NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru

Setelah percakapan pelik, hubungan Arga dan Nadira memang belum benar-benar pulih. Nadira menerima permintaan maaf Arga, tetapi luka di hatinya belum sepenuhnya hilang. Ia masih sulit mempercayai bahwa perhatian yang selama ini diberikan Arga bukan sekadar bagian dari kewajiban dalam kontrak mereka.

Dua hari kemudian, tepat saat akhir pekan tiba, Arga mengetuk pintu kamar Nadira sejak pagi. Ia sudah berpakaian santai, jauh berbeda dari penampilannya sebagai CEO yang selalu rapi dengan setelan jas.

"Nad, siap-siap. Kita pergi."

Nadira yang baru selesai merapikan tempat tidur menoleh bingung. "Pergi ke mana?"

"Liburan."

"Liburan?"

"Iya."

Nadira mengernyit. "Mas, perusahaan kamu baru selesai pembacaan wasiat. Bukannya lagi banyak kerjaan?"

"Sudah kuatur."

"Terus tokoku?"

"Maya yang jaga."

Nadira semakin bingung ketika Arga menyerahkan sebuah tiket elektronik di layar ponselnya.

"Bali. Kita berangkat satu jam lagi."

"Aku belum bilang mau ikut."

Arga tersenyum tipis. "Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku tetap memesankan tiket."

Nadira menghela napas panjang. Sifat keras kepala Arga memang kadang menyebalkan. Namun, setelah mengingat semua yang terjadi beberapa hari terakhir, ia merasa mungkin mereka memang membutuhkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan pekerjaan, keluarga, ataupun wartawan.

"Kasih aku tiga puluh menit buat siap-siap." Sudut bibir Arga perlahan terangkat.

"Terserah, deh.” Dengan malas, Nadira tetap mengemasi barang-barangnya ke koper.

Satu jam kemudian mobil mereka memasuki area hanggar pribadi di bandara. Nadira menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah jet berwarna putih dengan logo Wijaya Group terparkir tidak jauh dari sana. Ia menoleh perlahan kepada Arga. "Jangan bilang..."

Arga mengangguk santai. "Naik itu."

"Itu... pesawatmu?"

"Pesawat perusahaan."

Nadira menatap jet itu cukup lama.

"Mas..."

"Hm?"

"Selama ini aku naik pesawat ekonomi."

"Kali ini coba yang berbeda."

"Aku bahkan belum pernah masuk ruang tunggu VIP."

Arga terkekeh pelan. "Berarti hari ini banyak pengalaman baru."

Sepanjang penerbangan, Nadira lebih sering memandangi lautan dari balik jendela. Hamparan awan putih terlihat seperti kapas yang tak berujung. Sesekali Arga menjelaskan beberapa pulau yang mereka lewati, sementara pramugari menyajikan sarapan hangat.

"Capek?" tanya Arga.

Nadira menggeleng. "Aku malah nggak nyangka ternyata di atas awan setenang ini."

Arga memandang wajah Nadira yang tampak jauh lebih rileks dibanding beberapa hari terakhir. Melihat perempuan itu kembali tersenyum membuat dadanya ikut terasa lebih ringan. Dua jam kemudian mereka tiba di Bali.

Udara hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari bandara. Langit biru membentang tanpa awan, sementara deretan pohon kelapa bergoyang pelan diterpa angin laut.

Arga tidak membawa Nadira ke hotel.

Mobil yang mereka tumpangi justru melaju menuju sebuah vila pribadi yang berdiri di tepi Pantai Melasti. Bangunannya didominasi kayu dan batu alam, dengan kolam renang yang menghadap langsung ke laut lepas.

Nadira berdiri terpaku. "Ini..."

"Villa keluarga."

"Bagus banget."

"Jarang dipakai."

Nadira berjalan perlahan menuju balkon. Dari sana ia bisa melihat deburan ombak yang menghantam karang, sementara langit dan laut seolah menyatu di kejauhan.

Tanpa sadar ia menarik napas panjang. "Indah sekali..."

Arga tidak melihat pemandangan itu. Ia justru memandangi Nadira yang sedang tersenyum. Entah sejak kapan, baginya perempuan itu lebih menarik daripada panorama mana pun.

Hari itu mereka berkeliling Bali.

Arga mengajak Nadira menyusuri hamparan sawah hijau di Tegallalang. Mereka berjalan berdampingan melewati jalur kecil di antara terasering yang memantulkan cahaya matahari. Nadira beberapa kali berhenti hanya untuk memotret pemandangan, sementara Arga dengan sabar menunggu di belakang.

Siang harinya mereka makan di sebuah rumah makan yang menyajikan ayam betutu, sate lilit, lawar, dan es daluman.

Nadira tertawa ketika pertama kali mencoba sambal matah yang terlalu pedas.

"Mas... pedes banget."

"Kamu sendiri yang nambah."

"Kukira sedikit."

Arga menyodorkan segelas es kelapa muda. "Minum."

Nadira menerimanya sambil tersenyum malu.

Sore menjelang, mereka menikmati matahari terbenam di Pantai Melasti. Cahaya jingga memantul di permukaan laut, sementara ombak bergulung pelan menyentuh pasir putih.

Tanpa sadar, langkah mereka semakin dekat. Sesekali bahu mereka saling bersentuhan. Tak ada yang menjauh.

Malam mulai turun ketika mereka kembali ke vila. Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin khas pantai. Dari balkon lantai dua, suara ombak terdengar jelas memecah kesunyian malam.

Nadira berdiri di dekat pagar kaca sambil menikmati langit yang dipenuhi bintang. Beberapa saat kemudian Arga datang membawa dua cangkir cokelat hangat. "Masih belum tidur?"

Nadira menerima cangkir itu. "Sayang kalau langsung tidur."

Mereka berdiri berdampingan cukup lama. Hanya suara ombak yang menemani.

"Aku minta maaf." Suara Arga memecah keheningan.

Nadira menoleh.

"Soal malam itu."

"Aku tahu."

"Bukan Bianca yang ingin kudengar."

Arga menggeleng pelan. “Aku bukan mau membahas itu.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Sejak awal aku memang menikahimu karena warisan."

Kalimat itu membuat Nadira kembali menunduk.

"Tapi sekarang semuanya berubah." Arga menatap lurus ke arah laut. "Warisan sudah kudapat. Perusahaan juga sudah menjadi tanggung jawabku."

Arga menghentikan ucapannya beberapa detik. "Kalau sekarang aku masih memintamu tetap di sisiku..."

Perlahan Arga menoleh. "Itu bukan karena kontrak."

Tatapan mereka bertemu.

"Bukan karena perusahaan. Bukan juga karena wasiat." Suara Arga terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya. "Aku hanya..." Ia mengembuskan napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. "...tidak ingin kehilanganmu."

Nadira membeku. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

"Aku mencintaimu, Nad."

Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata Nadira.

"Aku baru sadar ketika kamu bilang ingin pergi. Rasanya..." Arga tersenyum pahit. "... Aku seperti akan kehilangan rumahku sendiri."

Nadira menunduk. "Aku takut. Tidak pernah ada orang yang benar-benar memilihku."

"Semua orang selalu punya alasan," sanggah Arga.

"Aku juga sempat berpikir kamu memilihku karena warisan."

Arga menggeleng cepat. "Dulu iya."

"Kalau sekarang?" sela Nadira

Arga melangkah mendekat. "Sekarang aku memilihmu. Tidak peduli ada warisan atau tidak, tidak peduli ada kontrak atau tidak. Hanya kamu."

Air mata Nadira akhirnya jatuh. Arga perlahan mengangkat tangannya, mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.

"Kali ini... boleh aku memelukmu?"

Nadira tidak menjawab. Ia justru melangkah lebih dulu hingga jarak di antara mereka benar-benar hilang.

Arga memeluknya erat. Untuk pertama kalinya, pelukan itu bukan lagi karena status suami istri di atas kertas. Melainkan karena dua hati yang akhirnya sama-sama berhenti berlari.

Beberapa saat kemudian Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka kembali bertemu.

Arga memberi waktu, tidak memaksa. Ketika Nadira tidak lagi menjauh, ia mendekat perlahan dan mengecup lembut keningnya.

Nadira memejamkan mata. Lalu, dengan ragu yang perlahan berubah menjadi keyakinan, ia mengangkat wajahnya sedikit. Sebuah kecupan singkat, lembut, dan penuh kehati-hatian, seperti sebuah janji.

Di luar vila, ombak terus bergulung menyapu bibir pantai. Sementara di dalam, untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kontrak yang berdiri di antara Arga dan Nadira. Hanya dua orang yang akhirnya memilih untuk saling tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!