Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjahat Membalikkan Meja
Ada pepatah yang sangat ingin kuterapkan dalam hidup baruku: jika kau tidak bisa meninggalkan meja permainan, balikkan mejanya.
Masalahnya, meja di aula sidang kerajaan sangat besar, terbuat dari kayu mahal, dan aku belum makan cukup untuk mengangkatnya.
Jadi aku memilih membalikkan keadaan saja.
Setelah lampu padam dan Lord Blackwell roboh, aula berubah menjadi kandang ayam bangsawan. Para lady menjerit. Para lord menuduh satu sama lain. Pengawal berlarian. Ketua dewan memukul palu berkali-kali sampai palunya tampak ingin mengundurkan diri.
Mira di kejauhan menangis sambil berteriak, "Tolong jangan bunuh Nona dulu! Jadwalnya masih besok!"
Aku sangat menghargai dukungannya, meskipun kalimatnya bisa diperbaiki.
Cassian masih memegang lenganku. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakitkan.
"Anda terluka?" tanyanya.
Aku menatap belati di lantai. "Harga diri saya terluka karena hampir mati untuk kedua kalinya hari ini. Tubuh saya sepertinya aman."
"Bagus. Tetap di belakang saya."
"Duke North, saya baru saja menghindari eksekusi. Jangan langsung mempromosikan saya menjadi hiasan belakang Anda."
Dia menoleh sedikit. "Anda lebih banyak bicara saat takut."
"Saya lebih hidup saat bicara. Jadi biarkan."
Lucien memerintahkan semua pintu ditutup. Tidak ada yang boleh keluar. Blackwell diperiksa tabib. Ia masih hidup, tetapi tidak sadar. Jarum di lehernya mengandung racun pelemah yang sama.
Racun yang sama.
Aku menatap Seraphina.
Dia duduk dengan wajah pucat, air mata mengalir indah. Dua pelayannya memeluknya. Kalau orang hanya melihat sekilas, ia tampak seperti korban yang kembali diserang oleh kekacauan.
Tapi aku memperhatikan tangannya.
Jari-jarinya tidak gemetar.
Orang yang benar-benar takut biasanya tubuhnya jujur. Seraphina tidak. Ia hanya menunjukkan ketakutan di bagian yang bisa dilihat orang.
Aku mendekati Lucien. Pengawal hendak menahan, tapi Lucien mengangkat tangan.
"Ada apa?" tanyanya.
"Belati itu mengarah ke saya. Jarum itu mengarah ke Blackwell. Dua serangan dalam satu kegelapan. Artinya pelaku punya dua tujuan. Membunuh saya jika bisa, membungkam Blackwell jika perlu."
Lucien menatap Blackwell. "Dia hampir menyebut sesuatu."
"Dia berkata, 'Gadis itu hanya pion yang mudah digerakkan.'"
Lucien menoleh padaku. "Menurutmu siapa gadis itu?"
Aku mengangkat alis. "Yang Mulia ingin saya menjawab jujur atau menjawab yang tidak membuat aula meledak lagi?"
Dia menegang.
Cassian berdiri di sampingku. "Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Aku tahu," kataku. "Karena itu kita butuh membuat buktinya berjalan sendiri."
"Apa maksudmu?"
Aku menatap Mira. "Mira."
Mira yang sedang menangis langsung tegak. "Ya, Nona! Apakah hamba harus menyerang musuh dengan sendok?"
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku menutup mata sebentar. "Tidak. Tapi simpan opsi itu untuk nanti. Bawa buku catatanmu."
Mira berlari dengan dramatis. Hampir tersandung gaunnya sendiri, lalu berhasil sampai padaku dengan wajah bangga seolah baru memenangkan perang.
Aku membuka buku catatan. Di sana ada daftar waktu kejadian yang kami susun sejak semalam.
Pesta dimulai. Evangeline bertengkar dengan Seraphina. Pelayan mengganti kain meja. Gelas ditukar. Seraphina minum. Seraphina pingsan. Racun ditemukan di meja Evangeline. Surat palsu dijadikan dasar kecurigaan. Anna membuang bukti. Anna dibungkam. Celia ditekan. Blackwell hampir bicara. Blackwell dibungkam.
Semua kejadian punya satu pola.
Orang yang menjadi saksi selalu jatuh tepat sebelum bisa bicara penuh.
Aku menatap Lucien. "Yang Mulia, minta semua orang menunjukkan tangan."
"Tangan?"
"Ya. Sekarang."
Lucien tidak langsung mengerti, tapi ia memberi perintah. Semua orang keberatan tentu saja. Bangsawan sangat sensitif jika diminta melakukan hal sederhana seperti rakyat biasa. Namun perintah Putra Mahkota tetap perintah.
Satu per satu mereka menunjukkan tangan.
Aku tidak mencari darah. Tidak mencari racun. Aku mencari aroma.
"Mira, bunga lili."
Mira mengeluarkan saputangan kecil yang kemarin dipakai membungkus bunga lili. Aku nyaris bertanya kenapa dia masih menyimpannya, tapi mungkin lebih baik tidak tahu.
"Dekatkan ke orang-orang yang berdiri dekat lampu sebelum padam," kataku.
Mira pucat. "Hamba?"
"Kamu paling tidak dicurigai."
"Karena hamba terlalu menyedihkan untuk menjadi pelaku?"
"Karena kamu terlalu berisik untuk menyelinap."
"Itu benar."
Mira berjalan satu per satu, membawa saputangan lili seperti alat suci pengusir iblis. Banyak bangsawan menatapnya seolah ia kehilangan akal. Aku memperhatikan reaksi orang-orang.
Saat Mira mendekati Seraphina, pelayan Merin tiba-tiba bergerak maju.
"Jangan dekat-dekat Saintess! Beliau masih lemah!"
Gerakan itu terlalu cepat.
Cassian langsung menahan pergelangan tangan Merin.
Dari lengan bajunya, jatuh benda kecil: tabung logam sebesar jari.
Tabung itu menggelinding di lantai.
Aula membeku.
Aku mengambil saputangan, lalu memungutnya tanpa menyentuh langsung. Dari lubang kecil di ujung tabung, tercium aroma lili yang sangat kuat.
Cassian berkata, "Penyemprot jarum."
Lucien menatap Merin. "Kau menyerang Blackwell?"
Merin gemetar. "T-tidak! Saya hanya... saya hanya membawa obat untuk Saintess!"
"Obat yang bentuknya seperti alat menembakkan jarum?" tanyaku. "Kreatif. Klinik mana yang mengajarkan itu?"
Merin jatuh berlutut. "Ampuni saya! Saya hanya diperintah!"
Seraphina berdiri. "Merin, apa yang kau katakan?"
Suaranya masih lembut, tapi kali ini ada retakan tipis.
Merin menatap Seraphina dengan ketakutan yang sama seperti Celia.
Aku melangkah maju. "Merin, kalau kau diam, kau akan menjadi Anna berikutnya. Atau Blackwell berikutnya. Orang yang memerintahmu tidak melindungi bawahan. Dia membuang mereka saat tidak berguna."
Seraphina menatapku. "Lady Evangeline, kau memanipulasi pelayanku."
Aku tersenyum. "Saya belajar dari yang terbaik."
Wajahnya mengeras, sangat cepat.
Lucien melihatnya.
Merin menangis. "Saya tidak tahu rencana awalnya! Saya hanya diminta membawa tabung itu jika Lord Blackwell bicara terlalu banyak. Saya tidak tahu belati itu dari siapa! Saya tidak mau mati!"
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Lucien.
Merin gemetar, matanya mengarah ke Seraphina, lalu langsung menunduk.
Semua orang melihat arah matanya.
Seraphina tersenyum, tapi senyumnya kali ini bergetar. "Merin sedang takut. Dia tidak sadar apa yang ia lakukan."
Aku mengambil kartu kecil dari meja sidang. Kartu yang semalam kami pakai di tea party: Racun, Kain Lili, Surat Palsu, Gagak Mahkota Patah. Aku meletakkannya satu per satu di lantai aula.
"Semuanya tampak seperti mengarah pada Blackwell," kataku. "Tapi ada yang aneh. Blackwell terlalu tua untuk peduli pada drama cinta saya dengan Putra Mahkota. Ia punya motif politik, benar. Tapi surat-surat palsu itu sangat personal. Isinya dibuat untuk memastikan Yang Mulia Lucien langsung memikirkan saya saat Saintess pingsan. Siapa yang paling memahami hubungan buruk saya, Yang Mulia, dan Saintess?"
Lucien diam.
Matanya pelan-pelan mengarah pada Seraphina.
Seraphina memegang dada. "Lucien... kau percaya padanya? Setelah semua yang dia lakukan padaku?"
Suara itu lembut, terluka, sempurna.
Dulu, mungkin Lucien akan langsung goyah.
Tapi kali ini ia tidak bergerak.
"Aku percaya bukti," katanya.
Satu kalimat itu membuat wajah Seraphina berubah.
Tidak banyak. Tapi cukup.
Topengnya retak.
Aku melanjutkan, "Racun yang digunakan bukan untuk membunuh. Itu untuk membuat Saintess tampak hampir mati. Jika rencananya berhasil, saya dieksekusi, Blackwell mendapatkan keuntungan politik, dan Saintess mendapatkan simpati rakyat serta cinta Putra Mahkota. Semua menang. Kecuali saya, tentu saja. Tapi orang jarang memasukkan villainess dalam daftar pihak yang perlu selamat."
Mira terisak. "Nona memasukkan diri sendiri sekarang. Hamba bangga."
Aku hampir tersenyum.
Ketua dewan berdehem. "Ini tuduhan besar."
"Karena itu saya tidak meminta Saintess dihukum sekarang," kataku. "Saya hanya meminta eksekusi saya dibatalkan sampai penyelidikan penuh selesai. Kecuali dewan ingin tetap memenggal orang yang bukti kesalahannya baru saja runtuh di depan semua orang."
Aula hening.
Lucien berdiri. "Sebagai Putra Mahkota, saya menyatakan hukuman mati Lady Evangeline Arvella ditangguhkan. Ia akan tetap berada dalam pengawasan kerajaan sampai penyelidikan selesai. Lord Blackwell ditahan. Para pelayan Saintess yang terlibat diamankan dan dilindungi sebagai saksi."
Seraphina menatap Lucien seolah baru ditampar.
"Lucien..."
"Jangan," kata Lucien dingin. "Untuk saat ini, jangan panggil namaku seolah tidak ada yang terjadi."
Wah.
Aku hampir kasihan. Hampir.
Ketua dewan mengetuk palu dengan wajah tidak rela. "Sidang ditunda. Eksekusi Lady Evangeline ditangguhkan."
Kakiku hampir lemas.
Aku tidak mati.
Belum bebas. Belum aman. Tapi tidak mati.
Mira langsung berlari memelukku sambil menangis seperti air mancur istana. "Nona hidup! Nona masih punya kepala! Kepala Nona tetap di tempatnya!"
"Terima kasih sudah memeriksa, Mira."
Cassian mendekat. "Selamat. Anda berhasil membalikkan meja tanpa benar-benar mengangkatnya."
"Saya lapar. Kalau saya pingsan sekarang, tolong pastikan bukan karena racun."
"Saya akan mencatat."
Lucien mendekat dengan wajah sulit dibaca. "Evangeline."
Aku menoleh. "Yang Mulia."
Dia tampak ingin mengatakan sesuatu. Maaf? Terima kasih? Aku salah? Semua kalimat itu tampaknya terlalu berat untuk lidah bangsawan kerajaan.
Akhirnya ia berkata, "Aku akan mencari kebenaran."
Aku tersenyum tipis. "Bagus. Mulailah dari orang-orang yang terlalu sempurna."
Seraphina masih berdiri di sisi aula. Air matanya mengalir, tetapi kali ini tidak semua orang berlari menghiburnya. Beberapa bangsawan mulai berbisik dengan nada berbeda.
Untuk pertama kalinya, dunia novel tidak lagi sepenuhnya memihak tokoh utama perempuan.
Namun saat aku hendak keluar dari aula, seorang pelayan kecil berlari mendekat dan menyerahkan surat padaku. Tidak ada nama pengirim. Segelnya hitam.
Aku membuka surat itu.
Isinya hanya satu kalimat.
Selamat karena selamat dari eksekusi pertama, Lady Evangeline. Sekarang permainan yang sebenarnya dimulai.
Di bawahnya tergambar simbol gagak membawa mahkota patah.
Aku menatap surat itu lama.
Mira mengintip dari samping. "Nona... kenapa wajah Nona seperti baru melihat tagihan hutang?"
Aku melipat surat itu perlahan.
Karena aku baru sadar satu hal.
Aku memang berhasil menghindari kematian pertama.
Tapi dalam novel ini, rupanya ada lebih dari satu orang yang ingin penjahatnya mati.
Aku mengangkat kepala, menatap aula yang perlahan kosong.
Baiklah.
Kalau mereka ingin bermain, aku akan bermain.
Tapi kali ini, villainess-nya sudah membaca alur.
Dan dia sangat, sangat sulit dibunuh.