Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Gerbang
Matahari mulai tenggelam di balik ufuk barat Puncak Luar, memandikan bangunan-bangunan sekte dengan cahaya jingga kemerahan yang menyerupai warna darah.
Di Balai Pendaftaran Turnamen, antrean murid luar yang awalnya panjang kini mulai menipis. Turnamen Promosi Sekte Dalam adalah acara tahunan paling bergengsi, namun juga yang paling mematikan. Hanya mereka yang berada di ranah Mortal tingkat lima ke atas yang biasanya memiliki nyali untuk mendaftar. Murid tingkat empat hanya ikut sebagai ajang unjuk gigi atau mencari pengalaman pahit.
Saat Lin Tian melangkah melewati pintu ganda balai tersebut, suasana mendadak senyap.
Langkahnya tidak berat, tidak pula memancarkan aura membunuh, namun reputasinya sebagai orang yang menumbangkan Zhao Kuang membuat semua mata refleks tertuju padanya. Terlebih lagi, rumor tentang faksi Zhao yang mengobrak-abrik pelatarannya siang tadi telah menyebar dengan cepat. Semua orang ingin tahu apakah Lin Tian akan bersembunyi atau memilih jalan bunuh diri.
Lin Tian mengabaikan tatapan mereka. Ia berjalan lurus menuju meja pendaftaran tempat seorang Penatua berwajah kaku sedang menyusun plakat giok.
"Saya ingin mendaftar," ucap Lin Tian datar, meletakkan plakat murid luarnya di atas meja.
Penatua itu mendongak, matanya yang tajam menyapu tubuh Lin Tian. Sinar energi tipis melintas di mata Penatua tersebut saat ia memindai tingkat kultivasi sang pendaftar.
"Tingkat empat awal?" Penatua itu mendengus pelan. "Kudengar kau mengalahkan tingkat enam sebulan lalu. Kukira kau menyembunyikan kekuatanmu di tingkat enam atau tujuh, ternyata kau baru saja menembus tingkat empat. Entah pusaka apa yang kau gunakan waktu itu, tapi di Turnamen Promosi, penggunaan pusaka eksternal dilarang keras. Jika kau hanya mengandalkan tingkat empatmu, kau akan mati sebelum mencapai babak 16 besar. Kau yakin?"
"Saya yakin," jawab Lin Tian tanpa ragu.
Penatua itu menggelengkan kepalanya dan mengambil stempel pendaftaran. Namun, sebelum stempel itu menyentuh plakat Lin Tian, sebuah tawa dingin dan merendahkan bergema dari lantai dua balai tersebut.
"Biarkan dia mendaftar, Penatua. Seekor tikus yang akhirnya berani keluar dari lubangnya harus diberi panggung untuk dipijak sebelum lehernya dipatahkan."
Semua murid di lantai dasar menahan napas. Dari tangga berkarpet merah, seorang pemuda bertubuh tegap dan berwajah angkuh berjalan turun perlahan. Ia mengenakan jubah putih bersih, namun di dada kirinya tersulam lambang awan perak yang berkilau—simbol mutlak dari seorang murid Sekte Dalam.
Itu adalah Zhao Lie.
Di belakangnya, mengikuti dua orang murid luar tingkat enam puncak yang menatap Lin Tian dengan seringai menjilat.
Zhao Lie berjalan mendekati meja pendaftaran, auranya tidak disembunyikan sama sekali. Tekanan dari ranah Mortal tingkat tujuh puncak menyebar ke segala arah, membuat para murid luar di sekitarnya merasa dada mereka ditimpa batu besar. Beberapa bahkan terpaksa mundur hingga punggung mereka menabrak dinding.
Lin Tian tidak mundur satu inci pun. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap wajah pria yang telah melukai adiknya. Matanya sedingin jurang es abadi.
"Kukira kau akan berkemas dan membawa adik cacatmu itu lari menuruni gunung," ucap Zhao Lie, berhenti hanya dua langkah di depan Lin Tian. Ia menatap Lin Tian dari atas ke bawah. "Tingkat empat awal. Sangat menyedihkan. Adik sepupuku Zhao Kuang pasti meremehkanmu hingga terkena trik murahan pusakamu."
Lin Tian tidak membalas provokasi itu. Ia hanya menatap Zhao Lie dengan pandangan yang membuat pria itu merasa sedikit tidak nyaman. Tatapan itu bukan tatapan kemarahan buta, melainkan tatapan seorang jagal yang sedang mengukur di mana ia akan memotong daging korbannya.
Melihat Lin Tian terdiam, Zhao Lie mengira pemuda itu ketakutan. Ia tersenyum sinis dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Dengar baik-baik, Sampah," bisik Zhao Lie, hanya cukup untuk didengar oleh Lin Tian. "Di turnamen besok, aku telah mengajukan diri sebagai salah satu Penjaga Gerbang Sekte Dalam. Itu artinya, jika kau entah bagaimana beruntung lolos dari babak penyisihan melawan anak buahku... kau harus bertarung melawanku di panggung utama untuk masuk ke sekte dalam. Dan di panggung itu, aku akan mencabut tulangmu satu per satu sebagai balasan atas lengan Zhao Kuang."
Zhao Lie berniat mempermalukan Lin Tian di depan umum. Ia tiba-tiba melepaskan 100% tekanan aura tingkat tujuh puncaknya, mengarahkannya secara spesifik hanya kepada Lin Tian. Angin tak kasatmata berpusar di sekitar mereka. Lantai ubin di bawah kaki Lin Tian mulai mengeluarkan suara retakan halus.
Bagi seorang kultivator tingkat empat, tekanan tingkat tujuh puncak secara langsung seharusnya cukup untuk memaksa mereka berlutut memuntahkan darah, atau setidaknya membuat lutut mereka bergetar hebat. Zhao Lie menunggu momen di mana Lin Tian akan jatuh tersungkur di kakinya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.
Ekspresi Lin Tian tidak berubah sama sekali. Punggungnya tetap setegak tombak. Napasnya tetap setenang riak air di danau yang sunyi.
Di dalam tubuh Lin Tian, Seni Pemurnian Tulang Naga Astral bahkan tidak perlu bereaksi banyak. Tulang-tulangnya telah ditempa oleh angin tebing dan esensi Beruang Punggung Besi tingkat empat. Tekanan Qi dari seorang manusia tingkat tujuh terasa bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi yang mencoba merubuhkan sebuah gunung baja.
"Hanya ini?"
Suara Lin Tian memecah keheningan yang tegang itu. Nadanya sangat datar, namun sarat akan penghinaan yang telak.
Mata Zhao Lie membelalak. Keterkejutan melintas di wajahnya. Bagaimana mungkin? Ia menambah sedikit lagi tekanan spiritualnya hingga batas maksimal, namun Lin Tian tetap berdiri santai seolah ia tidak merasakan apa-apa.
"Kau..." Zhao Lie menggertakkan giginya, merasa dipermalukan karena rencananya gagal total.
Lin Tian maju setengah langkah. Karena jarak mereka yang sangat dekat, gerakan tiba-tiba ini membuat Zhao Lie secara refleks menarik kakinya mundur satu langkah.
Begitu Zhao Lie mundur, seluruh balai menjadi saksi atas kekalahan mental sang murid sekte dalam. Wajah Zhao Lie langsung memerah karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia, seorang jenius tingkat tujuh puncak, dipaksa mundur oleh tatapan seorang bocah tingkat empat!
Lin Tian mengambil plakat pendaftarannya yang telah distempel dari atas meja, lalu menatap Zhao Lie untuk terakhir kalinya.
"Nikmati malam terakhirmu, Zhao Lie," ucap Lin Tian dengan suara pelan namun menembus gendang telinga sang lawan. "Besok, aku tidak menginginkan Batu Roh tingkat menengah itu kembali. Sebagai gantinya, aku akan mengambil nyawamu."
Lin Tian berbalik dan melangkah pergi, membelah kerumunan murid luar yang secara otomatis memberinya jalan layaknya menyambut seorang raja tiran.
Zhao Lie berdiri mematung di tengah balai, tinjunya mengepal hingga kuku-kukunya menusuk daging telapak tangannya sendiri, meneteskan darah ke lantai.
"Bocah sombong..." geram Zhao Lie dengan suara bergetar karena murka. "BESOK KAU AKAN MATI! AKU SENDIRI YANG AKAN MENGIRIMMU KE NERAKA!"
Malam itu, Pelataran 404 diliputi keheningan yang pekat.
Lin Tian duduk bersila di kamarnya yang belum sepenuhnya diperbaiki. Di depannya, melayang sebuah botol giok kecil berisi darah murni dari Serigala Mata Satu yang ia kumpulkan sebelum membuang mayatnya, serta puluhan Batu Roh tingkat menengah yang ia keluarkan dari cincin spasialnya.
Ia telah memberikan cukup banyak sumber daya penyembuhan kepada Lin Chen yang kini tertidur pulas di kamar sebelah. Malam ini, Lin Tian tidak berniat untuk tidur.
Besok adalah hari di mana ia akan mengekspos sebagian dari taring aslinya kepada Sekte Pedang Langit. Ia harus memastikan fondasinya berada di kondisi paling puncak.
"Zhao Lie mengira tingkat tujuh puncak adalah puncak dunia," gumam Lin Tian dalam kegelapan, matanya perlahan berubah menjadi keemasan. Siluet naga hitam di dadanya menyala terang, memancarkan panas yang perlahan membakar Batu Roh di sekitarnya menjadi debu energi.
"Besok, akan kutunjukkan padanya... bagaimana langit runtuh."