....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik
BAWAH POHON DI DEPAN GEDUNG - JAM 12.10 SIANG
Panas masih terik. Beberapa mahasiswa berlalu lalang membawa helm dan tas.
Di bawah pohon angsana yang rindang, Jayden duduk di atas motor Ninja hitamnya. Satu kaki menapak tanah. Helm digantung di spion.
Di sebelahnya, Juno bersandar di motor Ninja hijaunya sambil memainkan ponselnya. kunci diputer-puter di jarinya.
Jayden diam. Tatapannya kosong ke arah gerbang gedung. Pikirannya jauh.
Steven ngelindungin Cheyrin dari panas...
Kayaknya Steven suka deh sama Cheyrin...
Kalimat Dara tadi berulang-ulang di kepalanya.
"Bro." Juno melirik. "Dari tadi bengong mulu. Mikirin harga saham turun?"
Jayden tidak menjawab. Ia mengusap tengkuknya.
Juno menghela napas dramatis. "Ya ampun. Udah kayak patung aja lo. Sini gue ramal."
Ia tiba-tiba turun dari motor, duduk bersila di atas jok Ninja-nya, memasang ekspresi dukun.
"Gue melihat... ada seorang sultan... yang ditinggal putrinya karena... kepanasan!"
Jayden tetap datar. "Gak lucu."
"Yang gak lucu itu muka lo." Juno menepuk tangki motor Jayden. Tak
"Udah ah. Senyum dikit. Nanti Cheyrin keluar liat lo manyun, dikiranya lo marah sama dia."
Kata Cheyrin membuat Jayden menoleh.
Di kejauhan, Cheyrin keluar dari gedung. Jalan pelan sambil menunduk melihat catatan. Rambutnya diikat. Wajahnya masih sedikit merah karena matahari tadi.
Jayden langsung berdiri. Ekspresinya kembali seperti biasa.
"Chey!" panggilnya.
Cheyrin mengangkat kepala. Ia berjalan mendekat.
"Lo udah nunggu dari tadi?" tanya Cheyrin pelan.
"Iya. Lama juga lo." Jawab Jayden sambil menyodorkan helm ke Cheyrin. Nadanya seperti biasa. Santai dan sedikit berisik.
Tapi Juno yang melihat dari samping, bisa merasakan bedanya.
Tawa Jayden tidak sekeras biasanya. Matanya sesekali melirik ke arah Steven yang juga baru keluar dari gedung. Steven naik ke Ninja birunya, tidak menyapa, langsung jalan.
Juno bersiul pelan. "Wih. Pada diem-dieman. Lagi perang dingin apa gimana?"
Jayden melirik Juno sekilas. "Apaan si lo."
Cheyrin menaiki boncengan. "Udah yuk."
Jayden mengangguk. Ia menyalakan motor. Breng
DI JALAN - JAM 12.45 SIANG
Keduanya terdiam.
Jayden masih memikirkan kejadian di parkiran tadi. Sesuatu terus berputar di kepalanya.
Sementara itu, Cheyrin hanya fokus pada ponselnya. Helm belum dikenakan Cheyrin karena ia masih terlalu asyik dengan ponselnya.
Jayden melirik Cheyrin melalui spion. Angin menerbangkan beberapa helai rambut Cheyrin ke pipinya. Bibirnya tampak bergerak membaca sesuatu di ponsel, sesekali ia tersenyum. Matanya berbinar saat melihat kucing menyebrang.
Cheyrin memang sangat cantik, ditambah lagi ia pintar.
Dalam hati Jayden berkata, “Cantik banget anjir, gak heran kalau banyak yang suka”.
Saat lampu merah, Jayden akhirnya bersuara.
"Chey" panggilnya.
Cheyrin menyahut. "Hah?"
Jayden berusaha bersikap santai, "sore gue antar ya kayak biasa"
Cheyrin langsung menjawab, "eh nggak usah, gue libur hari ini"
Jayden sedikit menoleh, alisnya naik "oh libur, berarti Lo free dong"
Cheyrin mengangguk.
Hening kembali. Lampu berganti hijau. Jayden menyalakan motornya.
"Chey" panggilnya lagi.
"iyaa" jawab Cheyrin.
"Em... ke pantai mau gak?" tanya Jay.
Pertanyaan Jayden menggantung di antara suara knalpot dan angin.
Cheyrin terdiam selama dua detik. Lalu matanya membesar.
"iya mauuu!!!" jawab Cheyrin cepat. Nadanya naik satu oktaf. "Udah lama banget gue gak ke pantai"
Jayden terkejut. Ia tidak menyangka jawabannya akan seantusias itu. Ujung bibirnya tanpa sadar tertarik ke atas.
"Serius lo mau? Panas loh." ujar Jayden, meski nadanya terdengar menahan tawa.
"Gak apa-apa. Pake topi aja." sahut Cheyrin. Ia langsung merapikan rambutnya yang berantakan karena angin. "Jam berapa? Gue mandi dulu tapi"
Jayden mengangguk pelan di balik helm. Dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Jam 4 gue jemput, biar gak panas." katanya singkat.
"Siap komandan!" jawab Cheyrin sambil memberi hormat bercanda.
Lampu hijau menyala. Jayden menggass motornya pelan.
DI KOS CHEYRIN - JAM 1.10 SIANG
Begitu sampai, Cheyrin langsung turun dan berlari kecil ke dalam.
"Oke bye! Makasih udah nganter!" teriaknya dari dalam.
Jayden hanya mengangguk. Sebelum pergi ia masih sempat melihat Cheyrin mengintip dari balik pintu sambil tersenyum lebar.
Di perjalanan pulang, Jayden bersiul lega.
PANTAI - JAM 4.30 SORE
Angin sore membawa aroma asin laut dan suara ombak yang pelan. Langit mulai berubah warna. Jingga keemasan bercampur ungu muda.
Mereka baru sampai 10 menit lalu. Motor Jayden diparkir di pinggir.
Jayden bersandar di motornya. Ia mengenakan kemeja putih tipis dengan lengan digulung hingga siku. Kancing dua teratas dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos putih di dalamnya. Celana kain putih dan kacamata hitam bertengger di kepalanya.
Di sebelahnya Cheyrin. Tanktop biru muda dipadu kemeja flanel biru yang dibiarkan terbuka. Celana pendek putih high-waist, kaus kaki putih, dan sneaker putih bersih. Rambutnya dicepol berantakan, beberapa helai jatuh di pipi.
Cheyrin menatap laut. "Cantik ya sunsetnya."
"Iya." jawab Jayden. Tapi pandangannya tidak ke matahari.
Pandangannya ke Cheyrin yang berdiri di bawah cahaya keemasan. Rambutnya diterpa angin. Kemeja birunya berkibar pelan.
Dada Jayden terasa sesak. Bukan karena panas. Melainkan karena sesuatu.
"Jalan?" ajaknya. Suaranya sedikit serak.
Cheyrin mengangguk. "Iya. Ke pinggir yuk."
Mereka berjalan berdampingan di atas pasir. Tidak saling bersentuhan. Tapi bayangan mereka di pasir hampir menyatu karena matahari yang sudah rendah.
Ombak sesekali membasahi ujung sneaker Cheyrin. Cheyrin tertawa kecil dan lari menghindari ombak. Jayden hanya mengikutinya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Mereka berhenti di dekat bebatuan. Ombak kecil memecah di kaki mereka.
Cheyrin mengeluarkan ponsel dari dalam totebag. "Eh foto yuk. Mumpung sunsetnya bagus."
Jayden melirik. Alisnya terangkat. "Foto? Gue? Nanti hasilnya jelek."
"Yaelah nggak." Cheyrin cemberut. "Sekali-sekali dong. Buat kenang-kenangan."
Jayden menghela napas dramatis. Tangannya dimasukkan ke dalam saku. "Hah. Yaudah. Tapi kalau jelek jangan salahkan gue."
Cheyrin langsung berdiri di depan ombak. Posisinya kaku. Tangannya memegang ujung kemeja flanelnya.
"Gini?" tanyanya.
Jayden menahan tawa. "Iya. Kaku banget. Kayak patung."
Cheyrin menoleh. "Lah terus gimana dong?"
Jayden maju selangkah. Ia berdiri di samping Cheyrin, dengan jarak sekitar satu lengan.
"Gini nih contohnya." ujar Jayden. Tiba-tiba ia membuat pose peace di dekat kepala dengan ekspresi manyun yang dilebih-lebihkan. "Cheese~"
"JAY!!!" Cheyrin tertawa. "Gak jelas banget sih lo"
"Kata siapa. Ini estetik." Jayden mengambil alih ponsel Cheyrin. "Sini deh, biar gue yang fotoin. Lo diem aja, gue yang kerja."
Cheyrin menurut. Ia berdiri menghadap laut. Rambutnya tertiup angin. Cahaya jingga mengenai pipinya.
Jayden terdiam sejenak. Jempolnya berhenti di atas tombol kamera.
Dalam hati ia berkata, Cantik banget.
"Satu... dua... tiga..." katanya cepat. Klik.
"Hasilnya gimana?" tanya Cheyrin sambil berbalik.
Jayden segera menunjukkan layar ponsel. "Nih. Liat sendiri."
Di layar terlihat Cheyrin tersenyum kecil ke arah laut. Langit di belakangnya berwarna jingga. Tampak anggun.
"Wih bagus." kata Cheyrin jujur. "Makasih ya Jay."
Jayden menggaruk tengkuknya. Ia merasa gugup. "Hah. Biasa aja. Kan gue fotografer handal."
Cheyrin terkekeh. "Pede banget."
"Harus." Jayden berpose sok keren. "Soalnya yang difoto juga cantik."
Cheyrin langsung terdiam. Pipinya memerah.
Jayden baru menyadari ucapannya. Ia langsung berdehem. "Eh maksud gue... cahayanya bagus. Jadi keliatan cantik di foto."
Hening selama dua detik.
Kemudian Cheyrin justru tertawa. "Dasar. Tukang ngeles."
Jayden ikut tertawa. Merasa lega.