Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
Fajar baru di tahun 2042 menyingsing dengan warna kemerahan yang tidak biasa, terbias melalui lapisan tipis polusi udara dan sisa-sisa partikel spiritual yang kian menebal di atmosfer Jakarta. Di dalam ruang aula bawah tanah Kota Tua yang terisolasi dari peradaban modern, Arkana Wijaya perlahan berdiri dari posisi meditasinya. Getaran energi dari Dantian-nya telah kembali tenang, menandakan bahwa sisa energi yang terkuras setelah melakukan alkimia massal tempo hari telah pulih sepenuhnya ke kondisi puncak ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga.
Di hadapannya, Dani masih sibuk mengunyah sebungkus ransum nutrisi instan sambil terus mengawasi baris-baris kode biner yang berjalan di atas layar holografik. Tangan pemuda bertubuh tegap itu bergerak dengan kecepatan yang tidak lagi bisa disamakan dengan manusia biasa fana. Peningkatan refleks ke ranah Body Tempering Tingkat Dua membuat koordinasi motorik Dani melesat tajam, memungkinkannya mengontrol tiga antarmuka siber sekaligus tanpa mengalami kelelahan mental.
"Arka, transaksi final untuk tanah di lembah Gunung Salak udah selesai lima menit yang lalu," kata Dani tanpa menoleh, suaranya terdengar berat dan mantap. "Semua dokumen kepemilikan telah dialihkan ke 'Yayasan Lentera Nusantara', salah satu dari tujuh perusahaan cangkang anonim yang gua buat. Pemerintah atau Biro Keamanan Khusus gak bakal curiga karena yayasan ini terdaftar sebagai lembaga konservasi botani mandiri. Secara hukum siber tahun 2042, wilayah itu sekarang sepenuhnya berada di bawah otoritas privat kita."
Lisa, yang sedang mengemas tiga botol giok berisi Pil Pengumpul Bakat ke dalam tas taktisnya, menoleh ke arah Arkana dengan tatapan serius. Rambut hitamnya yang dikuncir kuda bergerak seiring dengan langkah kakinya yang anggun. Energi elemen kayu murni yang mengalir di dalam meridiannya semenjak menembus Body Tempering Tingkat Satu memberikan aura ketenangan alami yang sangat kontras dengan peralatan militer di sekitarnya.
"Gua akan berangkat ke Bogor pagi ini menggunakan jalur darat non-komersial untuk menghindari pemindai retina di stasiun kereta cepat," ucap Lisa, memastikan posisi botol-botol giok itu aman di dalam kompartemen tersembunyi. "Tiga puluh anak muda yang sudah gua seleksi melalui jaringan panti asuhan akan tiba di lokasi secara bertahap dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan. Mereka semua adalah individu yang tersisih oleh sistem medis modern karena dianggap cacat neurologis, padahal sebenarnya tubuh mereka menolak implan siber akibat potensi spiritual yang tinggi."
Arkana mengangguk perlahan, sepasang mata peraknya memancarkan kedalaman batin seorang penguasa sejati. Pergerakan mereka saat ini, mulai dari pengumpulan sumber daya hingga pembentukan faksi bayangan. Tahapan awal ini adalah fondasi krusial yang tidak boleh goyah sedikit pun sebelum seluruh tatanan dunia baru berganti menjadi perang faksi yang terbuka.
"Ingat, Lisa. Begitu mereka tiba di markas Gunung Salak, jangan langsung membagikan pil tersebut," instruksi Arkana dengan nada dingin namun penuh perhitungan. "Biarkan mereka melewati ujian ketahanan fisik dan mental terlebih dahulu selama tiga hari di bawah pengawasan lo. Faksi kita, yang kelak akan berdiri di puncak era kebangkitan energi ini, tidak membutuhkan orang-orang yang hanya mencari kekuatan instan. Kita membutuhkan kesetiaan mutlak dan tekad sekeras baja."
"Gua paham, Arka. Ujian itu akan menyaring siapa yang benar-benar siap menjadi pilar pertama kita," jawab Lisa dengan anggukan mantap sebelum akhirnya melangkah keluar dari aula bawah tanah, menghilang di balik pintu besi kuno yang langsung tersamarkan oleh formasi ilusi.
Setelah Lisa pergi, Arkana berbalik menatap Dani yang mendadak menghentikan ketukan jarinya di atas keyboard virtual. Wajah Dani tampak menegang, dan lampu neon biru pada kacamata sibernya berkedip-kedip cepat.
"Ada apa, Dan?" tanya Arkana, merasakan firasat buruk yang sempat mengusik batinnya beberapa jam lalu kini kembali menguat.
"Arka... sistem peringatan dini yang gua tanam di jaringan pelacak kampus Universitas Nusantara baru saja mendeteksi aktivitas aneh," kata Dani, memproyeksikan sebuah peta digital kompleks dari area kampus Jakarta Barat ke udara tengah aula. "Ada tiga protokol komunikasi militer terenkripsi yang mendadak aktif di dalam area fakultas lo. Sinyalnya sangat samar, menggunakan enkripsi tingkat tinggi yang biasanya hanya dipakai oleh unit intelijen taktis kepresidenan."
Dani memperbesar titik koordinat merah yang berkedip tepat di atas atap Gedung Rektorat dan area kantin Fakultas Teknik Informatika.
"Dua titik di permukaan, bergerak konstan mengitari rute kelas lo. Dan satu titik statis di puncak gedung tertinggi kampus... Arka, frekuensi radiasi dari titik statis itu menunjukkan adanya perangkat optik bertenaga kuantum. Itu adalah posisi Sniper siber. Seseorang sedang memasang jaring laba-laba di kampus lo, dan lo adalah lalat yang sedang mereka tunggu untuk berjalan masuk."
Arkana menatap proyeksi holografik itu tanpa ada riak kepanikan di wajahnya. Tudung jaket hitamnya ditarik sedikit ke belakang, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas. Sebagai mahasiswa berusia dua puluh tahun yang menyembunyikan identitas sebagai Silver Flash, Arkana tahu bahwa menghindar atau melarikan diri hanya akan menegaskan kecurigaan militer bahwa dirinya adalah orang yang mereka cari selama ini.
"Jika gua gak datang kuliah hari ini setelah absen beberapa kali, mereka akan langsung mengunci status gua sebagai tersangka utama insiden Alun-Alun Fatahillah," ucap Arkana tenang, memutar Cincin Kaisar Abadi di jarinya dengan perlahan. "Biro Keamanan Khusus mengira mereka bisa memburu gua dengan teknologi kuantum mereka. Mereka ingin bermain jebakan siber di dunia akademis? Mari kita lihat seberapa kuat jaring yang mereka buat."
"Lo gila, Ka? Ada penembak jitu dengan peluru pelebur jiwa di atas sana!" seru Dani dengan nada cemas. "Satu tembakan dari senapan elektromagnetik kaliber berat itu bisa menghancurkan lapisan pelindung baja, apalagi tubuh manusia!"
"Itu jika tembakan mereka bisa mengenai gua," jawab Arkana dengan senyuman tipis yang sarat akan arogansi seorang kultivator tertinggi. "Dani, tetap di sini dan kunci semua sistem pertahanan aula. Jangan intervensi jaringan kampus kecuali gua yang meminta. Gua akan pergi ke kampus sebagai mahasiswa biasa bernama Arkana Wijaya."
Atmosfer Mencekam di Universitas Nusantara
Satu jam kemudian, Arkana melangkah melewati gerbang utama Universitas Nusantara. Lingkungan kampus pagi itu tampak berjalan normal seperti biasa di permukaan. Ratusan mahasiswa berjalan tergesa-gesa di koridor terbuka, sebagian besar dari mereka mengenakan kacamata siber atau memiliki lengan mekanis ringan hasil modifikasi genetik yang lumrah di tahun 2042. Suara dengung rendah dari drone pembersih otomatis dan taksi terbang yang melintas di langit menciptakan latar belakang suara yang bising.
Namun, di mata Arkana, semua kenormalan ini hanyalah ilusi dangkal. Begitu kakinya menyentuh lantai paving blok kampus, indra spiritual dari ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga langsung menyebar luas bagikan radar tak kasat mata. Radius seratus meter di sekitarnya terekam sempurna dalam kesadarannya.
Ia bisa merasakan distorsi udara tipis di puncak Gedung Rektorat yang berjarak dua ratus meter dari posisinya—sebuah laras senapan penembak jitu yang diselimuti medan kamuflase optik sedang bergerak lambat, mengikuti setiap langkah kakinya dari kejauhan. Arkana sengaja menekan seluruh aliran Qi di dalam tubuhnya menggunakan Teknik Kamuflase Napas Kaisar, membuat fluktuasi energinya benar-benar nol, tampak seperti manusia fana biasa yang tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Saat berjalan melewati koridor menuju ruang kuliah Fakultas Teknik Informatika, tiga orang mahasiswa mengenakan jaket organisasi kemahasiswaan berwarna merah marun mendadak muncul dari belokan koridor dan berjalan langsung ke arahnya. Dua laki-laki dan satu perempuan. Langkah kaki mereka tampak santai, namun Arkana bisa mendengar detak jantung mereka yang terlalu stabil dan teratur untuk ukuran mahasiswa biasa—sebuah indikasi bahwa mereka telah melewati pelatihan kontrol emosi tingkat militer.
"Hei, Arkana! Akhirnya lo masuk kuliah juga!" seru mahasiswa laki-laki yang berada di tengah, berpura-pura akrab sambil menepuk pundak Arkana dengan cukup keras. Nama di lencana digitalnya tertulis Dimas.
Saat telapak tangan Dimas menyentuh pundak Arkana, sebuah gelombang kejut mikro yang sangat halus dipancarkan dari balik jam tangan sibernya. Itu adalah alat pemindai meridian portabel tersembunyi yang dirancang untuk mendeteksi apakah subjek memiliki sirkulasi energi Qi tersembunyi di dalam tubuhnya.
Arkana tidak menghindari tepukan tersebut. Dalam sepersekian detik sebelum gelombang pemindai menembus kulitnya, ia memanipulasi tiga tetes cairan Qi Primordial-nya untuk mundur jauh ke bagian terdalam tulang sumsumnya, membiarkan lapisan luar otot dan dagingnya terasa kosong dan lemah seperti manusia biasa.
Bzzz...
Jam tangan siber Dimas memberikan getaran pendek yang hanya bisa dirasakan oleh penggunanya. Hasil pemindaian: Negatif. Target adalah manusia fana murni tanpa modifikasi siber atau energi internal.
Kilat kekecewaan yang sangat tipis melintas di mata Dimas sebelum ia kembali tersenyum lebar. "Lo ke mana aja seminggu ini, Bro? Pak Bambang nyariin lo terus karena proyek tugas akhir kelompok kita belum lo submit ke server fakultas. Kita semua sampai cemas lo kenapa-napa."
Mahasiswi di sampingnya, bernama Reva, ikut mendekat dengan tatapan mata yang tajam, mencoba membaca setiap perubahan ekspresi mikro di wajah Arkana. "Iya nih, Arka. Apalagi belakangan ini Jakarta lagi gak aman banget semenjak ada insiden teroris siber di Puri Indah dan Kota Tua itu. Otoritas militer bahkan pasang pos pemeriksaan di mana-mana. Lo gak terlibat masalah hukum atau organisasi radikal kan?"
Pertanyaan Reva terdengar seperti gurauan biasa antar teman kuliah, namun sebenarnya itu adalah teknik interogasi psikologis verbal yang dirancang untuk memicu lonjakan adrenalin pada target yang bersalah. Jika Arkana menunjukkan keraguan atau kegugupan sekecil apa pun dalam jawaban atau gestur tubuhnya, tim penembak jitu di atas atap akan langsung menerima kode eksekusi untuk melumpuhkannya di tempat.
Arkana menghentikan langkahnya, menatap Dimas dan Reva bergantian dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit bingung dan lelah—sebuah akting sempurna yang didukung oleh kontrol batinnya yang luar biasa.
"Gua cuma sakit tifus siber biasa, Dim, Rev," jawab Arkana, suaranya terdengar agak serak dan meyakinkan. "Imun tubuh gua drop karena begadang seminggu penuh buat coding modul AI untuk tugas akhir kita. Gua bahkan gak tahu kalau ada insiden besar di Kota Tua semalam karena gua tidur seharian setelah minum obat dosis tinggi dari klinik 24 jam di dekat kosan gua."
Arkana merogoh saku celananya dan menunjukkan sebuah riwayat resep obat digital fiktif di layar gawainya—yang tentu saja sudah disiapkan oleh Dani beberapa jam lalu dengan meretas database klinik kesehatan lokal secara ilegal.
Dimas menerima gawai tersebut, memeriksa validitas sertifikat digital medis itu selama beberapa detik sebelum mengembalikannya dengan anggukan perlahan. "Oh, pantesan muka lo kelihatan pucat banget, Ka. Sori ya kalau kita sempat mikir yang aneh-aneh. Maklum, situasi kota lagi tegang banget sekarang."
"Gak apa-apa, gua paham kok," kata Arkana sambil tersenyum tipis. "Gua duluan ya, mau ke ruang kelas sebelum Pak Bambang tutup pintunya."
"Sip, sampai ketemu di kelas nanti, Bro!" jawab Dimas sambil melambaikan tangannya.
Pembalasan Senyap di Balik Tirai Jendela
Begitu Arkana berjalan menjauh dan berbelok di ujung koridor, senyuman di wajah Dimas dan Reva seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang tanpa emosi. Dimas menyentuh anting siber di telinga kanannya, mengaktifkan saluran komunikasi terenkripsi langsung ke tim penembak jitu di atas atap Gedung Rektorat.
"Melapor kepada Kapten di pusat kendali. Pemindaian fisik dan interogasi psikologis tahap awal terhadap target Arkana Wijaya telah selesai," ucap Dimas dengan nada datar. "Hasil sensor menunjukkan tubuhnya seratus persen bersih dari energi Qi atau modifikasi militer. Dokumen medisnya juga valid setelah diverifikasi oleh sistem siber klinik. Kemungkinan besar pemuda ini hanyalah mahasiswa malang yang kebetulan berada di lokasi Puri Indah secara tidak sengaja minggu lalu."
Di seberang jalur radio, suara Kapten terdengar tidak puas. "Tetap awasi dia hingga jam kuliah selesai. Jangan turunkan tingkat siaga. Naluri saya mengatakan ada yang tidak beres dengan ketenangan pemuda itu. Penembak Jitu Satu, tetap kunci posisi target jika dia mendekati jendela luar ruang kelas!"
"Diterima, Kapten. Posisi terkunci," jawab sang penembak jitu dari atas atap Gedung Rektorat, jarinya sudah berada di atas pelatuk senapan elektromagnetik raksasanya.
Sementara itu, di dalam ruang kelas 302 yang berada di lantai tiga Gedung Fakultas Teknik Informatika, Arkana mengambil posisi duduk di barisan paling belakang, tepat di samping sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah Gedung Rektorat. Ruangan kelas mulai dipenuhi oleh puluhan mahasiswa lain, dan dosen paruh baya di depan podium mulai menyalakan proyektor holografik materi kuliah hari itu.
Arkana menatap ke luar jendela. Dari sudut pandang ini, ia bisa melihat siluet tipis dari laras senapan penembak jitu yang mengarah tepat ke arah dadanya melewati celah dedaunan pohon pelindung kampus.
"Biro Keamanan Khusus... kalian benar-benar berpikir bisa mengendalikan segalanya dari atas sana," batin Arkana, sepasang mata peraknya berkilat dingin di balik bayang-bayang tudung jaketnya.
Arkana meletakkan tangan kanannya di bawah meja kuliah. Tanpa menimbulkan gerakan fisik yang mencurigakan, ia mengarahkan jari telunjuknya yang mengenakan Cincin Kaisar Abadi ke arah jendela kaca di sampingnya. Ia tidak berniat melakukan serangan fisik yang akan meledakkan seluruh ruangan ini, melainkan sebuah teknik manipulasi energi spiritual jarak jauh yang disebut Teknik Pembalik Jarum Jiwa.
BZZZZ...
Untai Qi Primordial yang sangat tipis, setipis sehelai rambut dan benar-benar tidak kasat mata oleh sensor siber mana pun, melesat keluar dari ujung jari Arkana, menembus kaca jendela tanpa merusaknya, dan terbang lurus melintasi jarak dua ratus meter di udara terbuka menuju puncak Gedung Rektorat.
Di atas atap Gedung Rektorat, sang penembak jitu elit sedang fokus menatap layar bidik kuantumnya, mencari celah di antara pergerakan mahasiswa di dalam kelas 302. Mendadak, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk bagian belakang lehernya, disusul oleh rasa sakit yang menusuk tajam langsung ke dalam pusat kesadarannya di otak.
"Ugh...!"
Sang penembak jitu mengerang pendek. Pandangan matanya mendadak menjadi buram, dan sekujur tubuhnya menjadi kaku seperti patung batu. Teknik batin Arkana tidak membunuhnya, melainkan mengunci seluruh aliran sistem saraf motorik dan mengganggu sinyal sinkronisasi antara implan siber di otaknya dengan sistem bidik senapannya. Di layar monitor pusat kendali militer, status sang penembak jitu mendadak berubah menjadi Offline akibat malfungsi sistem saraf.
"Penembak Jitu Satu! Laporkan situasi lo! Kenapa status lo mendadak mati?!" suara Kapten berteriak panik di saluran radio komunikasi Dimas dan Reva yang sedang berjalan di koridor bawah.
Dimas dan Reva seketika menghentikan langkah mereka, wajah mereka memucat mendengar kepanikan sang Kapten. Mereka langsung menoleh ke arah Gedung Rektorat, lalu beralih menatap ke arah jendela kelas 302 di lantai tiga. Di balik kaca jendela yang samar, mereka bisa melihat Arkana Wijaya sedang duduk tenang sambil membolak-balik halaman buku teks digitalnya dengan ekspresi tanpa dosa, seolah-olah tidak tahu bahwa jaring laba-laba yang dipasang militer untuk menangkapnya baru saja dihancurkan dari dalam tanpa mereka sadari sama sekali.
Perang urat syaraf di area kampus ini baru saja dimulai, dan sang pewaris tunggal Kaisar Abadi telah membuktikan bahwa teknologi tercanggih di tahun 2042 sekalipun hanyalah butiran debu di hadapan kekuatan batin seorang kultivator sejati.