Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin dan Pertengkaran
Gedung teater tampak sepi saat Grey dan Ressa tiba. Lampu-lampu panggung menyala redup, menciptakan suasana sunyi yang hanya diisi oleh suara langkah kaki mereka di atas lantai kayu. Di atas panggung, hanya ada satu sosok yang berlatih sendirian—Angel Ranvell, dengan gerakan teatrikal yang berlebihan dan ekspresi wajah yang penuh perasaan.
Grey mengamati sekeliling, matanya menyipit. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Vega atau Barteil.
"Ternyata Vega benar-benar merencanakan sesuatu," pikirnya, menghela napas panjang. "Dan Barteil pasti ikut-ikutan lagi."
Ia memilih untuk tidak memedulikan mereka. Untuk saat ini, yang terpenting adalah persiapan teater.
Ressa berjalan di sampingnya, juga mengamati sekeliling. "Tuan Grey, Tuan Vega dan Barteil tidak ada. Siapa pemeran pengganti mereka?"
Grey menoleh ke arah Ressa. "Panggil Jars dan Vior. Mereka akan menggantikan peran Vega dan Barteil selama mereka belum datang."
"Baik, Tuan." Ressa mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Grey untuk mencari dua orang pengganti itu.
Namun, saat ia berada cukup jauh dari Grey, sebuah suara tajam memecah kesunyian.
"Hanya pelayan biasa, tapi terlihat sering bersama Tuan Muda Grey."
Ressa berhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara.
Angel Ranvell berdiri di hadapannya dengan tangan dilipat di dada. Wajahnya cantik, tetapi matanya menyala-nyala dengan api kecemburuan yang tak terbendung.
Ressa hanya diam, menunggu.
Angel melangkah mendekat, suaranya penuh ancaman. "Sadarlah, kau bukan bangsawan dan keluarga terhormat. Jangan dekati Tuan Muda Grey—atau kau akan menyesalinya."
Ressa tidak bergeming. Ia justru tersenyum kecil, lalu mengangkat tangannya.
"Lihat cincin perak ini," ucapnya dengan nada tenang. "Ini pemberian Tuan Grey. Dia memberikannya padaku dengan mesra."
Angel membelalak. Wajahnya berubah merah padam karena marah. Matanya menatap cincin perak itu dengan penuh kebencian.
"Gadis sialan!" bentaknya, suaranya meninggi. "Kau menggunakan sihir jahatmu untuk menggoda Tuan Muda Grey! Kau benar-benar—"
Angel mengangkat tangannya, hendak memukul Ressa.
Namun, sebelum tangannya mengenai sasaran, sebuah tangan kasar menangkap pergelangan tangannya dengan cengkeraman kuat.
"Tidak boleh membuat keributan di tempat ini," suara pria itu tegas dan dingin. "Siapa pun yang melanggar harus keluar dari gedung ini."
Biro Tarvils berdiri di hadapan mereka—pria tua dengan tubuh tegap dan tatapan tajam, pemilik gedung teater ini. Wajahnya keras, menunjukkan bahwa ia tidak mentolerir kekacauan.
Angel terdiam. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Biro terlalu kuat.
Ressa tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia berbalik dan meninggalkan Angel dengan Biro.
"Dia tidak sadar sejak tadi Biro di dekatnya," pikir Ressa, langkahnya ringan. "Mungkin dia terlalu sibuk membenci diriku."
Di belakangnya, Angel melepaskan tangannya dengan kasar, tetapi matanya tetap menatap Ressa dengan kebencian.
"Pelayan sialan..." bisiknya, suaranya bergetar karena amarah. "Dia ternyata lebih dulu diberi hadiah oleh Tuan Muda Grey daripada aku. Padahal aku sudah berusaha begitu keras."
Dengan langkah kesal, Angel berjalan kembali ke panggung, meninggalkan Biro yang hanya menggelengkan kepala.
---
Di atas panggung, Grey sedang mengatur properti saat melihat Ressa kembali. Ia mengamati ekspresi gadis itu—seolah ada sesuatu yang baru saja terjadi.
"Ressa, apa yang terjadi?" tanyanya, alisnya berkerut.
Ressa tersenyum kecil. "Tidak ada, Tuan. Hanya pertengkaran kecil dengan Nona Angel."
Grey menatapnya dengan tatapan tajam. "Angel? Apa yang dia lakukan padamu?"
Ressa menggeleng. "Tidak ada yang penting, Tuan. Saya sudah menemukan Jars dan Vior. Mereka akan segera datang."
Grey tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak memaksa. "Baiklah. Tapi jika ada masalah lagi, katakan padaku."
Ressa mengangguk, tetapi di dalam hatinya ia tersenyum.
"Tuan Grey peduli padaku," pikirnya. "Itu cukup."
Di sudut panggung, Angel masih menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.
"Ressa," pikirnya, "aku akan membuatmu menyesal telah merebut Tuan Muda Grey dariku."