Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Secangkir Teh dan Dinginnya Ruang Tamu
Lonceng antik di atas jam dinding kayu rumah Oma berdentang dua kali, menandakan waktu sudah bergeser menuju siang hari. Pintu kayu kamar tidur perlahan bergerak membuka dengan derit halus. Kirei melangkah keluar dengan langkah kaki yang masih agak lambat. Dia benar-benar menanggalkan seluruh atribut kebesarannya; hanya mengenakan kaus katun putih longgar yang dipadukan dengan celana kulot kain tipis bermotif garis pudar. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke belakang menggunakan jedai plastik hitam, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah polosnya yang bersih dari riasan.
Kirei mengucek pelan sudut matanya yang jernih, berniat berjalan menuju dapur untuk mencari air minum karena tenggorokannya terasa sangat kering. Namun, begitu langkahnya melewati batas sekat ruang tamu, gerakannya langsung terhenti seketika.
Suasana di ruangan kecil itu terasa begitu mencekam dan beku. Di atas kursi rotan kuno, Vaxerion duduk bersandar dengan posisi tegap yang kaku. Dia sama sekali tidak sedang tidur; sepasang matanya yang jernih menatap lurus, tanpa berkedip sedikit pun, ke arah meja kopi kayu jati di tengah ruangan. Rahang tegasnya terkatup sangat rapat, memancarkan gelombang intimidasi dingin yang langsung menusuk ke seluruh sudut ruangan.
Di atas meja itu, berdiri tegak sebuah vas kaca berisi buket besar bunga anggrek biru langka yang kelopaknya masih segar berkilau. Di sebelah vas tersebut, terletak kartu ucapan perak milik Devan Atmadja yang sudah tergeletak dalam kondisi terbalik, seolah baru saja dilempar dengan kasar setelah dibaca. Vaxerion rupanya sudah terjaga di sana sejak subuh, mengawal ketenangan tidur Kirei sekaligus menahan sisa kejengkelan yang membakar egonya karena kiriman bunga dari pria lain.
Kirei menatap punggung tegap Vaxerion, lalu beralih menatap warna biru eksotis dari anggrek tersebut. Naluri tajamnya langsung bisa membaca situasi dalam waktu satu detik. Kerutan kecil muncul di dahi cantiknya, dan rasa salah tingkah yang aneh mendadak merambat naik ke pipinya yang polos.
"Kamu sudah bangun sejak kapan, Vaxerion?" suara Kirei mengalun lambat, sangat merdu di tengah keheningan ruangan.
Vaxerion tidak langsung mengalihkan pandangannya. Pria itu mengembuskan napas panjang yang sangat pelan, seolah sedang menekan habis gejolak amarah pria dewasanya yang hampir meluap. Dia memutar tubuh tegapnya perlahan, lalu menengadah menatap Kirei yang berdiri di ambang pintu sekat.
Begitu matanya menangkap penampilan kasual wanitanya—kaus oblong putih yang kebesaran, rambut yang dijepit asal-asalan, serta wajah polos tanpa riasan kosmetik—kilat dingin di mata jernih Vaxerion sempat mencair selama setengah detik. Sisi protektifnya selalu meleleh setiap kali melihat Kirei menanggalkan pakaian kerjanya seperti ini. Namun, ketika ekor matanya kembali menangkap bayangan warna anggrek biru milik Devan di atas meja marmer, rahang kokohnya kembali mengetat kaku.
"Aku baru tahu kalau Atmadja Capital sekarang punya divisi kurir bunga yang jangkauan pengirimannya sampai ke teras rumah pinggiran Jakarta, Kirei," suara berat Vaxerion mengalun rendah, baritonnya bergetar dingin membawa nada sindiran yang sangat kentara.
Pria itu bangkit berdiri dari kursi rotan kuno Oma. Postur tubuhnya yang tegap setinggi seratus delapan puluh senti langsung mendominasi seluruh ruang tamu kecil yang beratap rendah itu, memberikan tekanan wibawa yang kuat di antara mereka berdua.
Kirei berjalan mendekati meja kayu jati, mengambil gelas berisi air putih hangat yang rupanya sudah disiapkan oleh Oma, lalu meminumnya hingga tandas untuk meredakan tenggorokannya yang kering. Di luar dugaan, wajah cantiknya tetap tenang seolah tidak terafeksi oleh hawa dingin yang dibawa Vaxerion sejak tadi pagi.
"Devan cuma mengirimkan apresiasi karena Zhaklyn Mobile menolak draf awal proposal investasinya kemarin sore di butik Sherly," sahut Kirei santai, meletakkan gelas kaca itu kembali ke atas nampan dengan ketukan halus yang teratur. "Nggak ada yang perlu diributkan dari seonggok tanaman hias, Tuan Mahendra. Jangan kekanak-kanakan."
"Aku tidak sedang meributkan bunganya, Kirei," Vaxerion melangkah maju dua langkah besar, mengikis seluruh jarak di antara mereka hingga aroma wangi kayu cendana yang bersih dari kemeja rajutnya menghapus bau harum anggrek milik Devan seutuhnya. Wajah tampannya mencondongkan jarak sedikit lebih dekat, mengunci fokus pandangan mata Kirei dengan tatapan yang sangat tegas. "Aku cuma tidak suka ada pria lain yang merasa punya hak untuk mengirimkan sesuatu ke tempat peristirahatanmu setelah kamu kelelahan semalaman di ruang server."
Vaxerion menjeda kalimatnya sejenak, melirik kartu ucapan perak dari Devan dengan pandangan meremehkan yang sangat jelas.
"Sore ini juga, aku akan meminta tim logistik Mahendra Motors untuk memindahkan seluruh kontrak suplai server cadangan Atmadja Capital di bursa efek ke jalur bayangan," lanjut Vaxerion dengan ketegasan seorang pria matang yang menolak diganggu gugat. "Devan harus belajar kalau kesabaranku menghadapi gangguan luar punya batas harga yang sangat mahal di kota ini. Duniamu... sudah aku amankan, dan tidak ada tempat untuk orang asing yang mencoba mencari celah."
Pipi Kirei mendadak terasa panas terbakar hebat mendengar rayuan posesif yang dibungkus dengan cara yang sangat ketat dari pria di depannya. Gengsi lamanya sebagai wanita mandiri yang keras kepala runtuh tanpa sisa siang itu, digantikan oleh getaran haru bercampur rasa lucu yang bergejolak di dalam dadanya. Bagaimana bisa seorang penguasa industri otomotif yang biasanya sedingin es bisa bertingkah sekompetitif ini hanya karena kiriman satu vas bunga dari Devan Atmadja?
"Kamu benar-benar tidak masuk akal, Vaxerion," bisik Kirei jujur, sudut bibirnya yang tipis akhirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tulus yang luar biasa cantik, membuat wajah polosnya tanpa sapuan bedak kelihatan sepuluh kali lipat lebih memikat.
Vaxerion sempat tertegun selama beberapa detik melihat senyuman Kirei yang teramat langka itu. Seluruh otot wajah tegapnya yang semula kaku perlahan melunak seutuhnya, memancarkan pesona ketampanan matang yang meluluhkan ketegangan dingin di ruang tamu Oma. Pria itu mengulurkan tangan kirinya yang besar, dengan gerakan yang kelewat lembut menggunakan ujung jarinya, dia mencubit gemas ujung hidung bangir Kirei yang sedang menatapnya dengan binar mata usil.
"Aku cuma bersikap adil pada duniaku, Calon Istriku," bisik Vaxerion dengan suara yang merendah begitu romantis, mengirimkan desir halus yang membuat jantung Kirei berdegup gila di balik kaus putihnya.
Pria itu kemudian berbalik badan dengan santai, menyambar vas bunga anggrek biru milik Devan dengan satu tangan besarnya yang kokoh, lalu menyerahkannya pada Rian yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melingkar di leher.
"Rian, buang ini ke bak sampah di luar gerbang halaman sekarang. Vasnya jangan dibawa masuk lagi," perintah Vaxerion, nadanya datar namun tidak menerima bantahan dari siapa pun.
Rian yang melihat wajah tegap Vaxerion langsung menerima vas kaca besar itu dengan cengiran lebar yang jail, melirik kakaknya yang wajahnya sudah merona merah karena salah tingkah dengan pandangan mengejek. "Siap, Bang Vax! Dimengerti! Langsung gua eksekusi sampai ke tukang sampah depan komplek!" seloroh Rian sebelum melangkah cepat keluar pintu gerbang teras.