NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Jalan Pulang yang Gelap

Nadira selesai sif pukul sepuluh malam.

IGD malam itu kacau. Kecelakaan beruntun di tol, anak kejang demam, ibu hamil pingsan di ruang tunggu, dan seorang pria mabuk yang memaki perawat karena harus menunggu giliran. Saat akhirnya Nadira melepas jas dokter, bahunya terasa seperti ditindih batu.

Maya tidak bisa menjemput. Fadli sedang ke Bandung untuk urusan kantor. Arga mengirim pesan sore tadi, menawarkan jemputan, tapi Nadira menolak.

Aku bisa pulang sendiri.

Ia mengetik itu dengan yakin.

Sekarang, berdiri di halaman belakang rumah sakit yang lampunya redup, ia mulai merasa keyakinan itu sedikit bodoh.

Taksi online yang ia pesan masih delapan menit lagi. Satpam yang biasa berjaga sedang membantu ambulans masuk di sisi depan. Area belakang sepi.

Nadira mempercepat langkah menuju titik jemput yang lebih terang.

Di belakangnya, ada suara langkah.

Ia berhenti.

Suara itu ikut berhenti.

Jantung Nadira berdetak terlalu keras.

Ia berusaha mengingat semua hal praktis yang pernah ia katakan pada pasien perempuan korban kekerasan. Jangan masuk area tertutup. Cari cahaya. Hubungi orang terdekat. Buat suara. Lari kalau ada celah.

Semua nasihat itu mudah diberikan di ruang konsultasi.

Di halaman belakang yang sepi, dengan tubuh lelah setelah sif panjang, setiap keputusan terasa berat.

Ia menekan tombol panggil cepat di ponsel. Nomor Maya. Tidak tersambung. Mungkin sahabatnya masih di lokasi liputan. Ia menekan nomor Fadli. Nada sambung berbunyi, tapi tidak diangkat.

Nama Arga ada di daftar pesan terakhir.

Ibu jarinya berhenti di sana.

Harga dirinya menolak. Nalurinya memaksa.

Sebelum ia sempat memutuskan, salah satu langkah di belakangnya bergerak lebih dekat.

Nadira memasukkan tangan ke tas, mencari semprotan kecil yang Maya paksa ia bawa setelah insiden gala. Tangannya menemukan botol itu.

Ia berjalan lagi.

Langkah di belakangnya juga bergerak.

Nadira berbalik cepat.

Dua pria berdiri beberapa meter darinya. Keduanya memakai jaket gelap dan masker. Salah satu memegang rokok, satu lagi menatap ponsel.

"Malam, Dok," kata pria yang merokok.

Nadira mundur setengah langkah. "Ada perlu?"

"Kami cuma mau tanya jalan."

"Tanya satpam."

Pria itu tertawa. "Galak juga."

Nadira mengangkat ponsel, pura-pura menelepon. "Pak, saya di belakang. Ada dua pria mencurigakan."

Pria kedua bergerak cepat.

Nadira langsung menyemprotkan cairan ke wajahnya. Pria itu berteriak. Yang pertama mengumpat dan menerjang. Nadira menghindar, tapi tangannya tertangkap.

"Perempuan susah banget!"

Nadira menendang lututnya. Pria itu terhuyung. Ia berlari ke arah lampu, tapi rambutnya ditarik dari belakang.

Rasa sakit menjalar ke kulit kepala.

"Lepas!"

Ia menyikut sekuat tenaga. Sikutnya mengenai perut pria itu, tapi tidak cukup. Pria pertama mendorongnya ke dinding dekat area servis.

"Kami cuma disuruh bikin kamu kapok. Jangan sok suci."

Kalimat itu membuat darah Nadira dingin.

Disuruh.

Oleh siapa?

Vania? Laras?

Ia tidak sempat berpikir. Pria kedua yang matanya perih mulai mendekat lagi. Nadira meraih apa pun di tasnya dan menemukan gunting kecil medis. Ia mengayunkan ke lengan pria pertama.

Pria itu berteriak.

Nadira lepas dan berlari.

Suara motor mendekat dari sisi jalan kecil. Bukan taksi. Seseorang turun.

"Nadira!"

Arga.

Nadira tidak pernah merasa lega mendengar suaranya seperti malam itu.

Arga berlari meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Bima menyusul di belakang. Dua pria itu mencoba kabur, tapi Bima lebih cepat. Ia menjatuhkan satu orang dengan gerakan bersih. Arga menghantam pria yang menarik rambut Nadira ke tembok.

"Siapa yang suruh?"

Suara Arga rendah dan mengerikan.

Pria itu mengerang. "Nggak tahu!"

Arga mencengkeram kerahnya.

Nadira melihat darah mulai merembes di kemeja Arga dekat bekas luka.

"Mas Arga, cukup!"

Arga berhenti.

Bima langsung mengambil alih pria itu. "Komandan, saya urus. Dokter dulu."

Arga berbalik ke Nadira.

Baru saat melihat wajahnya, Nadira sadar tangannya gemetar. Lututnya juga. Rambutnya berantakan, lengan bajunya robek sedikit, telapak tangannya perih karena jatuh.

"Kamu terluka?"

Nadira mencoba menjawab, tapi suara tidak keluar.

Arga mendekat perlahan, seolah mendekati hewan kecil yang ketakutan.

"Nadira."

Ia mengangkat tangan, berhenti di udara.

"Boleh aku pegang?"

Pertanyaan itu hampir membuat Nadira menangis.

Dulu Arga tidak bertanya. Ia memutuskan. Ia menarik. Ia memberi perintah.

Malam ini, di tengah tubuhnya yang masih gemetar, ia bertanya.

Nadira mengangguk kecil.

Arga menyentuh bahunya pelan. "Kita ke IGD."

"Aku dokter."

"Malam ini kamu pasien."

Nadira ingin membantah, tapi tubuhnya terlalu lelah.

Di ruang tindakan, Santi hampir menangis melihat Nadira masuk dengan keadaan seperti itu.

"Dokter..."

"Aku baik-baik saja," kata Nadira otomatis.

Arga langsung berkata, "Dia diserang. Periksa luka di tangan, kepala, dan lengan. Panggil dokter jaga lain. Jangan biarkan dia memeriksa dirinya sendiri."

Nadira menatapnya.

Arga menatap balik. "Ini bukan perintah untukmu. Ini permintaan pada tim medis."

Santi mengangguk cepat dan memanggil dokter jaga.

Pemeriksaan menunjukkan tidak ada luka serius. Ada memar di pergelangan tangan, lecet di telapak, dan kulit kepala nyeri karena tarikan. Secara fisik Nadira aman. Secara emosional, ia tidak yakin.

Arga duduk di samping ranjang tindakan. Kemejanya kini jelas bernoda darah.

"Luka Mas terbuka," kata Nadira pelan.

"Tidak penting."

"Penting."

"Setelah kamu selesai."

Nadira menatapnya, lelah. "Jangan membuatku merasa bersalah."

Arga langsung diam.

Beberapa menit kemudian, Dokter Rendra datang karena Bima menghubunginya. Ia memeriksa Nadira, lalu memeriksa Arga sambil mengomel panjang.

"Kalian berdua ini pasien atau bencana berjalan?"

Maya datang setengah jam kemudian dengan wajah panik. Ia memeluk Nadira begitu masuk.

"Aku bilang jangan pulang sendiri!"

"Aku tahu."

"Kamu selalu tahu setelah kejadian!"

Nadira membiarkan Maya memarahinya.

Bima masuk membawa kabar. "Dua pelaku sudah diamankan satpam dan polisi sedang menuju sini. Mereka mengaku dibayar lewat transfer e-wallet dari akun palsu. Tapi salah satu menerima instruksi lewat suara perempuan."

Arga menatapnya. "Rekaman?"

"Ada di ponsel pelaku, tapi nama kontaknya disamarkan."

Maya langsung berkata, "Laras atau Vania."

Nadira memejamkan mata.

Arga berdiri. "Aku akan cari tahu."

Nadira memegang ujung kemejanya.

Gerakan itu kecil, tapi cukup membuat Arga berhenti.

"Jangan pergi sekarang," kata Nadira.

Maya menatap mereka, lalu menahan diri untuk tidak berkomentar.

Arga kembali duduk.

"Aku di sini."

Nadira melepaskan kemejanya, malu pada dirinya sendiri.

"Aku cuma..."

"Takut?"

Ia ingin menyangkal.

Tapi malam itu ia terlalu lelah berbohong.

"Iya."

Arga menatapnya dengan mata yang melembut.

"Tidak apa-apa."

Nadira menunduk.

Malam itu Arga mengantar Nadira ke apartemen bersama Maya. Ia tidak naik, tetapi menunggu sampai Maya mengirim pesan bahwa Nadira sudah mandi, minum obat, dan tidur.

Baru setelah itu Arga pergi ke kantor polisi.

Di mobil, Bima melirik komandannya.

"Komandan yakin pelakunya Laras?"

"Aku tidak ingin menuduh tanpa bukti."

"Itu jawaban baru."

Arga menatap jalan.

"Aku pernah kehilangan Nadira karena prasangka. Aku tidak akan mengulanginya."

Bima mengangguk.

Namun saat ponselnya berbunyi dan nama Laras muncul, wajah Arga kembali mengeras.

Ia mengangkat.

Suara Laras terdengar panik.

"Mas Arga, Kendra hilang."

Mobil terasa membeku.

Arga menegakkan tubuh.

"Apa maksudmu hilang?"

"Aku cuma ke minimarket sebentar. Saat kembali, dia tidak ada di mobil. Mas, tolong. Kendra hilang!"

Bima langsung memutar arah sebelum Arga memberi perintah.

Di kursi belakang, tangan Arga mengepal di atas lutut. Ia ingin langsung menuduh, ingin memaki Laras, ingin menghubungkan semuanya dengan serangan pada Nadira. Tapi wajah Nadira saat berkata jangan menuduh tanpa bukti muncul di kepalanya.

Ia memaksa diri bertanya dengan suara terkendali.

"Kirim lokasi. Jangan sentuh apa pun di mobil. Jangan hapus pesan, jangan telepon siapa pun selain polisi dan aku."

Laras menangis makin keras. "Mas, aku takut."

"Takut nanti. Sekarang lakukan yang kubilang."

Ia memutus telepon sebelum Laras menyeretnya lebih jauh ke dalam tangis yang melemahkan keputusan.

Arga memejamkan mata.

Nadira baru saja diserang.

Sekarang Kendra hilang.

Dan semua ini terlalu berdekatan untuk disebut kebetulan.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!