Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Memberantas Mantan
Acara makan malam lima orang dalam ruangan privat itu pun penuh canggung dalam diam. Hanya suara dentingan sendok garpu dengan piring yang memenuhi keheningan di sana.
Tak berselang lama, Erik berdiri dan keluar dari sana untuk mengangkat panggilan masuk ke dalam ponselnya. Beberapa menit kemudian, Erik masuk kembali ke sana.
"Sorry guys, aku harus pulang." Erik mendadak berpamitan.
"Hah, kenapa Lu?" tanya Satya.
"Bini gue minta belikan nasi goreng langganannya. Biasanya yang jual sejam lagi mau tutup. Jadi gue mau buru-buru beli. Daripada gue disuruh bobo luar sama bini. Berabe dah," jawab Erik.
"Dasar suami-suami takut bini, Lu!" cibir Satya.
"Lu belum nikah jadi gak tau hal beginian. Nikah sono, Lu!" balas Erik.
"Malas banget. Lagi enjoy single life," jawab Satya.
"Oh ya, sekali lagi selamat ya buat kalian berdua. Ini kado kecil dari gue sama Laras. Semoga kalian suka," ucap Erik seraya menyerahkan sebuah kotak kado pada Prabu.
"Makasih, Rik. Harusnya Lu gak perlu repot-repot begini," jawab Prabu seraya bersalaman dan berpelukan ala sahabat lama.
"Makasih Pak Erik," ucap Alea.
"Sama-sama. Gue pamit dulu ya,"
"Oke, Rik. Salam buat kang nasi goreng. Haha..." ucap Satya seraya tertawa meledek.
Setelah berpamitan pada semua, Erik pun keluar dari ruangan tersebut.
"Uh, lega banget. Sorry Prab, gue lebih baik cabut dulu. Suasana di dalam horor banget. Gua gak mau ikutan," batin Erik.
Ya, Erik merasa kurang nyaman ada di ruangan privat tersebut. Alhasil ia terpaksa berbohong soal sang istri meminta beli nasi goreng. Itu hanya sebuah alasan klise dari Erik agar dia bisa pergi dari sana.
☘️☘️
"Kalian pacaran berapa lama sampai akhirnya menikah?" tanya Satya membuka obrolan santai dengan Prabu dan Alea setelah makan malam.
"Kami gak pacaran," jawab Prabu singkat.
"Hah, masa sih?" Satya terkejut. Tak lupa Kinan juga ikut terkejut mendengar ucapan Prabu tersebut. "Aku gak percaya deh," imbuhnya.
"Kami dijodohkan," ucap Prabu.
"Astaga, zaman apa ini? Memangnya masih zaman Siti Nurbaya pakai perjodohan segala," cibir Kinan.
"Buatku tak ada masalah. Pacaran lama juga tak menjamin langgengnya suatu pernikahan," ucap Prabu sewajarnya.
"Apa kamu sedang mencibir gagalnya pernikahan kita yang lalu?" sungut Kinan.
Prabu sebenarnya sama sekali tak ada niat menyudutkan atau mencibir siapapun di sini dengan ucapan yang terlontar dari bibirnya. Ia hanya membicarakan hal umum yang banyak terjadi di luar sana.
"Maaf, aku tidak menyindir siapapun. Jangan salah paham di sini," tegas Prabu.
Suasana yang sedikit tegang tersebut, akhirnya bisa lebih tenang setelah Satya nimbrung dengan Prabu membahas hal lain. Hati Kinan begitu dong_kol karena niat hati ingin kembali mendekati Prabu, justru berakhir kacau dan gagal. Terlebih Alea selalu lengket di samping Prabu.
Tiba-tiba, Kinan tanpa sengaja menatap curiga akan sesuatu di leher Prabu. Sebuah bercak kemerahan di ceruk leher mantan suaminya itu, tepatnya di bawah telinga agak ke belakang. Ada bagian merah yang sedikit terhalang kerah baju Prabu.
Akan tetapi, sebagian sisanya mampu Kinan lihat dengan baik saat ini. Sayangnya, Kinan baru menyadari hal itu.
"Apa tanda merah itu dari ciuman istrinya Prabu? Apa sekarang Prabu udah sembuh?" batin Kinan semakin didera penasaran. Namun lebih banyak penyesalan.
☘️☘️
Alea berpamitan pada Prabu bahwa dia hendak pergi ke toilet. Prabu menawarkan diri untuk mengantar, tapi ditolak oleh Alea.
Dikarenakan Prabu sedang berbicara cukup serius dan intens dengan Satya. Alhasil Alea tak ingin mengganggu pembicaraan antara sang suami dengan Satya.
Setelah selesai buang air kecil, Alea sekarang ini sedang melihat make up nya di cermin. Tiba-tiba derit pintu toilet wanita didorong dari luar dan terbuka.
Ceklek..
Dari pantulan cermin, terlihat Kinan yang ternyata masuk ke sana.
"Mbak," sapa Alea seraya tersenyum ramah.
Kinan berjalan ke arah wastafel yang ada di samping Alea berdiri saat ini.
"Gimana rasanya nikah sama pria impo_ten seperti Prabu?" tanya Kinan dengan nada satir seraya menyalakan keran air, hendak mencuci tangannya.
"Maksud Mbak Kinan, Mas Prabu impo_ ten?"
"Ya, tentu saja dia. Memangnya kamu menikah sama pria lain selain Prabu?"
"Sayangnya Mas Prabu bukan pria impo_ten seperti yang dimaksud Mbak Kinan tadi," ucap Alea.
"Halah, kamu gak perlu pura-pura bahagia di depan banyak orang. Kamu juga gak perlu menjaga image Prabu agar terlihat seperti pria normal. Padahal kenyataannya begitu menyakitkan!" balas Kinan.
"Ah, gimana bicaranya buat jelasin ke Mbak Kinan ya? Jujur, saya malu."
"Maksudmu?"
Seketika tanpa basa-basi Alea melepaskan hijabnya di depan Kinan. Tampak rambut Alea yang sebenarnya masih setengah basah.
Lalu, Alea meraih seluruh rambutnya, mengangkatnya lantas menunjukkan jejak cap bibir di sisi lehernya pada Kinan. Leher Alea begitu mirip dengan leher Prabu yang terdapat bercak merah akibat lukisan indah keduanya saat tergerus hasrat panas membara sore tadi.
"Mbak Kinan lihat rambutku yang masih setengah basah ini?" Alea sengaja menyodorkan sebagian rambutnya tersebut pada Kinan.
Hal ini otomatis membuat Kinan semakin dongk0l karena memang benar rambut Alea ternyata tampak masih setengah basah.
"Lalu, Mbak perhatikan saja area leherku ini. Tanpa aku jelasin, pasti Mbak Kinan paham bekas tanda apa ini. Maklum kami berdua masih pengantin baru yang lagi panas-panasnya di atas ranjang," ucap Alea seraya tersipu malu penuh arti.
"Jadi, mana mungkin hal ini akan terjadi bila Mas Prabu adalah pria impo_ten seperti tuduhan Mbak Kinan tadi," lanjutnya.
"Dulu senjata Prabu lo_yo banget kayak terong lemes!" desis Kinan.
"Mungkin itu dulu, tapi tidak untuk sekarang. Asal Mbak Kinan tau, sehari saja senjata di bawah perut Mas Prabu itu tak masuk ke dalam tubuhku, suamiku sudah tantrum gak karuan. Katanya, punyaku sangat legit dan memabukkan baginya. Bikin Mas Prabu kecanduan," balas Alea dengan telak dan begitu meno_hok sebelum pergi dari sana.
Alea sengaja melakukan hal itu karena ia merasa Kinan seakan tak terima Prabu menikah lagi. Terlihat jelas Kinan masih mencintai Prabu dan ingin kembali merajut kasih.
Alea tak akan tinggal diam begitu saja. Ia siap memberantas hama-hama yang mengganggu ketentraman rumah tangganya terutama hama yang berasal dari mantan istri Prabu tersebut.
Alea melenggang ringan keluar dari toilet wanita, meninggalkan Kinan yang saat ini begitu kesal hingga mengepalkan kedua tangannya.
"Dasar brengsek! Lihat saja, aku pasti bisa mengambil Prabu darimu," batin Kinan.
Bersambung...
🍁🍁🍁