.