NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Puncak Pedang

​Selama tiga hari berikutnya, Paviliun Bambu Angin tertutup rapat dari dunia luar. Tidak ada satu pun murid atau Penatua yang berani mendekati radius seratus meter dari tempat itu. Insiden di mana seorang murid tingkat lima menumbangkan Penatua Agung telah menjadi legenda baru yang mengguncang setiap sudut Sekte Pedang Langit.

​Di dalam ruang meditasi, Lin Tian duduk tanpa mengenakan baju atas. Lengan kanannya yang sebelumnya robek dan berlumuran darah kini telah sembuh tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun. Kulitnya memancarkan pendaran tembaga yang jauh lebih pekat dan kokoh.

​Menahan beban Tinju Runtuh Lapis Ketiga secara paksa ternyata membawa berkah terselubung. Batas toleransi tulang dan ototnya merobek belenggu lamanya, menyerap sisa energi Teratai Api Berdarah hingga tetes terakhir, mendorong kultivasinya kokoh di puncak ranah Mortal tingkat lima.

​Lin Tian membuka matanya. Siluet naga hitam di dadanya perlahan meredup dan menghilang di balik kulit.

​"Sudah waktunya," gumam Lin Tian.

​Ia mengenakan jubah putih bersih yang baru, memastikan adiknya Lin Chen berlatih dengan aman di halaman belakang, lalu melangkah keluar paviliun. Tujuannya hanya satu: Puncak Pedang Langit, kediaman pribadi sang Kepala Sekte.

​Perjalanan menuju puncak tertinggi itu terasa berbeda. Setiap murid elit dan diaken yang berpapasan dengannya segera menunduk hormat, menyibakkan jalan seolah menyambut seorang raja muda. Di dunia kultivasi, rasa hormat tidak diberikan karena usia, melainkan karena kepalan tangan yang mematikan.

​Setibanya di pelataran Puncak Pedang Langit, hawa dingin yang menusuk tulang menyambutnya. Tempat ini berada di atas awan, dikelilingi lautan kabut putih. Tidak ada penjaga, tidak ada kemewahan. Hanya ada sebuah pondok kayu sederhana di tepi tebing, dan seorang pria paruh baya yang sedang menyeduh teh di atas meja batu.

​Jian Wuchen tidak menoleh, namun tangannya menuangkan secangkir teh panas ke cawan kosong di seberangnya.

​"Duduklah, Lin Tian," ucap sang Kepala Sekte dengan nada yang setenang air telaga.

​Lin Tian berjalan mendekat dan duduk bersila di kursi batu. Ia tidak meminum teh itu, melainkan menatap langsung ke mata Jian Wuchen.

​"Kepala Sekte mengatakan ada hal yang ingin dibicarakan mengenai fondasi saya," Lin Tian langsung masuk ke inti pembicaraan. Ia telah mempersiapkan energinya; jika pria di depannya ini berniat merampas warisan naganya, ia akan menggunakan Langkah Kilat Guntur untuk melarikan diri menuruni tebing.

​Jian Wuchen menyesap tehnya perlahan, lalu tersenyum tipis melihat kewaspadaan pemuda itu.

​"Jangan tegang. Jika aku berniat membunuhmu dan merampas rahasiamu, aku tidak akan menghentikan Zhao Wuji tiga hari yang lalu," ucap Jian Wuchen. Ia meletakkan cawannya. "Dua ratus tahun yang lalu, saat aku masih menjadi murid muda yang berkelana di Benua Tengah, aku pernah memasuki sebuah reruntuhan kuno peninggalan Era Primordial."

​Lin Tian mendengarkan dalam diam, matanya menyipit.

​"Di dalam reruntuhan itu, aku membaca sebuah prasasti batu yang setengah hancur," lanjut Jian Wuchen, suaranya kini berubah berat dan penuh misteri. "Prasasti itu mencatat tentang makhluk-makhluk penguasa alam semesta yang diusir oleh para Dewa ke dimensi hampa. Makhluk yang fisik murninya mampu menghancurkan bintang, dan auranya memancarkan warna ungu keemasan. Mereka disebut... ras Naga Astral."

​Udara di sekitar pondok mendadak terasa membeku. Keduanya saling menatap. Lin Tian menyembunyikan keterkejutannya dengan sangat rapi, namun otot-otot di bawah jubahnya telah menegang.

​"Tubuhmu tidak memancarkan elemen alam biasa. Darahmu mendidih layaknya binatang buas purba. Pukulanmu menembus hukum Qi dengan kekuatan fisik absolut," Jian Wuchen mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak tahu bagaimana kau mendapatkan warisan mereka, Lin Tian. Dan aku tidak akan bertanya."

​"Lalu, apa yang Kepala Sekte inginkan dari saya?" tanya Lin Tian dengan nada dingin.

​"Masa depan Sekte Pedang Langit," jawab Jian Wuchen tegas.

​Kepala Sekte itu berdiri, berjalan ke tepi tebing, dan menatap hamparan benua di bawah sana.

​"Benua perbatasan ini terlalu kecil untuk naga sepertimu, namun sekte ini sedang berada di ambang kehancuran. Aliran Hitam, aliansi sekte iblis yang dipimpin oleh Sekte Darah Neraka, telah mulai bergerak di bayang-bayang. Insiden di Hutan Darah Besi yang kau laporkan... itu adalah salah satu pos terdepan mereka."

​Jian Wuchen berbalik menatap Lin Tian. "Enam bulan dari sekarang, Gua Roh Leluhur, tempat suci yang menyimpan akar spiritual sekte kita, akan dibuka. Di sanalah pertempuran jenius generasi muda akan menentukan nasib sekte. Aku ingin kau memasukinya, menyerap energi intinya untuk menerobos ke ranah Earth (Bumi), dan membersihkan semua pengkhianat di dalam sekte—termasuk akar faksi Zhao yang diam-diam bekerja sama dengan Aliran Hitam."

​Lin Tian terdiam sejenak, otaknya mengkalkulasi untung dan rugi. Sebuah tempat suci yang menjanjikan terobosan ke ranah Bumi adalah sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk mempercepat kebangkitan garis keturunan naganya.

​"Jika saya melakukan ini," ucap Lin Tian perlahan, "setelah ancaman Aliran Hitam musnah, saya dan adik saya tidak lagi berutang apa pun pada sekte ini. Kami akan pergi dengan bebas."

​Jian Wuchen tersenyum lega. "Bahkan jika kau ingin tinggal, kolam kecil ini tidak akan bisa menahanmu. Sepakat."

​Matahari bersinar terang di atas Puncak Pedang, menjadi saksi bisu atas perjanjian antara seorang jenius monster dan sang pemimpin sekte. Mulai hari ini, Lin Tian bukan lagi sekadar murid. Ia adalah pedang rahasia yang akan membelah langit.

1
Didi h Suawa
💪
Didi h Suawa
mantap
Didi h Suawa
simpel ,🙏
Didi h Suawa
awal yg baik,
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat terus dalam berkarya
Aman Wijaya
saatnya pembantaian dimulai Lin Tian klan Lei telah menunggu kalian berdua.babat habis semua dan ambil kekayaan di gudangnya klan Lei
Heri Victor Purba
gas terus 👍
Aman Wijaya
sebentar lagi Lei jue terkencing kencing melihat aksi Lin Tian
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas terus sampai njeduk pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor semangat semangat terus
Aman Wijaya
lanjutkan aksimu Lin Tian 🔥🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Heri Victor Purba
💪
Heri Victor Purba
👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap...💪
Jojo Shua
🫰✅️
Jojo Shua
🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!