Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Orang yang Mau Berjuang
Vira mengambil tiga kemeja dengan warna berbeda, tiga celana jeans, dan sebuah jaket. Ia menumpuk semuanya, lalu menyodorkannya kepada Arvin.
"Nih."
Arvin mengernyit bingung. "Apa ini, Ra?"
"Buat kamu pakai."
"Hah?" Arvin refleks menggeleng. "Gak usah, Ra. Ini mahal. Aku gak punya duit buat bayarnya."
Vira tersenyum tipis. "Justru ini perlu. Bahkan harus."
Arvin masih tampak kebingungan.
"Masak kamu mau jualan pakaian baru, tapi yang dipakai malah baju lusuh?" Vira terkekeh pelan. "Kan gak lucu."
Arvin terdiam.
Ia menatap pakaian-pakaian itu bergantian. Apa yang dikatakan Vira memang masuk akal. Tidak mungkin ia menawarkan pakaian kepada orang lain dengan motor baru, sementara dirinya sendiri masih mengenakan baju yang sudah kusam dan memudar.
Perlahan ia mengangguk. "Baiklah."
Namun sesaat kemudian ia kembali menatap Vira. "Tapi aku bayarnya nyicil ya, Ra."
Vira tersenyum sambil menggeleng. "Gak usah buru-buru. Anggap aja bonus buat semangat kerja."
Arvin membeku sejenak. "Bonus?"
"Iya." Vira tertawa kecil. "Kalau kamu kerja bagus, anggap aja itu hadiah pertama dariku."
Arvin ikut tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Ra."
Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh ketulusan. Seumur hidupnya, ia terbiasa mengenakan pakaian bekas pemberian tetangga. Jangankan membeli beberapa stel baju baru sekaligus, membeli satu potong baju pun harus berpikir berkali-kali.
Arvin memilat kain kemeja yang terasa lembut.
"Hari ini, adalah pertama kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang percaya padaku hingga rela memberinya pekerjaan, motor, sekaligus pakaian yang layak."
Sementara itu, dari sudut ruang tengah, Yanti yang sejak tadi berpura-pura menonton televisi menggertakkan giginya pelan.
"Segitunya dia sama Arvin?" Tatapannya beralih ke tumpukan pakaian di tangan Arvin. "Dibelikan motor baru, dimodali usaha, sekarang dikasih baju baru pula."
Rasa iri perlahan berubah menjadi kebencian.
"Padahal cuma laki-laki miskin yang selalu dipandang sebelah mata." Yanti mengepalkan tangan di atas pangkuannya. "Kalau terus begini..." batinnya, "...Arvin bakal makin dekat sama Vira."
Dan itu adalah hal yang paling tidak ingin ia lihat.
***
Keesokan harinya, Arvin datang mengenakan pakaian baru yang diberikan Vira semalam.
Meski kulitnya masih tampak kusam karena sering bekerja di bawah terik matahari, penampilannya jauh lebih rapi dibanding biasanya. Kemeja baru, celana jeans yang pas di badan, dan jaket tipis membuatnya terlihat jauh lebih percaya diri.
Setelah mengambil beberapa kantong pakaian dagangan dan menyusunnya di atas motor barunya, Arvin menoleh kepada Vira.
"Ra, aku berangkat dulu ya. Doain semoga banyak yang ambil kredit."
Vira mengangguk sambil tersenyum. "Pasti. Selama kamu mau berusaha dan jujur, rezeki pasti ada."
"Iya." Arvin mengenakan helm, lalu menyalakan motor.
Brumm...
Motor itu perlahan keluar dari halaman rumah, membawa harapan baru untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan sang ibu.
Di balik jendela, Yanti mendecak pelan.
"Cih... diantar sampai depan rumah segala. Kayak nganter suami aja. Apaan sih istimewanya si Arvin itu? Badan kurus dekil, rambut udah kayak rambut jagung, miskin pula. Kok bisa-bisanya Vira sampai segitunya."
Tak lama kemudian, suara motor lain memasuki halaman.
Brumm...
Vira menoleh dan tatapan yang tadi hangat perlahan berubah datar.
Daril.
Motor yang dulu dibelikan Vira itu kini tampak kusam. Bodi motornya dipenuhi goresan kecil, spion sebelah kanan retak, sementara suara mesinnya terdengar lebih kasar karena jarang diservis.
Daril memarkir motornya, lalu berjalan menghampiri Vira dengan senyum tipis yang sama sekali tak sampai ke matanya.
"Wah... hebat juga kamu, Ra."
Vira tetap berdiri di balik etalase.
"Beli motor baru. Buka usaha baru pula." Daril tertawa pendek. "Kemarin waktu aku minta modal usaha, kamu bilang gak ada uang."
Tatapannya mulai menajam. "Bahkan waktu aku bilang kamu jadi pemodal, aku yang keliling jualan, kamu tetep nolak."
Daril melirik ke arah jalan yang baru saja dilalui Arvin. "Sekarang..." ucapnya sambil tersenyum sinis, "kamu malah beliin motor baru buat Arvin, kasih dia baju baru, terus dijadiin sales."
Ia menatap Vira lurus. "Kamu sengaja, ya?"
Vira mengembuskan napas pelan. "Sengaja apanya?"
"Sengaja mempermalukan aku," jawab Daril cepat.
Kening Vira sedikit berkerut.
"Kamu nolak aku mentah-mentah," lanjut Daril. "tapi semua yang aku minta malah kamu kasih ke Arvin." Nada suara Daril semakin dingin. "Apa ini cara kamu nunjukin kalau aku lebih rendah dari dia?"
Vira menatap Daril beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Kamu salah paham."
"Oh ya?" Senyum Daril makin sinis.
"Aku gak pernah membandingkan kamu sama Arvin," ucap Vira dengan nada terkontrol.
Jawaban itu membuat wajah Daril sedikit melunak. Namun ucapan Vira berikutnya justru menghantam egonya.
"Karena memang gak perlu dibandingkan."
Senyum Daril perlahan menghilang.
"Arvin datang membawa kemauan untuk bekerja." Vira melanjutkan dengan tenang. "Sedangkan kamu datang membawa daftar permintaan."
Daril langsung mengepalkan tangan.
"Arvin gak pernah minta dibeliin motor. Dia bahkan berkali-kali menolak. Tapi kamu..." Vira menatap mantan pria yang dicintainya itu lurus. "Belum mulai usaha saja sudah minta semua disiapkan."
Rahang Daril mengeras.
"Aku gak sedang pilih kasih." Vira mengambil jeda sesaat. "Aku cuma memilih berinvestasi pada orang yang mau berjuang, bukan pada orang yang merasa berhak menerima."
Daril mengangkat telunjuknya ke arah Vira. "Kamu pasti bakal nyesal."
"Tidak akan," jawab Vira tegas dan penuh keyakinan.
"Kalau ada satu hal yang benar-benar kusesali..." Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah Daril. "...itu adalah pernah mencintai pria yang salah."
Wajah Daril langsung menegang.
"Pria yang hanya ingin menumpang hidup dariku. Yang menganggapku mesin ATM. Yang menikmati semua perhatian dan pengorbananku, tetapi tidak pernah benar-benar menghargainya."
Suasana mendadak hening.
Tanpa menunggu tanggapan Daril, Vira berbalik. Ia kembali menyusun barang-barang dagangannya, memisahkan produk yang masa kedaluwarsanya sudah dekat, lalu memasukkannya ke dalam kardus.
Sikap itu membuat Daril merasa semakin diabaikan. Rahangnya mengeras. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju motornya.
Brumm...
Suara mesin motor perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah Vira.
Barulah Vira mengangkat wajah. Tatapannya mengikuti motor itu hingga menghilang di tikungan jalan.
"Betapa bodohnya aku dulu..." gumamnya lirih. "Sudah mencintai orang yang salah, aku juga rela mengorbankan hampir seluruh hidupku untuknya."
Vira mengepalkan tangan pelan.
"Untungnya, kali ini aku masih diberi kesempatan." Ia mengembuskan napas panjang. "Aku lebih memilih hidup sendiri daripada menghabiskan sisa hidup bersama pria yang hanya ingin memanfaatkan dan menghancurkanku."
Sementara itu, Daril menghentikan motornya di sebuah tempat yang sepi. Tak lama kemudian, dua pria bertubuh kekar datang menghampirinya.
Daril menyelipkan sesuatu ke tangan salah seorang dari mereka. Pria itu melirik isi amplop tersebut, lalu tersenyum tipis. "Tenang. Urusan ini bakal beres."
Sudut bibir Daril perlahan terangkat. "Asal jangan sampai gagal."
Kedua pria itu saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.
"Percayakan saja sama kami."
Daril menatap ke arah jalan desa dengan sorot mata dingin. "Kali ini..." gumamnya lirih. "...aku akan membuat Vira benar-benar menyesal telah menolakku."
...✨"Jangan berikan kesempatan kepada orang yang merasa berhak menerima. Berikan kepada mereka yang mau berjuang untuk mendapatkannya."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..