NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pukul tiga dini hari. Apartemen lantai teratas di Distrik Barat itu diselimuti keheningan yang pekat, hanya menyisakan suara dengung halus dari sistem pendingin ruangan dan ketukan konstan rintik hujan yang kini bercampur kabut tipis di luar kaca jendela.

Aura terbangun dari tidurnya di kamar utama. Kamar itu terlalu besar, terlalu asing, dan aroma maskulin khas kayu cendana milik Devan yang tertinggal di bantal membuatnya sulit untuk memejamkan mata kembali. Setelah membalikkan tubuh beberapa kali, ia akhirnya memutuskan untuk bangkit. Mengenakan kaos oblong putih longgar dan celana kain abu-abu yang ia temukan di lemari, Aura melangkah keluar kamar dengan niat mengambil segelas air hangat dari dapur.

Namun, begitu pintu kamarnya bergeser terbuka, ia mendapati ruang tengah penthouse tidak sepenuhnya gelap. Layar monitor besar di sudut ruangan menyala temaram, menampilkan peta digital dengan beberapa grafik frekuensi gelombang radio yang naik turun.

Di depan monitor itu, Devan duduk dengan punggung tegak. Ia tidak lagi mengenakan kaos oblong hitamnya, melainkan sebuah kemeja taktis kelabu yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan guratan tato sulur hitam yang melingkari lengan bawahnya hingga ke punggung tangan. Di atas meja kaca di sampingnya, sebuah pistol semi-otomatis berwarna hitam pekat tergeletak dalam kondisi terurai sebagian, tampak sedang dibersihkan.

Aura menghentikan langkahnya di pembatas karpet. "Kamu belum tidur?" bisiknya lirih, takut suaranya memecah keheningan yang rapuh ini.

Devan tidak menoleh, namun tangannya yang sedang merakit kembali komponen laras pistol bergerak dengan ritme yang sangat konsisten. "Gue gak biasa tidur kalau sistem keamanan sekunder kota lagi fluktuatif, Ra. Di dunia gue, tidur terlalu nyenyak bisa berarti gak akan pernah bangun lagi."

Aura berjalan mendekati area dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah. Ia mengisi gelas kaca dengan air dari dispenser, lalu berdiri bersandar pada meja konter, memperhatikan gerakan jemari Devan yang begitu terlatih.

"Kenzo mana?" tanya Aura, menyadari suasana lantai bawah sepi.

"Dia dan Bram lagi di ruang server distrik bawah," jawab Devan, mengunci bagian slide pistolnya dengan bunyi klik logam yang tegas. Ia meletakkan senjata api itu, lalu memutar kursinya menghadap Aura. Sepasang mata elangnya tampak sedikit lelah, namun binar waspadanya sama sekali tidak memudar. "Mereka lagi menelusuri draf digital lo yang sempat diblokir dari rektorat. Gavin Mahendra ternyata menyewa peretas dari luar pulau untuk menyusup ke database kampus. Mereka bener-bener agresif."

Aura menyesap air hangatnya, merasakan kecemasan kembali merayap di dadanya. "Apa mereka akan tahu kalau draf itu sengaja disembunyikan oleh klanmu?"

"Mereka sudah tahu," Devan berdiri, berjalan mendekati meja konter dapur dengan langkah yang begitu ringan hampir tanpa suara. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh meja marmer hitam. "Gavin tahu persis cuma klan Bratadikara yang punya kapabilitas buat mengintervensi server universitas sebesar Ganesha dalam hitungan jam. Sandiwara pacaran kita pagi tadi... di satu sisi mengalihkan tuduhan kalau lo adalah informan hukum gue, tapi di sisi lain, itu bikin Gavin makin penasaran seberapa berharganya lo buat gue."

Devan condong ke depan, menumpu kedua tangannya di atas meja marmer, menatap Aura yang berada di hadapannya. "Dia pikir lo adalah kelemahan gue, Ra. Dan bagi seorang Mahendra, menemukan kelemahan Bratadikara adalah sinyal untuk melakukan serangan total."

Sebelum Aura sempat membalas, sebuah lampu indikator merah di sudut monitor besar tiba-tiba berkedip cepat, dibarengi dengan bunyi alarm frekuensi tinggi yang tertahan—hanya berupa getaran elektronik yang berulang tiga kali.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

Wajah Devan seketika berubah mengeras. Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat diantisipasi oleh mata Aura, Devan berbalik, menyambar pistolnya dari meja kaca, dan langsung mematikan seluruh sakelar lampu utama penthouse melalui panel dinding. Ruangan seketika jatuh ke dalam kegelapan total, hanya menyisakan pendaran merah dari layar monitor.

"Devan? Ada apa?" Aura panik, hampir saja menjatuhkan gelas kacanya kalau saja tangan kiri Devan tidak bergerak cepat menahan pergelangan tangannya.

"Diam," desis Devan rendah di dekat telinga Aura, napas hangatnya berbaur dengan ketegangan yang mendadak mencekik udara ruangan. "Sistem perimeter bawah tanah baru saja ditembus. Lift pribadi kita dipaksa naik dari lantai dasar tanpa otentikasi retina Kenzo."

Aura merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Orang-orang Gavin Mahendra berhasil melacak tempat ini. Sistem keamanan tingkat tinggi apartemen mewah ini ternyata bisa ditembus.

"Ikut gue. Jangan lepas dari punggung gue," perintah Devan, suaranya sangat dingin namun penuh kepastian yang mutlak.

Devan menarik Aura mundur menuju koridor sempit yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang penyimpanan darurat di bagian belakang penthouse. Tangan Devan yang menggenggam pergelangan tangan Aura terasa begitu dingin dan kokoh, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menjaga gadis itu agar tidak jatuh ke dalam kepanikan total.

Ting.

Suara bel lift pribadi di ujung ruang tengah bergema, menandakan pintu besi tebal itu telah terbuka di lantai mereka. Melalui celah dinding koridor, Aura bisa melihat siluet tiga pria bertubuh tegap dengan pakaian taktis hitam dan topeng balaklava melangkah keluar dari lift. Di tangan mereka, senapan serbu laras pendek dengan peredam suara sudah terkokang.

"Cari kamarnya. Bos bilang bawa cewek itu hidup-hidup, tapi habisi Bratadikara kalau dia melawan," sebuah suara berat berbisik dalam bahasa sandi klan Mahendra.

Devan yang berdiri di balik bayangan dinding koridor tidak menunggu musuh mendekat. Ia melepaskan genggamannya pada Aura secara perlahan, memberikan isyarat agar gadis itu berjongkok di balik lemari besi penyimpanan berkas.

"Tetap di sini, Ra. Jangan bersuara," bisik Devan, nyaris tak terdengar.

Aura mengangguk cepat, menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.

Devan melangkah keluar dari bayangan dengan kecepatan yang mengerikan. Sebelum salah satu penyusup menyadari keberadaannya, Devan sudah menembakkan pistol peredam suaranya dua kali.

Pft. Pft.

Dua suara letupan peluru yang terendam berbunyi, disusul oleh tumbangnya dua pria bertopeng di dekat sofa tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun. Pria ketiga yang tersisa langsung memutar tubuhnya, mengarahkan senjatanya ke arah Devan, namun Devan jauh lebih cepat. Ia menerjang maju, mencengkeram laras senapan musuh, memutarnya ke atas hingga tembakan melesat buta menghantam langit-langit beton, lalu menghantamkan gagang pistolnya keras-keras ke pelipis pria itu.

Pria ketiga itu jatuh tersungkur, pingsan seketika di atas lantai marmer. Seluruh pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh detik—sebuah demonstrasi efisiensi yang mematikan dari seorang pewaris klan mafia utama.

Devan berdiri di tengah ruangan yang remang-remang, napasnya sedikit memburu. Ia memeriksa magasin pistolnya, memastikan situasi aman, lalu berbalik kembali ke arah koridor tempat Aura bersembunyi.

"Aura, keluar. Kita harus pergi sekarang," kata Devan, suaranya kembali ke nada datar yang dingin namun protektif.

Aura keluar dari balik lemari besi, tubuhnya gemetar hebat melihat tiga tubuh yang tergeletak di ruang tengah. Ini bukan lagi sekadar gertakan di gudang pelabuhan atau intimidasi di koridor kampus; ini adalah upaya pembunuhan nyata yang terjadi hanya beberapa meter dari tempatnya tidur.

Devan berjalan mendekati Aura, melihat betapa pucatnya wajah gadis itu. Tanpa memedulikan aturan jarak fisik yang sempat mereka sepakati semalam, Devan langsung menarik tubuh Aura ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Aura ke dadanya, menghalangi pandangan gadis itu dari pemandangan mengerikan di ruang tengah.

"Gue di sini, Ra. Lo aman," bisik Devan, tangannya mengelus rambut Aura dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aksi mematikannya beberapa detik lalu. "Bram dan Kenzo sudah mengamankan jalur evakuasi di tangga darurat. Kita keluar dari sini sekarang."

Di dalam dekapan dada tegap Devan, di tengah aroma sisa mesiu dan minyak senjata, Aura merasakan air matanya menetes pelan menembus kain kemeja kelabu cowok itu. Ia menyadari bahwa sejak malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Sandiwara di kampus Ganesha telah menjelma menjadi perang nyata, dan satu-satunya tempat teraman baginya di seluruh kota ini adalah di dalam perlindungan lengan sang monster yang kini sedang mendekapnya erat.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!