Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Widuri Asri (part 1)
Siang itu, matahari bertengger garang di langit, menumpahkan panas yang membuat aspal jalan tampak bergelombang oleh fatamorgana. Azra dan Linda mempercepat langkah agar segera sampai di rumah dinas.
Sesekali Linda mengibaskan ujung blusnya, mencoba menghalau sumuk pekat yang mengurung udara di sekitarnya. Jarak rumah dinas yang mereka tempati tidak terlalu jauh, hanya 10 meter di samping bangunan utama Pustu. Tapi tubuh mereka seperti sedang terbakar hidup-hidup di bawah langit yang bersih tanpa awan. Kulit mereka yang semula porselen kini merona kemerahan.
"Sepertinya kita harus beli payung lapis tujuh deh, Kak," ucap Linda sambil mempercepat langkah mengimbangi kaki jenjang Azra.
"Hmmm ...," Azra hanya menjawab dengan deheman. Energinya seakan sudah terkuras habis hari itu.
Sampai di depan pagar, mereka berlomba untuk bisa masuk terlebih dahulu.
"Menaaang," sorak Linda kegirangan, tanpa ba bi bu dia langsung duduk selonjor kaki di lantai.
Azra berjalan gontai menuju teras.
"Cepat buka pintunya, Linda. Kok malah selonjoran di sini," pinta Azra sambil menyandarkan tubuhnya di kursi rotan yang ada di teras.
"Eh ...," Linda tersadar kalau dia yang tadi pagi membawa kunci rumah. Dirogohnya kantong baju dan rok bergantian. Lalu berdiri, dirogohnya kembali berulang-ulang. Raut wajahnya mulai panik.
"Kak, kuncinya kemana ya?"
Mata Azra yang tadinya terpejam, langsung terbuka lebar. Pikirannya mulai menduga-duga sambil menatap Linda penuh selidik. Dilihatnya Linda yang berputar ke kanan kiri seperti penari, mencari kunci celingukan.
"Kak Azra, gimana nih? Kuncinya nggak ada!" Teriak Linda spontan.
"Astagfirullah ... Linda. Kamu taruh mana kuncinya?" Azra bangkit dari duduknya.
"Tadi aku kantongin, Kak. Suer takewer kewer," jawab Linda sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, nyengir kuda.
"Terus ...?" Azra sudah memasang wajah polisi penyidik dengan berkacak pinggang.
"Hehehe ... terus nggak ada, Kak."
Azra mengusap wajahnya gusar. Dia membuka tas dinasnya, mencoba mencari kunci cadangan yang mungkin saja dia simpan dalam tas. Tidak terlalu yakin, karena memang dia selalu menyimpan kunci cadangan di dalam laci meja kerjanya.
Nihil. Kunci cadangan tidak ditemukan di tasnya. Mengembuskan napas kasar, "Hubungi Yanto! Tanyakan, apa Pak Tejo masih di Pustu."
Azra menyandarkan lagi punggungnya ke kursi, mencoba meredam kekesalan hatinya atas kecerobohan Linda.
"Halo ... Mas Yanto, apa Pak Tejo tadi sudah pulang?" Linda menelepon Yanto dengan buru-buru.
"Sudah pulang, Mbak. Tadi bareng aku. Ada apa?" Tanya Yanto di telepon.
"Mas, kunci rumah dinas hilang. Apa tertinggal di kantor ya?"
"Haahhh?! Kok bisa? Sudah dicari belum? Sudah dicari di tas?"
"Aku nggak bawa tas. Tadi aku kantongin, tapi nggak ada di kantong," bisik Linda pelan, sambil melirik takut-takut ke arah Azra yang sudah cemberut menatapnya.
“Ya Allah, Mbak. Ya wis, tunggu di kantor dulu ya. Tak jemput Pak Tejo sek. Nanti lek aku wis nyampai, kita cari bareng-bareng.”
"Iya ... iya ... makasih yo, Mas. Kak ... aku ke kantor dulu ya, nyari kunci," tanpa menunggu jawaban Azra, Linda sudah lari sprint kembali ke kantor Pustu.
Dia lupakan panas terik yang tadi menyengat kulitnya. Linda hanya takut dengan tatapan Azra yang garang bak singa yang siap menerkam.
Untung saja, Linda segera menemukan kunci dibantu Yanto dan Pak Tejo. Ternyata kunci itu tergeletak di meja loket pendaftaran, saat Linda dan Yanto ngerjain Siti, selesai bertugas tadi.
Lima belas menit setelah insiden kunci hilang itu, Azra akhirnya bisa berbaring di atas tempat tidurnya. Hilang sudah kantuk dan penatnya. Ternyata dia kedatangan tamu bulanan. Dia baru sadar saat bersih-bersih diri sebelum bersiap untuk salat zuhur.
"Kak, ayo makan dulu. Aku barusan goreng telur sama masak tumis kacang panjang. Nggak sempat masak yang lain," suara Linda menginterupsi istirahat Azra. Gadis bermata bulat itu berdiri di ambang pintu kamar Azra.
Azra bangun, turun dari tempat tidur, dan berjalan ke ruang tengah yang merangkap ruang tamu. Di meja sudah terhidang nasi dan masakan yang disebutkan Linda tadi.
"Maaf ya, Kak. Sudah bikin kamu kesal di hari ketiga aku tinggal bersamamu," Linda bicara sambil menunduk, masih takut dengan tatapan marah Azra di teras tadi.
Azra tersenyum, ditepuknya bahu Linda pelan. "Aku juga minta maaf, nggak seharusnya semarah tadi. Maaf, ya, aku nggak kontrol. Ternyata aku lagi PMS."
"Oala, Kak Azra kalau PMS suka marah-marah gitu, ya. Yo wis, nanti tak eling-eling. Kalau Kakak marah-marah, berarti Kakak mau menstruasi," ujar Linda dengan senyum merekah, menunjukkan kalau keceriaannya sudah kembali dalam sekejap tanpa beban.
Bola mata Azra berputar malas "Nggak gitu juga kali, konsepnya Lin. Hadeeh ... kamu ini. Tapi ingat-ingat juga. Lain kali jangan sembrono. Sudah ayo makan. Ngomong-ngomong, makasih ya masakannya hari ini."
"Sama-sama, Kak. Tenang saja, selama ada Linda, urusan dapur beres," ujarnya sambil menyendok nasi ke piring.
____
Sore itu, langit cerah.
Linda mengeluarkan motor matic dari rumah dinas. Mengendarainya ke jalan raya, dan menunggu Azra di luar pagar rumdin. Selesai mengunci pintu rumdin, Azra bergegas membonceng di belakang Linda.
"Sore, Bu Dokter, Mbak Linda," sapa ibu-ibu yang melewati mereka.
"Selamat sore, Bu," jawab Azra mengangguk sambil tersenyum.
"Mau ngaji tah ibu-ibu? Kok rombongan?" Linda ikut bertanya.
"Inggih, Mbak. Pengajian rutin hari Senin, sama Ustadz Zaid," jawab ibu yang memakai jilbab hijau.
"Dokter Azra dan Mbak Linda juga boleh ikut kok, ini baru berjalan tiga kali pertemuan ...," tambah ibu di sebelahnya.
"Insya Allah lain kali, bu. Hari ini masih ada keperluan," jawab Azra.
"O, inggih, Dokter. Monggo dilanjut. Kami duluan nggih. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumussalam ...." jawab Azra dan Linda.
Tidak berapa lama, motor matic biru, kendaraan dinas Pustu, sudah menyusuri jalanan desa. Di sepanjang desa banyak warga yang menyapa.
Suasana desa ramai dengan aktivitas penduduk. Langit biru cerah seolah mendukung aktivitas warga di luar rumah. Meski hanya sekedar bergerombol ngobrol ngalor ngidul khas orang-orang jagongan.
Saat melewati sekumpulan pemuda, tiba-tiba ada yang berteriak ke arah mereka.
"Dokter Azra ... mau kemana?" Yang memanggil seorang pemuda berkaos hitam logo Iron Maiden.
Azra menoleh, "Mau ke danau," jawab Azra sambil tersenyum tipis, lesung pipinya seketika tercetak manis.
"Aaah ... nggak kuat senyumnya ... " pemuda tadi langsung memegangi dadanya.
"Lebay, Nooo ...." sorak riuh teman-teman Paino.
"Hati-hati, Mbak Lindaa! Aku padamu ...." teriak pemuda bersarung di sebelah Paino, sambil memberikan ciuman jauh pada Linda.
Linda yang sempat menoleh terkejut, langsung bergidik geli, "Hiii ...."
"Hahaha ... gimana? Seru kan di sini?" Azra bertanya sambil menggelitik pinggang Linda dari belakang.
Linda menggeliat kegelian, "Narsis kabeh, Kak, pemudanya. Kayak nggak enek gawean sore-sore nggodain orang di jalan," sungut Linda kesal dengan tingkah pemuda dusun.
Azra tersenyum lebar tanpa suara. Pandangannya kembali ke jalan, memastikan jalan yang dituju tidak salah. 100 meter kemudian, mereka belok kanan. Suasana mulai sepi, rumah penduduk sudah tidak terlalu rapat. Sesekali mereka bertegur sapa dengan penduduk yang lewat, atau yang sedang duduk-duduk di teras rumah.
"Belok kiri, Linda, kurang lebih 20 meter, kita sudah sampai di rumah Pak Wandi."
Linda mengernyit heran dengan yang diucapkan Azra, tapi tetap diikuti saja arahan teman baru sekaligus atasannya itu.
Sebuah rumah besar berwarna cokelat tua berdiri di hadapan mereka. Bagian bawahnya berdinding bata, sementara bagian atasnya memakai papan kayu model klenengan. Tiang-tiang dari batang kelapa berjajar rapi menyangga teras rumah. Halamannya luas bersih dengan aneka bunga dan pepohonan tersusun rapi.
Linda memarkirkan motor di samping motor yang sudah terparkir lebih dulu.
Mereka berdua berjalan menuju rumah Pak Wandi -yang dimaksud Azra- saat di perjalanan tadi.
"Assalamu'alaikum, Pak Wandi."
"Wa'alaikumussalam. Eh Nak Dokter sudah sampai. Saya kira mboten jadi ke sini. Mau berangkat sekarang, Dok? Biar bisa agak lama di sana." Ujar Pak Wandi keluar dari dalam rumah.
"Boleh," jawab Azra mengangguk.
Bertiga, mereka berjalan menuju Danau Widuri Asri. Tempat yang menjadi destinasi Azra dan Linda sore itu.
Tidak berapa lama, mereka sampai di Danau Widuri Asri. Ada beberapa orang yang sudah datang terlebih dahulu. Sekedar menikmati pemandangan, mencari inspirasi ataupun melepas lelah dari rutinitas harian.
Pak Wandi adalah salah satu sesepuh di Dusun Teduh, yang paham sejarah dusun, dan juga danau Widuri Asri. Usianya mencapai kepala delapan, namun fisiknya masih sehat dan bugar.
Mata Linda berbinar-binar melihat ke arah danau yang berair biru jernih. Permukaannya selalu tenang seperti cermin, terletak di ceruk sebuah dusun terpencil yang subur.
Konon, danau Widuri Asri dianggap keramat dan dilindungi. Warga dilarang mengotori airnya, berkata kasar di tepiannya, atau mengambil ikan di dalamnya secara berlebihan.
Lain halnya dengan Linda yang menatap takjub, sepasang mata hazelnut milik Azra justru memandang riak-riak permukaan danau dengan tatapan yang rumit. Ada rindu dan kesakitan yang bergolak di sana, beradu dengan ketenangan air danau.
Kala Pak Wandi menoleh dan menangkap gurat gelisah di wajah Azra, lelaki tua itu tersenyum arif. Melalui tatapannya, dia seolah bisa membaca badai apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran gadis di sebelahnya.