NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas

Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh publik Indonesia akhirnya tiba. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh ratusan wartawan, aktivis hukum, hingga masyarakat umum yang penasaran ingin melihat akhir dari skandal besar yang menimpa keluarga Narendra.

Di dalam ruang sidang utama yang dingin, ketegangan terasa begitu pekat.

Arka Narendra duduk di kursi terdakwa dengan setelan kemeja putih tahanan yang kebesaran di tubuhnya yang kini kian kurus. Di sampingnya, Sheila duduk dengan selimut tipis yang menutupi bagian bawah tubuhnya, wajahnya yang tanpa riasan tampak sangat pucat dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Sementara itu, Siska Narendra dihadirkan menggunakan kursi roda khusus medis di sudut meja penasihat hukum.

Di barisan kursi pengunjung paling depan, Vira Mahendra duduk dengan sangat anggun. Ia mengenakan terusan berpotongan blazer berwarna biru navy yang memberikan kesan tegas sekaligus elegan. Di samping kirinya, Adrian Atmadja hadir mendampingi dengan wibawa seorang kaisar bisnis, menggenggam erat jemari Vira di atas pangkuannya tanpa peduli pada kilatan kamera wartawan. Di sebelah kanan Vira, Reno duduk dengan tatapan tajam yang terkunci penuh pada Arka.

"Sidang Pembacaan Vonis untuk Kasus Perampasan Aset, Pemalsuan Dokumen Otentik, dan Percobaan Pembunuhan Berencana atas nama Terdakwa I Arka Narendra, Terdakwa II Sheila, dan Terdakwa III Siska Narendra dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum." seru Hakim Ketua sembari mengetuk palu sidang tiga kali. Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan palu itu bagai lonceng kematian bagi keluarga Narendra.

Hakim Ketua perlahan membacakan berkas putusan setebal ratusan halaman. Rekam medis asli dari Dokter Sarah mengenai racun menahun yang merusak rahim Davira, kesaksian penolakan operasi, bukti pemalsuan klausa warisan pasal 7, hingga rekayasa medis yang dilakukan Sheila dan Pengacara Hotma dibacakan satu per satu tanpa ada yang terlewat.

"Mengadili..." suara Hakim Ketua bergema keras di seluruh sudut ruangan. "Menyatakan Terdakwa I Arka Narendra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen otentik, penelantaran berat, dan penyertaan dalam percobaan pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa I selama 18 TAHUN PENJARA."

Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya menetes membasahi kemeja putihnya. Tubuhnya gemetar hebat, menyadari bahwa usia mudanya akan habis di balik sel besi.

"Menyatakan Terdakwa II Sheila terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan konspirasi pemalsuan dokumen, penyuapan tenaga kesehatan, dan perintangan peradilan. Menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa II selama 12 TAHUN PENJARA."

"Nggak, Nggak mungkin." jerit Sheila histeris dari kursi terdakwa. "Anakku. Aku harus melahirkan di luar. Tolong aku Hakim. Ini tidak adil."

Namun Hakim Ketua tidak menghentikan bacaannya. "Dan menyatakan Terdakwa III Siska Narendra bersalah sebagai otak perencana pemalsuan dokumen warisan dan peracunan berencana. Menjatuhkan pidana penjara selama 15 TAHUN PENJARA dengan perintah perawatan medis di bawah pengawasan Lembaga Pemasyarakatan."

Tok! Tok! Tok!

Palu sidang diketuk untuk terakhir kalinya, menandai berakhirnya dinasti Narendra yang busuk secara permanen di mata hukum.

Saat para terdakwa mulai digiring oleh petugas sipir menuju mobil tahanan di luar gedung pengadilan, Arka sempat menghentikan langkahnya di koridor utama. Dengan borgol yang mengikat kedua pergelangan tangannya, Arka menatap Vira yang berjalan melintas didampingi oleh Adrian dan Reno.

"Vira..." panggil Arka dengan suara yang sangat serak, pecah oleh penyesalan yang teramat dalam.

Vira menghentikan langkahnya. Dia berbalik perlahan, menatap Arka tanpa ada rasa benci maupun dendam yang tersisa di matanya hanya ada tatapan kosong seolah Arka hanyalah orang asing yang tak berarti.

"Aku... aku minta maaf, Vira." bisik Arka dengan air mata yang terus meleleh di pipinya. "Aku tahu aku bajingan... aku tahu aku tidak pantas diampuni. Tapi tolong... maafkan aku..."

Vira menatap mantan suaminya itu sejenak, lalu mengulas seulas senyuman tipis yang sangat dingin.

"Aku sudah memaafkanmu sejak hari di mana aku melepaskan nama Davira, Arka." ucap Vira dengan suara yang begitu tenang namun mengintimidasi. "Tapi maaf tidak bisa menghapus hukuman hukum dan hukum tabur tuai yang harus kamu bayar. Selamat menikmati masa mudamu di dalam penjara."

Vira membalikkan tubuhnya, meletakkan tangannya di atas lengan tegap Adrian Atmadja. Mereka berjalan keluar menuju pintu utama gedung pengadilan, meninggalkan Arka yang meraung menangis di bawah kawalan ketat petugas sipir.

***

Dua minggu setelah persidangan yang bersejarah itu, suasana di kota Zurich, Swiss, terasa teramat sejuk dan menenangkan.

Di sebuah vila privat berarsitektur kayu modern di pinggir Danau Zurich, pegunungan salju tampak megah membingkai pemandangan dari balik jendela kaca besar. Wangi cokelat hangat dan kayu bakar berbaur manis di dalam ruangan.

Elvano sedang berlari riang di halaman rumput hijau bersama seekor anjing ras Golden Retriever baru milik keluarga Atmadja, tawa renyahnya membumbung tinggi di udara sore yang segar.

Di balkon lantai dua, Vira Mahendra berdiri menyandarkan tubuhnya di pagar kayu, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Sebuah mantel bulu tebal berwarna putih membungkus tubuh anggunnya dengan hangat.

Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar dari belakang, memeluk pinggang Vira dengan sangat lembut namun posesif. Adrian Atmadja menyandarkan dagunya di bahu Vira, membiarkan embusan napas hangatnya menyentuh kulit leher wanita itu.

"Apa yang sedang kamu lamunkan, Ratu-ku?" bisik Adrian dengan suara baritonnya yang rendah dan teramat hangat.

Vira tersenyum, menyandarkan kepalanya ke dada bidang Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang terasa begitu konstan dan menenangkan.

"Aku cuma memikirkan... betapa ajaibnya takdir," sahut Vira lembut. "Tiga tahun lalu aku merasa hidupku telah berakhir di atas ranjang rumah sakit itu. Tapi hari ini... aku berdiri di sini, memiliki Reno, memiliki Elvano, dan..."

Vira menolehkan kepalanya, menatap sepasang mata elang Adrian yang memancarkan cinta yang begitu dalam dan mutlak padanya. "...memilikimu, Adrian."

Adrian mengulas senyuman paling menawan di wajah tampannya. Pria yang dulunya dikenal bagai es abadi di dunia bisnis itu kini menatap Vira dengan kelembutan yang tiada tara.

Adrian merubah posisinya, memutar tubuh Vira agar menghadapnya secara penuh. Dari saku jasnya, Adrian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah marun. Begitu dibuka, sebuah cincin berlian bermata biru kraf yang sangat langka dan indah berkilauan di bawah sinar matahari sore.

"Davira Mahendra... atau Vira Mahendra," ucap Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata Vira dengan ketulusan yang sempurna. "Masa lalumu yang kelam sudah selesai. Hari ini, di depan danau ini, aku ingin memintamu untuk menjadi bagian dari masa depanku. Maukah kamu menjadi istriku, menjadi ibu bagi Elvano, dan menjadi pendamping hidupku selamanya?"

Vira menahan napasnya sejenak. Air mata kebahagiaan, air mata tulus pertama setelah bertahun-tahun perlahan menetes membasahi pipinya yang kemerahan. Dia tidak lagi merasa menjadi wanita rapuh yang terbuang, melainkan seorang ratu yang telah menemukan tempatnya kembali.

Vira mengangguk perlahan dengan senyuman terindah yang pernah ia ukir dalam hidupnya. "Ya... aku mau, Adrian."

Adrian menyunggingkan senyum puas, menyelipkan cincin berlian itu ke jari manis Vira, lalu meraih tubuh Vira ke dalam pelukan hangatnya dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir wanita yang sangat dicintainya itu.

Di bawah langit Swiss yang membiru, dendam masa lalu telah terbayar lunas tanpa sisa, dan sebuah lembaran kisah cinta yang megah dan abadi resmi dimulai.

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!