NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 : Belasan pengawal

Sementara itu...

Malam semakin larut. Hujan yang sejak tadi turun rintik-rintik kini mulai mereda membuat suasana di luar terlihat tenang. Namun ketenangan itu hanyalah ilusi. Di setiap sudut mansion, anggota keamanan elite masih berjaga tanpa lengah.

Di kamar Aurora...

Leonardo telah berpamitan beberapa menit yang lalu. Kini Aurora duduk sendirian di balkon kamarnya sambil memeluk secangkir teh hangat. Dua petugas wanita yang ditugaskan menjaganya berdiri tidak jauh darinya, memberi ruang namun tetap waspada.

Aurora mengangkat wajahnya menatap langit malam.

"Besok..." gumamnya lirih.

Ucapan Leonardo terus terngiang di kepalanya. "Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

Tempat yang mungkin bisa menjawab sebagian pertanyaannya. Semakin dipikirkan, rasa penasarannya justru semakin besar.

Siapa sebenarnya kedua orang tuanya? Mengapa begitu banyak orang tiba-tiba mencarinya? Dan... mengapa keluarga Moretti rela melakukan semua ini demi dirinya?

Tok... tok...

Salah satu petugas mendekat. "Nona Aurora."

Aurora menoleh. "Ada apa?"

"Sudah hampir pukul sepuluh malam."

Aurora tersenyum kecil. "Baik. Aku akan segera tidur."

Petugas itu mengangguk hormat sebelum kembali ke posisinya.

Aurora menutup buku sejarah keluarga Moretti, lalu berdiri. Saat hendak menutup pintu balkon, entah mengapa ia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.

Aurora berhenti, perlahan ia menoleh ke arah hutan gelap di balik pagar mansion. "Hm..."

Yang terlihat hanya pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

Aurora menggeleng pelan. "Mungkin hanya perasaanku."

Ia menutup pintu balkon tanpa mengetahui bahwa instingnya tidak salah.

Sekitar satu kilometer dari mansion, di atas sebuah bukit kecil. Pria bertopeng hitam masih berdiri sambil memegang teropong malam. Di belakangnya, dua pria lain menghampiri.

"Tuan."

"Hm?"

"Kami sudah memetakan seluruh jalur patroli Moretti."

Pria bertopeng itu menerima sebuah tablet. Ia memperhatikan jalur patroli para penjaga, kemudian tersenyum tipis. "Mereka memang hebat."

Salah seorang bawahannya bertanya pelan. "Apakah kita akan bergerak malam ini?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Adrian terlalu pintar." Ia mengembalikan tablet itu. "Kalau kita menyerang sekarang... kitalah yang akan masuk perangkap." Pria itu kembali menatap ke arah Mansion Moretti. "Biarkan mereka kelelahan menjaga. Semakin lama seseorang berjaga... semakin besar peluang mereka melakukan kesalahan."

Di ruang operasi intelijen.

Mata Adrian belum sekalipun lepas dari monitor. Johan berdiri di sampingnya.

"Don, sudah lebih dari empat jam. Tidak ada aktivitas mencurigakan."

Adrian tetap diam.

Johan melanjutkan. "Mungkin benar dugaan Don. Mereka hanya sedang menguji kita."

Adrian perlahan menggeleng. "Tidak, lihat layar nomor tujuh."

Operator segera memperbesar gambar. Di layar terlihat seekor rusa liar melintas di dekat pagar belakang mansion.

"Itu hanya rusa, Don." Johan menatap bingung.

Adrian menunjuk layar. "Perbesar tanah di belakangnya."

Operator melakukan perintah itu, beberapa detik kemudian seluruh ruangan terdiam. Di tanah yang basah... terlihat jejak sepatu manusia. Padahal area itu seharusnya steril.

Johan langsung menegang. "Mustahil..."

Adrian berkata tenang. "Mereka sudah pernah berada di sana."

"Kapan?" Johan terlihat bingung.

"Sebelum hujan turun."

Operator segera membuka rekaman beberapa jam sebelumnya. Semua orang memperhatikan layar dengan saksama. Beberapa jam kemudian dan tiba-tiba...

"Berhenti."

Rekaman dihentikan.

Johan memicingkan mata, di sudut pagar belakang tampak bayangan hitam muncul hanya selama dua detik sebelum menghilang di balik pepohonan.

"Perbesar."

Gambar menjadi buram. Namun masih terlihat jelas seseorang mengenakan mantel gelap.

Johan mengepalkan tangannya. "Dia berhasil mendekati pagar..."

Adrian menggeleng pelan. "Bukan."

Johan menoleh. "Maksud Don?"

"Dia tidak mendekati, dia sengaja memperlihatkan dirinya."

Semua orang kembali terdiam.

Adrian memandang layar tanpa berkedip. "Mereka ingin kita tahu... bahwa mereka bisa berada sangat dekat dengan Aurora kapan saja."

Ucapan itu membuat suhu ruangan seolah turun beberapa derajat. Tak lama kemudian, ponsel Adrian bergetar.

Layar menunjukkan nama Leonardo.

Adrian segera mengangkatnya. "Ya Ayah."

Suara Leonardo terdengar tenang. "Besok pagi aku akan membawa Aurora keluar mansion."

Adrian langsung mengernyit. "Ke mana?"

"Ke sebuah tempat yang mampu membuat dia sedikit tenang."

Adrian terdiam beberapa detik. "Sebaiknya jangan kemana-mana dulu Ayah."

Leonardo ikut terdiam. "Memangnya ada apa?"

"Karena sekarang bukan waktu yang tepat," jelas Adrian dengan singkat.

"Aku sudah berjanji padanya."

Adrian menatap kembali monitor yang memperlihatkan jejak penyusup di belakang mansion. Nada suaranya berubah lebih serius. "Kalau memang harus pergi... aku yang akan mengantarnya."

Leonardo memahami maksud cucunya. "Baik lah kalau itu yang kau inginkan."

Keesokan harinya...

Sinar matahari pagi perlahan menyinari halaman Mansion Moretti. Embun masih menempel di dedaunan taman, sementara udara musim semi terasa begitu sejuk.

Berbeda dengan suasana tenang yang terlihat dari luar, seluruh anggota keamanan mansion sudah mulai bergerak sejak pukul enam pagi.

Mobil-mobil hitam telah berjajar rapi di halaman depan. Beberapa pengawal memeriksa kendaraan satu per satu menggunakan alat pemindai. Tim lain menyisir rute perjalanan yang akan dilalui.

Di ruang operasi intelijen...

Adrian berdiri di depan layar digital yang menampilkan peta Zurich.

Johan melaporkan hasil pemeriksaan. "Rute pertama sudah steril."

"Rute kedua?" tanya Adrian.

"Masih dalam pemeriksaan."

"Gunakan rute yang paling sedikit memiliki titik buta."

"Baik, Don."

Johan ikut mendekat. "Don, tiga kendaraan pengawal sudah siap."

Adrian mengangguk. "Mobil pertama sebagai pembuka."

"Siap."

"Mobil kedua membawa Ayah dan Aurora."

"Baik."

"Mobil ketiga sebagai penutup."

Johan sedikit terkejut. "Don... bukankah biasanya Anda berada di mobil depan?"

Adrian menggeleng. "Hari ini tidak."

"Lalu?"

"Aku berada di mobil yang sama dengan Aurora."

"Dimengerti."

Tak lama kemudian Adrian mengenakan jas hitamnya, lalu mengambil pistol yang tersimpan di dalam brankas kecil. Ia memeriksa magazinnya sebelum menyimpannya kembali di balik jas.

Johan memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Ia tahu... jika Adrian sampai membawa senjata sendiri, berarti situasi benar-benar tidak bisa dianggap remeh.

Sementara itu...

Di lantai tiga, Aurora sudah selesai bersiap. Hari ini ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan mantel putih tipis. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, ia tersenyum lebar di depan cermin.

"Akhirnya bisa keluar juga."

Sejak semalam ia terus memikirkan tempat yang akan ditunjukkan Leonardo.

Mungkin hari ini, ia akan menemukan sedikit jawaban tentang masa lalunya.

Tok... tok...

"Masuk."

Isabel masuk sambil tersenyum. "Wah..."

Aurora tersipu. "Bagaimana?"

"Cantik sekali," jawab Isabel sambil tersenyum penuh kekaguman.

Aurora tertawa kecil. "Terima kasih."

Isabel kemudian menyerahkan syal tipis. "Udara di luar masih cukup dingin."

Aurora menerimanya. "Baik lah."

Tak lama kemudian mereka berjalan menuju lantai bawah. Begitu memasuki ruang utama mansion... Aurora langsung melihat Leonardo sudah menunggu sambil memegang tongkat kayunya.

"Selamat pagi, Tuan."

Leonardo tersenyum hangat. "Selamat pagi."

Aurora menghampiri dengan wajah penuh semangat. "Jadi... kita berangkat sekarang?"

Leonardo mengangguk. "Iya."

Wajah Aurora semakin berseri-seri. "Asyik..."

Ia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang menunggu hadiah. Leonardo sampai tersenyum geli melihat ekspresinya. Namun senyum Aurora perlahan memudar ketika pintu utama mansion terbuka.

Beberapa pria berpakaian hitam masuk lebih dulu. Di belakang mereka... Adrian melangkah masuk dengan wajah tenang.

Aurora terkejut melihat kedatangan Adrian. "Adrian?" gumamnya pelan.

Adrian menghampiri Leonardo. "Ayah."

Leonardo mengangguk. "Semuanya sudah siap?"

"Sudah."

Aurora memandang mereka bergantian. "Tunggu..."

Tatapannya kemudian beralih ke luar pintu. Di halaman mansion telah terparkir tiga SUV hitam antipeluru. Belasan pengawal berdiri berjajar di sekitarnya.

Aurora membelalakkan mata. "Sebanyak ini?"

Johan berjalan menghampiri. "Selamat pagi, Nona Aurora."

"Pagi..."

Aurora masih terlihat bingung, ia kembali menoleh kepada Leonardo. "Tuan..."

"Iya?"

"Bukankah kita hanya pergi berdua?"

Leonardo terkekeh pelan. "Adrian tidak mengizinkan."

Aurora langsung memandang Adrian. "Kau juga ikut?"

"Iya."

"Tapi..." Aurora menunjuk seluruh iring-iringan kendaraan. "Ini terlalu berlebihan."

Belum sempat Adrian menjawab, Johan lebih dulu berkata sambil tersenyum tipis. "Kalau menurut Don... jumlah ini justru masih kurang."

Aurora membelalakkan mata. "Hah?"

Ia kembali menghitung kendaraan dan para pengawal. "Satu... dua... tiga mobil, dan belasan pengawal." Aurora memegang dahinya pelan. "Astaga..."

Leonardo tidak dapat menahan tawanya. "Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu."

Aurora menghela napas panjang. "Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar... bukan menghadiri pertemuan para kepala negara."

Beberapa pengawal saling menahan senyum. Bahkan Johan sampai berdeham pelan agar tidak tertawa.

Adrian sendiri tetap memasang wajah datar. "Kita berangkat."

Aurora memandangnya dengan wajah pasrah. "Baik, Tuan..."

Ucapan itu membuat Leonardo kembali tertawa kecil.

Sementara Adrian hanya melirik sekilas ke arah Aurora sebelum berjalan menuju mobil. Meski wajahnya tetap tenang, dalam hati ia merasa sedikit lega. Setidaknya... Aurora masih bisa tersenyum di tengah ancaman yang terus mendekat.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!