Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amelia Membongkar Rahasia Zora dan Jono
Sejak saat itu, hampir tiap malam Jono keluar malam. Zora dan Aditya memakluminya, mereka tidak memaksakan Jono untuk selalu tinggal di rumah. Jono merasakan keramahan Aditya yang membebaskannya untuk melakukan kegiatan di luar rumah, sebagai gantinya, Jono mengambil alih banyak pekerjaan di rumah, seperti memotong rumput yang dulunya harus dipotong oleh pemotong rumput musiman, misalnya. Dia melakukannya dengan sukarela, karena itu Aditya memberinya kenaikan gaji.
Namun di balik kebaikan Aditya itu, dia diam-diam mengikuti gerak-gerik Jono di luar. Dia benar-benar ingin tahu siapa yang telah menyiksanya di daerah dingin kala itu. Namun sekeras apapun usaha Aditya mencari tahu kebenarannya, dia tidak menemukannya. Akhirnya dia menerima ajakan Amelia untuk bertemu.
Dia akan mengendarai mobil sendiri untuk menemui Amelia di salah satu restoran. Hari itu tidak terlalu siang, matahari masih ada di sebelah timur. Aditya permisi kepada Zora, istrinya. Aditya mengecup kening Zora dan mengelus perut buncitnya seolah ingin berpamitan juga dengan bayi yang ada di perut Zora.
Jono tampak sedang memotong rumput. Hari itu benar-benar cerah tidak seperti biasanya, setiap hari ada hujan, membuat rumput rasanya semakin cepat tumbuh. Jono menundukkan kepala ketika Aditya berpamitan padanya. Jono curiga, mengapa Aditya pergi sendiri? Mengapa dia tidak minta disopiri? Namun dia membuang semua kecurigaannya itu, dia melanjutkan memotong rumput. Suara mesin pemotong rumput itu terdengar dari teras belakang dekat kolam renang di mana Zora akan memulai melukis lagi.
---
Amelia menunggu dengan hati yang sangat gembira dan penasaran, apa kira-kira tanggapan Aditya jika dia beritahukan bahwa anak yang ada di kandungan istri tercintanya adalah anak orang lain, bukan anaknya.
“Hi, Mel!” Aditya menyapa Amelia, suaranya dibuat seceria mungkin, walah ada banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Hi, Dit! Apa kabar?” Amelia bangkit dari duduknya dan menyambut Aditya dengan pelukan hangat. Dia sangat senang akhirnya dia bisa melihat wajah Aditya dan mencium wangi parfumnya dari jarak dekat.
“Baik, kamu apa kabar?” Aditya menyambut pelukan Amelia. Dia mencium bau parfum Amelia, bau itu sangat mirip dengan bau parfum perempuan yang menyekap, menyiksanya, dan membuangnya di pinggir jalan. Dia semakin yakin dengan dugaannya selama ini.
“Baik, silakan duduk!” Amelia menjawab dengan senyum yang lebar sambil memberikan kode kepada Aditya agar duduk. Dia juga duduk di seberang Aditya.
“Akhirnya kamu mau diajak juga, kamu jahat, Dit, menjauhiku seperti itu, sakit tahu!” Amelia berlagak manja di hadapan Aditya.
“Oh, maaf, aku sangat sibuk! Emang kamu belum ada kesibukan ya, sampai setiap hari ingin bertemu?” Aditya langsung menjawab dengan ketus.
“Hmm, kamu marah ya? Kamu tidak tahu sih, bagaimana mencintai orang yang tidak mencintai kita sedikitpun!” Amelia semakin manja. Sikapnya itu membuat Aditya semakin tidak tahan.
“Sudah tidak usah terlalu basa-basi. Untuk apa setiap hari mengirim pesan untuk bertemu?” Aditya langsung bertanya tujuan Amelia ingin bertemu dengannya. “Sepertinya ada sesuatu hal yang PENTING yang ingin kau sampaikan.” Aditya menekankan kata penting pada pernyataannya.
“Sebelumnya aku mau bertanya, mengapa kamu akhirnya menerima undanganku? Sepertinya kamu juga memiliki sesuatu hal yang ingin disampaikan.” Amelia seolah sudah tahu jika Aditya akan menanyakan perihal penculikan 4 bulan lalu.
“Ok, kenapa kamu menculik saya 4 bulan lalu? Kalau saya mau, kamu bisa dijebloskan ke dalam penjara.” Aditya sangat yakin jika perempuan yang menghajarnya saat itu adalah Amelia.
“Kamu pikir saya ini sejahat itu ya? Aku mencintaimu, Dit! Tidak mungkin aku menculikmu.” Amelia setengah berteriak. “Kalau aku sejahat itu, aku harusnya mencelakai Zora, bukan kamu!” Amelia keceplosan. Dia tidak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia mengutuk diri sendiri setelah menyadari kata-katanya itu.
“Kamu jangan bohong, Mel! Akui saja, aku tidak akan pernah mengadukanmu.” Aditya tidak percaya dengan Amelia. Dia memaksa Amelia mengakui perbuatannya.
“Kalau kamu memang mempunyai buktinya, tidak masalah, adukan saja. Aku tidak takut. Aku tidak pernah melakukan itu, mengapa aku harus mengakui apa yang tidak pernah aku lakukan?” Amelia membela diri, suaranya sedikit meninggi.
Aditya tidak tahu mau berdebat. Jika Amelia tidak mengakui perbuatannya sendiri, tidak apa-apa, dia sudah mempunyai rencana selanjutnya. Dia akan tetap mencari bukti-bukti yang lain lagi agar dia benar-benar yakin siapa yang telah menghajarnya saat itu.
Aditya sudah cukup yakin sebenarnya dengan bau parfum Amelia, lagian hanya Amelia perempuan satu-satunya yang tergila-gila padanya. Dia tidak mempunyai musuh yang punya alasan yang berarti untuk mengerjainya, untuk menerornya.
“Baik, kalau kau memang tidak mau mengakui. Sekarang apa yang ingin kamu sampaikan?” Aditya balik bertanya apa maksud Amelia mengajaknya bertemu.
“Apa yang harus aku akui, Dit? Aku benar-benar tidak melakukannya!” Amelia marah karena dituduh yang tidak-tidak oleh Aditya.
“Ya, sudah, tidak usah marah, aku tidak memaksamu untuk mengakuinya. Kalau kamu bilang tidak melakukannya, ya sudah, kamu tidak melakukannya.” Aditya meyakinkan Amelia jika dia tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Tapi Amelia tahu jika Aditya masih mencurigainya.
“Kamu benar-benar menuduh saya ya? Dit? Sejahat itukah aku di matamu?” Amelia masih saja heran mengapa dia mendapat tuduhan itu dari Aditya.
“Oh, kamu tidak sadar jika kamu sejahat itu ya? Aku kasihan pada Jono, kamu suruh para bodyguard-mu untuk menculikku dan memukul Jono dari belakang. Kamu sangat pintar, Mel, aku benar-benar kenal denganmu. Sengaja kamu suruh untuk memukul Jono agar aku tidak sedikitpun curiga padamu. Oh, iya, Aku lihat kalian semakin akrab, dia juga keluar rumah tiap malam. Jono seharusnya sudah cukup untukmu, dia tampan, badannya kekar berotot. Tapi aku heran, kau masih terobsesi untuk memilikiku!” Aditya sangat enteng mengatakan semua itu.
Amelia tidak bisa berkata apa-apa, dia berusaha mencerna semua ucapan Aditya.
“Aditya!” Amelia berteriak. Dia hampir memukul meja sangkin emosinya.
“Kau tahu kenapa Jono, supirmu itu mau bertemu denganku setiap malam? Mengapa Jono mau memuaskan semua hasratku karena kau tidak sedikitpun menggubrisku? Daripada kau sibuk menuduhku melakukan apa yang tidak kulakukan, sebaiknya kau harus bertanya pada dirimu sendiri. Apakah kau adalah seorang suami yang bisa memuaskan istrimu?” Amelia melempar banyak pertanyaan sekaligus pada Aditya.
“Apa urusannya denganmu?” Aditya cuek, dia balik bertanya pada Amelia yang sedang marah.
“Oh, kamu ternyata tidak tahu apa-apa tentang istrimu yang baik itu. Dit, Dit, kamu telah mencintai orang yang salah!” Amelia membuat Aditya semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Amelia.
“Tidak usah bertele-tele, sampaikan saja apa yang ingin kau sampaikan!” Aditya tidak sabar apa yang hendak dikatakan Amelia.
“Oh, kau tidak pernah curiga ternyata, mengapa istrimu tidak pernah mau diajak ke Singapura?” Amelia memberikan improvisasi.
“Apa maksudmu sebenarnya?” Aditya semakin kebingungan.
“Ini yang akan kusampaikan, mengapa aku memintamu bertemu dari hari-hari yang lalu! Agar kau tahu kebenarannya. Tapi kau terlalu memandangku jahat, kau terlalu sibuk bermesraan dengan istri kesayanganmu itu.” Amelia mengulur-ulur agar emosi Aditya semakin memuncak saat dia mengatakan apa yang akan dikatakannya.
“Jangan bertele-tele, saya tidak punya banyak waktu. Kalau kau ingin memfitnah istriku dan berusaha mendapatkan cintaku, usahamu akan sia-sia!” Aditya memancing Amelia agar segera mengatakan pokok persoalannya, dia juga sangat ingin tahu tetapi dia tidak ingin menunjukkan sikap itu di depan Amelia.
“Anak yang ada di kandungan istri kesayanganmu itu adalah anak Jono, bukan anakmu.” Amelia berhenti sebentar, dia ingin melihat reaksi dan mimik wajah Aditya setelah mendengar kabar itu.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya kaka-kaka. Terima kasih 🤗🤗🤗
Bersambung...
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂