NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di ujung keputusan ada pertolongan

Tidak jauh dariku, Aslan terbaring diam di atas tumpukan daun kering dan tanah lembap. Kakinya terlipat dengan sudut yang tak wajar — patah, aku tahu itu. Lukanya parah, bercak darah di pelipisnya mulai mengering menjadi kerak cokelat tua yang menyedihkan. Napasnya lemah, tersendat-sendat, seolah setiap tarikan napas menyakitkan baginya. Matanya terpejam rapat, belum sadarkan diri.

Dengan tangan gemetar hebat dan tubuh yang terasa remuk setiap kali bergerak, aku merangkak mendekat. Sentuhan pertamaku ke bahunya terasa dingin dan lembap oleh keringat dingin.

"Aslan… bangun, ini Kakak," panggilku parau, berulang kali, suaranya nyaris tak terdengar di tengah rimbunnya hutan. "Bangun, bangun…"

Kelopak matanya bergerak pelan, bergetar, lalu terbuka sedikit — hanya celah tipis yang menatapku kabur. Napasnya berat dan terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Aku hembuskan napas lega yang terasa menyakitkan, meski dadaku sesak menahan tangis yang tak kunjung usai. Dia mencoba bangkit, namun seketika meringis tajam menahan sakit yang menyayat — kakinya tak sanggup menahan beban sedikit pun, seolah tak lagi miliknya sendiri.

Aku segera menyandarkan berat badannya ke bahuku yang nyeri dan memar, memapahnya melangkah perlahan, langkah demi langkah yang terasa seperti abadi. Tak peduli perih menusuk di telapak kaki dan punggung yang terasa terbakar, hanya ada satu pikiran yang berputar kencang di kepalaku: menjauh. Menjauh secepat mungkin. Aku takut mereka masih melacak jejak kami — takut bayangan-bayangan hitam itu masih mengintai dari balik pepohonan.

Sampai di jalan tanah padat yang biasanya dilewati kendaraan, hatiku sedikit lega — tak ada pohon yang menutupi langit di sini, tak ada semak yang menyembunyikan bayangan. Namun kami terus melangkah saling menopang, dua anak kecil yang terlihat seolah baru bangkit dari kematian. Semakin lama, wajah Aslan makin pucat pasi, langkahnya makin lambat dan terseret berat di tanah. Tubuhnya makin dingin di pelukanku.

Gelisah mencengkeram dadaku sekuat tenaga. Mataku terpaku pada ujung jalan yang sunyi dan kosong. Aku berharap — berharap sekuat jiwa — mendengar deru mesin, melihat cahaya lampu yang membelah kegelapan, apa pun. Itu satu-satunya harapan kami yang tersisa.

Terdengar deru mesin dari belakang, mendekat cepat. Harapan menyala sekejap, menyakitkan namun terang. Aku melambaikan tangan sekuat tenaga, berteriak kecil yang hilang di angin, namun mobil melaju kencang — debu beterbangan, angin menerpa wajahku yang basah air mata, lalu ia lewat tanpa menoleh sedikit pun. Hatiku hancur seketika, runtuh seperti bangunan yang tak punya fondasi. Aku menatap debu yang berputar di jalan, lalu menatap Aslan yang makin lemas di sandaranku. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan — seolah tak ada jalan keluar, seolah kami ditinggalkan sepenuhnya oleh dunia.

Namun tak lama kemudian, suara mesin lain mendekat — kali ini melambat pelan, ban bergeser lembut di tanah kerikil, lalu berhenti tepat di samping kami. Jendela turun perlahan, dan seorang pria lanjut usia menoleh keluar — sorot matanya teduh dan lembut, penuh kebaikan yang tak kusangka akan kutemui hari ini.

"Kalian hendak ke mana, Nak? Kenapa sendirian di sini, hari sudah hampir gelap," tanyanya lembut, menatap kami dengan tatapan yang tak penuh tuduhan, tak penuh ketakutan — hanya perhatian tulus.

Aku menunduk malu dan takut, suaraku terbata-bata penuh permohonan yang menyayat hati:

"Ke kota, Pak. Adikku terluka parah… tolonglah kami. Nanti saya bayar ongkosnya, saya membawa uang…" tanganku gemetar merogoh kantong kain yang masih terselip di pinggang.

Dia menggeleng pelan, senyumnya tulus dan menenangkan — seperti sinar matahari sore yang lembut.

"Tak usah bicara soal bayaran. Kebetulan saya antar sayuran ke kota. Cepat naik, perjalanan jauh, lukanya tak boleh ditunda."

Aku mengangguk cepat menahan tangis yang hendak meledak, membantunya mengangkat tubuh Aslan ke kursi belakang, lalu duduk di sisinya, menggenggam tangan kecilnya yang dingin dan kaku.

Jauh di belakang kami, di tempat yang dulu kami sebut rumah, kini hanya reruntuhan yang terbakar menjadi lautan api. Asap hitam pekat menutup langit yang dulu selalu biru, bau hangus tajam menyengat jauh ke mana-mana. Sunyi total — tak ada tangis, tak ada langkah kaki, tak ada suara apa pun. Seolah tak ada satu pun yang selamat dari kemurkaan yang datang tiba-tiba.

Seorang pria berbaju hitam berdiri di hadapan pemimpinnya, menunduk hormat dengan tangan di dada.

"Tuan, seluruh sudut desa telah diperiksa. Tak ada satu pun anak yang tertinggal."

Pemimpin itu berdiri tegak, jubah gelapnya menutupi seluruh tubuh, wajahnya tertutup bayangan kerudungnya — hanya sepasang mata tajam dan sepasang bibir yang menyunggingkan senyum sinis terlihat jelas.

"Mustahil. Laporan penting ini tak mungkin keliru. Yakin tak ada yang lolos?" suaranya rendah namun menusuk, penuh keraguan yang menakutkan.

Bawahan itu menunduk lebih dalam, suaranya tegas dan dingin.

"Tiga sempat lari. Dua jatuh ke jurang curam yang tak berdasar — diyakini tewas seketika. Satu hanyut terbawa arus deras berbatuan tajam — tak mungkin bertahan hidup. Semuanya tewas, Tuan."

Dia mendengus pelan, penuh kekecewaan yang tersembunyi di balik wajah datarnya, lalu melambaikan tangan dengan kasar dan cepat.

"Cukup. Kembali sekarang. Sampaikan apa adanya pada Pemimpin Agung — tugas selesai."

"Siap, Tuan!" seru serempak — suara-suara itu bergema dingin di antara reruntuhan, lalu lenyap sepenuhnya di balik asap tebal dan malam yang semakin pekat.

Sepanjang perjalanan, tubuhku menggigil hebat di kursi belakang. Tanganku tak pernah melepaskan genggaman tangan Aslan yang makin dingin dan kaku. Aku membisikkan namanya lembut berulang-ulang — takut dia terlelap dan tak bangun lagi, takut napasnya berhenti di detik berikutnya. Sopir sesekali melirik lewat kaca spion — melihat pakaian lusuh berdebu, luka di kaki yang masih merembes darah, dan tatapan gadis kecil itu yang penuh ketakutan mendalam, seolah ia baru saja melihat neraka dengan matanya sendiri.

"Dari mana mereka sebenarnya?" gumamnya pelan dalam hati, namun tanpa bertanya lebih jauh, ia mempercepat laju kendaraannya dengan lembut — berusaha secepat mungkin membawa kami ke tempat yang aman.

Lima jam berlalu terasa tak berujung — setiap menit seperti satu jam, setiap detik penuh ketegangan yang menekan dada. Hingga akhirnya mobil berhenti perlahan di halaman rumah sakit besar, malam telah meraja sepenuhnya.

Langit gelap pekat, bintang tersembunyi di balik awan kelabu. Lampu salib putih yang terang memantul di aspal basah sisa hujan sore, membasahi segalanya dengan cahaya pucat yang dingin. Jendela-jendela memancar cahaya kuning pucat yang suram, menatapku dengan tatapan asing — tempat ini tak pernah mengenalku, dan aku tak pernah mengenalnya. Semuanya terasa asing, berat, menekan dada. Tak ada yang terasa seperti rumah.

Aku turun dengan kaki gemetar hebat, memapah tubuh Aslan yang darahnya masih menetes perlahan ke lantai keramik. Dibantu sopir tua itu, kami melangkah masuk lewat pintu geser kaca yang terbuka otomatis — petugas sigap menyambut dan segera membawa Aslan ke ruang gawat darurat dengan tandu yang bergerak cepat.

Tak lama kemudian, dokter keluar — langkahnya tenang namun tegas, wajahnya penuh kelelahan namun tetap sopan.

"Luka serius: patah tulang di kaki dan gegar otak ringan. Dia butuh perawatan dan pengawasan. Silakan tanda tangani persetujuan dan berkas pendaftaran di meja depan."

Suster menuntunku ke meja penerima yang terang benderang. Tanganku gemetar hebat hingga pena bergores miring tak beraturan di atas kertas, mataku kabur berkaca-kaca saat menulis namaku — Zara. Tiga huruf yang dulu biasa saja, kini terasa berat menakutkan.

Lantai keramik mengkilap dan licin memantulkan bayanganku yang rapuh dan kecil. Udara di sini menusuk tulang, bau obat dan karet menyengat pelan namun nyata, menembus sampai ke paru-paru. Pintu otomatis bergeser halus, bercampur bunyi samar alat detak jantung dan langkah cepat orang-orang yang sibuk — semuanya asing, semuanya tak peduli. Tak ada yang tahu siapa aku, tak ada yang tahu dari mana aku datang.

Aku terpaku di depan pintu ruang perawatan, tangan berlumuran darah kering dan basah — darah Aslan, darah Ayah, darah Ibu. Sopir tua itu masih berdiri di sampingku, tak pergi.

Saat merogoh kantong kain sisa pemberian Ibu, hatiku mencelos — jumlahnya kurang cukup untuk biaya pendaftaran dan perawatan. Belum sempat aku terjebak dalam keputusasaan yang dingin, dia sudah menyodorkan selembar uang yang rapi dan cukup besar ke petugas dengan tenang.

"Cukup untuk pendaftaran dan perawatan awal?" tanyanya lembut.

Aku menepis tangannya pelan namun tegas, mataku panas menahan luapan air mata yang tak bisa lagi dibendung.

"Jangan, Paman! Sudah selamatkan nyawa kami dan antar sampai sini. Cukup… tak perlu keluarkan uang lagi…" suaraku pecah di akhir kalimat.

Dia menahan pergelangan tanganku dengan lembut namun tegas, senyumnya penuh pengertian dan kehangatan yang tak pantas kuterima dari orang asing.

"Simpan untuk keperluan nanti. Saya hanya ingin bantu apa yang bisa saya lakukan."

Aku menggeleng cepat mundur selangkah, air mata menetes deras ke lantai yang bersih.

"Benar-benar tak perlu. Saya masih punya ini untuk bayar…" aku menyentuh botol dan belati yang tersembunyi di balik pakaian — beban yang kini menjadi satu-satunya harta warisanku.

Namun dia meletakkan uang itu lembut di telapak tanganku yang gemetar, lalu menutup jemariku di atasnya.

"Ambil dan simpan baik-baik. Percayalah… ikhlas saya bantu kalian."

Air mata tumpah deras tak terbendung. Aku menggenggam uang itu erat di dada, menunduk dalam penuh rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

"Terima kasih… Paman penyelamat kami di tengah gelap. Saya berjanji… suatu hari akan membalas semua kebaikan tulus ini," ucapku terbata-bata, sepenuhnya hancur namun diselamatkan oleh kebaikan seorang asing.

Dia menepuk pundakku lembut sekali — hangat, seperti pelukan ayah yang tak bisa kuterima lagi.

"Semoga adikmu segera pulih sehat. Maaf tak bisa menemani lama, saya harus antar sisa sayuran sebelum subuh." Lalu ia melangkah perlahan pergi — punggungnya menua, namun terlihat agung di mataku — meninggalkanku yang menangis pelan, campuran rasa syukur dan kesedihan yang mendalam.

Satu jam terasa seperti satu tahun penuh ketegangan. Akhirnya dokter keluar — wajahnya lelah namun tenang. Aku melangkah cepat, napas tertahan, berharap mendengar kabar yang menenangkan. Namun dia menoleh ke kiri dan kanan perlahan, mencari sosok yang tak akan muncul.

"Nak… di mana ayah dan ibumu? Kenapa hanya kalian berdua?" tanyanya lembut, penuh perhatian namun penuh tanya.

Dadaku sesak hebat, napas tersakit di tenggorokan seolah tertelan duri. Aku menggeleng pelan berkali-kali, wajahku basah kuyup air mata yang tak henti menetes.

Melihat betapa hancur dan rapuhnya diriku, dokter itu menghela napas panjang dan lembut, lalu menepuk bahuku pelan — penuh kekuatan yang ingin ia berikan padaku.

"Sini ikut saya sebentar ke ruang konsultasi. Mari bicara tenang, baik-baik."

Aku patuh, berjalan tertatih di belakangnya tanpa sepatah kata pun — hatiku penuh ketakutan, penuh kehilangan mendalam, dan satu kebenaran pahit yang kini harus kuhadapi sendirian: Aku tidak punya rumah lagi. Aku tidak punya orang tua lagi. Hanya ada aku dan Aslan — dua anak, sendirian, di dunia yang tak kami kenal.

1
터닝
kasian Zara 🤧
Putry Chan: iya tapi semua akan baik baik saja mugkin
total 1 replies
Lasa Hardianti
Nyesek bgt, rumah yang dulunya hangat sekarang berubah total karena penyerangan itu
Putry Chan: benar sekali , sebenarnya cerita aslinya tuh GK Kek gini cuman dulu gara gara aku bikin banyak kesalahan karena pemula aku bikin ulang trus aku ubah sedikit ceritanya
banyak sih aku ubah kek lebih dark lah tapi Happy ending kok walaupun
total 1 replies
Lasa Hardianti
Terus keadaan ibunya gimna?😭
Putry Chan: mereka berdua baik cuman lagi bersembunyi dulu
total 1 replies
Lasa Hardianti
Kasian bgt ibunya sampai terluka demi melindungi anak-anaknya, moga aja mereka bertiga selamat, terutama ibunya/Scowl/
Putry Chan: tentu saja ibu dan ayahnya selamat karena sebenarnya asal usul mereka itu bukan adalah salah satu keluarga bangsawan , ketemu tapi masih lama mungkin antar hidup dan mati
total 1 replies
Lasa Hardianti
Hai kak, izin kasih masukan ya. Menurutku beberapa bagian narasinya mungkin bisa lebih dipersingkat atau diberi jeda supaya bacanya lebih enak. Terus, setiap kali ada pergantian POV, mungkin bisa diberi sedikit penanda atau transisi supaya perpindahannya nggak terasa tiba-tiba dan pembaca lebih mudah mengikuti alurnya. Semangat kak💪🏻/Determined/
Putry Chan: kasian udh mampir cantik semangat ya sama sama lagi berjuang 💪
total 3 replies
Kusyg Ki
sejujurnya aku suka baca ini kadang bikin senyum sendiri tapi aku lupa klo ini darkromansa jadi sebenarnya aku suka tapi di waktu yang sama aku benci greget bgt sama suaminya ngeselin bgt sumpah harus dpt karma sih aku GK peduli apapun alasannya
Putry Chan: di semangatin dong makacihh 🥰
total 7 replies
Kusyg Ki
Zara melawan nih bagus
Kusyg Ki
punya suami kok radar radar miring ya
Putry Chan: 🤧🤧🤧🤧🤧
total 1 replies
Arham Bugis
rekomen apa lagi bab nya uah banyak
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Arham Bugis
baru baca lagi nih 🤭
Putry Chan: iyh kmu baru muncul lagi
total 1 replies
Wawan
Nah 🤭
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Wawan
Iklan dan mawar buat cerita ini 💪✍️
Wawan: Clue cerita ini menarik .... 💪✍️
total 2 replies
Rian Aan
semangat 💪
Putry Chan: makasih 🥰
total 1 replies
터닝
Maya ini jahat bgt dah
putmelyana
ini chapter berapa perginya lama banget udah greget bgt soalnya gw bacanya harus cerai mereka jangan balikan pisahhh
Putry Chan: ngk salah sih emg itu nanti bakalan terjadi tapi bukan cerai , Zara sendiri yang memilih pergi , Adrian nyebelin ya tapi ada alasannya nanti juga berubah jadi obsesi parah smpai di borgol kaki istrinya ini biar GK kabur tapi masih jauh tenang aja Zara ini wanita yang kuat nanti juga Adrian dapat karma
total 1 replies
Kiara Maulida Aizaaa
saling support KK , Semangat mau
Putry Chan: tentu maksih ya udh mampir
total 1 replies
Rian Aan
suka nih KLO gini mau ngelawan
Rian Aan
apakah akan ada cinta segitiga
Putry Chan: ntah lah 😅
total 1 replies
Rian Aan
bininya di jadiin pembantu
Putry Chan: 🤧🤧🤧🤧🤧
total 1 replies
Su Ci
semakin menarik
Putry Chan: makasih kmu bikin aku terharu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!