NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Dokter Psikologi Pribadi Kiriman Oliver

Janji Oliver di ruang makan malam itu dipenuhi tanpa menunda waktu.

Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya naik di langit distrik bisnis, sebuah SUV hitam baru yang sangat elegan—bukan mobil sport yang mencolok, melainkan sebuah mobil keluarga premium dengan sistem keamanan tingkat tertinggi yang langsung dipesan dari pabrik—telah terparkir manis di halaman mansion.

Dokumennya bersih, mutlak atas nama Viona.

Oliver sendiri yang menyerahkan kuncinya sebelum ia berangkat kerja, memastikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi rasa tidak aman di hati wanita itu.

Namun, perhatian Oliver terhadap pemulihan trauma Viona ternyata tidak berhenti sampai di situ.

Pria tirani dingin itu menyadari bahwa menyembuhkan luka masa lalu Viona akibat kekejaman keluarga Lin memerlukan penanganan yang jauh lebih komprehensif daripada sekadar membelikan barang-barang baru.

Pada hari Jumat minggu yang sama, sekitar pukul dua siang, sebuah ketukan teratur terdengar di pintu gerbang utama mansion.

Pak Pelayan bergegas menyambut sang tamu dan tak lama kemudian menuntunnya menuju ruang tamu lantai satu, tempat Viona sedang membacakan dongeng untuk Yoyo.

"Nyonya Viona,"

 panggil Pak Pelayan dengan nada takzim.

"Ada seorang tamu wanita yang datang atas instruksi langsung dari Tuan Besar. Beliau adalah Dr. Elena Mahendra."

Viona menoleh dan bangkit dari sofa.

 Di ambang pintu ruang tamu, berdiri seorang wanita berusia awal empat puluh tahun dengan penampilan yang sangat anggun dan meneduhkan.

Ia mengenakan setelan blazer kasual berwarna biru pastel, rambutnya disanggul rapi, dan sepasang matanya memancarkan kehangatan serta kecerdasan seorang profesional yang matang.

"Selamat siang, Viona. Dan halo, Putri Kecil Yoyo,"

sapa Dr. Elena dengan suara yang begitu lembut, frekuensi suaranya secara instan menurunkan ketegangan di dalam ruangan.

Goldie, yang biasanya siaga terhadap orang asing, hanya mengendus sepatu Dr. Elena sebelum akhirnya mengibas-ngibaskan ekornya riang, tanda bahwa anjing pelindung itu tidak merasakan ancaman sama sekali.

Viona sedikit terkejut.

"Selamat siang. Maaf, Dr. Elena... apakah Anda rekan dari dr. Januar?"

Dr. Elena tersenyum, melangkah masuk dengan anggun dan duduk di kursi tunggal setelah dipersilakan.

"Benar, Viona. Saya adalah psikolog klinis spesialis pemulihan trauma pasca-pernikahan toxic dan domestic abuse. Tuan Oliver secara pribadi menghubungi saya dua hari lalu. Beliau meminta saya untuk menjadi psikolog psikologi pribadi Anda, yang akan datang ke mansion dua kali seminggu."

Mendengar penjelasan itu, Viona tertegun.

Ingatannya langsung kembali pada pertengkaran hebat mereka malam itu tentang "mobil bekas".

Oliver rupanya benar-benar merekam setiap detail dari luka masa lalu yang ia teriakan.

Pria itu tidak hanya meminta maaf, tetapi ia langsung bergerak di balik layar untuk mencari ahli terbaik guna menyembuhkan akar trauma jiwanya.

"Tuan Oliver sangat spesifik saat berbicara dengan saya di telepon,"

lanjut Dr. Elena, matanya menatap Viona dengan penuh empati.

"Beliau mengatakan bahwa ia memiliki 'seorang wanita berharga' di rumahnya yang memiliki jiwa yang sangat kuat, namun sayangnya dipenuhi luka akibat perlakukan tidak manusiawi di masa lalu.

Beliau tidak ingin Anda merasa lelah atau cemas karena harus terus mengantre di rumah sakit umum yang ramai. Karena itulah, beliau memindahkan ruang terapi itu ke sini, di tempat di mana Anda merasa paling aman."

Mendengar frasa "seorang wanita berharga" yang diucapkan Oliver kepada sang psikolog, dada Viona bergemuruh hebat oleh rasa haru yang teramat dalam.

 Perlindungan Oliver terasa begitu melingkupi setiap sudut hidupnya sekarang.

"Yoyo, Sayang," Viona menunduk, mengusap kepala putrinya.

 "Yoyo bermain dengan Goldie dan Bibi Pelayan di taman belakang sebentar, ya? Bibi mau mengobrol dengan Dr. Elena."

Yoyo menatap Dr. Elena, lalu mengangguk patuh.

"Baik, Bibi. Dokter baik, jangan buat Bibi Viona menangis ya,"

ucap gadis kecil itu polos, membuat Dr. Elena tertawa kecil dan mengangguk berjanji.

Setelah ruang tamu hanya menyisakan Viona dan Dr. Elena, sesi terapi pribadi itu pun dimulai.

 Berbeda dengan dr. Januar di rumah sakit yang lebih fokus pada kestabilan klinis dan resep obat penenang, Dr. Elena membuka ruang dialog yang sangat dalam tentang penerimaan diri (self-acceptance).

Selama dua jam berikutnya, Viona menumpahkan segala hal yang selama ini ia kunci rapat di dalam dadanya.

Ia bercerita tentang bagaimana tiga tahun di bawah atap keluarga Lin telah menghancurkan rasa percaya dirinya, bagaimana ia selalu diyakinkan bahwa dirinya tidak berharga, dan bagaimana perasaan bersalah karena "gagal" mempertahankan pernikahan lamanya terus menghantuinya hingga memicu serangan panik.

Dr. Elena mendengarkan tanpa sekali pun memotong.

 Ia mencatat beberapa poin penting, lalu menatap Viona dengan pandangan yang sangat bijaksana.

"Viona, dengarkan saya," ucap Dr. Elena lembut namun tegas.

"Trauma yang kau bawa dari keluarga Lin membuat jiwamu membangun sebuah mekanisme pertahanan yang salah.

 Kau merasa bahwa setiap kali seseorang memberikan sesuatu padamu, ada 'harga kontrak' yang harus kau bayar, atau ada motif tersembunyi untuk merendahkanmu. Itu sebabnya kau bereaksi sangat keras pada masalah mobil kemarin."

Dr. Elena memajukan tubuhnya sedikit.

"Namun, dari apa yang saya amati sejak melangkah masuk ke mansion ini, dan dari bagaimana Tuan Oliver menceritakan tentangmu... lingkunganmu yang sekarang sama sekali berbeda. Tuan Oliver tidak sedang menuntut sebuah transaksi kontrak darimu.

 Pria itu sedang membangun sebuah benteng. Dan benteng itu dibangun khusus untuk melindungimu. Kau harus mulai belajar menerima bahwa kau layak mendapatkan hal-hal baik yang baru, tanpa perlu merasa takut bahwa itu akan direnggut kembali."

Kata-kata Dr. Elena menghujam tepat ke dalam pusat luka di hati Viona.

Air mata wanita itu menetes perlahan, namun kali ini bukan air mata rasa sakit, melainkan air mata pelepasan.

Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat satu per satu di bawah bimbingan psikolog kiriman Oliver tersebut.

Pukul lima sore, sesi terapi itu berakhir dengan hasil yang sangat positif. Dr. Elena berpamitan, berjanji akan kembali hari Selasa depan.

Tepat saat mobil Dr. Elena bergerak keluar dari gerbang, Rolls-Royce hitam milik Oliver memasuki halaman.

Pria itu rupanya sengaja mempercepat jadwal kerjanya lagi demi memastikan bagaimana hasil sesi terapi pertama Viona.

Oliver melangkah masuk ke dalam rumah. Jas kerjanya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi.

Matanya yang tajam langsung menyapu ruang tamu dan menemukan Viona yang sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan ekspresi wajah yang tampak jauh lebih tenang dan damai dari biasanya.

Ada seulas rona merah segar di pipinya.

Langkah kaki Oliver yang berat membuat Viona menoleh. Mata mereka bertemu.

"Bagaimana terapinya?"

tanya Oliver langsung pada intinya, suaranya yang rendah dan berat memenuhi keheningan koridor.

 Meskipun nadanya terdengar datar seperti biasa, kilatan kecemasan dan kepedulian yang pekat tidak dapat disembunyikan dari sepasang mata elangnya.

"Apakah wanita itu membuatmu tidak nyaman? Jika iya, aku akan menggantinya dengan ahli lain dari luar negeri besok pagi."

Viona membiarkan sebuah senyuman termanisnya merekah.

Ia melangkah mendekati Oliver, berhenti tepat dua langkah di depan tubuh tegap sang CEO.

"Tidak, Oliver. Dr. Elena sangat luar biasa,"

bisik Viona tulus, matanya yang jernih menatap lurus ke dalam mata Oliver.

"Terima kasih... Terima kasih karena telah mengirimkannya kemari. Terima kasih karena telah mendengarkan perkataanku malam itu dan memikirkan kesembuhanku sedalam ini."

Oliver menatap wajah Viona yang kini bebas dari bayang-bayang kecemasan kelam.

Rasa lega yang luar biasa memenuhi dada pria itu.

 Ia mengulurkan tangannya yang besar, secara alami mendaratkan telapak tangan kokohnya di sisi wajah Viona, ibu jarinya mengusap pelan tulang pipi wanita itu dengan kelembutan yang sangat posesif.

"Aku sudah mengatakannya, Viona,"

ujar Oliver dengan suara yang amat dalam, getarannya terasa hingga ke lubuk hati Viona.

"Di dalam bentengku, tidak boleh ada air mata rasa sakit lagi untukmu.

Jika jiwamu terluka karena masa lalu, maka tugasku adalah mendatangkan siapa pun dan melakukan apa pun untuk menyembuhkannya.

Kontrak di antara kita mungkin ditulis di atas kertas, tetapi perlindunganku atas dirimu... adalah sesuatu yang mutlak dan tidak akan pernah berakhir."

Sentuhan tangan Oliver yang hangat dan deklarasinya yang penuh wibawa membuat jantung Viona berdegup kencang dalam kebahagiaan yang sempurna.

 Di bawah naungan mansion yang kini terasa benar-benar seperti rumah, kehadiran dokter psikologi pribadi kiriman Oliver bukan sekadar babak penyembuhan medis, melainkan pembuktian tertinggi bahwa sang tirani berdarah dingin telah sepenuhnya menyerahkan hatinya untuk menjadi pelindung abadi bagi jiwa Viona yang kini tak lagi rapuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!