Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bertemu di Halte
Sore itu hujan baru saja reda, menyisakan udara sejuk dan genangan air di sepanjang jalan raya depan kantor. Jam pulang kerja sudah lewat tiga puluh menit, dan Rima berjalan cepat menuju halte bus yang berjarak lima ratus meter dari gerbang kantor. Ia memeluk erat tas bahunya di depan dada. Di dalamnya ada buku sketsa penuh gambar, berkas tugas yang harus diperiksa di rumah, dan dompet sisa uang jajan minggu ini.
Bagi Rima yang masih anak magang dengan uang saku terbatas, naik bus kota adalah pilihan paling masuk akal. Apalagi halte ini langsung melewati jalan besar menuju daerah kostnya. Sesampainya di sana, halte sudah penuh sesak oleh karyawan kantor lain dan warga sekitar yang menunggu kendaraan.
"Harus hati-hati nih sama tasnya," lagi-lagi Rima berbicara sendiri sambil memposisikan diri di pinggir agak tidak terlalu padat. "Jangan sampai buku sketsaku tertekan atau basah terkena cipratan air."
Ia menempelkan tas erat di tubuhnya, membiarkan punggungnya menghadap jalan raya, sementara matanya memperhatikan deretan kendaraan yang lewat. Beberapa taksi berwarna biru dan kuning melaju pelan. Lalu ada mobil mewah berwarna hitam mengkilap jenis mobil yang sering ia lihat di area parkir bawah tanah kantor.
Tepat saat itu, sebuah mobil sedan hitam itu melambat karena kemacetan di depan halte. Posisi mobil berhenti tepat di sebelah tempat Rima berdiri. Kaca jendela samping perlahan turun, dan pandangan mata mereka berpapasan.
Di kursi pengemudi duduk Andre. Ia tampak berbeda tanpa jas resmi. Hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang dilipat sampai siku, memperlihatkan jam tangan berwarna perak di pergelangan tangannya. Wajahnya tetap tenang dan dingin, tapi kali ini tidak seketat saat di kantor.
Rima kaget sejenak, refleks ingin melambaikan tangan, tapi segera teringat pesan Bu Tia dan Pak Dino. Tetap sopan dan jaga jarak, meski di luar kantor.
Ia segera menundukkan kepala perlahan sebagai tanda salam hormat, persis seperti yang biasa ia lakukan saat berpapasan di lorong kantor. Tubuhnya sedikit membungkuk, matanya menatap ujung sepatunya sendiri, berusaha tidak menatap terlalu lama atau terlihat terlalu akrab.
Di dalam mobil, Andre melihat sikap gadis itu. Ia melihat Rima yang berdiri berdesakan di antara orang banyak, wajahnya sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi tangannya tetap melindungi tas bahunya dengan sangat hati-hati seolah itu harta paling berharga. Ia juga melihat bagaimana Rima segera menunduk sopan begitu menyadari keberadaannya. Tidak berteriak, tidak memanggil, tidak berusaha mendekat atau meminta tumpangan. Hanya salam hormat yang sopan dan menjaga jarak.
Andre menatapnya sebentar, sekitar dua detik, lalu mengangguk sangat pelan. Hanya gerakan rahang yang hampir tak terlihat sebagai balasan. Ia tidak berhenti lama, tidak menurunkan kaca lebih jauh, dan tidak memanggil namanya. Saat lampu hijau menyala, mobil perlahan melaju kembali dan menghilang di balik kerumunan kendaraan lain.
Rima baru berani mengangkat kepala setelah mobil itu benar-benar menjauh. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke tiang halte.
"Wah... deg-degan juga ternyata ketemu di luar kantor," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. "Tapi dia sopan kok. Cuma melirik sebentar, nggak bikin canggung."
Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil, Andre sempat melihat lewat kaca spion tengah sampai sosok Rima tak terlihat lagi.
"Pak, Kenapa Bapak tidak tawarkan tumpangan saja ke mbak Rima? Kebetulan searah juga kan?" tanya Dino yang duduk di kursi penumpang samping.
Andre menyalakan lampu sein saat akan berbelok. "Itu halte resmi. Dia menunggu kendaraan umum seperti warga lain. Kalau saya berhenti lama atau menawarkan tumpangan, orang lain akan salah paham. Lagipula..." ia berhenti sejenak, "dia sudah menunjukan sikap yang tepat. Menghormati batasan jabatan, meski di tempat umum."
"Tapi Bapak lihat kan Pak? Dia berdiri di pinggir jalan yang agak becek dan banyak kendaraan lewat," tambah Dino pelan. "Tasnya juga terlihat berat sekali."
Andre mengangguk samar. "Saya tahu. Tapi kemandirian juga bagian dari proses belajarnya. Dia harus terbiasa dengan kondisi seperti ini sebelum mampu mencapai posisi yang lebih baik."
Meskipun begitu, Dino melihat ujung bibir Andre yang sedikit melunak. "Bapak mulai sering memperhatikan mbak Rima ya Pak?"
"Dino saya memperhatikan semua karyawan yang bekerja di bawah tim saya," jawab Andre singkat, meski nada bicaranya tidak lagi setegas tadi. "Dia punya semangat yang patut diapresiasi."
Sementara itu di halte, bus yang ditunggu akhirnya datang. Rima naik dengan hati-hati, membayar tarif dengan uang pas, lalu berdiri di dekat pintu belakang. Sepanjang perjalanan ia menatap keluar jendela, pikirannya melayang pada pertemuan singkat tadi.
"Senang rasanya," ucap Rima di dalam hatinya. "Paling tidak dia tidak menganggap saya menyusahkan di mana pun saya berada. Mulut saya memang kadang berlebihan, tapi saya berusaha tetap sopan."
Ia memeluk tasnya lebih erat lagi, berjanji dalam hati untuk terus bekerja keras, belajar banyak hal, dan suatu hari nanti bisa membuktikan bahwa ia layak berada di perusahaan ini. Bukan sekadar anak magang yang sering bikin kekacauan, tapi pekerja yang bisa diandalkan di mana saja.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏