"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan di ruang rapat
Keesokan harinya, kabut tipis sisa hujan semalam masih menyelimuti jalanan ibu kota. Sesuai dengan keputusannya untuk tetap menjaga kerahasiaan, Aira menolak dengan halus saat Rayyan bersikeras ingin mengantarnya. Dia lebih memilih memesan taksi daring seperti biasa dan turun beberapa meter dari gerbang utama Menara Wijaya.
Dengan balutan kemeja flanel berpotongan longgar yang menyamarkan perut buncit empat bulannya, Aira melangkah tenang memasuki lobi gedung. Namun, atmosfer pagi ini terasa sedikit berbeda. Baru saja dia melewati mesin absensi digital, matanya menangkap sosok Sandra yang berdiri di dekat pilar besar lobi.
Sandra tidak lagi menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti kemarin. Kali ini, wanita itu menyilangkan dada dengan sebuah seringai licik yang terukir jelas di wajahnya. Tatapannya begitu intens, seolah sedang melihat mangsa yang sebentar lagi akan masuk ke dalam perangkap.
Aira memilih mengabaikannya dan berjalan lurus menuju lift. Dia sudah tahu dari pesan singkat Rayyan subuh tadi bahwa suaminya itu harus menghadiri rapat darurat yang sangat mendadak dengan jajaran menteri di luar kota dan kemungkinan baru kembali sore nanti.
"Selamat pagi, Aira Kirana," suara Sandra terdengar menggema di lorong lantai 32 begitu Aira sampai di divisinya.
Aira berbalik dan membungkuk sopan. "Selamat pagi, Bu Sandra."
"Kebetulan sekali Pak Rayyan sedang ada rapat dadakan di luar kota sampai sore nanti," ucap Sandra dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh staf yang lain. "Dan karena beliau tidak ada, saya sebagai asisten pribadi utamanya diutus untuk memimpin rapat evaluasi bulanan dengan seluruh karyawan dan anak magang di divisi audit. Rapatnya akan dimulai sepuluh menit lagi di aula lantai ini."
Sandra melangkah mendekati Aira, lalu berbisik dengan nada yang sangat sinis tepat di telinga gadis itu. "Jangan harap suamimu yang terhormat itu bisa menyelamatkanmu hari ini, Nyonya Wijaya palsu. Mari kita lihat, seberapa tahan kamu menyembunyikan perut busukmu itu di depan semua orang."
Setelah membisikkan kalimat ancaman itu, Sandra berlalu dengan tawa kecil yang terdengar mengerikan.
Aira tetap berdiri mematung di tempatnya. Tangannya refleks turun mengusap perutnya yang tersembunyi di balik kain flanel. Dia tahu, absennya Rayyan pagi ini adalah kesempatan emas yang sudah ditunggu-tunggu oleh Sandra untuk mempermalukannya di depan seluruh karyawan kantor. Namun, alih-alih panik, Aira justru menarik napas dalam-dalam dan menegakkan jalannya. Dia memegang ponselnya erat-erat, bersiap menghadapi apa pun permainan kotor yang akan digelar Sandra di dalam ruang rapat beberapa menit lagi.
Aira sempat menelan ludah, sebuah tanda kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya. Detak jantungnya bergemuruh lebih cepat dari biasanya. Tanpa kehadiran Rayyan di gedung ini, dia merasa seolah-olah tameng pelindungnya sedang menjauh, sementara serigala di depannya sudah siap menerkam.
Semua orang, termasuk seluruh anak magang dan staf divisi audit, kini sudah berada di dalam ruang rapat yang pengap oleh ketegangan. Sepanjang rapat berlangsung, Sandra terus memberikan presentasi dengan nada menyindir, sesekali matanya melirik tajam ke arah Aira yang duduk diam di barisan tengah. Aira hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menguatkan mentalnya demi sang buah hati.
Hingga akhirnya, rapat melelahkan itu selesai. Suara riuh kursi yang bergeser menandakan para karyawan mulai bersiap untuk bubar. Aira pun bergerak untuk merapikan berkas-berkasnya. Namun, semua itu sudah masuk dalam skenario busuk yang dirancang Sandra.
Saat berjalan melewati meja Aira, Sandra dengan gerakan yang sangat cepat dan terlihat natural sengaja menyenggol jas almamater kampus milik Aira yang sengaja ditaruh di sandaran kursi.
Sret!
Almamater itu terjatuh ke lantai. Refleks, Aira langsung berdiri untuk mengambilnya. Namun, karena gerakan berdiri yang mendadak itu, kemeja flanel longgar yang dipakainya tersingkap dan menempel ketat pada lekuk tubuh bagian depannya.
Sontak, saat Aira berdiri, perhatian beberapa orang yang berada di dekatnya langsung teralihkan. Di bawah pendar lampu ruang rapat yang terang benderang, semua orang di sana melihat ke arah perut buncit Aira yang sudah kentara memasuki usia empat bulan.
"Lho... Aira? Perutmu..." celetuk salah satu staf senior dengan mata membelalak.
Keheningan mencekam sesaat, sebelum akhirnya ruangan itu pecah oleh bisikan dan cibiran yang menyakitkan. Ruang rapat berubah menjadi pengadilan tak resmi bagi Aira.
"Wah, pantesan akhir-akhir ini bajunya longgar terus! Ternyata lagi hamil!"
"Hamil? Padahal kan dia belum nikah? Setahuku di data kampus dia masih lajang!" sahut salah satu teman magangnya dari kampus yang sama, menatap Aira dengan pandangan jijik. "Astaga, keterlaluan banget. Ternyata dia wanita murahan yang suka jual diri di luar kuliah!"
"Iya, kelihatan polos tapi ternyata menjijikkan. Bikin malu nama kampus saja magang di sini sambil bawa anak haram!" cibir anak magang lainnya dengan suara lantang.
Kata-kata "wanita murahan" dan "anak haram" itu menghantam dada Aira dengan sangat telak. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bulatnya. Dia mencengkeram almamaternya erat-erat, mencoba melindungi perut buncitnya dari tatapan-tatapan menghakimi yang menghujamnya dari segala arah. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa malu dan sedih yang luar biasa.
Sandra yang melihat pemandangan tragis itu dari depan ruangan mulai mengeluarkan seringai liciknya yang penuh kemenangan. Hatinya bersorak puas melihat harga diri Nyonya Besar Wijaya yang semalam dia dengar di balik pintu, kini hancur lebur diinjak-injak oleh rekan kerjanya sendiri. Sandra melipat tangan di dada, menikmati setiap detik penderitaan Aira yang kini berdiri sendirian di tengah kepungan badai fitnah tanpa tahu bahwa di balik saku flanelnya, jemari Aira yang gemetar sudah berhasil menekan tombol darurat di ponselnya.