Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Setelah berminggu-minggu berjalan kaki, akhirnya ia sampai di kota kelima yaitu kota Vandalia. Setelah Vandalia, tinggal satu kota terakhir yang harus dilewatinya.
Setelah melewati kota Meridia, perjalanan dari kota Norveil hingga Vandalia tidak bertemu pembunuh lagi. Karena Evren sengaja melewati tempat yang selalu ramai. Saat di kota Norveil, Evren mulai menyadari polanya. Mereka tidak akan menyerang terang-terangan di tempat umum. Itu sesuatu yang sangat menguntungkan bagi Evren.
Kota Norveil.
“Tuan, semangkuk mie kuah polos satu.”
Evren berada di sebuah restoran terkenal yang cukup ramai. Ia hanya mengandalkan instingnya bahwa organisasi itu tidak akan berani muncul di kerumunan seperti ini. Itu sesuatu yang tidak sulit ditebak. Jika dugaan sebelumnya benar, maka karena status dalang dibalik kelompok pembunuh itu terlalu tinggi hingga ia harus berhati-hati dengan setiap langkah yang diambilnya.
Apalagi ia sempat mendengar desas desus di istana bahwa takhta yang didudukinya saat ini tidak seharusnya menjadi miliknya. Jika benar seperti itu, maka ada banyak mata lapar yang terus mengintainya.
“Mie kuah polos satu,” Ucap seorang pelayan sambil meletakkan semangkuk mi di hadapan Evren.
“Apa di sekitar sini ada penginapan?” Tanya Evren pada pelayan tersebut.
“Anda pasti pendatang ya? Sayang sekali tapi lusa ada festival jadi semua penginapan sekitar sini sudah penuh.”
“Festival?”
“Iya, festival lentera, anda harus melihatnya besok, akan ada pertunjukan juga di pusat kota.”
Evren lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Setelah selesai makan, Evren berkeliling kota dan sepanjang hari terus berbaur dalam keramaian. Ia sesekali melirik ke belakang dan ke samping sebelum tiba-tiba berbelok masuk ke dalam gang kecil. Evren menyusuri gang lalu muncul di jalan seberang gang yang tidak kalah ramai dengan jalan yang tadi ia lewati. Setelah itu, ia membeli sebuah topi dan duduk di sebuah kedai pinggir jalan. Memesan satu gelas teh sambil melihat sekitar dengan santai.
Matanya memicing melihat beberapa orang yang wajahnya terasa familiar. Mereka adalah orang yang sama dengan yang menyergapnya di kota Meridia. Sejak awal, mereka memang sudah menemukan dirinya namun tidak bergerak juga. Evren menurunkan topinya agar wajahnya semakin tertutup lalu ia pergi dari kedai itu setelah meninggalkan beberapa keping uang logam untuk membayar tehnya.
Hari festival lentera benar-benar datang seperti yang pelayan itu katakan. Selama dua hari ini Evren hanya berjalan tak tentu arah mencari tempat yang selalu ramai. Ia menunggu hari ini tiba. Hari yang sempurna untuknya keluar dari kota.
Di sore hari, para penjual lentera, makanan, dan mainan mulai memenuhi sepanjang jalan menuju pusat kota. Semakin matahari turun, semakin banyak warga yang keluar rumah dan memadati jalanan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Ada yang keluar untuk berjalan-jalan, ada yang untuk berburu kuliner, ada juga yang mengajak anaknya membeli mainan. Lalu tujuan akhir mereka tetaplah pertunjukan di pusat kota. Mereka mengatakan bahwa akhir pertunjukan akan ditutup dengan kembang api. Benda yang hanya muncul di festival besar saja.
Evren berjalan santai sambil sesekali melihat barang-barang yang dijual di pinggir jalan. Ia sudah memastikan wajah orang-orang yang membuntutinya. Ketika rombongan orang-orang yang akan melakukan pertunjukan di pusat kota lewat, semua orang berbondong-bondong untuk mengikutinya. Begitu pula dengan Evren. Ia masuk ke dalam kerumunan dan ikut berjalan menuju ke pusat kota.
Karena kerumunan yang sangat padat, akhirnya para pembunuh bayaran itu lagi-lagi kehilangan jejak Evren dan tidak bisa menemukannya semalaman. Tanpa mereka ketahui kalau pemuda itu sudah keluar dari gerbang kota. Bahkan sudah berjalan cukup jauh dari kota Norveil menuju ke kota selanjutnya, yaitu Solvaris.
Setelah melewati kota Norveil malam itu, Evren tidak merasakan dibuntuti selama berada di kota Solvaris dan Kalestia. Begitu juga dengan kota Vandalia ini. Setelah menyelesaikan proses masuk di pos jaga, Evren langsung mencari penginapan karena hari sudah mulai gelap.
Saat melewati gerbang masuk Vandalia, satu hal yang membuat Evren sedikit terdiam. Warga di sana hampir semuanya memakai pakaian lusuh. Ada cukup banyak pengemis di pinggir jalan. Lalu ada juga orang yang mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah. Seingatnya dua tahun lalu, ia pernah melewati kota ini dan pemandangannya tidak seburuk ini.
Matanya melihat sebuah papan bertuliskan penginapan. Dengan segera ia masuk dan memesan beberapa makanan serta kamar. Setelah makan, ia langsung naik ke atas untuk beristirahat.
Saat sedang berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, ada seorang anak laki-laki yang berlarian menuruni tangga hingga menyenggol dirinya. Evren sedikit menggerutu karena sangat berbahaya bermain di tangga seperti ini. Tapi kemudian ia tetap naik ke atas dan tidur hingga tanpa terasa hari sudah berganti. Ia keluar kamar keesokan harinya di pagi yang sudah agak siang.
Setelah memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal, ia turun dan langsung menemui pemilik penginapan untuk membayar.
“Totalnya dua belas koin.”
Evren merogoh bajunya namun tidak menemukan kantong uangnya, ia meraba pinggangnya, tangannya bahkan kakinya namun tidak ada kantong uang miliknya.
“Ayo bayar!”
“Sebentar, tadi uangku ada di sini,” Ucap Evren sambil kembali merogoh bajunya. Namun tetap saja ia masih tidak bisa menemukannya.
“Kalau tidak punya uang itu tau diri, jangan malah beli makan dan tidur di sini!”
“Saya punya uang!”
“Kalau begitu mana? Ayo bayar sekarang, saya tidak mau tau!”
Evren kebingungan dan ia melirik kanan kiri mungkin saja kantong uangnya jatuh saat ia turun ke bawah. Lalu ia teringat kemarin saat naik ke atas, ada seorang anak yang menabraknya di tangga.
“Ah sial!”
“Beraninya kamu mengumpat di sini padahal kamu yang tidak bisa bayar?”
“Tidak bukan begitu!”
Lalu netra Evren menangkap siluet tinggi yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ia menatap pemuda itu dari atas sampai ke bawah. Dia berdiri di sampingnya sambil memakan kacang goreng dan menonton dirinya berseteru dengan pemilik penginapan.
“Apa seru tontonannya?” Tanya Evren dengan nada kesal kepada pemuda itu.
“Hm seru seru,” Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. Wajahnya datar dan tidak berekspresi sama sekali, namun hal itu justru membuat Evren merasa dirinya benar-benar menjadi lelucon di sini.
Evren mencoba mengabaikan itu lalu kembali mencari kantong uang miliknya.
“Bos, aku bayar kacangnya sekalian ya,” Ucap pemuda itu sambil menunjuk ke arah Evren. Ia mengeluarkan satu batang perak kepada pemilik penginapan.
Evren yang melihat itu pun melotot. Bukan karena tidak pernah melihat perak, melainkan kalau saja ia punya uang sebanyak itu mungkin dirinya bisa menyewa atau membeli kuda. Ia tidak perlu berjalan berminggu-minggu menuju ke perbatasan di utara.
Setelah membayar, pemuda itu langsung pergi begitu saja tanpa melirik sedikitpun ke arah Evren. Evren pun tanpa berpikir langsung mengejarnya dan menghadangnya.
“Apa?”
“Kamu punya uang?” Tanyanya tanpa basa basi dan tanpa mengingat bahwa mereka berdua adalah orang asing.
“Kenapa?”
“Belikan aku kuda!”
“Orang gila!”
Pemuda itu langsung pergi meninggalkan Evren.
“Ternyata pengemis sekarang tidak segan-segan langsung minta beli kuda ya,” Gumamnya lirih saat melewati Evren dan tentunya masih bisa didengar oleh Evren.
“AKU BUKAN PENGEMIS!” Teriak Evren sambil menunjuk ke arah pemuda itu.