NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hidup yang berubah

Tiga hari telah berlalu sejak malam itu. Bagi dunia luar, tidak ada yang berubah. Matahari tetap terbit dan terbenam seperti biasa, kota tetap sibuk dengan aktivitasnya, dan kehidupan terus berjalan sesuai ritmenya. Namun bagi dua orang yang terlibat dalam kesepakatan itu, semuanya telah berubah secara mendasar baik secara lahir maupun batin.

Di ruang rawat rumah sakit, suasana kini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi rasa cemas yang menyelimuti, tidak ada lagi pertanyaan kapan uang akan terkumpul atau apakah ayahnya akan mendapatkan perawatan yang layak. Semua beban itu telah lenyap sepenuhnya.

Laras duduk di samping tempat tidur ayahnya, tersenyum melihat Pak Harjo yang kini terlihat jauh lebih segar dan tenang. Berkat perawatan terbaik yang didapatkan, kondisi fisiknya perlahan membaik, dan dokter sudah memberikan perkiraan yang positif untuk masa pemulihannya.

“Kau terlihat jauh lebih tenang akhir-akhir ini, Nak,” kata Pak Harjo lembut sambil menatap putrinya dengan pandangan penuh perhatian. “Semua tagihan sudah lunas, dan perawatannya pun terasa jauh lebih lengkap dari sebelumnya. Katakan pada Ayah, bagaimana kau bisa mengatur semuanya begitu cepat? Apakah ada bantuan yang datang dari seseorang?”

Laras menunduk sejenak, meremas ujung selimut dengan jari-jarinya. Ia teringat janji kerahasiaan yang ia ucapkan pada Raka. Ia tidak boleh menceritakan apa pun soal kesepakatan itu, siapa orangnya, atau apa yang terjadi malam itu. Namun ia juga tidak ingin berbohong pada ayahnya sendiri.

“Memang ada bantuan, Yah,” jawabnya pelan namun jujur. “Seseorang yang tahu keadaan kita dan bersedia menolong tanpa meminta imbalan apa pun. Saya sudah berjanji untuk tidak menyebutkan namanya, tapi yang pasti semuanya sah dan aman. Kita tidak perlu khawatir lagi soal biaya apa pun ke depannya.”

Pak Harjo mengangguk perlahan, seolah memahami ada hal yang tidak bisa dibahas lebih jauh. Ia menjulurkan tangannya dan memegang telapak tangan Laras. “Asalkan kau melakukannya dengan cara yang benar dan tidak merugikan dirimu sendiri, Ayah percaya padamu. Hanya satu hal yang selalu Ayah ingatkan: jagalah harga dirimu, apa pun yang terjadi. Itu adalah harta paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.”

Kalimat itu menusuk hati Laras, namun ia mengangguk mantap. “Saya tahu, Yah. Saya tetap menjaganya, percayalah.”

Meskipun beban materi telah hilang, ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri: pikirannya terus melayang kembali ke malam itu, ke kediaman yang luas, ke cerita-cerita yang dibagikan, dan ke sosok pria yang terlihat kuat namun menyimpan kesepian yang mendalam. Setiap kali ada waktu luang, wajah Raka selalu terbayang di matanya, dan rasa rindu yang aneh sering kali muncul tanpa diminta.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya rasa terima kasih, bukan perasaan lain. Bahwa ia harus melupakan semuanya dan melanjutkan hidupnya yang baru—hidup yang kini memiliki keamanan dan kenyamanan yang cukup untuknya dan ayahnya.

Ia pun mulai mengatur langkah ke depan. Sebagian besar dana yang diterimanya ia simpan dengan bijak, hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari dan perawatan ayahnya. Ia berencana untuk membuka usaha kecil-kecilan setelah ayahnya cukup sehat untuk pulang ke rumah, agar ia tidak hanya bergantung pada uang yang ada. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa membangun masa depannya sendiri, sesuai ajaran ayahnya selama ini.

Namun di sisi lain, di tempat yang jauh dan terpisah, kehidupan Raka juga mengalami perubahan yang tak terduga.

Sejak pagi hari saat Laras pergi, suasana di kediaman besar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Raka kembali ke rutinitasnya yang padat—rapat demi rapat, pengambilan keputusan besar, mengawasi jalannya ribuan cabang usahanya yang tersebar di seluruh negeri. Secara lahiriah, ia tetap menjadi Raka Dirgantara yang sama: tegas, dingin, dan penuh kendali, membuat semua orang di sekitarnya segan dan hormat.

Namun orang-orang terdekatnya mulai menyadari ada perubahan halus pada diri bos mereka. Ia sering kali terlihat melamun, menatap keluar jendela tanpa fokus, atau berhenti berbicara di tengah rapat seolah teringat sesuatu. Kadang-kadang, ia akan memegang gelas teh yang biasa ia gunakan semalam itu, atau berjalan tanpa sadar menuju ruang tengah tempat mereka menghabiskan waktu bersama.

“Tuan Raka, apakah ada yang mengganggu pikiran Anda akhir-akhir ini?” tanya Bimo, asisten kepercayaannya selama bertahun-tahun, saat keduanya sedang sendirian di ruang kerja. “Selama tiga hari ini Anda terlihat tidak sepenuhnya hadir dalam pekerjaan. Ada masalah yang perlu saya tangani?”

Raka menoleh perlahan, mengusap wajahnya dengan tangan, lalu menghela napas panjang. “Tidak ada masalah bisnis, Bimo. Semua berjalan sesuai rencana. Hanya saja… rasanya ada sesuatu yang hilang.”

Bimo mengerutkan keningnya bingung. “Sesuatu yang hilang? Apa yang bisa hilang dari tempat ini? Segala kebutuhan dan fasilitas sudah tersedia lengkap.”

“Bukan benda,” jawab Raka lirih. “Lebih kepada perasaan. Selama ini saya berpikir bahwa setelah memberikan apa yang ia butuhkan, saya akan merasa lega dan kembali seperti biasa. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Semakin hari, pikiran saya terus kembali padanya. Saya ingin tahu apakah ayahnya sudah membaik, apakah ia hidup dengan tenang, apakah ia bahagia…”

Bimo baru menyadari maksud bosnya. “Anda merindukan gadis itu, Tuan?”

Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk jujur. “Sepertinya begitu. Awalnya saya pikir itu hanya rasa terima kasih sesaat. Tapi ternyata, kehadirannya telah membuka bagian hati yang sudah lama saya kunci rapat. Sekarang setelah ia pergi, bagian itu terasa kosong lagi, bahkan terasa lebih kosong dari sebelumnya.”

“Kalau begitu, mengapa tidak Anda cari saja keberadaannya? Hubungi dia, tanyakan kabarnya, atau bahkan undang dia bertemu lagi,” usul Bimo dengan wajar. “Anda punya kemampuan untuk melakukannya.”

Namun Raka segera menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kita sudah membuat kesepakatan yang jelas. Setelah matahari terbit, semuanya selesai. Saya tidak boleh mengganggu hidupnya lagi. Dia berhak mendapatkan ketenangan dan hidup normal, jauh dari dunia saya yang penuh intrik, bahaya, dan rahasia gelap. Jika saya mendekatinya lagi, itu hanya akan membawanya masuk ke dalam masalah yang tidak seharusnya ia hadapi.”

“Tapi apakah Anda yakin dia juga menginginkan jarak itu?” tanya Bimo lagi. “Mungkin dia juga merasakan hal yang sama, tapi menahan diri karena janji.”

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam. Ia tidak tahu pasti. Ia hanya mengingat tatapan mata Laras saat berpamitan—tatapan yang terasa sedih dan berat, bukan hanya sekadar rasa terima kasih biasa. Namun ia tidak berani mengambil risiko. Baginya, menjaga jarak adalah cara terbaik untuk melindungi gadis itu.

Namun takdir rupanya memiliki rencana sendiri, yang tidak mengikuti keinginan atau kesepakatan keduanya.

Pada sore hari keempat, saat Raka sedang menerima laporan perkembangan bisnis dari berbagai daerah, sebuah kabar tak terduga masuk ke meja kerjanya. Wajah Bimo yang biasanya tenang kini terlihat serius dan sedikit khawatir saat menyerahkan laporan tertulis itu.

“Ada hal yang perlu Anda ketahui segera, Tuan,” kata Bimo dengan nada rendah. “Ada kelompok investor asing yang selama ini ingin menguasai lahan perkebunan dan kawasan hutan lindung yang berbatasan dengan desa tempat tinggal Nona Laras. Selama ini mereka terhalang oleh peraturan dan izin resmi, tapi sekarang mereka mulai menggunakan cara-cara yang tidak jujur—menyuap pejabat, mengancam warga, dan mencoba memalsukan dokumen kepemilikan.”

Mendengar nama Laras disebut, perhatian Raka langsung terpusat sepenuhnya. Ia membaca laporan itu dengan cepat, dahinya mengerut makin dalam saat membaca detailnya. Jika kelompok itu berhasil, maka ratusan keluarga warga desa akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya. Dan tentu saja, Laras serta ayahnya juga akan terkena dampak langsungnya.

“Mereka berani sekali melakukannya secara terang-terangan?” gumam Raka dengan nada dingin yang mulai muncul kembali. “Apa alasan yang mereka gunakan?”

“Mereka mengklaim memiliki hak guna usaha atas nama perusahaan yang baru didirikan, padahal dokumennya penuh kecacatan. Tapi mereka punya dukungan dari pihak yang cukup berpengaruh, sehingga pengaduan warga belum mendapatkan tanggapan yang jelas,” jelas Bimo. “Jika tidak ditangani dengan cepat, dalam waktu satu minggu mereka bisa mulai mengusir warga dan membabat habis lahan itu.”

Raka meletakkan kertas laporan itu di atas meja, lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela. Pikirannya berputar cepat. Di satu sisi ia berjanji tidak akan mengganggu kehidupan Laras lagi. Namun di sisi lain, jika ia diam saja, gadis itu dan keluarganya bisa kembali terjebak dalam kesulitan yang bahkan lebih berat dari sebelumnya.

Ia sadar, ia tidak bisa hanya berdiam diri dan menonton dari jauh. Bukan hanya karena ia merindukan Laras, tapi juga karena ia tahu betapa kejamnya dunia bisnis yang ia jalani—bagi orang yang lemah dan tidak punya dukungan, keadilan sering kali sulit didapatkan.

“Kumpulkan semua bukti yang ada, lengkapi dengan dokumen hukum dan peraturan yang berlaku,” perintah Raka dengan nada tegas dan berwibawa. “Kita akan turun tangan menangani ini. Tapi ingat, jangan sampai nama saya terlibat secara terbuka dulu. Kita cari cara yang tepat agar warga mendapatkan haknya tanpa mengungkit hubungan apa pun antara saya dan Laras.”

Bimo mengangguk mengerti, namun matanya sedikit tersenyum melihat tekad yang muncul kembali pada diri bosnya. “Baik, Tuan. Saya akan atur semuanya secepat mungkin.”

Saat Bimo keluar ruangan, Raka kembali menatap langit yang mulai berwarna jingga di ufuk barat. Ia tahu, keputusannya ini mungkin akan melanggar batas yang ia buat sendiri. Namun ia juga sadar, bahwa perasaan yang tumbuh di hatinya tidak bisa dipadamkan hanya dengan memutuskan hubungan.

“Maafkan aku, Laras,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Aku berusaha menjaga jarak, tapi sepertinya takdir ingin mempertemukan kita kembali. Kali ini, aku tidak hanya akan menjadi pemberi bantuan semalam saja. Aku akan memastikan kau dan keluargamu aman, apa pun yang terjadi.”

Dan di tempat lain, Laras yang sedang merapikan barang-barang di rumah sewaannya setelah mendapat izin pulang sementara dari dokter, tiba-tiba merasakan ada firasat yang aneh. Ia berhenti sejenak, memegang dadanya yang terasa berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu bahwa di balik ketenangan yang baru ia dapatkan, sebuah badai baru sedang mendekat, dan sosok yang ia coba lupakan akan segera kembali masuk ke dalam hidupnya—kali ini bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tapi sebagai pelindung yang siap berjuang

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!