⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pagi itu, langit di atas Holy Kingdom masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Abu-abu. Dingin. Dengan salju tipis yang terus turun tanpa pernah benar-benar berhenti. Udara terasa lembab dan menusuk tulang, dan setiap napas yang keluar dari mulut berubah menjadi uap putih yang cepat menghilang.
Slamet berdiri di depan tenda logistik, menunggu tugas berikutnya. Kaki kirinya masih sakit, tapi tidak separah sebelumnya. Mungkin karena dia mulai terbiasa. Atau mungkin karena lukanya akhirnya mulai sembuh dengan caranya sendiri. Dia tidak tahu. Tidak peduli.
Di tangannya, sepotong roti keras yang sudah mulai mengeras sejak kemarin. Dia menggigitnya perlahan, mengunyah dengan malas, menatap kosong ke arah pepohonan yang tertutup salju di kejauhan. Suara langkah kaki di atas tanah beku mulai terdengar dari dalam tenda. Beberapa relawan mulai berdatangan, mengantri untuk mengambil jatah makanan atau tugas harian.
Neia muncul dari dalam tenda dengan membawa setumpuk perkamen dan ekspresi yang sedikit lebih tegang dari biasanya. Ada kerutan kecil di antara alisnya—tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Matanya bergerak cepat di atas daftar tugas di tangannya, lalu berhenti pada Slamet.
"Ada kiriman khusus hari ini," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kayu kecil. Ukurannya tidak sebesar kiriman biasanya. Ringan. Tidak seperti obat-obatan atau perlengkapan perang. Kotak itu terlihat lebih rapi dari biasanya, dengan ukiran kecil di tutupnya—pola daun dan sulur yang saling terhubung, seperti lambang keluarga bangsawan.
Slamet menerima kotak itu, lalu menimbangnya sebentar. Kayunya terasa halus di bawah jari-jarinya, tidak seperti kotak biasa yang kasar dan penuh serpihan. Dia membaliknya, melihat bagian bawah yang kosong, lalu kembali ke tutupnya.
"Ini apa?" tanyanya.
"Tidak tahu. Pengirimnya dari ibukota. Seorang bangsawan lokal, katanya. Instruksinya jelas: antarkan ke pos barat, serahkan langsung pada komandan di sana. Jangan sampai dibuka, jangan sampai rusak."
"Oke."
Slamet tidak bertanya lebih lanjut. Dia sudah terbiasa menerima perintah tanpa penjelasan. Yang penting kotak itu sampai tujuan. Urusan apa isinya bukan bagian dari pekerjaannya. Dia menyelipkan kotak itu di bawah lengannya, merasakan beratnya yang ringan—terlalu ringan untuk ukuran kiriman penting.
Neia menatapnya sejenak, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan. Bibirnya bergerak sedikit, seperti hendak menambahkan sesuatu, tapi akhirnya dia hanya mengangguk. Matanya beralih ke langit yang mulai gelap, lalu kembali ke Slamet.
"Berangkat sekarang. Hari mulai gelap."
Slamet berbalik dan mulai berjalan. Sandal jepitnya berbunyi pelan di atas tanah yang membeku. Plak. Plok. Plak. Plok. Jejak kaki kanannya terlihat jelas di salju, sementara kaki kirinya yang telanjang hanya meninggalkan bekas samar yang cepat tertutup oleh salju baru.
Di belakangnya, Neia masih berdiri, memperhatikan punggungnya hingga menghilang di balik pepohonan. Di tangannya, daftar tugas masih tergenggam erat, tapi matanya sudah tidak lagi membacanya.
Pos barat Holy Kingdom terletak di atas bukit kecil yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang tertutup salju. Gerbangnya terbuat dari kayu gelap yang sudah mulai lapuk di beberapa bagian, dengan paku-paku besi berkarat yang menahan papan-papannya tetap utuh. Di atas gerbang, bendera Holy Kingdom berkibar pelan, kainnya yang tipis tampak hampir transparan karena terlalu sering terkena angin dan salju.
Komandan pos barat adalah seorang pria botak dengan kumis tebal dan ekspresi yang selalu tampak kesal. Hari ini ekspresi itu tidak berubah. Dia sedang duduk di depan meja kayu sederhana, memeriksa laporan persediaan dengan alis yang terus mengerut. Di atas meja, tumpukan perkamen berserakan, beberapa di antaranya sudah mulai menguning di ujung-ujungnya.
Seorang kurir masuk ke ruang komandannya tanpa mengetuk. Slamet berjalan dengan langkah malas, meletakkan kotak kayu di atas meja dengan bunyi thud pelan.
"Ada kiriman dari ibukota," katanya, suaranya datar.
Komandan itu mengernyit. "Dari ibukota? Siapa pengirimnya?"
"Gak tahu. Neia bilang bangsawan lokal."
Komandan itu mengangkat kotak itu, memeriksa ukiran di tutupnya. Jari-jarinya yang kasar menyentuh pola daun dan sulur itu dengan hati-hati, seperti sedang mengingat sesuatu. Matanya menyipit, lalu dia membukanya.
Di dalamnya, terlihat beberapa lembar perkamen dan sekantong kecil yang terbuat dari kain tebal, dengan tali kulit yang diikat rapat di lehernya.
Komandan itu membuka kantong itu. Matanya membelalak.
"Ini..."
Dia mengeluarkan isinya. Koin emas. Puluhan koin emas, bersinar di bawah cahaya lilin yang redup, memantulkan kilatan samar ke dinding kayu yang kusam.
"Tidak mungkin," gumamnya, suaranya hampir berbisik. "Ini bukan kiriman untuk pos barat. Ini seharusnya dikirim ke pos timur. Untuk membayar pasokan logistik bulan depan."
Slamet tidak bergerak. Tidak bertanya. Hanya berdiri di sana, menunggu. Di bawah kakinya, lantai kayu terasa dingin menembus sol sandal yang tipis.
Komandan itu menatap Slamet dengan ekspresi campuran antara marah dan bingung. "Kau yakin ini dari Neia?"
"Neia yang ngasih."
"Dan dia bilang ini untuk pos barat?"
"Iya."
Komandan itu menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Dia memasukkan kembali koin-koin itu ke dalam kantong, lalu mengikatnya dengan tali yang rapi, gerakannya lebih hati-hati dari sebelumnya.
"Kau sudah ke pos timur sebelumnya?"
"Sudah."
"Kau tahu jalan ke sana?"
"Tahu."
Komandan itu menatap Slamet beberapa saat, seolah menimbang sesuatu. Matanya bergerak dari wajah Slamet yang datar ke kotak kayu di depannya, lalu kembali ke wajah Slamet.
"Aku bisa mengirim orang lain," katanya perlahan. "Tapi kau sudah di sini. Dan kau tahu jalannya."
Dia mengembalikan kantong koin itu ke dalam kotak kayu dan menutupnya. Gerakannya pelan, seperti sedang menutup sesuatu yang berharga.
"Kembalikan ini ke Neia. Katakan padanya ini salah kirim. Ini bukan untuk pos barat."
Slamet mengangguk. "Oke."
Dia mengambil kotak itu dan berbalik. Tapi komandan itu memanggilnya lagi.
"Hei."
Slamet menoleh.
Komandan itu membuka laci meja di depannya, mengeluarkan sebuah kantung kecil berwarna coklat tua, lalu melemparkannya ke arah Slamet. Kantung itu melayang di udara selama sepersekian detik sebelum jatuh di depan kaki Slamet dengan bunyi klink logam yang khas.
"Ini untuk usaha," kata komandan itu, suaranya sedikit lebih rendah dari sebelumnya. "Kau sudah berjalan jauh."
Slamet menunduk, mengambil kantung itu. Berat. Tidak terlalu berat, tapi terasa berisi. Tali kulit yang mengikatnya terasa halus di tangannya, seperti baru saja diikat. Dia membukanya. Koin emas. Lima atau enam koin. Cukup untuk membeli sandal baru. Mungkin lebih.
"Makasih," katanya datar.
Komandan itu mengangguk, sudah kembali ke laporannya. "Sekarang pergi. Laporkan ke Neia."
Slamet memasukkan kantung itu ke dalam saku celananya—saku yang sama tempat dia menyimpan kertas kuning dari bab 1. Kertas itu masih ada di sana, dingin dan tenang, tidak pernah berubah. Dia merasakan ujung kertas itu di bawah jarinya, lalu mengabaikannya.
Dia berjalan keluar. Di luar, salju masih turun, butiran-butiran putih yang jatuh diam-diam di atas tanah yang sudah membeku.
Slamet berjalan menyusuri jalan setapak yang sama, meninggalkan jejak kaki yang perlahan tertutup salju.
Di tangannya, kotak kayu terasa ringan. Di sakunya, koin-koin emas terasa berat. Cukup berat untuk membuatnya sadar bahwa hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia tidak pernah diberi tip. Tidak pernah diberi apapun selain roti keras dan instruksi.
Hari ini gue dapat uang.
Bukan koin tembaga. Tapi emas.
Banyak.
Gak tahu kenapa.
Tapi lumayan.
Dia berhenti sejenak di tepi jalan, menatap ke arah pepohonan yang tertutup salju. Di antara dahan-dahan yang membeku, seekor burung kecil sedang mengibaskan salju dari sayapnya, lalu terbang menjauh. Slamet mengikuti pandangannya, menatap burung itu sampai menghilang di balik awan abu-abu.
Di sakunya, koin-koin itu bergesekan satu sama lain dengan suara klink pelan setiap kali dia melangkah. Dia mengeluarkan satu koin, menatapnya di telapak tangannya. Emas. Mengkilap. Dengan ukiran kecil di satu sisi—gambar mahkota yang dikelilingi oleh daun-daun. Dia tidak tahu itu lambang apa.
Dia memasukkan koin itu kembali ke sakunya.
Dia tidak tahu harus memakai uangnya untuk apa.
Dia tidak pernah punya uang sebanyak ini.
Di kosan dulu, uang selalu habis untuk makan dan sewa. Tidak ada sisa. Tidak ada yang bisa ditabung. Sekarang dia punya emas. Banyak emas. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.
Dia melanjutkan langkahnya. Salju mulai turun lebih lebat.
Malam hari, tenda logistik.
Slamet menaruh kantung koin emas di samping karung goni yang dia gunakan sebagai bantal. Tali kulit yang mengikatnya sudah sedikit longgar karena dia buka dan ikat kembali beberapa kali. Di bawah cahaya lilin yang redup, koin-koin itu berkilau samar di antara lipatan kain.
Dia merebahkan diri, menarik selimut tipis menutupi perutnya. Kaki kirinya masih terasa hangat—bukan sakit, tapi hangat yang aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah kulit. Dia mengabaikannya.
Di luar, angin malam mulai bertiup lebih kencang, membuat kain tenda bergetar pelan. Suara desir salju yang menempel di permukaan kain mulai terdengar, naik turun mengikuti hembusan angin, seperti sesuatu yang bernapas.
Besok cari sandal baru. Yang lebih kuat. Yang gak putus.
Atau beli makanan. Daging asap yang gak sekeras roti.
Atau...
Pikirannya mulai mengabur. Kelopak matanya menjadi berat.
Ah, sudahlah. Nanti dipikir.
Matanya terpejam. Dengkur mulai terdengar, pelan di awal lalu semakin keras seiring otot-ototnya yang lelah akhirnya mengendur.
Grrrkkkhhh... hufff... grrrkkkhhh...
Koin-koin emas itu tetap terbaring di sampingnya. Tidak ada yang mengambilnya. Tidak ada yang tahu dia memilikinya. Di bawah selimut, garis abu-abu di kaki kirinya sudah mencapai lutut. Dia tidak melihatnya. Tidak merasakannya.
Di tempat lain, di ruang kerja yang jauh, Demiurge masih menatap peta Holy Kingdom, mencari pola yang tidak pernah benar-benar dia temukan. Jari-jarinya mengetuk meja, satu kali, dua kali, tiga kali.
Dan di ibukota, seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya masih menunggu konfirmasi bahwa kiriman uangnya telah sampai ke pos timur. Tidak ada yang tahu bahwa uang itu akan berakhir di saku seorang kurir gembel yang hanya ingin membeli sandal baru.
Di luar, salju terus turun.