***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Selesai makan malam, Raka tak sengaja menumpahkan saus dijaket yang sedari tadi dipakai oleh Naya.
Sialnya Saus yang Raka tumpahkan itu encer jadi merembes sampai ke kaos putih Naya.
"Maafkan aku, aku benar benar tak sengaja." kata Raka membuat Naya kesal saja.
"Aku akan membersihkan dikamar mandi." kata Naya.
"Masuklah kekamar, disana ada kamar mandi." kata Raka.
Naya hanya mengangguk dan langsung masuk kekamar tanpa curiga.
Naya segera menutup kamar mandinya tanpa mengunci pintu karena Ia pikir Raka masih diluar namun siapa sangka saat Naya melepaskan jaket dan kaos oblongnya, Raka tiba tiba masuk dan memeluk Naya dari belakang membuat Naya menjerit kaget.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Naya, Naya segera menutupi tubuh yang hanya mengenakan bra itu dengan kaos yang masih Ia bawa namun sayang dengan cepat Raka merebut kaos itu dan membuangnya.
"Apa yang kau lakukan? apa kau gila!" teriak Naya yang kini sudah ketakutan karena Raka terus mendekatinya.
Raka benar benar gila, sudah lama Ia sangat merindukan tubuh ini, tubuh yang sudah lama tak Ia jamah, tubuh yang semakin berisi membuat gairah Raka kembali membara.
"Ya aku memang sudah gila, semua karena mu Naya." bisik Raka ditelinga Naya, kini Naya sudah berada dikungkungan Raka.
"Aku mohon lepaskan aku Raka, jangan kembali menyakitiku." kata Naya sambil menangis berharap Raka bisa memberikan belas kasihan padanya dan melepaskan Naya.
"Sayang, berhentilah menangis, aku datang untuk membuatmu bahagia." kata Raka menghapus air mata Naya, lalu mengangkat dagu Naya hendak mencium Naya, dengan gerakan cepat Naya mendorong Raka hingga terpental jatuh, segera Naya mengambil bajunya dan berniat berlari tapi siapa sangka tangannya sudah ditarik oleh Raka.
"Mau kemana sayang? kabur" ejek Raka pada Naya yang berusaha memberontak.
"Lepaskan aku brengsek!" teriak Naya yang entah mengapa membuat Raka marah.
Naya menyebutnya brengsek? ya Naya menyebutnya brengsek, padahal seumur umur Naya tidak pernah mengatakan kata kasar pada Raka sekesal apapun Naya.
"Jadi aku brengsek huh?" kata Raka mengenggam erat Tangan Naya hingga membuat Naya meringgis kesakitan, Raka menarik paksa Naya keluar dari kamar mandi lalu melemparkan Naya keatas ranjang.
Naya hanya meringgis kesakitan kala kepalanya terbentur pinggiran ranjang.
"Akan kuperlihatkan bagaimana brengseknya aku sayang." kata Raka yang sudah melepasi kancing bajunya dan membuangnya asal.
Ohh tidak sepertinya Naya telah salah bicara, Naya menyesal telah mengatakan kata kotor itu pada Raka.
"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu Raka, ingat kamu sudah menikah." kata Naya hendak bangkit dan berlari namun sayang Raka lebih dulu mengapai tubuh Naya dan kembali melemparkan ke ranjangnya, kata menikah yang baru saja diucapkan Naya membuat Raka kembali emosi.
Hingga malam panjang itu tiba, malam dimana Raka mengagahi tubuh Naya berkali kali dengan kasar membuat Naya hanya bisa menangis dan menjerit dibawah tubuh Raka.
Raka memperkosa Naya, itulah yang Naya pikirkan sedangkan bagi Raka ini pelepasan rindu setelah 5 tahun kehilangan Nayanya.
Naya yang sudah tidak kuat lagi menahan tubuh Raka akhirnya Ia pingsan kelelahan namun sebelum pingsan Naya sempat mendengarkan Raka membisikan sesuatu padanya.
"Rasamu masih sama sayang, kamu selalu bisa membuat aku puas, setelah ini jangan harap kau bisa kabur dariku lagi."
Ucapan Raka yang masih didengar oleh Naya sebelum Ia jatuh pingsan.
...
Paginya Naya terbangun diatas dada bidang yang sudah lama tak ia lihat, dan merasakan sebuah tangan memeluk tubuh nya erat, sangat erat seolah takut jika Naya kembali kabur.
Naya masih berharap ini semua mimpi, mimpi buruk tapi pada kenyataannya ini bukan mimpi.
Nyata semua nyata, Tangan yang sekarang memeluk tubuhnya ini adalah tangan yang menjamah tubuhnya secara kasar semalam, bibir yang Ia lihat sekarang adalah bibir yang mengecap seluruh tubuhnya hingga meninggalkan bekas disana, dan wajah yang tengah pulas dengan damainya itu adalah wajah yang sangat ia benci sekarang.
Naya menyentak tangan Raka kasar, melepaskan pelukan nya hingga Raka terbangun.
Raka yang sadar Naya hendak bangkit kembali menarik tangan Naya hingga tubuhnya kembali jatuh didada bidang Raka lagi.
"Aku harus pulang, anak anak pasti mencariku." kata Naya dingin.
Naya memberontak, ingin melepaskan pelukan Raka namun sia sia saja Karena tenaga Raka jauh lebih kuat dari Naya.
"Aku bilang aku harus pulang, apa semalam masih belum puas?" tanya Naya geram.
"Sebentar lagi sayang, aku masih merindukan mu." kata Raka dengan mata masih terpejam.
"Lepaskan aku brengsek." desis Naya sudah terlanjur kesal.
Seketika mata Raka terbuka dan menatap Naya tajam membuat Naya menciut.
"Berhentilah memakiku karena aku tak ingin kasar padamu seperti semalam." kata Raka yang kini sudah tak menatap Naya.
"Aku harus pulang, kumohon." kata Naya sekali lagi.
Raka mendesah pelan menatap Naya yang masih saja menunduk dan tak menatapnya.
"Kembalilah menjadi Nayaku yang dulu, aku janji akan selalu membuatmu bahagia." kata Raka yang membuat hati Naya berdenyut nyeri.
"Aku ingin pulang, anak anak sudah menungguku, kumohon." kata Naya tak mengubris ucapan Raka.
Raka yang melihat mata Naya memerah seperti ingin menangis akhirnya menyerah, tak tega.
"Mandilah dulu dan pakailah baju yang ada dipaper bag itu karena bajumu semalam kotor." kata Raka menunjuk sebuah paper bag dikursi.
Naya pun bangkit mengenakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan langsung mengambil paper bag berjalan memasuki kamar mandi.
Raka yang sebenarnya masih sangat merindukan Naya harus mengalah karena memang sekarang Naya memiliki tanggung jawab mengurus anak anak panti meskipun semalam ia sudah menyuruh orang untuk menjaga panti tapi tetap saja.
Naya melihat tubuh polosnya dicermin yang penuh dengan jejak merah bekas bibir Raka yang membuatnya jijik dengan dirinya sendiri.
rasanya menangis pun tak akan membuatnya lupa dengan kejadian semalam. meskipun Naya sendiri juga sangat merindukan Raka namun tetap saja rasa bencinya lebih besar dari rasa rindu yang tak seberapa.
Naya selesai mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya, Ia keluar namun tak menemukan Raka di ranjangnya.
Hingga ia keluar dari pintu kaca melihat Raka sedang menelepon seseorang dan suara Raka bisa Ia dengar.
"Iya sayang Papa juga sangat merindukanmu." kata Raka didalam telepon.
Papa? membuat Naya bertanya tanya lalu tersenyum miris.
Raka berbalik dan terkejut melihat Naya dibelakangnya. Raka sedikit khawatir apalagi melihat raut wajah Naya yang kembali dingin.
"Aku ingin pulang sekarang."
"Ayo sarapan dulu, nanti kuantar pulang." kata Raka.
"Aku tunggu didepan." kata Naya.
Raka menghela nafas lelah, sepertinya Naya mendengar percakapan nya dengan Raisa.
Hampir satu jam perjalanan Naya hanya diam saja meskipun Raka mengajaknya ngobrol namun Naya sama sekali tak mengubris hingga saat mereka sampai didepan panti sebelum keluar Naya mengatakan sesuatu.
"Lupakan aku, jangan mengangguku lagi, kau mempunyai seoarang putri pasti kau tak mau jika nanti putrimu bernasib sama denganku kan?".