"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Jangan sembarangan cium-cium! Lu pikir pipi gue barang gratisan?!"
Clara mendorong dada bidang Elzio dengan kasar hingga pria itu mundur setengah langkah. Dengan wajah memerah padam dan napas memburu, Clara mengusap pipinya yang baru saja dicium Elzio dengan punggung tangannya, seolah ingin menghapus bekas sentuhan lembut yang justru membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Tanpa menunggu balasan Elzio, Clara membalikkan badan, menyambar tasnya, dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruangan menuju toilet wanita di ujung koridor.
BLAM!
Pintu toilet dikunci dari dalam. Clara bersandar pada pintu kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya meluruh perlahan hingga terduduk di atas lantai marmer. Dia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas berat yang gemetar.
Uang denda lima miliar rupiah itu rasanya seperti batu besar yang mengikat kakinya di dasar laut. Setiap kali dia memikirkannya, rasa sesak itu makin meremas dadanya.
"Kapan sih hidup gue bisa tenang?" bisik Clara pada keheningan.
Niat awalnya sangat sederhana: kabur dari Jakarta, memutus akses dari keluarga tirinya yang beracun, mencari pekerjaan biasa di perusahaan kecil, dan hidup mandiri tanpa perlu bergantung pada siapa pun. Tapi sekarang? Hidupnya justru makin absurd, terjebak di dalam cengkeraman seorang CEO kaya raya yang obsesif setengah mati padanya.
Dan bayangan Ardan... pria yang pernah menjadi tempatnya bersandar selama dua tahun, yang sudah dia percaya untuk menjadi masa depannya. Setiap kali ingatan saat Ardan bercumbu dengan Miska di atas sofa kantor itu melintas, ada rasa perih tajam yang menusuk dadanya. Rasa dikhianati oleh dua orang yang seharusnya dia sayangi.
Clara mendongak, menatap plafon toilet dengan mata berkaca-kaca.
Ayahnya yang dulu sangat protektif kini makin sakit-sakitan dan sepenuhnya berada di bawah kendali Kirana—ibu tirinya yang licik. Ayahnya bahkan tidak membela Clara sedikit pun saat Miska merebut Ardan. Rasa sepi itu menghantamnya begitu telak. Clara merasa benar-benar sendirian di dunia ini.
"Ibu..." bisik Clara, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. "Clara kangen Ibu..."
Di saat-saat paling hampa seperti ini, Clara refleks memegang pergelangan tangan kirinya. Tempat di mana dia biasa mengelus tali kulit jam tangan tua vintage peninggalan almarhumah ibunya setiap kali dia merasa sedih atau cemas.
Namun, jemarinya hanya menyentuh kulitnya yang kosong.
Clara tersentak, membelalakkan mata. Dia baru menyadari satu hal yang terlewat di tengah semua kekacauan ini: jam tangan peninggalan ibunya hilang!
"Astaga... jam tangan Ibu di mana?!" Clara panik setengah mati. Dia merogoh tasnya secara histeris, membongkar semua reaches, dompet, dan kantong kecil di dalamnya. Nihil. Benda paling berharga yang menjadi satu-satunya peninggalan almarhumah ibunya itu benar-benar tidak ada.
Pikiran Clara makin kalut. Tangisnya pecah seketika. Kehilangan jam tangan itu seperti kehilangan pelukan terakhir dari ibunya.
...****************...
Malam harinya, di sebuah kafe bernuansa hangat di daerah Senopati.
Clara duduk di sudut ruangan, menggenggam cangkir chamomile tea yang sudah mendingin. Di depannya, Anya duduk dengan wajah cemas, memandangi sahabat terbaiknya yang terlihat sangat rapuh dan pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Clar... lu makin kurusan deh," ujar Anya lembut, meraih tangan Clara yang terasa dingin. "Gue minta maaf ya, gara-gara agen gue waktu itu, hidup lu jadi serumit ini."
Clara menggeleng pelan, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Bukan salah lu, Nya. Emang nasib gue aja yang lagi amburadul."
"Gimana kerjaan lu di bawah Pak Elzio?"
"Gila. Gue berasa kerja sama psikopat," gumam Clara hambar. "Tapi... lu sendiri gimana? Kenapa kantor lu bisa buka lagi secepat ini?"
Pipi Anya mendadak merona merah. Dia menunduk malu, memainkan ujung sedotan minumannya. "Itu... Arka yang bantu urus semuanya, Clar. Pak Elzio juga udah enggak nuntut atau ngancam agen gue lagi setelah lu resmi kerja di kantornya. Semua izinnya dibantu diurus sama Arka."
Clara menatap Anya lurus-lurus. "Lu seneng kan sama Arka?"
Anya mendongak, matanya berbinar penuh kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. "Dia baik banget, Clar. Beda banget sama penampilannya yang kaku. Dia perhatian, selalu ada buat gue... Dan... minggu lalu Arka udah nemuin orang tua gue."
Clara tersentak kecil. "Maksudnya?"
"Arka ngelamar gue, Clara," bisik Anya dengan nada bergetar bahagia. "Kita rencananya mau nikah tiga bulan lagi. Arka bilang dia enggak mau buang-buang waktu lagi."
Kata 'nikah' yang diucapkan Anya bergema di kepala Clara.
Di satu sisi, Clara merasa sangat lega dan bahagia karena sahabat satu-satunya ini akhirnya menemukan pria bertanggung jawab yang mencintainya dengan tulus. Tapi di sisi lain... ada rasa takut yang teramat sangat yang mendadak mencengkeram dada Clara.
Anya akan menikah. Anya akan punya keluarga sendiri, fokus pada suaminya, dan perlahan-lahan kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Clara merasa makin terlempar ke sudut kegelapan. Semuanya bergerak maju dan menemukan kebahagiaan—Anya dengan Arka, Ardan dengan Miska—sementara dirinya tertinggal sendirian, kehilangan keperawanannya, kehilangan tunangannya, kehilangan jam tangan ibunya, dan terjebak dalam jaring obsesi Elzio.
Rasa takut akan kesepian yang ekstrem menghantam Clara tanpa ampun.
"Selamat ya, Nya..." suara Clara terdengar parau, tertahan di kerongkongan. Dia memeluk Anya erat-erat, menyembunyikan air matanya di bahu sahabatnya. "Gue seneng banget buat lu..."
"Makasih ya, Clar. Lu juga harus bahagia," bisik Anya sambil membalas pelukan Clara hangat. "Lu harus lepasin semua trauma lu."
...****************...
Pukul sembilan malam.
Clara berjalan menyusuri trotoar menuju kontrakan barunya. Angin malam Jakarta terasa menusuk tulang, namun dingin di dadanya jauh lebih menyiksa. Bayangan tentang ibunya, jam tangan yang hilang, dan ketakutan akan kesepian terus berputar seperti piringan hitam yang rusak.
Saat Clara belok ke gang rumahnya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang sangat dia kenali sudah terparkir di sana.
Elzio berdiri di samping mobil, bersandar pada pintunya dengan setelan jas yang sudah agak longgar dan dasi yang diturunkan sedikit. Pria itu tampak menunggu lama. Begitu melihat sosok Clara berjalan dengan langkah gontai dan kepala menunduk, binar mata Elzio langsung melembut.
Clara menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Elzio. Dia terlalu lelah untuk marah, terlalu lelah untuk berteriak atau bersikap galak seperti biasanya.
"Darimana saja? Kenapa baru sampe?" suara Elzio mengalun rendah dan halus di tengah keheningan malam. Langkah kakinya mendekati Clara.
Clara tidak menjawab. Dia hanya berdiri membisu, menatap lantai semen jalanan dengan mata yang meremang basah.
Elzio menyadari ada yang tidak beres. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan tajam yang menyala dari wanita di depannya ini. Hanya ada aura keputusasaan yang sangat tebal.
Elzio mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Clara perlahan dan mengangkat wajah wanita itu. Hatinya mencelos saat melihat air mata mengalir diam-diam di pipi mulus Clara.
"Clara? Kamu kenapa, sweetheart?" tanya Elzio, suaranya mendadak sarat akan kecemasan yang mendalam. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi Clara dengan sangat lembut.
Clara menatap Elzio dengan pandangan kabur oleh air mata. Rasa lelah yang menumpuk membuat pertahanan dinginnya retak.
"Lu... lu yang ngambil jam tangan gue, kan?" bisik Clara dengan suara bergetar dan parau.
Dahi Elzio berkerut tipis. Dia menatap Clara tanpa suara.
"Jawab, Elzio!" cicit Clara, suaranya pecah oleh tangisan yang akhirnya meledak. "Jam tangan tua tali kulit cokelat peninggalan Ibu gue... lu yang ngambil di hotel malam itu, kan?! Kembaliin, Elzio! Cuma itu yang gue punya di dunia ini! Gue enggak punya siapa-siapa lagi!"
Clara memukul dada bidang Elzio dengan sisa tenaganya, meracau dalam tangisan emosional yang menyayat hati.
Elzio tidak menahan tangan Clara. Dia justru menarik tubuh rapuh yang gemetaran itu ke dalam pelukan hangatnya yang kokoh, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Clara, menenggelamkan kepala wanita itu di dadanya.
"Gue takut sepi, Elzio... gue enggak punya siapa-siapa..." tangis Clara pecah di balik kemeja Elzio.
Elzio memejamkan matanya rapat-rapat, mengelus rambut panjang Clara dengan kelembutan yang teramat dalam. Keraguan dan kemarahan Clara selama ini akhirnya runtuh, memperlihatkan luka besar yang selama ini disembunyikan di balik sikap galaknya.
"Kamu punya saya, Clara," bisik Elzio rendah di dekat telinga Clara, mempererat pelukannya. "Kamu tidak pernah sendiri. Saya ada di sini, dan saya tidak akan pernah meninggalkan kamu."