NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:68.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Orang yang Mau Berjuang

Vira mengambil tiga kemeja dengan warna berbeda, tiga celana jeans, dan sebuah jaket. Ia menumpuk semuanya, lalu menyodorkannya kepada Arvin.

"Nih."

Arvin mengernyit bingung. "Apa ini, Ra?"

"Buat kamu pakai."

"Hah?" Arvin refleks menggeleng. "Gak usah, Ra. Ini mahal. Aku gak punya duit buat bayarnya."

Vira tersenyum tipis. "Justru ini perlu. Bahkan harus."

Arvin masih tampak kebingungan.

"Masak kamu mau jualan pakaian baru, tapi yang dipakai malah baju lusuh?" Vira terkekeh pelan. "Kan gak lucu."

Arvin terdiam.

Ia menatap pakaian-pakaian itu bergantian. Apa yang dikatakan Vira memang masuk akal. Tidak mungkin ia menawarkan pakaian kepada orang lain dengan motor baru, sementara dirinya sendiri masih mengenakan baju yang sudah kusam dan memudar.

Perlahan ia mengangguk. "Baiklah."

Namun sesaat kemudian ia kembali menatap Vira. "Tapi aku bayarnya nyicil ya, Ra."

Vira tersenyum sambil menggeleng. "Gak usah buru-buru. Anggap aja bonus buat semangat kerja."

Arvin membeku sejenak. "Bonus?"

"Iya." Vira tertawa kecil. "Kalau kamu kerja bagus, anggap aja itu hadiah pertama dariku."

Arvin ikut tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Ra."

Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh ketulusan. Seumur hidupnya, ia terbiasa mengenakan pakaian bekas pemberian tetangga. Jangankan membeli beberapa stel baju baru sekaligus, membeli satu potong baju pun harus berpikir berkali-kali.

Arvin memilat kain kemeja yang terasa lembut.

"Hari ini, adalah pertama kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang percaya padaku hingga rela memberinya pekerjaan, motor, sekaligus pakaian yang layak."

Sementara itu, dari sudut ruang tengah, Yanti yang sejak tadi berpura-pura menonton televisi menggertakkan giginya pelan.

"Segitunya dia sama Arvin?" Tatapannya beralih ke tumpukan pakaian di tangan Arvin. "Dibelikan motor baru, dimodali usaha, sekarang dikasih baju baru pula."

Rasa iri perlahan berubah menjadi kebencian.

"Padahal cuma laki-laki miskin yang selalu dipandang sebelah mata." Yanti mengepalkan tangan di atas pangkuannya. "Kalau terus begini..." batinnya, "...Arvin bakal makin dekat sama Vira."

Dan itu adalah hal yang paling tidak ingin ia lihat.

***

Keesokan harinya, Arvin datang mengenakan pakaian baru yang diberikan Vira semalam.

Meski kulitnya masih tampak kusam karena sering bekerja di bawah terik matahari, penampilannya jauh lebih rapi dibanding biasanya. Kemeja baru, celana jeans yang pas di badan, dan jaket tipis membuatnya terlihat jauh lebih percaya diri.

Setelah mengambil beberapa kantong pakaian dagangan dan menyusunnya di atas motor barunya, Arvin menoleh kepada Vira.

"Ra, aku berangkat dulu ya. Doain semoga banyak yang ambil kredit."

Vira mengangguk sambil tersenyum. "Pasti. Selama kamu mau berusaha dan jujur, rezeki pasti ada."

"Iya." Arvin mengenakan helm, lalu menyalakan motor.

Brumm...

Motor itu perlahan keluar dari halaman rumah, membawa harapan baru untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan sang ibu.

Di balik jendela, Yanti mendecak pelan.

"Cih... diantar sampai depan rumah segala. Kayak nganter suami aja. Apaan sih istimewanya si Arvin itu? Badan kurus dekil, rambut udah kayak rambut jagung, miskin pula. Kok bisa-bisanya Vira sampai segitunya."

Tak lama kemudian, suara motor lain memasuki halaman.

Brumm...

Vira menoleh dan tatapan yang tadi hangat perlahan berubah datar.

Daril.

Motor yang dulu dibelikan Vira itu kini tampak kusam. Bodi motornya dipenuhi goresan kecil, spion sebelah kanan retak, sementara suara mesinnya terdengar lebih kasar karena jarang diservis.

Daril memarkir motornya, lalu berjalan menghampiri Vira dengan senyum tipis yang sama sekali tak sampai ke matanya.

"Wah... hebat juga kamu, Ra."

Vira tetap berdiri di balik etalase.

"Beli motor baru. Buka usaha baru pula." Daril tertawa pendek. "Kemarin waktu aku minta modal usaha, kamu bilang gak ada uang."

Tatapannya mulai menajam. "Bahkan waktu aku bilang kamu jadi pemodal, aku yang keliling jualan, kamu tetep nolak."

Daril melirik ke arah jalan yang baru saja dilalui Arvin. "Sekarang..." ucapnya sambil tersenyum sinis, "kamu malah beliin motor baru buat Arvin, kasih dia baju baru, terus kamu jadiin sales."

Ia menatap Vira lurus. "Kamu sengaja, ya?"

Vira mengembuskan napas pelan. "Sengaja apanya?"

"Sengaja mempermalukan aku," jawab Daril cepat.

Kening Vira sedikit berkerut.

"Kamu nolak aku mentah-mentah," lanjut Daril. "tapi semua yang aku minta malah kamu kasih ke Arvin." Nada suara Daril semakin dingin. "Apa ini cara kamu nunjukin kalau aku lebih rendah dari dia?"

Vira menatap Daril beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Kamu salah paham."

"Oh ya?" Senyum Daril makin sinis.

"Aku gak pernah bandingin kamu sama Arvin," ucap Vira dengan nada terkontrol.

Jawaban itu membuat wajah Daril sedikit melunak. Namun ucapan Vira berikutnya justru menghantam egonya.

"Karena memang gak perlu dibandingkan."

Senyum Daril perlahan menghilang.

"Arvin datang bawa kemauan buat kerja." Vira melanjutkan dengan tenang. "Sedangkan kamu datang bawa daftar permintaan."

Daril langsung mengepalkan tangan.

"Arvin gak pernah minta dibeliin motor. Dia bahkan berkali-kali nolak. Tapi kamu..." Vira menatap mantan pria yang dicintainya itu lurus. "Belum mulai usaha aja udah minta semua disiapin."

Rahang Daril mengeras.

"Aku gak sedang pilih kasih." Vira mengambil jeda sesaat. "Aku cuma milih berinvestasi pada orang yang mau berjuang, bukan pada orang yang merasa berhak nerima."

Daril mengangkat telunjuknya ke arah Vira. "Kamu pasti bakal nyesel."

"Tidak akan," jawab Vira tegas dan penuh keyakinan.

"Kalau ada satu hal yang benar-benar kusesali..." Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah Daril. "...itu adalah pernah mencintai pria yang salah."

Wajah Daril langsung menegang.

"Pria yang hanya ingin numpang hidup dariku. Yang nganggep aku mesin ATM. Yang menikmati semua perhatian dan pengorbananku, tetapi gak pernah benar-benar menghargainya."

Suasana mendadak hening.

Tanpa menunggu tanggapan Daril, Vira berbalik. Ia kembali menyusun barang-barang dagangannya, memisahkan produk yang masa kedaluwarsanya sudah dekat, lalu memasukkannya ke dalam kardus.

Sikap Vira itu membuat Daril merasa semakin diabaikan. Rahangnya mengeras. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju motornya.

Brumm...

Suara mesin motor perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah Vira.

Barulah Vira mengangkat wajah. Tatapannya mengikuti motor itu hingga menghilang di tikungan jalan.

"Betapa bodohnya aku dulu..." gumamnya lirih. "Sudah mencintai orang yang salah, aku juga rela ngorbanin hampir seluruh hidup dan hartaku buat dia."

Vira mengepalkan tangan pelan.

"Untungnya, kali ini aku masih diberi kesempatan." Ia mengembuskan napas panjang. "Aku lebih milih hidup sendiri daripada menghabiskan sisa hidup sama pria yang cuma mau manfaatin aku dan menghancurkanku."

 

Sementara itu, Daril menghentikan motornya di sebuah tempat yang sepi. Tak lama kemudian, dua pria bertubuh kekar datang menghampirinya.

Daril menyelipkan sesuatu ke tangan salah seorang dari mereka. Pria itu melirik isi amplop tersebut, lalu tersenyum tipis. "Tenang. Urusan ini bakal beres."

Sudut bibir Daril perlahan terangkat. "Asal jangan sampai gagal."

Kedua pria itu saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.

"Percayakan saja sama kami."

Daril menatap ke arah jalan desa dengan sorot mata dingin. "Kali ini..." gumamnya lirih. "...aku akan membuat Vira benar-benar menyesal telah menolakku."

 

...✨"Jangan berikan kesempatan kepada orang yang merasa berhak menerima. Berikan kepada mereka yang mau berjuang untuk mendapatkannya."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!