Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kunjungan taman Prisha.
Hari ini cuacanya begitu hangat, dengan siraman cahaya matahari pagi yang bersahabat dan tidak begitu terik. Tanpa menggunakan payung untuk melindungi diri, Prisha membawa Jaila berjalan-jalan santai di sekitar halaman depan mansion Tanubrata yang luas.
Langkah kaki kedua wanita itu beriringan di atas jalan setapak beraspal halus yang membelah hamparan rumput hijau murni.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka sudah bisa merasa begitu dekat satu sama lain. Lagipula, usia mereka memang tidak terpaut begitu jauh, membuat komunikasi mengalir tanpa sekat kecanggungan yang berarti.
Dengan pembawaan Jaila yang sangat lembut, tenang, dan penuh kasih sayang khas seorang calon ibu, Prisha merasakan kenyamanan yang tulus berada di dekat wanita itu—sebuah perasaan langka yang jarang ia dapatkan dari orang-orang di lingkaran sosialitasnya.
Prisha menoleh ke samping, menatap Jaila yang berjalan dengan anggun sembari sesekali mengusap perut buncitnya.
“Kakak pasti sudah sangat sering melihat pemandangan di halaman depan ini sejak dulu. Bagaimana kalau kita melihat halaman belakang sekarang?” saran Prisha, tangannya dengan manja menggandeng erat lengan Jaila, menuntunnya dengan hati-hati.
Jaila sedikit mengernyitkan dahi, menangkap kilatan kebanggaan dan binar antusiasme yang terpancar jelas di wajah cantik Prisha. Ia tersenyum tipis, merasa terhibur dengan energi protektif yang ditunjukkan gadis itu.
“Memangnya apa yang berubah di sana? Seingatku, memang ada lebih banyak bunga di sana. Dan semak daisy.”
“His, Kakak. Jangan mengatakan bunga itu semak, aku menyukainya.”
Jaila tertawa. “Maaf, aku hanya meniru Saka.”
“Kakak ingin melihatnya sendiri?” tantang Prisha dengan nada jenaka yang misterius.
“Yah, sepertinya berjalan ke arah sana akan jauh lebih menarik daripada sekadar menebak-nebak,” sahut Jaila ramah.
Mereka berdua memutar arah, melangkah perlahan menuju sayap kanan bangunan mansion untuk menembus area halaman belakang. Bora berjalan dengan langkah konstan beberapa meter di belakang mereka, membawa sebotol air mineral hangat dan handuk kecil di tangannya, bersiap siaga melayani kebutuhan Jaila yang sedang berbadan dua.
Begitu mereka melewati gerbang pembatas kecil, langkah kaki Jaila seketika terhenti. Sepasang matanya melebar, memancarkan rasa kagum yang luar biasa pada pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Halaman belakang mansion yang dalam ingatannya dulu terasa sangat membosankan kini seolah telah disulap menjadi sebuah taman magis yang teramat indah.
Ribuan kelopak bunga daisy putih dengan putik kuning cerah tampak terhampar luas bagikan karpet alam, melambai lembut menyambut embusan angin pagi. Warna putih bersih dari bunga-bunga itu berpadu sempurna dengan hijau segarnya dedaunan, menciptakan atmosfer yang sangat menenangkan dan estetik.
“Astaga, Prisha ...” puji Jaila tanpa bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Ia melepaskan gandengan tangan Prisha untuk melangkah satu demi satu mendekati hamparan bunga tersebut. “Tempat ini benar-benar berubah total. Bagaimana bisa halaman yang dulunya kaku dan dingin ini disulap menjadi seindah ini oleh bunga-bunga daisy? Ini luar biasa.”
Bora yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera menyambung percakapan dengan nada suara penuh rasa hormat sekaligus bangga. “Nona Prisha lah yang mengubah total tempat ini, Nona Jaila.”
Jaila menoleh kembali ke arah Prisha, tatapannya dipenuhi apresiasi yang mendalam. “Kau memiliki selera yang sangat mengagumkan, Prisha. Tempat ini sekarang memiliki 'nyawa' dan terasa jauh lebih hidup. Aku yakin bibi Ratih pasti sangat senang melihat perubahan ini.”
Prisha hanya tersenyum tipis, menyembunyikan fakta batinnya bahwa ia melakukan ini semua demi menandai kekuasaannya di wilayah ini. “Aku hanya ingin menambahkan sedikit warna di sini, Kak. Duduk di sini saat bosan rasanya sangat menenangkan.”
Mereka kemudian berjalan menuju bangku. Setelah memastikan Jaila duduk dengan nyaman, Prisha mengambil tempat di sisinya. Suasana yang tenang memancing obrolan mereka mengalir ke arah yang lebih personal. Prisha yang penasaran dengan dinamika hubungan romantis di keluarga Tanubrata, mulai membuka topik yang sensitif.
“Kak Jaila ... kalau boleh aku tahu, bagaimana awal mula Kakak bisa bertemu dan akhirnya menikah dengan Kak Nares?” tanya Prisha, menatap Jaila dengan pandangan ingin tahu yang polos.
Jaila terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari menatap hamparan daisy di depannya. Tatapan matanya mendadak dipenuhi oleh kilas balik masa lalu. “Pertemuan kami sama sekali tidak romantis, Prisha. Hubungan kami berawal dari sebuah perjodohan bisnis yang diatur oleh keluarga besar. Jujur saja, pada awalnya aku sangat ketakutan.”
“Ketakutan? Kenapa?” Prisha memiringkan kepalanya, berpura-pura tidak tahu tentang reputasi gelap Nares di dunia luar.
“Kau tahu sendiri bagaimana pembawaan Nares, kan? Dia pria yang tegas, bermulut tajam, dan auranya sering kali membuat orang-orang di sekitarnya merasa terintimidasi,” tutur Jaila dengan nada suara yang teramat lembut. “Saat pertama kali diberitahu bahwa aku harus menikah dengannya, aku mengira hidupku akan berakhir di dalam sangkar emas yang dingin tanpa ada kehangatan sama sekali.”
Mendengar cerita Jaila tentang pernikahan hasil perjodohan yang awalnya kaku, Prisha spontan tertawa kecil. Suara tawa renyah gadis itu memecah keheningan taman.
“Kenapa kau malah tertawa, Prisha?” tanya Jaila heran, namun ikut tersenyum.
“Aku hanya merasa lucu, Kak,” jawab Prisha setelah tawa kecilnya mereda. “Karena ternyata di dalam rumah dan silsilah keluarga ini, ada banyak sekali pria yang memiliki kepala yang begitu keras dan kaku. Kak Nares begitu, dan Kak Saka ... oh, jangan ditanya lagi. Pria itu tingkat keras kepalanya sudah melebihi batuan es di kutub.”
Jaila ikut tertawa mendengar keluhan jujur Prisha tentang Saka. “Saka memang seperti itu sejak kecil. Tapi percayalah, pria sedingin mereka biasanya menyembunyikan sisi paling protektif di dalam dirinya.”
Belum sempat Prisha membalas kalimat Jaila, terdengar suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa memecah kesunyian dari arah belakang mereka. Kedua wanita itu menoleh secara serempak. Di sana, Nares tampak berjalan cepat membelah jalan setapak dengan raut wajah yang dipenuhi gurat kecemasan yang kentara—sisa emosi dari ruang kerja bersama Saka yang langsung menguap begitu menyangkut keselamatan istrinya.
“Jaila! Kenapa kau malah berada di luar ruangan seberangin ini?” tegur Nares langsung begitu jaraknya sedekat beberapa meter. Ia mengabaikan eksistensi Prisha sejenak, langsung berlutut di depan istrinya dan memegang kedua tangan Jaila. “Udara pagi ini agak berangin, bagaimana jika kau mendadak pusing atau bayinya kedinginan? Jangan membuatku panik dengan menghilang dari rumah.”
Melihat kepanikan dan rentetan kalimat perhatian yang keluar dari mulut pria yang dikenal kejam itu, Prisha yang menyaksikannya dari samping seketika tersenyum tipis.
Dari sorot mata dan nada suara penuh kekhawatiran yang ditunjukkan Nares saat ini, Prisha menjadi sangat yakin bahwa mereka berdua pada akhirnya saling mencintai dengan teramat dalam, meskipun hubungan pernikahan mereka pada awalnya dimulai dari sebuah keterpaksaan akibat perjodohan keluarga.
'Cinta ternyata bisa tumbuh di tempat yang paling tidak terduga,' batin Prisha menimbang-nimbang posisinya sendiri dengan Saka.
Jaila mengusap pelan rahang tegas suaminya, mencoba menenangkan. “Aku tidak apa-apa, Nares. Prisha menjagaku dengan sangat baik di sini. Lihatlah ke sekelilingmu, udaranya sangat segar.”
Mendengar nama Prisha disebut, Nares akhirnya menegakkan tubuhnya. Ia melepaskan pandangannya dari Jaila dan mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman belakang untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di mansion sore kemarin.
Seketika itu juga, Nares tertegun. Sepasang matanya menyipit penuh perhatian. Ia baru menyadari bahwa tempat ini rasanya sudah jauh lebih indah, hangat, dan mengagumkan daripada kondisi sebelumnya yang ia ingat.
Warna kelopak daisy memberikan kontras visual yang luar biasa menakjubkan. Tatapan mata Nares kemudian bergeser, terpaku pada sebuah pohon ek besar yang berdiri kokoh di tenga taman.
“Tunggu dulu ...” gumam Nares dengan kening bertaut rapat. Ia menunjuk ke arah struktur kayu yang menggantung di bawah dahan kokoh pohon tersebut. “Aku sama sekali tidak ingat ada fasilitas ayunan yang terpasang di bawah pohon ek itu sebelumnya. Sejak kapan benda itu ada di sana?”
Prisha tersenyum simpul, berdiri dari duduknya dengan sikap anggun yang penuh percaya diri. “Ayunan itu juga baru dipasang beberapa waktu lalu, Kak Nares. Sengaja diletakkan di sana agar halaman belakang ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan tanaman mati, melainkan tempat yang nyaman untuk sekadar duduk menghabiskan waktu.”
Nares terdiam sesaat, menatap Prisha dengan pandangan menilai yang sulit diartikan, teringat akan skenario kotor yang sempat ia susun bersama Saka di dalam ruang kerja tadi mengenai pemanfaatan gadis Kaelen ini.
Namun, melihat bagaimana istrinya tampak begitu bahagia berada di taman buatan Prisha, Nares memilih untuk menyimpan ego gelapnya rapat-rapat demi menjaga ketenangan Jaila.
Bersambung....