Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26_Celine marah besar
"Arsenio... ternyata semuanya benar-benar sudah berakhir." Suara Celine terdengar lirih, tetapi penuh kepahitan. Matanya sembap, wajahnya pucat, sementara bibirnya bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang selama ini ia pendam.
Arsenio yang duduk di balik kaca ruang kunjungan penjara perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak kusut, matanya cekung karena berhari-hari sulit tidur.
"Celine... kau datang," ucapnya pelan. Senyum tipis sempat terbit di wajahnya, tetapi langsung memudar saat melihat tatapan dingin wanita itu.
"Aku datang bukan karena merindukanmu," balas Celine tajam. Tatapannya menusuk, rahangnya mengeras menahan emosi. "Aku datang untuk memastikan kabar tentang kebangkrutanmu."
Arsenio menelan ludah. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Ya... perusahaanku bangkrut."
Jawaban singkat itu membuat dada Celine semakin sesak.
"Jadi semua berita yang beredar itu benar?" tanyanya lagi dengan suara meninggi. "Klien membatalkan seluruh kontrak, investor menarik modal, rekening perusahaan dibekukan, dan bank menyita semua asetmu?"
Arsenio memejamkan mata. Air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya.
"Semuanya benar." balas Arsenio menunduk penuh penyesalan.
Celine tertawa hambar. Tawanya terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Pantas saja pagi tadi puluhan petugas bank datang ke rumah." Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Mereka membawa surat eksekusi. Rumah mewahmu disegel. Mobil-mobilmu diangkut menggunakan mobil derek. Semua barang berharga didata untuk dilelang."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Celine membuat wajah Arsenio semakin pucat.
"Bahkan jam tangan koleksimu, lukisan mahal, brankas berisi perhiasan, hingga furnitur mewah di rumah ikut disita," lanjut Celine. "Mereka bilang semua aset itu menjadi jaminan pinjaman perusahaan. Karena perusahaan gagal melunasi utangnya, bank berhak mengambil semuanya."
Arsenio menundukkan kepala. Bahunya bergetar menahan tangis.
"Aku tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini." jawab Arsenio dengan wajah murung.
"Berakhir?" Celine menggeleng pelan.
Senyumnya penuh kepedihan. "Ini bukan akhir, Arsenio. Ini akibat dari semua keputusanmu."
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Arsenio memandang kedua telapak tangannya yang kini terasa kosong. Dulu tangan itu menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah. Kini, tangan yang sama hanya mampu menggenggam penyesalan.
"Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan." katanya pelan.
"Jangan bohong lagi!" bentak Celine lantang hingga suaranya menggema di ruang kunjungan penjara. Beberapa petugas dan narapidana yang berada di sekitar mereka spontan menoleh.
Dadanya naik turun menahan amarah, napasnya memburu, sementara kedua matanya memerah dipenuhi air mata yang nyaris tumpah.
"Aku memang membenci Elvara!" teriaknya dengan rahang bergetar. "Aku muak melihat dia selalu menang, selalu dipuji, seolah hidupnya sempurna! Tapi semua ini bukan salah Elvara... ini salahmu, Arsenio!"
Celine menunjuk wajah Arsenio dengan tangan yang gemetar.
"Kau yang mempertaruhkan semuanya demi ambisi dan keserakahanmu! Kau yang nekat meretas perusahaan Elvara hanya karena tidak sanggup menerima kekalahan. Kau menghancurkan perusahaan yang dulu mempercayaimu, lalu menggadaikan seluruh asetmu untuk menutup lubang yang kau gali sendiri! Rumahmu disita, mobilmu disita, perusahaanmu bangkrut, dan sekarang... kau berakhir di balik jeruji besi!" lanjutnya
Air mata Celine akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Namun tatapannya tetap dipenuhi kebencian dan kekecewaan.
"Kalau saja kau tidak dibutakan oleh rasa iri dan dendam pada Elvara, semua ini tidak akan pernah terjadi! Kau menghancurkan hidupmu sendiri... dan menyeretku ikut tenggelam bersamamu!" katanya pelan.
Arsenio terdiam. Tidak ada satu pun kata yang mampu membantah ucapan itu.
Celine mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya, lalu mendorongnya ke arah kaca pembatas.
"Itu salinan surat penyitaan asetmu." ucap Celine melemparkan map itu dengan kasar.
Arsenio membuka map itu dengan tangan gemetar.
Di sana tertulis daftar panjang aset yang telah diambil alih bank: rumah utama, dua unit apartemen, tiga mobil mewah, rekening pribadi, saham perusahaan, gudang, tanah investasi, hingga berbagai barang bernilai tinggi yang akan dilelang untuk melunasi utang perusahaan.
Tangannya langsung lemas.
"Semuanya... habis?" tanya Arsenio memastikan.
"Iya," jawab Celine lirih. "Tidak ada lagi yang tersisa."
Air mata Arsenio jatuh tanpa bisa ia bendung.
"Aku kehilangan segalanya." katanya pelan, hampir tidak terdengar.
"Kau kehilangan semuanya karena ulahmu sendiri." jawab Celine
Celine mengusap sudut matanya yang basah.
"Dulu aku mengira kau pria sukses yang mampu memberiku kehidupan sempurna. Aku rela menjadi wanita simpananmu karena silau oleh kekayaanmu." Ia tersenyum pahit. "Sekarang aku sadar... semua kemewahan itu hanyalah ilusi yang dibangun di atas utang, kebohongan, dan pengkhianatan."
"Celine... maafkan aku," bisik Arsenio dengan suara serak. "Aku telah menyeretmu ke dalam semua ini."
Celine menatapnya lama. Tatapannya tidak lagi dipenuhi cinta, hanya rasa lelah dan penyesalan.
"Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan rumahmu. Tidak akan mengembalikan perusahaanmu. Dan tidak akan menghapus semua luka yang kau tinggalkan." lanjutnya
Ia berdiri perlahan, merapikan tas di bahunya.
"Aku datang hari ini hanya untuk memastikan satu hal." ucap Celine dengan wajah datar.
"Apa itu?" tanya Arsenio dengan suara lirih.
"Bahwa pria yang dulu begitu sombong akhirnya kalah oleh keserakahannya sendiri." lanjutnya
Kalimat itu menghantam hati Arsenio lebih keras daripada hukuman penjara yang sedang ia jalani.
Celine berbalik dan melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Arsenio terduduk lemas di balik kaca pembatas. Tangisnya pecah memenuhi ruang kunjungan. Kini ia benar-benar menyadari bahwa bukan hanya kebebasannya yang hilang, tetapi juga perusahaan, seluruh aset yang telah disita bank untuk melunasi utang, kehormatan, dan masa depan yang dulu ia banggakan. Semua lenyap dalam sekejap akibat keserakahan dan pengkhianatan yang ia pilih sendiri.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.