"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA SAMPINGAN: 1. Cahaya Merah Muda di Altar Perak dan Sumpah yang Abadi
Kabut tebal yang selama ratusan tahun mengendap di lembah *Silver Moon* tidak pernah lagi kembali sejak malam pertempuran besar itu berakhir. Sisa-sisa reruntuhan benteng di perbatasan barat perlahan-lahan mulai dibersihkan oleh para prajurit yang kini bekerja tanpa beban ketakutan di pundak mereka. Kastil yang dulunya dikenal sebagai tempat paling dingin dan angker di seluruh wilayah utara, kini bertransformasi menjadi sebuah tempat yang penuh dengan kehangatan. Kehadiran Luna, seorang gadis manusia yang awalnya dianggap rapuh dan tidak berdaya, telah mengubah seluruh tatanan kehidupan bangsa serigala.
Pagi itu, sinar matahari bersinar sangat terik namun terasa sejuk karena angin gunung yang berembus konstan. Di dalam paviliun utama, Luna sedang duduk di depan sebuah meja kayu jati yang besar. Di atas meja tersebut, berserakan berbagai macam gulungan perkamen tua yang berisi laporan pasokan makanan, peta wilayah, dan rencana pembangunan kembali pemukiman warga kawanan yang sempat hancur akibat serangan kaum pemberontak.
"Nona Luna, ini adalah daftar kiriman kain bulu domba dan bahan makanan dari wilayah selatan," ucap Maya, kepala pelayan kastil yang kini menjadi orang kepercayaan Luna.
Maya meletakkan sebuah nampan berisi teh herbal hangat dan beberapa potong kue kering di sudut meja yang masih kosong.
Luna mendongak, menyeka keringat tipis di dahinya dengan saputangan kain sutra berwarna merah muda lembut. Rambut lavendernya diikat longgar ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya yang kini tampak sedikit lelah namun memancarkan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Terima kasih, Maya. Tolong pastikan setengah dari pasokan kain ini segera dikirim ke pondok perawatan di gerbang barat. Anak-anak serigala di sana sangat membutuhkan pakaian yang lebih tebal sebelum musim angin utara tiba. Aku tidak ingin melihat ada di antara mereka yang jatuh sakit karena kedinginan," ujar Luna dengan suara yang lembut namun penuh ketegasan.
Maya menunduk hormat, matanya berkaca-kaca penuh rasa kagum. "Kebaikan hati Anda benar-benar sebuah berkah bagi kami, Nona. Dahulu, sebelum Anda datang, tidak ada yang peduli dengan nasib anak-anak yatim piatu di pondok perawatan. Fokus kami hanyalah berperang, berlatih, dan mempertahankan wilayah. Namun sekarang, kastil ini terasa seperti sebuah rumah yang sesungguhnya."
Luna tersenyum manis. Rasa asing dan ketakutan yang dulu sempat merajai hatinya saat pertama kali diculik dan dibawa ke dunia ini kini telah melebur sepenuhnya menjadi rasa aman yang mutlak. Kastil Silver Moon bukan lagi tempat pengasingannya, melainkan tempat di mana hatinya berlabuh.
*Bruk.*
Suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar dari arah pintu masuk paviliun. Tanpa perlu menoleh pun, Luna sudah tahu siapa yang datang. Aroma maskulin yang khas perpaduan antara wangi hutan pinus di malam hari, tetesan embun pagi, dan sedikit aroma besi dari pedang selalu mendahului kehadiran pria itu. Yudha, sang Alpha sejati, melangkah masuk dengan jubah hitam kebesarannya yang berkibar ditiup angin.
Para pelayan yang berada di dalam ruangan segera membungkuk dalam-dalam dan mengundurkan diri secara teratur tanpa suara, memberikan ruang privasi bagi sepasang belahan jiwa tersebut.
Yudha berjalan mendekati meja kerja Luna. Pandangan mata emasnya yang biasanya sedingin es dan mampu mengintimidasi musuh dalam sekejap, kini sepenuhnya melunak saat menatap sosok gadis manusia di depannya. Yudha mengulurkan tangan kekarnya, membelai lembut pipi Luna dengan ibu jarinya yang kasar karena kapalan akibat bertahun-tahun menggenggam pedang.
"Kamu bekerja terlalu keras sepagi ini, Lunaku," bisik Yudha dengan suara rendah dan dalam, bergetar langsung di dada Luna.
Luna memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan hangat tangan Yudha yang selalu berhasil menenangkan jiwanya. "Ada banyak hal yang harus diselesaikan, Yudha. Aku ingin memastikan seluruh kawananmu tidak kekurangan apa pun saat musim dingin nanti. Sebagai Luna mereka, ini adalah tugasku, bukan?"
Yudha tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang hanya diciptakan khusus untuk Luna seorang. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping Luna, lalu dengan lembut menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pangkuannya. Lengan kekarnya melingkari pinggang Luna dengan protektif, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luna untuk menghirup aroma manis lavender yang selalu berhasil menjinakkan sisi liar serigala di dalam dirinya.
"Kamu adalah manusia yang paling keras kepala yang pernah kutemui," gumam Yudha di dekat telinga Luna, membuat gadis itu kegelian.
"Namun, kamu juga adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Seluruh kawanan kini memujamu. Tidak ada lagi satu pun prajurit yang meragukan keputusan bulan yang memilihmu sebagai pendampingku."
Luna bersandar pada dada bidang Yudha yang kokoh, merasakan detak jantung pria itu yang konstan dan menenangkan. Bahu kiri Yudha yang semalam robek parah akibat cakar beracun dari pemimpin pemberontak kini sudah sembuh total, menyisakan garis putih tipis sebagai bukti dari keajaiban kekuatan penyembuhan yang dimiliki oleh Luna sebagai belahan jiwanya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Yudha. Saat melihatmu terluka parah semalam, aku merasa duniaku seakan runtuh. Aku tidak peduli jika aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki taring atau cakar. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu," bisik Luna dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kejadian mencekam tersebut.
Yudha mempererat pelukannya, mengecup pelipis Luna dengan sangat lama dan penuh perasaan. "Dan aku bersumpah demi darah Alpha yang mengalir di tubuhku, aku akan menjadi perisai mutlak bagimu hingga napas terakhirku. Badai telah berlalu, Luna. Sekarang adalah waktunya kita membangun masa depan yang baru."
---
Persiapan Festival Kedamaian
Satu minggu setelah pertempuran besar, Yudha mengumumkan sebuah maklumat ke seluruh penjuru wilayah Silver Moon. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka akan mengadakan Festival Kedamaian untuk merayakan kemenangan mutlak dan menyambut era baru di bawah kepemimpinan Yudha dan Luna. Festival ini juga bertujuan untuk menghormati jasa para prajurit yang telah gugur dan memberikan penghargaan kepada seluruh anggota kawanan yang telah bertahan melewati masa-masa sulit.
Luna ditunjuk langsung oleh Yudha untuk memimpin jalannya persiapan festival tersebut. Hal ini tentu saja mengejutkan banyak pihak pada awalnya, mengingat Luna adalah seorang manusia yang tidak memahami tradisi kuno bangsa serigala secara mendalam. Namun, dengan kecerdasan dan kelembutan hatinya, Luna berhasil membuktikan bahwa dirinya lebih dari layak untuk mengemban tugas tersebut.
"Nona Luna, altar batu kuno di tengah halaman kastil sudah siap untuk didekorasi. Apakah Anda ingin kami memasang panji perang hitam seperti biasanya?" tanya salah seorang komandan prajurit bernama Gavan yang bertubuh besar dan berwajah sangar.
Luna menggelengkan kepalanya seraya tersenyum ramah, membuat Gavan yang biasanya ditakuti oleh para prajurit muda mendadak menjadi kikuk dan salah tingkah.
"Tidak, Gavan. Festival ini adalah tentang kedamaian dan harapan baru, bukan tentang perang. Aku ingin kita melepaskan semua atribut yang berbau kekerasan untuk satu malam saja. Kita akan menghias halaman kastil dengan warna merah muda lembut dan perak," jelas Luna sembari menunjukkan contoh kain sutra pink yang dibawanya.
Gavan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak kebingungan. "Merah muda, Nona? Tapi... bangsa serigala tidak pernah menggunakan warna seperti itu. Kami terbiasa dengan warna hitam, merah darah, atau abu-abu gelap."
"Warna-warna gelap itu mengingatkan kita pada masa lalu yang penuh dengan pertumpahan darah, Gavan," sahut Luna lembut namun penuh keyakinan.
"Merah muda melambangkan cinta, kasih sayang, dan awal yang baru sehangat musim semi. Aku ingin anak-anak di kawanan ini melihat bahwa masa depan mereka tidak lagi kelam seperti masa lalu orang tua mereka."
Yudha yang kebetulan sedang berjalan melewati koridor atas dan mendengar percakapan tersebut, langsung turun ke halaman. Langkah kakinya yang berwibawa membuat Gavan segera berlutut hormat.
"Lakukan persis seperti apa yang dikatakan oleh Lunamu, Gavan," perintah Yudha dengan nada suara yang mutlak dan tidak menerima bantahan.
"Mulai hari ini, apa pun yang menjadi keputusan Luna adalah perintah langsung dariku. Jika dia ingin mengubah seluruh warna kastil ini menjadi merah muda, maka kalian semua harus melaksanakannya tanpa terkecuali."
Gavan mendongak, melihat sorot mata Alpha yang penuh dengan kepatuhan dan pemujaan yang mendalam terhadap gadis manusia di sampingnya.
"Baik, Alpha! Perintah dilaksanakan. Kami akan segera mengumpulkan kelopak bunga mawar merah muda dan memasang lampion sutra di seluruh penjuru halaman." Setelah memberi hormat sekali lagi, Gavan segera berbalik untuk memimpin para prajurit melaksanakan tugas baru mereka.
Luna menoleh ke arah Yudha, menatapnya dengan pandangan setengah memprotes namun diiringi senyuman geli. "Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu, Yudha. Aku tidak berniat mengubah seluruh kastilmu menjadi merah muda."
Yudha melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu. Tangan besarnya merapikan beberapa helai rambut lavender Luna yang tertiup angin pagi.
"Kastil ini bukan milikku lagi, Luna. Ini adalah milik kita. Jika warna merah muda bisa membuatmu tersenyum bahagia dan melupakan ketakutan masa lalumu saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, maka aku akan memastikan seluruh wilayah Silver Moon dipenuhi oleh warna itu," ucap Yudha dengan kesungguhan yang mendalam, membuat pipi Luna merona merah mengalahkan warna kain sutra yang dipegangnya.
Luna menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Yudha, memukul pelan pundak sang Alpha. "Kamu pandai sekali bicara sekarang, ya. Di mana perginya Alpha yang dulu dingin, kejam, dan selalu menakutiku dengan geraman rendahnya?"
Yudha tertawa rendah sebuah suara yang sangat merdu di telinga Luna. Ia mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Alpha yang kejam itu telah dijinakkan sepenuhnya oleh seorang gadis manusia penyuka warna pink yang memiliki rambut sewarna lavender. Dan Alpha itu sama sekali tidak keberatan menjadi budak cintamu selamanya, Luna."