Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 SEDIKIT PERHATIAN DARI JUNA.
Bee memandang Juna yang masih memegang beberapa kantong belanja di tangannya. "Oh iya, Kak."
Kak Juna menoleh. "Hm?"
"Katanya Cristal mendadak ke luar kota."
"Iya."
"Dia baik-baik saja kan?"
Kak Juna mengangguk pelan. "Baik." balasnya "Papih sama Mamih ada urusan bisnis di luar kota. Cristal ikut karena mereka sekalian ingin menghabiskan waktu bersama."
Bee tersenyum lega. "Syukurlah." Lalu Bee kembali teringat sesuatu. "Kalau begitu...Magang Cristal gimana, Kak?"
Kak Juna menjelaskan dengan tenang. "Cristal tidak jadi magang di perusahaan Xian."
Bee sedikit terkejut. "Gak jadi?"
"Iya. Jadwal keberangkatan Papih dan Mamih cukup lama. Jadi Cristal akan ikut mereka."
"Untuk urusan magang, nanti kampus akan mengatur penempatan baru setelah dia kembali."
Bee mengangguk pelan. "Berarti nanti aku magang sendirian."
"Tidak juga." kak Juna menatap Bee. "Kamu tetap fokus belajar. Jangan pikirkan yang lain."
Bee tersenyum kecil. "Iya, Kak."
Xian yang sejak tadi mendengarkan ikut menimpali. "Kalau ada kesulitan selama magang, langsung hubungi aku, Jangan sungkan."
Bee mengangguk. "Terima kasih, Xian."
Hari mulai beranjak sore, Sinar matahari perlahan berubah jingga. Xian melihat jam tangannya. "Sepertinya kita juga harus balik."
Kak Juna mengangguk singkat. "Iya."
Jelita yang mendengar itu langsung berseru, "Eh, Kak, Kita makan malam bareng dulu yuk." ajak jelita
Xian tersenyum sopan. "Lain kali saja."
"Iya, masih ada waktu kok."
Jelita belum menyerah. "Kak Juna? Mau kan?"
Kak Juna menggeleng pelan. "Maaf.. Aku masih ada pekerjaan."
"Oh..." Jelita kembali tersenyum. "Kalau besok?"
"Belum tentu." Jawaban kak Juna tetap singkat, Tidak dingin. Namun juga tidak memberi harapan.
Xian yang melihat sahabatnya mulai tidak nyaman segera membantu mengakhiri percakapan. "Nanti kalau ada kesempatan, kita atur lagi."
Jelita akhirnya mengangguk. "Baik."
Keempatnya berjalan menuju area parkir.
Sesampainya di mobil keluarga Luwis, kak Juna menyerahkan semua kantong belanja kepada Bee. "Kamu cek dulu, Takut ada yang tertinggal."
Bee memeriksanya sebentar. "Lengkap."
"Terima kasih ya, Kak."
Kak Juna hanya mengangguk.
Bee hendak masuk ke mobil. Namun suara kak Juna kembali menghentikannya.
"Bee."
Bee menoleh. "Iya, Kak?"
Tatapan kak Juna kali ini sedikit berbeda, Tidak sedingin biasanya. "Kalau ada apa-apa... Kabari aku."
Bee tersenyum tulus. "Iya, Kak."
Xian yang berdiri di samping Juna ikut tersenyum hangat. "Dan ingat."
"Ada kita di sini, Jangan pernah merasa sendirian."
Kalimat sederhana itu membuat Bee terdiam beberapa saat. Entah kenapa... Dadanya terasa hangat, Seolah ada seseorang yang benar-benar memperhatikan dirinya.
Bee mengangguk pelan. "Terima kasih..." ucap bee "Benar-benar terima kasih."
Xian hanya tersenyum. Sejak pertama kali bertemu Bee, ia mengenal gadis itu sebagai sosok yang ceria.
Suka bercanda.
Banyak bicara.
Mudah tertawa.
Namun sekarang...
Bee memang masih tersenyum. Masih ramah kepada semua orang, Tetapi senyumnya terasa berbeda.
Lebih tipis, Lebih lelah, Dan matanya... Tak lagi secerah dulu.
Xian melirik kak Juna sekilas. Tanpa perlu berbicara, keduanya seolah memahami hal yang sama.
Bee sedang menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang perlahan mengikis keceriaan gadis itu.
Mobil keluarga Luwis pun perlahan meninggalkan area parkir.
Bee sempat membuka jendela dan melambaikan tangan. "Dadah, Kak Juna... Xian."
"Hati-hati di jalan." balas Xian sambil melambaikan tangan.
Kak Juna hanya mengangguk kecil. Tatapannya tetap mengikuti mobil itu hingga menghilang dari pandangan.
Baru setelah mobil benar-benar pergi, Xian mengembuskan napas panjang. "Jun."
"Hm?"
"Bee berubah."
Kak Juna tetap menatap ke arah jalan. "Iya."
"Lo juga sadar?"
"Sadar."
Xian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Gadis yang dulu selalu tertawa itu..."
"...sekarang lebih sering tersenyum untuk menutupi sesuatu."
kak Juna terdiam. Beberapa saat kemudian ia menjawab pelan, "Makanya... Kalau dia benar-benar butuh bantuan..." ucapnya "...jangan biarkan dia menghadapinya sendirian."
Xian menoleh ke arah sahabatnya.
Sore itu, mobil keluarga Luwis akhirnya memasuki halaman rumah. Seorang pelayan segera membukakan pintu.
"Selamat sore, Nona Bee. Nona Jelita."
Bee dan Jelita turun hampir bersamaan. Begitu melihat kedua putrinya pulang, Mamah Lana dan Papah Prans yang sedang duduk di ruang keluarga langsung berdiri.
"Kalian sudah pulang."
"Iya, Mah."
Jelita menjawab lebih dulu dengan wajah ceria.
Pelayan segera mengambil semua kantong belanja dari tangan Bee.
Bee mengembuskan napas pelan. Kedua telapak tangannya terasa perih setelah berjam-jam membawa begitu banyak barang.
Bekas tali kantong belanja masih terlihat jelas memerah di kulitnya.
Namun ia hanya mengepalkan tangan pelan agar rasa nyeri itu tidak terlalu terasa.
Jelita langsung menghampiri Mamah Lana. "Mamah..." Sambil tersenyum manja, ia memeluk lengan wanita itu. "Hari ini capek sekali."
"Oh ya?" Mamah Lana mengusap kepala Jelita dengan lembut.
"Iya."
"Tadi aku belanja banyak sekali."
Papah Prans ikut tersenyum. "Dapat banyak?"
"Banyak banget "
Jelita mulai bercerita dengan penuh semangat.
"Tadi aku beli baju, sepatu, tas, sama beberapa perlengkapan buat kuliah."
"Lalu..." ucapan jelita terhenti "Mamah tahu gak?"
"Apa?"
"Aku ketemu Kak Juna sama Kak Xian di mal."
Mamah Lana dan Papah Prans saling berpandangan. "Oh?"
"Iya."
"Kami sempat ngobrol."
"Terus?"
Jelita tersipu malu. "Kak Juna tetap dingin tapi makin keren."
Mamah Lana terkekeh pelan. "Wah..."
"Sepertinya ada yang benar-benar suka ya." Papah Prans ikut tersenyum geli. "Kalau memang cocok, nanti Papah kenalkan lebih jauh."
Jelita langsung tersenyum lebar. "Benarkah?"
Papah Prans mengangguk kecil. "Nanti kita lihat dulu."
Mereka bertiga kembali mengobrol sambil tertawa.
Sementara itu... Bee berdiri beberapa langkah di belakang mereka, Ia hanya memperhatikan dari kejauhan.
Tidak ada yang bertanya bagaimana harinya.
Tidak ada yang menyadari wajahnya yang tampak lelah.
Tidak ada yang melihat kedua tangannya yang masih memerah.
Bee hanya tersenyum tipis, Lalu berkata pelan, "Mah... Pah..."
"Aku masuk kamar dulu ya." ijin bee
Mamah Lana menoleh sekilas. "Iya."
"Istirahat sana."
Bee mengangguk pelan. "Baik."
Lalu ia berjalan menaiki tangga seorang diri.
Di belakangnya, suara tawa Jelita, Mamah Lana, dan Papah Prans masih terdengar memenuhi ruang keluarga.
Sesampainya di kamar, Bee menutup pintu perlahan.
Klik.
Seketika suasana menjadi sunyi. Bee meletakkan tasnya di atas meja, Kemudian memandangi kedua telapak tangannya.
Bekas tali kantong belanja tampak jelas berwarna merah, Ia mengusapnya perlahan. "Perih juga..." gumamnya sambil tersenyum kecil.
Bee kemudian masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, bathtub mulai terisi air hangat, Bee perlahan berendam.
Air hangat itu membungkus tubuhnya, sedikit demi sedikit mengurangi rasa pegal yang sejak tadi ia tahan.
Ia menyandarkan kepala di tepi bathtub.
Lalu memejamkan mata, Semua kejadian hari ini kembali terlintas. Jelita yang terus berbelanja, Dirinya yang membawa semua kantong belanja.
Pertemuan dengan kak Juna dan Xian. Ucapan mereka yang penuh perhatian. Lalu... Sesampainya di rumah.
Tak seorang pun bertanya apakah ia lelah. Bee menarik napas panjang, Namun ia tidak ingin menyalahkan siapa pun. Baginya...
Melihat Jelita diterima kembali oleh keluarga adalah hal yang memang seharusnya terjadi, Ia hanya perlu belajar menerima perubahan itu.
Bee membuka matanya perlahan. Menatap permukaan air yang bergelombang pelan.
"Sabar ya, Bee..." bisiknya lirih kepada dirinya sendiri. "Hanya sedikit lagi."
"Sampai lulus kuliah, Setelah itu..."
"Aku harus bisa berdiri dengan kakiku sendiri."
Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. Senyum yang tetap ia pertahankan, meski hanya dirinya sendiri yang tahu betapa lelahnya hati yang terus berusaha terlihat baik-baik saja.