Puber kedua, menghancurkan pernikahan Tatiana Ramos dan Brandon Wirawan. Ketika sang istri sibuk mengembangkan bisnis di luar negeri, suaminya yang ditinggal selama 2 bulan justru sedang mabuk kepayang dengan gadis muda yang usianya 10 tahun lebih muda dari istrinya.
"Kamu membiarkan dia menginap di kamar kita, mas? apa kamu sudah gilaa?"
"Siska tak punya kerabat di kota ini, dia sebatang kara. Ingatkah saat aku bertemu denganmu pertama kali, kamu juga sebatang kara Tatiana!"
Dengan dalih mirip dengan istrinya 10 tahun lalu, untuk pertama kalinya selama 10 tahun, Brand mendebat Tatiana.
"Maafkan aku Nyonya, tempat tinggal ku sedang diperbaiki..."
Mata Tatiana melebar, wanita itu bahkan mengenakan gaun tidurnya. Dia tidak tahan lagi, hanya dua bulan, dan itupun demi perusahaan mereka yang sempat merugi milyaran rupiah. Tapi begitu dia kembali, suaminya malah bermain api.
'Suami pengkhianatan dan bodoh seperti ini, aku benar-benar tidak butuh' geram Tatiana dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sebuah Pesawat berbadan lebar melesat meninggalkan ujung landasan dengan hidung yang perlahan menengadah ke langit. Dalam hitungan detik, roda-roda besarnya terangkat dari aspal, menyisakan jejak panas yang bergetar di belakang semburan mesin jet.
Sebuah pemandangan yang lumrah di sebuah bandara. Di salah satu tempat di bandara itu, seorang wanita cantik yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih dengan potongan yang pas di tubuh, kerahnya tersusun rapi, sementara deretan kancing di bagian depan menambah kesan formal. Ujung lengan dikancingkan dengan manis di pergelangan tangan, membuat penampilannya tampak anggun dan berkelas. Tampak menarik kopernya dengan wajah yang begitu cerah, secerah sinar matahari yang ada di luar bandara.
Wanita itu Tatiana Ramos, usianya memang sudah tidak muda lagi, sudah 32 tahun. Dan sudah dua bulan dia meninggalkan kota ini, bahkan negara ini untuk urusan bisnis. Begitu dia keluar dari bandara, dia melihat mobil suaminya.
Tania tersenyum dan melangkah ke arah mobil itu.
Dari dalam mobil, seorang pria matang 37 tahunan tampak keluar dengan senyuman yang terlihat cukup tulus.
"Sayang, akhirnya kamu kembali. Aku sangat merindukanmu!" kata pria itu yang langsung merentangkan tangannya memeluk Tatiana.
Tatiana yang juga sangat merindukan suaminya, membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Aku juga sangat merindukanmu, kita ke perusahaan dulu ya. Aku mau memeriksa sesuatu!"
"Baiklah"
Pria itu, Brandon Wirawan adalah suami Tatiana. Pernikahan mereka sudah berlangsung selama 10 tahun. Dengan wajah masih tersenyum, pria itu meraih koper Tatiana dan membuka bagasi mobil.
Tatiana masih terus memperhatikan suaminya, sampai suaminya membuka pintu penumpang bagian belakang.
Wajah Tatiana mulai berubah,
"Sayang, kenapa..."
Ucapan itu terjeda, ketika dari pintu penumpang bagian depan, keluar seorang wanita muda, dengan pakaian yang begitu minim dan tersenyum pada Tatiana.
"Nyonya, maaf tadi aku merapikan rambutku. Jadi tidak menyambut anda. Selamat datang kembali nyonya!"
Tatiana memalingkan wajah dari wanita genit itu ke arah suaminya.
"Siapa dia?" tanya Tatiana yang wajahnya berubah menjadi serius.
"Sayang, dia sekertaris baruku. Namanya Siska, dia lulusan Cambridge, sama denganmu!"
Tatiana menghela nafas berat. Bahkan setelah menyapa Tatiana, wanita malah kembali masuk ke dalam mobil, di tempat yang sama. Di mana seharusnya itu menjadi tempat Tatiana.
"Sayang, ayo! katanya mau ke perusahaan. Disini sudah mulai panas, nanti kamu kepanasan!" Brandon bicara dengan begitu lembut, seolah pria itu sangat perduli pada Tatiana.
Tapi, kalau dia memang perduli. Kenapa dia membiarkan kursi yang katanya dulu hanya bisa di duduki istrinya. Diduduki oleh wanita lain, bahkan saat dia satu mobil bersama Tatiana.
'Ini hanya hal kecil, hanya hal kecil. Kami sudah menikah 10 tahun, tidak boleh hanya karena hal kecil seperti ini, aku membuat mas Brandon malu di depan sekertarisnya' batin Tatiana.
Bahkan dia masih memikirkan muka suaminya. Setelah suaminya sebenarnya sudah tak memberi muka lagi padanya di depan sekertaris barunya itu.
Tatiana berjalan ke arah pintu mobil yang sudah di buka oleh Brandon. Dia masuk, dan suaminya itu segera menutup pintu.
Mereka pun meninggalkan bandara. Selama perjalanan Tatiana hanya diam, dia lebih senang melihat pemandangan di luar kaca jendela mobil, dibandingkan melihat suaminya yang sejak tadi asik mengobrol dengan Siska. Padahal mereka sudah tidak bertemu selama dua bulan. Bahkan suaminya tidak menanyakan bagaimana penerbangan yang sudah dilalui Tatiana selama 8 jam.
Begitu sampai di depan perusahaan. Brandon turun terlebih dahulu. Tatiana melepaskan sabuk pengamannya, dan menunggu suaminya membuka pintu untuknya. Tapi, lagi-lagi Tatiana harus dibuang menghela nafas berat, ketika dia melihat suaminya berjalan dengan cepat ke arah pintu mobil, dimana Siska berada.
Tatiana mendengus pelan dan membuka sendiri pintu mobilnya. Dia bahkan tidak menunggu suaminya, dia segera masuk ke dalam perusahaan.
"Sayang, tunggu..."
Brandon baru akan mengejar istrinya, namun Siska dengan cepat menahan tangan Brandon.
"Tuan, sebenarnya nyonya kenapa? dari tadi di dalam mobil dia diam saja. Bahkan seperti marah padaku. Apa aku melakukan sebuah kesalahan pada nyonya?" tanya Siska dengan tatapan memelas di depan Brandon.
"Kamu bicara apa? mana ada Tatiana marah. Dia sudah dua bulan tidak ke perusahaan. Dia mungkin merindukan perusahaan ini!"
Siska mengangguk lega.
"Aku pikir nyonya marah padaku, aku jadi merasa tidak enak!"
"Jangan dipikirkan, ayo masuk!"
Sungguh pertanyaan yang sebenarnya kalau ditanyakan oleh Siska di depan Tatiana, mungkin akan membuat darahh Tatiana mendidih. Bayangkan saja, bagaimana perasaan seorang istri ketika ada wanita lain yang duduk di samping suaminya, alih-alih dirinya. Dan masih bertanya, dimana letak kesalahannya? sungguh muka tembok kulit badak.
Ting
Pintu lift terbuka, Tatiana keluar dari dalam lift. Lantai 10 itu adalah lantai dimana kantornya sebagai wakil direktur berada.
Seorang karyawan yang melihatnya kembali ke perusahaan sangat senang.
"Nyonya Tatiana, anda sudah kembali?"
Beberapa orang yang lain juga begitu senang mendekati Tatiana.
"Syukurlah nyonya kembali!"
Kening Tatiana sedikit berkerut. Kenapa anak buahnya bicara seperti itu?
"Aku hanya pergi dua bulan, selama ini Mas Brand bilang perusahaan baik-baik saja kan? bagaimana dengan pekerjaan kalian? oh ya, proyek yang aku usahakan dengan Legal Company sudah berhasil, nanti aku akan berikan sebagai bonus tahunan untuk kalian..."
"Nyonya..."
Wajah-wajah di belakang Tatiana itu tampak cemas ketika Tatiana memasang gagang pintu ruangannya.
"Ada apa?" tanya Tatiana.
Tapi, alih-alih segera memberitahukan pada Tatiana tentang apa yang terjadi. Mereka tampaknya malah ragu. Seperti takut, dan khawatir.
Tatiana jadi semakin merasa aneh.
"Sebenarnya ada apa? kalau tidak ada masalah, aku mau periksa data bulan ini dulu..."
Tatiana membuka pintu. Sekertaris nya Lulu segera berlari mendekati bosnya itu. Dan sepertinya sudah terlambat. Tatiana sudah terkejut melihat ruangannya yang berubah, bukan hanya tata letak meja. Tapi semua yang ada di dalamnya berubah.
"Nyonya maaf..." lirih Lulu.
Tatiana mendesah kasar, dan menoleh ke arah semua orang yang ada di belakangnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Tatiana masih berusaha menahan emosinya.
"Itu... tuan yang memberikan ruangan ini pada sekertaris barunya. Saya sudah bilang untuk minta ijin dulu pada nyonya. Tapi tuan melarang, katanya nyonya tidak akan marah. Nyonya sangat menurut pada tuan, hanya ruangan saja, pasti nyonya tidak akan perhitungan!" jelas Lulu yang mengatakan itu dengan sangat sedih.
Tatiana kembali menghela nafas panjang. Dia memegang keningnya. Tapi, ini di perusahaan, dia berusaha untuk menahan diri.
"Kalian kembalilah bekerja!" katanya yang diangguki semua orang yang lalu keluar dari ruangan itu.
Tatiana memegang keningnya, bersandar di tepi meja kerja yang sekarang benar-benar tidak seperti ruangannya itu.
'Pertama tempat dudukku di mobil, lalu ruanganku, apa selanjutnya kamu akan berikan hatimu pada wanita itu, mas?' batin Tatiana yang mulai geram.
***
Bersambung...
Asal jangan yg mokondo aja, rugi banget ya Yuli.. 🤭
Patut Erick yg konon manusia paling sibuk dengan bisnisnya nyempat²in buat repot² turun langsung membantu Yuli menangani kasus perceraian, ternyata Erick sejak awal sudah menyimpan rasa pada Yuli.. 🤭
Di tambah lagi adegan jatuh 2x, jatuh dalam pelukan, dan jatuh terduduk dalam pangkuan.. Membuat seorang Erick yakin dengan hatinya.. 🤭
Pesona janda emang terdepan ya Mas Erick.. 🤣🤣🤣
terima kasih sampai jumpa lagi
Kalau kau berani, ya hadapi saja sendiri..
Untuk apa kau berlindung di balik sangkar emas mu, jika kau punya kuasa di kota D ini..?!
Kau beraninya hanya mengintimidasi wanita, benar² banci..
Kau yg suka mempermainkan wanita, kau lampiaskan egomu pada istri..
Apa yg di harapkan dari lelaki seperti dirimu sebagai suami..?!
Jika kau merasa hebat, ya hadapi..
Bukan ujug² melampiaskan emosi mu pada anak buah mu, itu sih kau pengecut namanya kau sebagai lelaki..
Jatuh dalam pelukan, lalu jatuh terduduk di pangkuan.. Apakah ini ada unsur kesengajaan, atau emang kebetulan..?🤣🤣
mbaca dari awal sudah kerasa nyeseknya.tatiana bener2 kuat.disingkirkan gegara ada ulet buku nemplok si brandon.suami yang g bisa apa-apa tapi uda banyak tingkah.alurnya sat set.jadi sering nungguin up nya.
terimakasih atas bacaannya yg keren thor.
terus semangat berkarya thor 🥰🥰 ❤️❤️
ad rasa juga niih ma Yuli ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣🫣😂😂😂😂
pas tuh ,, 😁😁😁😁
entah mau dihabisin Tantowi
apa dihabisin Erick
itu terserah kak Thor 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
masih perawan ni
eh salah janda yaa..
tapi belum halal oi
begini ni,kalau kelamaan jomblo🤣🤣
btw
amanda mending keluar dr kota itu juga
takut jadi sasaran bales dendam suami nya
eh ralat,mantan
iy mantan yaa 🤣🤣