Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di balik celah pintu yang sedikit renggang, Kania menyaksikan seluruh adegan dramatis itu dengan mata yang menyala penuh kebencian.
Rencananya untuk menghancurkan mental Liana dan membatalkan pernikahan justru berbalik menjadi momen pengikat batin antara Kenzo dan wanita itu.
"Sial!! Kenapa dia tidak mati saja bersama anak haram itu!" gumam Kania dengan suara tertahan, giginya gemertak menahan amarah yang membakar dada.
Menyadari keberadaannya di mansion ini sudah tidak ada artinya lagi—dan bisa menjadi bumerang jika Kenzo memergokinya—Kania berbalik dengan langkah tergesa-gesa.
Dengan sisa harga diri yang hancur, ia meninggalkan kediaman mewah sang pimpinan Black Cobra, menyimpan dendam kesumat yang semakin mendalam di hatinya.
Sementara itu di dalam kamar, suasana mendadak menjadi begitu hening dan damai.
Hanya terdengar suara ritmis dari tetesan cairan infus yang menyelamatkan nyawa calon anak mereka.
Kenzo duduk di tepi ranjang, menatap wajah polos Liana yang tengah terlelap.
Sisa-sisa air mata dan rona merah di pipi wanita itu akibat gosokan kasar tadi memicu rasa bersalah yang teramat besar di dada Kenzo.
Ia mengulurkan tangannya yang kekar, dengan perlahan dan penuh kelembutan merapikan anak rambut yang menempel di dahi Liana yang berkeringat.
Kenzo kemudian menundukkan badannya, mendekatkan wajahnya, dan mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh takzim di kening calon istrinya.
"Maafkan aku karena sempat membuatmu ragu, Sayang," bisik Kenzo lirih di dekat telinga Liana yang masih pingsan.
"Tidurlah. Tiga jam lagi, saat kamu membuka mata, aku akan memastikan kamu menjadi satu-satunya wanita yang paling berharga di duniaku."
Setelah hampir tiga jam berlalu dalam keheningan kamar yang damai, perlahan-lahan kesadaran Liana mulai kembali.
Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah langit-langit kamar yang familier, disusul oleh sesosok pria yang duduk setia di tepi ranjang, menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut.
Kenzo tersenyum hangat ke arah Liana, gurat kecemasan yang tadi memenuhi wajah tampannya kini telah menguap sepenuhnya.
"Sudah baikan?" tanya Kenzo dengan suara baritonnya yang pelan, hampir berupa bisikan agar tidak mengejutkan wanita itu.
Liana terdiam sejenak, merasakan kondisi tubuhnya yang jauh lebih ringan.
Rasa kram hebat di perut bawahnya sudah hilang total. Ia pun menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Melihat kondisi Liana yang sudah membaik, Kenzo mengusap kepala wanita itu dengan penuh kasih.
"Kalau begitu... ayo kita lanjutkan acaranya. Paman Bunga sudah menunggu di bawah."
Bukannya beranjak, Liana justru memalingkan wajahnya ke samping dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Bibirnya mengerucut sebal saat ingatan sebelum ia pingsan mendadak berputar kembali di otaknya.
"Nggak mau," ketus Liana lirih. "Bukankah kata kamu... aku ini boti jalanan yang lagi cari mangsa?"
Mendengar sindiran itu keluar dari bibir ranum Liana, Kenzo langsung tertawa kecil.
Suara tawa rendahnya menggema di kamar itu, terdengar begitu renyah dan geli mengingat ucapan blak-blakannya saat panik tadi.
Kenzo memajukan tubuhnya, menangkup lembut pipi Liana yang masih sedikit kemerahan, lalu memaksa wanita itu untuk kembali menatap matanya.
"Sayang, kamu itu wanita tulen yang paling cantik di mataku. Sama sekali bukan boti," ucap Kenzo dengan tatapan mata yang begitu jujur dan mengunci pandangan Liana.
Pria itu kemudian mengecup sekilas hidung Liana sebelum melanjutkan, "Ayo, pakai pakaianmu lagi. Tidak usah dandan, seperti ini saja kamu sudah membuatku tidak bisa berpaling. Yang penting kita sah hari ini."
Liana menatap lekat sepasang manik mata gelap Kenzo.
Meskipun hatinya mulai melunak akibat perlakuan manis pria itu, bayangan Kania yang menangis histeris di lantai bawah tadi masih berputar di kepalanya.
"Tapi Kenzo... bagaimana dengan wanita itu, Kania?" tanya Liana dengan suara yang masih terdengar ragu.
"Dia sangat mencintaimu, dan dia sudah lama mendampingi Black Cobra. Aku bisa melihat betapa terobsesinya dia padamu."
Kenzo tidak langsung menjawab dengan kata-kata.
Pria itu justru meraih kedua bahu Liana, memutarnya lembut agar posisi mereka saling berhadapan.
Ia menundukkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
"Liana, tatap mataku," perintah Kenzo dengan nada suara yang berat, dalam, dan penuh penekanan mutlak.
Liana menurut. Ia menenggelamkan pandangannya ke dalam manik mata hitam pekat milik pimpinan geng motor tersebut, mencari kebohongan atau keraguan yang mungkin tersembunyi di sana.
"Apakah aku terlihat mencintainya?" tanya Kenzo datar, membiarkan Liana membaca seluruh isi jiwanya lewat tatapan mata itu.
Di dalam mata Kenzo, Liana tidak menemukan apa pun untuk Kania selain kekosongan yang dingin.
Sebaliknya, yang terpancar di sana saat menatap dirinya hanyalah rasa kepemilikan yang kuat, kekhawatiran yang mendalam, dan sesuatu yang hangat yang enggan diakui Kenzo sejak lama.
Liana perlahan menggelengkan kepalanya.
"Tidak..."
Kenzo tersenyum tipis, lalu menggenggam jemari Liana dan membawanya tepat ke atas dadanya, membuat Liana bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang secara konstan.
"Aku mencintaimu, Liana. Meskipun saat ini kamu belum mencintaiku," ucap Kenzo dengan pengakuan yang begitu lugas, tanpa keraguan sedikit pun.
"Bagiku, Kania hanyalah masa lalu dan rekan kerja di organisasi. Tidak pernah lebih dari itu. Dan dia sudah melewati batas hari ini."
Kenzo beranjak berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang kekar ke hadapan Liana, bersiap untuk menuntun wanita itu turun menuju takdir baru mereka.
"Jadi, ayo sekarang kita menikah. Aku akan membuktikan semuanya kepadamu, bahwa seorang pimpinan geng Cobra tidak pernah menjilat ludahnya sendiri dan tidak pernah berbohong atas ucapannya."
Kenzo menuntun Liana keluar dari kamar. Meskipun tanpa riasan tebal dan hanya mengenakan pakaian sederhana, aura keanggunan Liana tetap terpancar nyata, bersanding serasi dengan gagahnya Kenzo yang mengenakan setelan jas hitam formal.
Begitu keduanya menapakkan kaki di anak tangga teratas dan berjalan turun menuju aula utama, gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai riuh langsung pecah dari puluhan anak buah geng Black Cobra yang berbaris rapi di sisi ruangan.
Mereka menyambut sang ketua dan ratu baru mereka dengan penuh rasa hormat dan suka cita.
Namun, di sudut aula dekat pilar besar, Kania rupanya masih belum pergi.
Dengan mata yang merah dan napas memburu penuh dendam, ia bersiap untuk menerobos barisan dan berteriak demi membubarkan pernikahan sakral tersebut.
Melihat gelagat mencurigakan itu, Bunga dan Mario bergerak secepat kilat.
Sebelum Kania sempat melangkah maju dan membuat kegaduhan, Mario langsung menghadang jalannya dengan tubuh kekarnya yang tegap, sementara Bunga mencengkeram lengan Kania dengan cengkeraman rahasia yang mengunci pergerakannya.
"Ikut kami keluar, Kania. Jangan buat Bos bertindak lebih kasar dari ini," bisik Bunga sangat dingin di telinga Kania, sementara Mario memberikan tatapan peringatan yang mematikan.
Tanpa menarik perhatian tamu lain, keduanya mengusir Kania secara diam-diam, menyeret wanita itu keluar dari mansion menuju gerbang depan.
Setelah area dinyatakan bersih dan aman, Kenzo dan Liana akhirnya duduk berhadapan dengan paman Bunga yang bertindak sebagai penghulu.
Suasana di dalam aula mendadak berubah menjadi sangat hening, khidmat, dan sakral.
Paman Bunga menjabat erat tangan Kenzo, lalu mulai melafalkan khotbah nikah singkat sebelum masuk ke inti acara.
"Saudara Kenzo, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Liana..." ucap sang penghulu dengan suara lantang, lalu menyebutkan mahar fantastis yang telah disiapkan Kenzo dalam waktu singkat: logam mulia seberat 500 gram, dan seluruh aset klinik utama milik Kenzo yang dibayar tunai.
Dengan satu tarikan napas yang mantap, tegas, dan penuh wibawa, Kenzo menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Liana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAHHH!" seru seluruh anggota geng Black Cobra yang hadir bergemuruh memenuhi seisi ruangan.
Air mata haru spontan menetes di pipi Liana saat mendengar kata sah tersebut berkumandang.
Di bawah tatapan penuh kemenangan dan cinta dari Kenzo, Liana kini telah resmi menyandang status sebagai istri dari pimpinan gangster paling ditakuti, sekaligus ibu dari calon anak mereka.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak