Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Hasrat Di siang Bolong
Bandung, Jawa Barat.
Di sisi lain pulau, tepatnya di sebuah ruangan mewah di Kota Bandung, Zulaikha tengah menatap tajam pada beberapa lembar foto yang diambil secara diam-diam oleh orang suruhannya. Foto-foto itu memperlihatkan momen kebersamaan antara Abinya dan Yasita di Sulawesi.
Rupanya selama ini sang Abi telah membohonginya.
"Abi ternyata menemui wanita itu... Jahat! Abi jahat!" ucap Zulaikha lirih dengan suara bergetar menahan luapan emosi.
Gadis itu bangkit berdiri, lalu dengan perasaan murka merobek foto-foto di tangannya hingga menjadi serpihan tak berbentuk. "Yasita! Awas kamu ya... dasar perempuan sialan!" makinya berang.
Dengan napas memburu, Zulaikha segera meraih gawai di atas meja untuk menelepon seseorang. Begitu sambungan terhubung, dia langsung memberi perintah. "Halo. Tolong pesankan saya tiket pesawat sekarang juga. Tujuan Sulawesi," ucapnya dingin tak terbantahkan.
Satu minggu kemudian, di Sulawesi.
Waktu terus bergulir. Sejak insiden pertengkaran dan kesalahpahaman di dekat pasar hari itu, sikap Jalal justru berubah menjadi semakin lembut dan penuh perhatian kepada Yasita. Bahkan, pria matang itu memberikan sebuah kejutan manis untuk Jayan dengan membelikan bocah kecil itu sebuah sepeda roda tiga yang baru. Dengan hati yang riang gembira, Jayan tampak asyik mengayuh sepeda barunya ke sana kemari.
Pagi menjelang siang ini, suasana di samping halaman rumah Yasita terlihat sangat ramai. Para pekerja bangunan tampak begitu bersemangat mendirikan pondasi untuk tempat penyulingan minyak nilam yang modalnya ditanggung penuh oleh Jalal. Di halaman depan, ibu-ibu tetangga juga terlihat berkumpul meriah; sebagian ada yang asyik mengobrol, dan ada pula yang bersantai sambil mencari kutu rambut.
Sementara itu di dalam kamar, Yasita justru merasakan hal yang berbeda pada tubuhnya. Entah mengapa, hari ini bawaannya sangat malas melakukan aktivitas apa pun. Tubuhnya terasa lemas dan dia hanya ingin terus berbaring diam di atas ranjang.
"Pak!" panggil Yasita dengan suara kencang dari dalam kamar. Namun, tidak ada sahutan dari luar.
Yasita akhirnya menghela napas, bangkit dari tempat tidur lalu melangkah gontai mendekati jendela kamar. Dari balik kaca, dia bisa melihat keberadaan sang mama yang sedang berkumpul bersama ibu-ibu tetangga.
"Mak! Di mana bapaknya Jayan?" tanya Yasita sedikit berteriak.
Mamanya menoleh ke arah jendela. "Itu, ada di sebelah samping, sedang memantau pekerja!" jawab sang mama.
"Tolong panggilkan dia, Mak," ucap Yasita pelan, lalu segera menutup kembali daun jendela dan berjalan kembali untuk berbaring di kasur.
Tidak lama setelah dia merebahkan diri, terdengar suara gerendel pintu kamar yang dibuka dari luar.
"Sayang?" panggil Jalal melangkah masuk.
"Hemm... sini, Pak," sahut Yasita lirih sembari melambaikan tangannya, memberi isyarat agar suamiku mendekat.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak ikut keluar?" tanya Jalal sembari mendekat. Pria itu kemudian mendudukkan tubuh tegapnya tepat di sisi ranjang, menatap heran ke arah Yasita yang sudah membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. "Kenapa siang-siang begini malah selimutan? Memangnya tidak panas?"
"Pak, ke sini... deket-deket sini," ucap Yasita dengan nada manja yang menggemaskan.
Jalal tersenyum lembut melihat tingkah manja istrinya, lalu menggeser duduknya menjadi semakin rapat. "Pak, masuk ke dalam selimut sama-sama yuk!" ajak Yasita kemudian.
Jalal seketika mengernyitkan dahinya bingung. Bukannya menjawab, Yasita justru mengerlingkan matanya nakal. Jemari lentiknya bergerak meraih tangan kekar Jalal, lalu dengan berani menuntun telapak tangan suaminya itu masuk ke dalam selimut, tepat ke arah aset kembar miliknya.
Manik mata Jalal seketika membulat sempurna. "Sayang? Kamu... tidak pakai baju?" tanya pria itu terkejut dengan jakun yang naik turun.
Yasita menggelengkan kepala sembari tersenyum misterius. Rupanya sebelum Jalal masuk ke kamar tadi, dia sudah menanggalkan seluruh pakaiannya satu per satu, menyembunyikan tubuh polosnya di balik kehangatan kain selimut. Dengan gerakan perlahan yang teramat menggoda, Yasita menurunkan batas selimutnya hingga sebatas dada, memamerkan keindahan belahan dadanya yang begitu memikat di depan mata suaminya.
"Pak, tiba-tiba saya ingin sekali..." bisik Yasita dengan nada suara yang teramat sensual.
Jalal menelan salivanya dengan susah payah. 'Duh, siang-siang bolong disuguhi pemandangan seindah dan seenak ini, pria mana yang sanggup menolak?' batinnya bersorak.
Tanpa membuang waktu lagi, Jalal segera merundukkan tubuhnya, menempelkan wajah tampannya tepat di atas aset kembar milik istrinya. "Ah... Pak, tolong mainkan..." ujar Yasita melirih pasrah.
Jalal mengangguk dalam diam. Dengan intensitas yang perlahan meningkat, dia mulai menyesap kuat pucuk keindahan milik Yasita, membuat wanita di bawahnya itu spontan mengerang nikmat dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
"Ah, Yas... saya benar-benar menginginkannya. Apa tidak apa-apa jika kita melakukannya di siang hari seperti ini?" tanya Jalal dengan suara rendah dan serak, sementara lidahnya dengan begitu lihai terus memainkan area sensitif Yasita, membuat istrinya itu memejamkan mata saking terbuainya.
"Iya, Pak, tidak apa-apa... saya sangat menginginkannya sekarang," bisik Yasita parau dengan napas yang mulai memburu.
Seakan mendapatkan lampu hijau yang sah, pria matang itu lantas bergerak cekatan melucuti pakaiannya sendiri hingga tak bersisa. Dia kemudian menyusup masuk ke dalam kungkungan selimut tebal, menyatukan kedua tubuh mereka yang sudah terbakar gairah, mengabaikan keriuhan suasana di luar sana demi menuntaskan hasrat cinta yang membuncah.